
Hari yang begitu melelahkan dan berdebar-debar. Aku sudah lama tidak merasakan kekhawatiran seperti ini, jika aku punya banyak orang yang masuk dalam hidupku, apakah aku harus membantunya jika ia kesusahan? Waktu itu hatiku bergerak sendiri tetapi bisa saja pikiranku menjadi egois.
***
“Aku tau apa yang kau pikirkan!!”
“Hah?”
Tanda tanya mengambang di kepalaku, aku menelengkan kepala bertanda bingung apa yang ia katakan.
“Aku-kan sudah menceritakan kejadian semuanya padamu,” ucapku menatap manik hijaunya.
“Tidak... bukan itu, tapi laki laki yang menyelamatkanmu waktu itu loh... kau tidak menceritakan kisah pemuda bermata unik itu.”
Ia cemberut karena aku tidak menjelaskan tentang Gabriel dengan rinci, aku saja tidak tau tentangnya. Yang hanya aku tau ia satu sekolah di kelas 12-B dan ia memiliki suatu sindrom.
“Tidak ada lagi yang aku ketahui tentangnya,” jawabku sambil merenung pada rumput yang bergoyang di sela-sela kunang yang bercahaya.
“Begitu yak,” ujarnya, ia kembali duduk di sampingku dan menatap bulan yang ditemani taburan bintang.
“Aku ingin bertemu dengannya lagi....” tanpa sadar aku mengatakan itu, padahal aku berbicara pada pikiranku sendiri.
Pemuda di sampingku menatapku kembali, Senyum manisnya terukir di wajahnya, rambut coklatnya menari-nari dikibas angin sepoi. Cahaya kunang- kunang mengintarinya, Tangan lembutnya mengusap kepalaku.
“Jika aku bertemu dengannya lagi.... aku ingin mengatakan terima kasih padanya,” lagi-lagi aku mengucapkan apa yang ada di pikiranku.
Kemudian pemuda yang bernama Noah itu terkekeh mendengar hal tersebut. Aku kesal dan bingung apa yang ia pikirkan. Aneh, dia bisa membaca pikiranku tetapi aku tidak bisa. ini sungguh tidak adil.
“Kenapa?” tanyaku kesal.
“Hahaha tidak seperti biasanya kau Lucy, kata-katamu berbeda dari biasanya.” jawabnya yang tidak bisa berhenti tertawa.
“Benarkah?”
“Iya, aku harap kau bisa bertemu dengannya.”
Noah memegang pipiku dengan lembut dan mendekatkan wajahku dengan wajahnya perlahan-lahan sambil melanjutkan kata katanya “laki laki itu beruntung bertemu denganmu yang berharga ini... tetapi aku...tidak bisa...”
Gawat, wajahnya semakin dekat, terasa bibirku akan dilahap olehnya. “menemanimu lebih lama lagi.”
Aku bisa merasakan nafas hangatnya, aku tak tahan. Mataku perlahan terpenjam, menanti apa yang terjadi pada kami berdua.
‘Tunggu dulu... aku belum siap!’
“Lucy aku meny--”
‘KRIIIINGGG!!’
Mataku langsung terbelalak dan melempar selimut ke sembarang tempat.
“AAAAAAHHHH!!”
__ADS_1
Tiba-tiba saja aku terbangun dari tidurku. karena kesal, aku menginjak-injak jam alarm yang bikin ajak ribut. Niki sontak mendobrak pintu kamarku yang terkunci.
“WOOII KAU KENAPA!!” aku tidak peduli dengan aksiku yang dilihat olehnya, tetapi dengan cepat Niki menahan tindakanku yang berlebihan.
“HEEII HENTIKAN, KAU MENGINJAK ALARM SEHARGA SEJUTA WOII, HENTIKAN!!”
“AKU TIDAK PEDULI!!!”
***
‘Tring’
Bunyi pemagang roti yang telah selesai memagang dua roti tawar, bau harum masakan Niki tercium di hidungku.
Suasana menjadi sunyi setelahnya, aku duduk dengan wajah yang menempel pada meja, lesuh dan mendengus kesal.
“Ya ampun, ada apa dengamu Lucy? Pagi pagi sudah ribut, tidak seperti biasanya. jangan bilang kau ingin izin lagi dengan wajah pucatmu itu,” ujar Niki sambil mengolesi roti dengan selai lalu menaruhnya di meja makan.
“Tidak, aku baik-baik saja.” jawabku sambil mengambil roti bakar yang ada di piring kemudian memakannya dengan lahap.
Pukul 06:30
Kami berangkat ke sekolah dengan menggunakan sepeda pemberian Rosa. Perjalanan kami lebih singkat dari biasanya, gerbang masih terbuka lebar untuk murid yang rajin masuk sekolah di jam awal. Biasanya kami kepepet mulu dengan gerbang sekolah.
Lingkungan segar menjernihkan udara yang kami hirup, sekolah kami bagaikan taman, berbagai bunga hingga tanaman hias terpajang di setiap depan kelas.
“Pagi ini udaranya sejuk banget.”
“Ayo ke kelas,” ajakku setelah memakirkan sepeda.
“Oke!”
***
Kami berpisah saat berada di lantai dua, aku berjalan sendirian dengan kepala yang tertunduk seperti memikirkan sesuatu. Aku tak peduli dengan kebisingan orang di sekitarku, saking tidak pedulinya aku terjatuh karena tetabrak seseorang.
‘BRAK’
“Ouch!” aku meringis kesakitan.
“Ah! Ma-maaf, apa kau baik-baik saja?”
Orang yang menabrakku mengulurkan tangannya bermaksud membantuku untuk berdiri. Aku sadar ketika aku melihat kedua matanya yang berkilauan.
“Ga-gabriel?” kejutku.
Aku menerima uluran tangannya dan langsung sigap berdiri.
“Selamat pagi Lucy,” sapa Gabriel dengan senyuman yang biasa selalu terlukis di wajahnya.
“Iya pagi juga,” balasku dengan nada datar.
__ADS_1
‘Dia ingat namaku?’
Entah kenapa aku terkesan jadi judes padanya? “Akhirnya kita bertemu lagi yak,” serunya.
“Iya.”
“(........)”
“Baiklah, aku masuk ke kelas dulu yak,” ucap Gabriel.
“Ah iya, silahkan.”
Akhirnya ia pergi dari hadapanku. Aku berjalan melanjutkan langkahku menuju kelas. Tiba-tiba saja langkahku berhenti rasanya aku seperti kelupaan sesuatu saat bertemu dengannya.
“Apa aku melupakan sesuatu? Aku ingin bicara apa yak saat bertemu dengannya? Serius aku tidak ingat apapun. ada apa denganku saat ini?”
Lagi-lagi pikiranku kacau dan berusaha mengingat sekali lagi, rasanya sulit mengingat hal yang ada didalam mimpi. Karena aku tidak memiliki kemampuan Lucid Dream sama sekali. Tapi setiap aku bermimpi, Noah selalu muncul dalam mimpiku setiap hari. Noah muncul di mimpiku semenjak aku belum berteman dengan Niki dan merasa kesepian saat itu.
Lebih baik aku mencari memori mimpi sambil berjalan menuju kelas. Ketika aku masuk kedalam kelas, mejaku dipenuhi bunga-bunga layu yang berserakan kemana-mana, terlihat ketua kelas sedang membersihkan mejaku sendirian. Noel belum datang, jadi ketua selalu membersihkan meja teman sebangkunya sendirian di pagi hari.
Tanpa pikir panjang aku menghampirinya karena tidak tega melihat dia membersihkan meja murid yang tidak disukai oleh satu kelas tersebut.
“Selamat pagi ketua.” sapaku. Ketua langsung menoleh ke belakang dengan mata yang berkaca kaca.
“Lu-Lucy!!” ketua nampak terkejut melihatku memasang tampang seram pada mejaku yang dipenuhi bunga-bunga busuk.
“Maaf, mejamu masih kotor. Padahal kemarin aku sudah membersihkannya, sepertinya mereka berbuat ulah lagi sebelum aku masuk ke kelas. Maaf aku sungguh minta maaf karena aku tidak tau bahwa tindakanku akan menyebabkan masalah sebesar ini. Maafkan aku Lucy. ”
Aku memegang bahunya dan berkata “ketua tidak perluh meminta maaf.”
“Eh?”
“Dari awal ketua tidak salah kok, tidak salah duduk dimanapun asalkan tempat itu kosong. Ketua duduk disini agar Noel bisa melihat papan tulis dengan jelaskan?”
“Iya benar,” balas ketua disertai anggukan kepala.
“Ya sudah, biar aku saja yang membersihkannya. Terima kasih sudah membersihkan mejaku saat aku tidak ada. Ketua sudah banyak membantuku,” ucapku sambil merebut alat kebersihan dari tangannya.
“Tidak masalah, justru aku yang membuat keadaan mejamu begini,” kali ini ketua memasang wajah sedihnya, aku tidak suka melihat orang yang begitu riang tiba-tiba sedih begitu karena aku.
Aku menyelipkan rambutnya pada telinganya. “Jangan khawatir, aku tidak akan kalah dari mereka.”
Matanya seketika berbinar kembali, wajahnya merona, dan ia terkagum- kagum dengan semangatku yang tak terlihat dari luar.
Mata berlianku menyala ketika cahaya masuk dari jendela kelas yang terbuka lebar. tidak hanya aku, senyuman ketua perlahan bermekaran lagi. Ini lebih baik daripada menangisi diriku yang tidak berguna.
Aku bisa melihat kesenangan orang dengan warna yang berbeda-beda, terlihat indah tapi terkadang menyakitkan juga. Itulah yang membuatku candu akan perasaan orang lain, Itulah mengapa aku ingin mencari warna kebahagiaanku sendiri.
Dan itu sebabnya aku ingin melindungi senyuman yang berharga itu untuk kupelajari.
....
__ADS_1
“Jangan memakai emosi untuk menyelesaikan masalah tetapi gunakan kesabaran dan logika untuk menemukan solusinya.”