MENTARI TANPA EMOSI

MENTARI TANPA EMOSI
Mata


__ADS_3

Beberapa hari kemudian. Gabriel akhirnya masuk sekolah, ia nampak tidak terlalu percaya diri dengan matanya saat ini. Tetapi Gabriel harus melakukan aktivitasnya seperti biasa.


Saat Gabriel masuk, tiba tiba seseorang berteriak padanya.


“Hei tidak perluh kau sembunyikan lagi, cepat lepaskan kontak matamu!!” Satu kelas juga setuju dengan ucapan provokator tersebut dan menyuruh Gabriel untuk menunjukkan dirinya yang sebenarnya.


Gabriel hanya menuruti maunya kelas 10-B, ia membuka kontak matanya dan memperlihatkan matanya yang keemasan.


Lagi-lagi ia digosipkan kembali dengan mata dua warna milik Gabriel. Alder saat itu masih tidak tau tentang mata Gabriel karena sedang bolos sekolah. ia sekarang sedang olahraga. Cowok kurang ajar.


“Bagus Lucy, lemparan yang bagus,” seru Alder bersemangat.


Tiba-tiba saja ada yang menepuk bahunya. Ketiga kakak kelas itu kembali lagi. Langsung saja Alder ditarik ke tempat sepi.


“Aku akan balas dendam tentang kejadian beberapa hari yang lalu!!”


Murid 11-B mulai meninju perut Alder dengan keras disusul oleh murid kelas 11-A juga. Bosnya hanya melihatnya sambil minum cola.


***


Di sisi lain Gabriel turut diejek dan dibisik jelek oleh beberapa murid yang lewat melihat matanya. Gabriel hanya menunduk cemas saat itu. Ia merasa tidak nyaman dan gelisah saat pergi ke kantin.


Hingga tiba-tiba saja ada seseorang yang berlari cepat melewatinya. Sesosok rambut hitam itu sedang dikejar oleh ketiga kakak kelasnya. Karena Gabriel melihat Alder terluka serta lebam, ia mengikuti keempat orang itu.


“BERHENTI KAU!!” teriak kakak kelas. Alder tidak berhenti berlari malah menambah kecepatannya karena ia kini sedang berusaha melarikan diri dari kakak kelasnya.


Dan akhirnya mereka berhenti di kelas 10-B yang sedang sepi sepinya. Alder juga sudah lelah berlari lebih jauh lagi. Mereka berempat langsung mengatur nafas perlahan.

__ADS_1


“SIALAN!!”


Murid 12-B mengambil salah satu kursi dan mulai menimpuk Alder berkali- kali. Alder hanya menahan serangannya dengan menggunakan kedua tangan yang menyilang untuk melindungi diri dari kursi itu.


“MATI SAJA KAU BO--Aaaarghh”


Mereka terkejut melihat murid 12-B tekapar tak berdaya di lantai. “A-apa yang kau lakukan bocah!!”


“Maaf saja yak, aku disini hanya melindungi yang tidak bersalah.”


Gabriel adalah pelaku pemukulan kursi terhadap kakak kelas 12-B hingga pingsan. Murid 11-A dan 11-B terkejut melihat Gabriel melakukan tindakan beranitersebut.


“BRENGS*K! AKU TIDAK AKAN MEMAAFKANMU!!”


Murid 11-B mulai melawannya tetapi Gabriel dengan cepat langsung meninju perutnya hingga dirinya tersungkur di lantai. Lalu diganti kelas 11-A yang ikut meninju Gabriel dari belakang, sayangnya ia kalah cepat dengan Gabriel yang telah dulu menendang mukanya hingga mimisan.


“Kamu--” ucapan Alder terputus setelah melihatnya lagi.


Gabriel begitu khawatir pada Alder yang penuh dengan luka dan sembab yang membiru.


“Kau baik baik saja!? kau harus diobati dulu!” ucap Gabriel panik.


Alder begitu terpukau melihat sesosok malaikat putih yang baru saja menolongnya.


“Ada apa dengan matamu?” tanya Alder yang mulai penasaran.


Gabriel menekan mulutnya lalu tersenyum dan menjawab dengan riang, “Sebuah penyakit yang membuat mataku begini.”

__ADS_1


Alder nampak terkejut. Ia hampir mengira dan menyangkal tentang berita tersebut.


“Sepertinya kita punya kesamaan yang unik, maukah kamu berteman denganku?” tanya Gabriel sambil menjulurkan tangan pada Alder yang terduduk lemas dilantai.


Perlahan dan gemetar tangan Alder berusaha untuk menerima uluran itu. Tangan mereka saling bersatu dan mulai mengungkapkan rahasia jati diri mereka dalam suatu ikatan yang dinamakan teman.


“Siapa namamu?” tanya Gabriel sebagai awal berteman.


“Alder Winston.”


“Aku Gabriel Alexander,” jawabnya dengan senyuman lembut di wajahnya.


Akhirnya Alder sadar kalau berita itu benar, seseorang yang bernasib sama terhadap mata yang berbeda dipandang.


“Senang berteman denganmu, Alder.”


***


“Kami akan balas dendam. Lihat saja nanti!!”


Mereka menggotong royong bos 12-B lalu melarikan diri dengan terpincang- pincang.


“Akhirnya mereka pergi juga,” ucap Gabriel senang, sedangkan Alder bersyukur melihat mereka akhirnya menjauh darinya.


......


“Jangan hanya sekedar diucapkan tetapi harus dilakukan.”

__ADS_1


__ADS_2