
Keesokan harinya kami masuk sekolah dan seperti biasa tempat dudukku dipenuhi dengan bunga lily putih disertai kelopak bunga dengan goresan yang bertuliskan 'DEATH.'
Aku tak menghiraukannya dan duduk dikursi, nampaknya Felix belum datang ke kelas. Mungkin saja ada yang menghambatnya datang ke kelas. Contoh- nya saja seperti gadis genit yang selalu ada di sekelilingnya.
"Maaf yak aku ingin masuk ke kelas dulu, besok lagi yak," ujar Felix dengan lembut.
"Yaah Kak Felix nanti ketemu lagi yak saat istirahat," sedih para penggemar Felix.
"Iya, kapan-kapan lagi kita ketemu, sampai jumpa." Felix melambaikan tangan pada mereka dan akhirnya masuk kelas. Ia langsung menghembus nafas lega.
'Aah aku paham betapa lelahnya menghadapi gadis-gadis itu.' batinku yang teringat Alder dan Gabriel.
"Selamat pagi Lucy," sapa Felix sambil melihat mejaku.
"Pagi juga ketua," balasku dengan tenang.
"Lagi "
"Tenang saja ini tidak terlalu buruk bagiku."
Felix hanya terdiam setelah melihat balasanku yang tenang. Ia segera duduk di sampingku seperti biasa dan menaruh tasnya. Sunyi....tak ada topik untuk dibicarakan lagipula tempat ini terlalu suram untuk dibilang sekolah yang bagus malahan tempat ini terlihat seperti sekolah horror.
"Sejak kapan sekolah kita menjadi seram begini yak?" tanyaku.
"Haha aku tidak tau sejak kapan, akan tetapi sekolah ini hanya bagus dalam sistemnya tidak pada tempatnya. Walau di terangi lampu dan tempatnya luas tetap saja ini terlihat seram dan suram, orang yang ingin sekolah disini karena tempat- nya dikira keren dan bagus mungkin akan kecewa dan menyesal. Bagaimana denganmu Lucy? Kenapa kau sekolah disini?" tanya Felix tiba-tiba.
"Entahlah...mungkin aura sekolah ini terlalu kuat." "Ternyata kau suka aura yang seperti itu yak," seru Felix.
Setelah itu aku diam beberapa saat tetapi Felix memancarkan mata berbinarnya padaku, aku menghela nafas panjang. Aku tau apa yang dia inginkan. Dia ingin ditanya kenapa dia sekolah disini. Niat tanpa niat aku bertanya padanya.
"Dan kau ketua kenapa kau sekolah di sini?"
"Tentu saja karena sekolah ini bagus dalam sistemnya, fasilitasnya lengkap dan..."
"Dan?"
"Dan teman-teman yang luar biasa!!" jawab Felix dengan semangat. 'TRiiiiinG'
Bel baru saja berbunyi, murid-murid masuk ke kelas masing-masing dengan terburu-buru. Lalu menantikan guru-guru yang menegangkan datang hari ini. Dan Pelajaran pun dimulai.
>>>
Di sisi lain ada dua orang yang masuk ke dalam ruang OSIS untuk mendiskusikan acara festival tersebut untuk merayakan ulang tahun Wizzy yang ke-5.
Wizzy adalah merek produk dari sebuah mainan yang terkenal dikalangan remaja, produk tersebut berbentuk seperti Handphone yang didalamnya banyak permainan yang edukatif sehingga sekolah menerima sponsor tersebut untuk memeriahkan ulang tahun Wizzy yang begitu sangat terkenal.
"Kami telah mengatur semuanya, jadi pihak OSIS siap untuk mengadakan festival ulang tahun wizzy di sekolah kami dan soal keamanan juga akan dilakukan oleh anggota OSIS lainnya saat acara berlangsung. Anda sekalian silahkan untuk mengarahkan acaranya nanti dengan baik. Itulah yang ingin saya sampaikan," ujar Sang ketua OSIS bernama Karin.
"Saya sungguh berterima kasih atas usaha kalian, semoga acara besok bisa berlangsung dengan lancar," ucap Si Wanita berambut pajang hitam legam.
"Sekali lagi kami berterima kasih, sisanya serahkan semuanya pada kami," ucap Si Pria jangkung di samping wanita tersebut.
Lalu Karin berdiri dan mengatakan "Baiklah, mohon untuk kerjasamanya." Keduanya bangkit dari duduknya dan menjabat tangan ketua OSIS.
>>>
Bel istirahat berbunyi... Semua murid langsung berlarian ke kantin untuk makan siang. Aku, Niki, Sarah, Gabriel, Alder, dan Felix ingin pergi ke tempat menara, karena kami akan makan siang di tempat yang tak terlalu ramai. Walau bagiku tetap saja ramai kalau ada mereka semua.
"Cuacanya mendung terus, apa besok bisa dilaksanakan festivalnya yak?" cemas Niki yang terus memikirkan perayaan tersebut.
"Benar juga yak, sayang kalau tidak dirayakan sih hanya karena masalah hujan," ucap Sarah yang sama cemasnya dengan Niki.
"Kalau hujan sekalipun kita masih bisa merayakannya didalam aula, kan?" ujar Gabriel.
__ADS_1
"Tapi nanti semua gadis akan memperebutkan Ivan seperti biasa," sedih Sarah yang mengingat kejadian satu tahun yang lalu, ia gagal kencan karena dihalangi oleh fansnya Felix.
"Memangnya kenapa kalau diperebutkan?" tanya Alder dengan jengkel.
"Tentu saja kami ingin berkencan dengannya!"
Serentaklah kedua sejoli tersebut secara bersamaan sehingga Alder terkejut setengah mati.
"Hufftt," aku hanya menghela nafas lelah. Kenapa seharian ini, tidak, kenapa tahun ini aku begitu sangat lelah dibanding tahun lalu. Apa karena mereka be-ri-sik?
"Ke-kencan?" Felix tiba-tiba merasakan firasat buruk.
Kedua makhluk itu bersamaan menengok Felix dengan mata yang menyala seperti ingin mencuri kesempatan untuk bisa mengencani Felix.
"Siapa yang akan kau pilih!?" wow pertanyaan yang mendadak didapatkan oleh Felix. Seketika keringatnya bercucuran, jelas-jelas ia sedang kebingungan sekarang.
"Hmm ..." mereka masih menunggu jawaban Felix dengan mata yang meng- harapkan sesuatu. Felix benar-benar seperti orang panik. Dia tidak dapat memilih keduanya. bila ia memilih diantara keduanya maka pertengkaran mungkin akan terjadi lagi.
'Apa yang harus kulakukan.' itulah yang sedang ia pikirkan untuk menyelesaikan masalah di hadapannya ini.
Hingga detik ini Felix masih berpikir keras. Mungkin aku harus mengeluarkan dia dari masalah untuk sementar waktu. hanya sementara.
"Bila kita berhenti disini terus menerus, waktu istirahat akan habis," celetusku karena aku tak ingin melewatkan makan siang.
"Haa iya itu benar, berikan Felix waktu untuk memikirkannya," ujar Gabriel dengan senyum ramahnya.
"Baiklah tolong jawab perasaaan kami yak ketua kelas 12-A," ucap Niki.
Dengan wajah Felix yang memerah ia menjawab
"Baiklah..."
Di sela sela suasana Alder malah menahan tawa. Apa coba yang lucu?
"Mulutmu minta disembelih yak." senyuman Gabriel langsung menghayutkan seluruh orang yang ada disekitarnya.
'Untuk apa sih aku menunggu mereka langsung gas aja ke menara kalau lama kayak gini.' aku langsung melangkah pergi meninggalkan mereka.
Mereka yang sadar akan pegerakanku langsung menyusul di belakang.
"Tuhkan tuan putri marah gara-gara kau." bisik Alder ke Gabriel yang harusnya sudah tidak naik darah.
Tapi karena bisikan yang menyebalkan dari Alder dengan kejinya Gabriel menginjak kaki Alder dengan sekuat tenaga hingga ia berjalan jingkrak- jingkrakan dengan satu kaki.
Orang-orang yang menyaksikan tersebut hanya tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Alder yang sangat konyol.
"Sialan kau Gabriel."
Mereka akhirnya pergi ke menara dengan selamat dan hidup bahagia. Yaa kecuali lucy yang mukanya sudah pucat karena keramaian dan keberisikan. Mungkin kedepannya ia akan terbiasa dengan suasana seperti ini.
>>>
Ketika bel ingin pulang, guru di jam terakhir memberikan pengumuman kepada ke seluruh muridnya,
"Besok karena ada acara festival, kalian boleh memakai baju bebas, kalian juga boleh tidak membawa buku pelajaran karena besok tidak belajar dan kalian jangan masuk dulu ke kelas kumpul di aula untuk pemotongan kue serta pembukaan untuk festival."
Seluruh murid bersorak gembira karena akhirnya mereka akan merdeka dari yang namanya belajar, katanya refreshing sebentar sebelum ujian.
Akhirnya bel berbunyi dengan nyaring lalu guru tersebut meninggalkan kelas. "Hufftt besok nggak usah datang kali yak," pikirku.
"Besok Lucy harus datang yak!" seru Felix.
"Nggak."
__ADS_1
"Datang!"
"Nggak."
"Kau harus datang pokoknya, nanti saat kita berkumpul di festival rasanya kurang lengkap tanpamu." ujar Felix yang bersikeras membujukku.
"Kau sendiri juga pikirkan tentang masalah cintamu besok, katanya kau akan memilih diantara Niki dan Sarah." balasku dengan sebal.
"Oh iya, kau benar juga." seketika wajah Felix langsung murung dan tidak bersemangat untuk festival besok.
'Wahh gawat apa aku membuatnya sedih?' seketika itu juga aku merasa bersalah melihat Felix yang nampak sedih dengan masalahnya.
"Ke-ketua aku minta maaf atas ucapanku tadi..."
"Tenang saja, aku tidak akan lari dari masalah, aku akan menghadapinya dengan sekuat tenaga." Tiba-tiba saja dengan senyum juangnya, ia mengepalkan tangannya di hadapanku.
"Aah--iya." Aku membalas tosnya tersebut dengan menyatukan kepalan tanganku padanya.
"Karena itu...Lucy harus datang besok!"
"A-apa? Kenapa?" kejutku sambil bertanya-tanya.
"Karena besok adalah hari dimana kita nanti membuat kenangan bersama."
"Kenangan."
"Yup, dengan begitu kita bisa berbagi cerita kita masing-masing dan menyatukannya di album persahabatan."
"Entah... Kenapa... Itu terdengar lucu dan kekanak-kanakkan," ujarku yang merasa ide itu agak aneh.
"Walau begitu buku itu akan sangat berguna untuk menghilangkan rasa rindu kita saat berpisah. Hmm daripada kata berpisah lebih tepatnya mengingat diri kita yang bersenang senang di masa remaja sekarang. Kita tidak akan tau sesibuk apa saat kita dewasa, karena kesibukan masalah hidup, mungkin kita akan jarang bertemu dan reunian bersama, makanya terciptalah buku tahunan sekolah menengah," jelas Felix dengan nada lembut, ia seperti memikirkan hal-hal di masa depan yang kemungkinan akan terjadi nanti.
"Karena itu Lucy harus datang besok," suara lain terdengar di meja depanku.
"Noel."
"Noel juga akan datang kan besok?" tanya Felix.
Dengan menggaruk rambutnya yang tak gatal ia menjawab, "besok aku memang wajib harus datang ke festival untuk berpatroli, sayangnya aku tidak akan bisa bersenang-senang seperti kalian."
"Ah~ aku lupa kalau kau juga anggota OSIS."
"Tahun ini kami para OSIS kekurangan anggota dari kelas 11, maka dari itu kami tetap akan mengisi kekosongan sampai ada anggota baru lagi. Tidak masalah aku senang bisa mengamankan keadaan agar teman-temanku bisa bersenang- senang dengan aman."
"Wuahh hatimu baik sekali," sanjung Felix.
"Haha terima kasih."
Dari situlah aku mulai berpikir bahwa didepan sana mungkin ada banyak kebahagiaan dan juga kesedihan yang akan menimpaku, namun aku tidak tau apa yang akan terjadi kedepannya bila aku memutuskan sesuatu dengan adanya resiko yang diambil. Aku juga terus memikirkan jalan yang sudah kuambil ini.
"Baiklah... Besok aku datang." ucapku pelan.
"Wuaah akhirnya besok kau mau datang, janji yak," seru Felix.
"Entahlah... Besok akan ku-usahakan untuk datang," jawabku
"Okey," Felix dan Noel tersenyum mendengarnya.
Mungkin bukanlah hal buruk jika aku mulai bergaul dengan mereka.
....
"Hal yang indah adalah mengingat masa-masa yang menyenangkan."
__ADS_1