MENTARI TANPA EMOSI

MENTARI TANPA EMOSI
Polos


__ADS_3

“Inikah tempatnya.”


Aku menonggak ke atas melihat rumah yang lumayan besar berdiri kokoh di depan jalan yang sepi. Mungkin sebelumnya rumah ini terlihat mewah dan elegan, siapa sangka jika ditinggal ternyata cukup membawa kesan yang horror.


“Tunggu apalagi ayo kita masuk.” Tuan Alex nampak tidak takut sedikitpun, justru itu yang membuatnya menarik. Seorang profesional memang berbeda. Semakin banyak misteri maka semakin dirinya terhibur.


Niki bersembunyi dibelakangku dengan menarik bajuku karena takut. Kami semua memegang senter dan memancarkan isi dari dalam rumah tersebut.


Debu berterbangan dimana mana, serta barang barang yang tertutup kain putih yang kukira itu adalah hantu sungguhan. Gelap dan sunyi itu yang terukir dalam rumah ini. Menambah kesan yang lebih seram sekarang.


“HEI APAKAH ADA ORANG!!”


Aku dan Niki terkejut melihat Alex berteriak sangat keras. Suaranya menggema sampai ujung rumah, tak ada jawaban apapun, lantas Alex langsung memasuki ruangan berikutnya.


“Apakah lampunya tidak ada yang menyala sedikitpun?” Niki merinding ketakutan, kakinya merapat seperti orang yang menahan hajatnya.


“Sudah aku nyalakan saklarnya tetapi sepertinya listriknya memang padam karena sudah lama tidak ada yang memakainya,” jelas Siska yang mengotak atik saklar lampu.


“Bagaimana ini?” rengek Niki.


Kami melanjutkan ke ruangan berikutnya dengan menaiki tangga. Pintu kamar berjejer di setiap koridor. Kami semua mengeceknya satu persatu dan alhasil tak ada orang sama sekali didalamnya.


Aku takut ini adalah jebakan Lina yang kesekian kalinya tapi dia sudah meminta maaf kan? Apa itu kebohongan yang lain.


“Lagipula dimana tuan Alex?” tanya Siska pada kami. “Mungkin ada diruang berikutnya di lantai 1.” jawabku


“Rumah ini cukup besar untuk dijelajahi.”


“Kalau tidak ada di lantai ini, mungkin ada di loteng.”


“Ya sudah ayo kesana.”


Kami mencari tangga untuk menaiki paling atas dan tak berselang lama kami menemukan tangga itu. Ketika kami berada di lantai paling atas, kami terkejut dan terkagum kagum apa yang kami lihat.


Ruangannya tampak bersih dan elegan, berbeda dengan ruangan yang lainnya, lebih terkejutnya lagi ketika ada seorang rapunzel terjebak di rumah ini. Ia tengah menyisir rambut panjangnya yang bergelombang di depan cermin.


Sebelum kami memanggil dirinya, kami melihat kaki wanita itu. Mungkin saja dia adalah hantu di rumahini.


“Permisi...” ucap Siska Pelan.


Wanita itu spontan menengok pada kami, menengoknya bukan ke arah kiri atau ke kanan, tapi kebelakang.


“Iiiiihh” jerit kami ketakutan. Jujur saja aku benci sekali yang namanya bergenre horror. Selain wajahnya yang seram adalah kemunculannya secara tiba-tiba.


“Ada yang bisa aku bantu?” tanyanya dengan nada seram.


“Maaf masuk tiba tiba, kami sedang mencari seseorang di rumah ini,” wanita itu bangkit dengan menunduk lemas.


“Oooh... kalian adalah temannya yak,” ucapnya dengan suara menakutkan.


“Apakah anda tau dimana mereka?”


Kami merinding ketakutan melihat sosok itu dengan rambut panjang hitam yang menutupi wajah serta bajunya yang hampir menjulur ke lantai berwarna putih.


“Tentu saja saya tau!!” jawabnya dengan tingkah yang tiba-tiba berubah menjadi wanita riang.

__ADS_1


“Eeh?”


Kami juga bingung dengan sifatnya yang berubah menjadi ramah dan baik. “Ayo ikuti saya,” ucap wanita itu dengan jalan yang sangat elegan bak seorang model.


“Ternyata ia lumayan sexy yak,” kagum Niki yang takutnya seketika menghilang.


Kami mengekori wanita yang cantik itu menuju ruang bawah tanah.


"Boleh saya tanya siapa nama anda?" tanya Siska penasaran.


"Nama saya Arabella, saya baru saja pindah disini, maaf bila rumahnya kelihatan berantakan dan kotor karena masih dalam renovasi." seru wanita itu.


"Tidak apa-apa, justru kami minta maaf karena seenaknya masuk kedalam.


Apa anda sudah suami istri?" tanya Siska lagi.


"Iya saya sudah menikah, sayangnya suami saya masih bekerja dan belum pulang tapi tenang saja setelah ia bekerja, ia akan pulang nanti," jawab wanita bernama Arabella tersebut.


Kami masih menuju sebuah tangga bawah. Terlihat gelap dan menyeramkan tapi itu tidak membuat kami mundur mencari Master.


"Nahh sudah sampai."


Sebuah pintu berwarna coklat telah terbuka, Kami mengintip isi dari ruangan tersebut secara diam-diam.


Terlihat jelas disana ada orang bertopi Detektif, Pria kekar, serta Pemuda tampan yang memakai kacamata dengan tali yang mengingkari tubuhnya.


“Hei! Hei! Main yuk,” ajak Alex.


“Tidak, kau pikir aku anak kecil!!” tolak Pria kekar tersebut.


“Tenang saja ini mudah kok. Kau hanya perluh menebak dan melakukan sesuatu,” serunya.


“Tebak yak.... yang jual tidak pakai, yang pakai tidak beli, yang beli tidak pakai, apakah itu?”


Pria itu nampak tertarik dan sedang berpikir keras. Alex malah senang ketika pertanyaannya di tanggapi serius olehnya.


“Kira kira apa yak?” bisik Niki.


“Tidak tau.” jawabku.


“1....2....3 TET waktunya habis!!” seru Alex.


“Haaa!? cepat banget!!”


“Pertanyaan gampang kenapa harus dipikirkan?”


“Memangnya apa jawabannya!!”


“Batu nisan.”


“Hah?”


Pria itu awalnya kebingungan. tetapi setelah ia pikir “oh iya benar juga.”


“Karena kamu kalah, kamu harus memegang ini,” ucap Alex sambil menyerahkan seutas tali tambang pada Pria tersebut. Pria itu nampak terima- terima saja dengan polosnya.

__ADS_1


“Buat apa?” tanyanya.


“Pegang saja, terus kamu nyanyi lagu ‘bintang kecil’ sambil tutup mata, bisa, kan?”


“Bisa... sih,” jawabnya agak ragu.


“Baiklah mulai yak.”


Pria itu mulai bernyanyi dengan menutup kedua matanya, lalu Alex berjalan memutarinya dengan perlahan.


Kami terus mengamati tingkah mereka, suara pria itu mulai menghilang, Kantung matanya terpenjam beberapa kali. Bahkan ia menguap keras menandakan ia mulai mengantuk dengan lagu yang ia nyanyikan sendiri.


“Z...z...z”


“Dia tertidur.” gumam Siska.


Tanpa pria kekar itu sadari, Alex telah mengikat tubuhnya. “Sungguh anak yang polos.” ucap Alex.


Kami akhirnya masuk kedalam ruangan. Siska langsung bergegas membuka ikatan master Kendrik.


“Terima kasih telah menyelamatkan saya,” ucap Master sambil bersyukur dihadapan kami.


“Syukurlah anda selamat.” ucap Alex senang.


“Master tidak apa apa kan?” tanyaku khawatir.


Entah kenapa, Master mengelus kepalaku lembut sambil tersenyum hangat. “Maaf karena sudah mengkhawatirkanku.”


Aku langsung mengalihkan pandangan dari wajah Master. Dengan ekspresi malu aku pun menjawab “ini bukanlah apa apa.”


Master hanya terkekeh melihatku begitu. Lalu Polisi datang setelah Siska memanggil bantuan untuk membawa tahanan ke penjara. Tentunya ia masih tertidur pulas hingga sampai di kantor polisi.


“Maaf, membuatmu khawatir Bella.” ucap Master tersipu malu. Wanita yang dipanggil Arabella itu hanya tersenyum manis


“Lain kali, berhati-hatilah.”


“Baik! Oh iya anak-anak mari kita pulang. Sebelum itu Master akan mengajak kalian makan makan yak.” ajak master sambil merangkul aku dan Niki.


“Terima kasih atas tawaran Master, tapi ini sudah menjelang malam Master, lagipula ada seseorang yang masih menunggu kami untuk pulang.” ucapku menolak.


“Ouh baiklah aku paham. Kalau begitu terima kasih yak untuk hari ini.”


“Iya sama-sama, terima kasih juga untuk Nyonya Arabella,” ucapku sopan.


“Tentu, tidak masalah.” jawabnya dengan manis.


Kami pamit kepada mereka berdua dan pulang dengan membawa makan malam yang telah dibungkus untuk dibawa pulang.


“Kami kembali!!” seru Niki dengan membuka pintu rumah.


Tak ada jawaban dari Kak Alvin yang riang, tetapi kami bisa melihat bahwa ia tertidur diatas sofa merah marunku. Niki membangunkan Kak Alvin untuk makan malam.


Ketika ia bangun awalnya kesal karena menunggu sangat lama tetapi ia kembali ceria setelah kami membawakan makanan lezat untuk makan malam.


Malam yang dipenuhi bintang kelap kelip memancarkan harapan baru bagi seseorang ketika dirinya melihat bintang jatuh dan berdoa, walaupun begitu aku tidak akan berdoa pada bintang jatuh yang hanya meminta sekedar kebahagiaan seumur hidup. Bagiku ini sekedar kecukupan untuk bertahan dalam kehidupan. Memiliki teman serta orang orang yang baik padaku adalah suatu keberuntungan yang baik.

__ADS_1


.....


“Tanpa kegelapan kita tak akan pernah melihat bintang di langit.”


__ADS_2