
Kertas itu masih menjadi misterius hingga saat ini, sejak saat itu aku masih memikirkannya. Wajah orang itu benar-benar tak terlihat jelas jadi aku tidak bisa mengingatnya.
Melamun lagi. Aku harus fokus dengan ujian sekolah dibanding aku memecah misteri ini. Aku menghela nafas panjang.
'Haa~ Kertas ini membuatku semakin penasaran saja,' aku meletakkan wajahku pada meja belajarku, lelah terus terusan memikirkan dua hal secara bersamaan.
Rumah terasa sepi dan itu agak menyeramkan jika aku mendengar suara suara kecil yang tidak diketahui asalnya. Aku memang sudah terbiasa sendirian hanya saja rasanya berbeda dari yang dulu.
'Tring.'
Ponselku tiba-tiba saja berbunyi, biasanya bergetar saja. Aku langsung membuka chat dari niki, sepertinya aku benar benar sudah berubah banyak dari tingkahku yang menerima semua pesan, biasanya aku mengabaikan atau membalasnya dengan lama.
Tapi aku senang, karena hidupku tidak terlalu menderita.
Niki : "Lucy, kamu sudah belajar untuk ujian sekolah?"
Lucy : "Belum, besok aku akan belajar."
Niki : "Okey aku juga besok saja."
Lucy : "Baiklah aku belajar saja sekarang." Niki : "Katanya besok!"
Lucy : "Aku berubah pikiran, karena bosan aku belajar saja."
Niki : "Huftt baiklah terserah kau Lucy."
Dia langsung off, seperti kataku aku langsung belajar setelah itu. Karena ujian tinggal dua hari lagi, kalau belajar besok sama saja dengan belajar kebut semalam.
"Baiklah ayo fokus."
Aku tidak memikirkan tentang surat itu lagi dan hanya menyimpannya.
***
Keesokan harinya, aku membuat coklat panas dan kembali ke meja belajarku, aku melanjutkan latihan yang kemungkinan akan keluar saat ujian.
Di tengah kesibukan tersebut, tanpa di sengaja aku menumpahkan coklat panas.
"Aahh sayang sekali padahal baru saja kuminum."
Air panas tersebut mengenai kertas misterius tersebut dan aku segera membersihkan meja dengan lap.
__ADS_1
Hanya saja ada satu kalimat bertambah pada tulisan tersebut dibagian yang terkena noda coklat panas.
'Jika kau ingin tau kebenaran dan mendapatkan kembali ingatanmu, pergilah ke kantor polisi dan ucapkan nama Tuan Baron - Peter.'
Kalian tau apa yang berbeda pastinya. Kata peter merujuk pada nama seseorang.
"Siapa Peter?" gumamku bertanya-tanya. Bahkan aku jadi semakin penasaran dengan kertas tersebut. Apakah Peter adalah sosok yang mengirimkan amplop itu.
Sepertinya begitu. Kutebak juga seperti itu. Mungkin Peter adalah sosok yang tidak jelas itu.
Aku menaruh kertas tersebut di laci dan kembali belajar. Aku akan mencari tau rahasia yang terdapat di dalam surat misterius setelah ujian sekolah nanti.
***
Hari yang ditunggu murid sudah tiba. Ujian bagai medan perang-pun dimulai, mereka harus menyiapkan senjata dan mental untuk berperang melawan soal atau lawan yang sulit untuk di kalahkan.
Rencana strategi sudah disiapkan dari jauh hari, semua latihan sudah dilalui, hanya bisa berdoa agar ujian bisa berjalan lancar dan mendapatkan kemenangan.
Seragam atau zirah sudah lengkap hingga tidak ada yang perluh dikhawatirkan ketika berperang nanti, jika tidak lengkap biasanya akan didiskualifikasi dari ujian istilah dari perang kau sudah terluka sebelum berperang hanya karena tidak memakai baju keselamatan diri dengan lengkap.
"Kalian punya satu jam setengah, kerjakan dengan baik dan jujur, jika ketahuan mencontek akan segera dikeluarkan dari ruangan ujian, baiklah ujian dimulai dari sekarang," ucap pengawas atau komandan perang yang sudah memberikan aba aba untuk maju ke lapangan.
Aku terhempas dan kesulitan melawannya, diantara kuadrat lainnya kenapa x dan y harus merusak segalanya. Si kembar yang tak seiras itu bagai kembar yang melengkapi, tetap saja aku tidak menemukan jawaban atau celah untuk mengalahkannya.
Peperangan ini benar benar penuh banyak perjuangan, keringat, darah dan air mata sudah tidak bisa dihitungkan berapa pertumpahan dan gugurnya para prajurit.
Tetap saja aku tidak ingin menyerah, selama ada waktu aku akan menyelesaikan sisanya.
***
"Waktunya habis."
Kami mengumpulkan kertas ujian pada pengawas. Aku tidak tau lawan yang sulit tadi hanya pura-pura mati atau masih hidup, intinya aku sudah berusaha untuk melawannya mati matian.
"Yaa Lucy gimana tadi ujiannya?" tanya Felix yang datang ke mejaku.
"Entahlah, sepertinya aku harus banyak belajar lagi," jawabku sambil tenggelam dalam penyesalan.
"Tidak apa-apa, aku juga agak kesulitan di beberapa nomor kok." sahut Noel yang ikut nimbrung di mejaku.
"Tetap saja kalian pasti dapat peringkat dalam 5 besar," jawabku yang agak iri pada mereka.
__ADS_1
"Haha Lucy juga kok suka ada di peringkat dalam 5 besar," balas Felix dengan ceria.
"Haha iya yak," aku tertawa garing karena itu.
"Mau belajar bersama mumpung ada waktu?" tawar Noel.
"Boleh."
Kami bertiga belajar bersama di mejaku. Di sisi lain kelas 12-C yang jauh berbeda dengan kelas lainnya, mereka lebih memilih santai ketimbang belajar. Ada yang merasa sudah pintar hingga tidak perluh belajar, ada yang sudah menyerah duluan, ada yang tidak mau ambil pusing dengan belajar terus terusan. Anak 12-C diisi dengan anak anak yang random.
Bagaimana dengan kelas 12-B? mereka adalah anak anak yang memiliki nilai standar atau normal, ada yang belajar dan ada yang sudah ingat jadi tinggal istirahat saja, mereka hanyalah seperti murid biasa pada umumnya.
Dan 12-A kalian sudah tau bagaimana mereka, kami diisi waktunya dengan belajar, makan sambil belajar, bercanda sambil belajar, istirahat masih tetap baca buku. Dengan kata lain kelas 12-A ini adalah penggila belajar yang tak tau waktu dan tempat.
Ujian dilaksanakan selama 5 hari karena semua mata pelajaran diujikan semuanya. Mungkin selama 5 hari itu akan menghabiskan tenagaku untuk belajar dan belajar.
'Apa aku beritahu pada Felix tentang kejadian yang menimpaku yak? Hm sepertinya tidak. Aku akan bertanya tentang siapa itu Peter, itu saja mungkin cukup.'
"Hemm Felix--"
Saat aku menaruh pulpen di kantung, aku merasa kehadiran kertas di sana. Sebelumnya aku tidak menaruh kertas sama sekali di dalam saku bajuku. Aku langsung mengambil kertas yang terlipat-lipat dan membukanya.
'Jangan cari tau tentang Peter.'
"Ada apa Lucy?" tanya Felix tiba tiba.
Aku secara sontak menyembunyikan kertasnya sebelum ia menengok padaku.
"Kenapa Lucy?" tanya Felix sekali lagi.
"Haaa tidak jadi," balasku dengan senyum canggung.
"Oke, baiklah," kemudian Felix kembali ke tempat duduknya, begitupun denganku yang duduk kembali ke kursiku.
'Aku bahkan tidak boleh tau tentang dia. Kenapa?'
Dan ujianpun dimulai kembali.
....
"Kau yang menutup hati rapat-rapat, aku tidak akan memaksamu untuk membukanya tetapi sadarilah kalau kamu tidak bisa selamanya akan seperti itu terus.”
__ADS_1