MENTARI TANPA EMOSI

MENTARI TANPA EMOSI
Pisau


__ADS_3

Noel duduk di tempat ketua, aku tak menyangka ia datang ke sekolah ini, Noel sempat melihatku dengan wajah senang, seolah sudah lama kita tak bertemu. Aku pernah bertemu dengannya satu tahun yang lalu saat aku mengunjungi rumah niki, di samping pagar hitam yang tinggi, aku melihat Noel sedang menikmati secangkir teh dan membaca buku, ia tersenyum ramah kepadaku dan aku hanya menunduk hormat padanya, kemudian Niki datang.


Ketika Niki datang, aku sempat melihat wajah Noel berubah menjadi masam pada kami, aku tidak terlalu banyak memandangnya karena aku ditarik cepat oleh Niki, ia memanyunkan mulutnya seolah cemberut dengan pertemanan kami.


Niki juga sempat mengatakan bahwa dia sangat tidak menyukai Noel si anak kaya raya dengan prestasi yang tinggi, tetapi mereka adalah teman masa kecil.


Seiring waktu berjalan, Noel terkurung dalam mansion mewah dan mereka tidak saling bertemu lagi.


***


Bel istirahat telah berdenting, aku langsung mengeluarkan bekalku dan ingin pergi ke kantin, tetapi rasanya aku tidak bisa kemana-mana karena ketua menghalangi jalan keluar.


"Ketua, bisakah permisi sebentar, aku ingin keluar," pintaku.


"Oh kau ingin pergi ke kantin yak? Aku ikut!!"


'Serius! Aku ingin pergi sendirian, please!' batinku dengan perasaan geregetan.


Aku memasang muka lelah dan pasrah, akhirnya aku memperbolehkannya ikut denganku.


"Iya boleh."


"Tunggu!"


Kami menoleh serempak, pemuda berambut ungu itu menghampiri meja kami dengan membawa bekalnya.


"Bolehkah aku ikut bergabung dengan kalian?" pintanya dengan berani.


"Boleh!" jawab Felix dengan antusias.


Si ketua emang kebangetan kalau sudah dekat denganku, aku menyesal bertemu dengannya saat liburan hari sabtu.


"Aku juga akan mengajak Sarah!" ujar ketua dengan semangat.


'Nah kan tambah lagi!' batinku kesal.


Akhirnya kami bertiga pergi ke kantin bersama, sepanjang lorong kami menjadi pusat perhatian, kedua pemuda itu nampak bersinar seolah menyinari lorong yang gelap dan aku ada dibelakang kedua lelaki populer itu, sembari mendengar ocehan pahit dari murid-murid cewek, karena kesal aku memasang aura gelap di sekitarku.


Saat sampai di kantin, kami melihat Sarah sudah menunggu di meja kantin yang panjang.


"Maaf menunggu lama," ucap Felix.


"Jadi ini murid barunya, salam kenal aku Sarah Amelia, kau boleh memanggilku Sarah!"


"Salam kenal aku Noel William," balas Noel sembari duduk dikursi panjang.


"Aku adalah ketua kelasmu, namaku Felix Ivander Wilson, kamu boleh memanggilku apa saja!"

__ADS_1


"Kalau begitu, aku memanggilmu Felix saja," jawabnya dengan tersenyum.


"Ayo perkenalkan namamu," bisik Sarah dengan menyikutku.


"Aku-"


"Aku tau! Namamu Lucy Aureista kan?" sahut Noel lebih dulu.


"Eh? I-iya," kenapa aku terbata-bata begini.


"Sudah lama kita tak bertemu yak," Ia melebarkan senyumannya padaku, itu mengingatkanku pada hari pertama bertemu dengannya.


"Jadi kalian sudah saling kenal. Lucy kenapa kau tidak bilang padaku?" heboh si ketua dengan wajah cemberut seperti anak kecil yang diambil permennya.


"Aku kira kau tidak akan mengingatku," ujarku sembari membuka bekal.


"Tentu saja aku ingat, aku tidak akan melupakan teman dekatnya Niki," jawabnya dengan riang.


Aku tidak tau kalau dia ingat padaku, padahal kita hanya sesekali bertemu pada saat itu, mungkin ia mendengar namaku saat aku mengunjungi rumah Niki.


Aku kadang melihatnya di sebuah jendela lantai dua, ia selalu mengintipku dari kejauhan, dia selalu melambai senang kepadaku, tetapi ketika Niki datang ia menjadi tidak senang. Sebenarnya dia itu cemburu atau iri yak?


"Ngomong ngomong kamu tidak mengundang Niki, kah?" tanya Felix pada Sarah.


"Dia pergi duluan sebelum aku," jawab Sarah.


"Sudah, dia bilang ada urusan dengan guru," jawabku setelah melihat balasan pesan Niki.


"Oh."


Setelah kami selesai istirahat, kami kembali ke kelas masing masing, tiba tiba saja saat aku masuk ke kelas, aku disandung oleh seorang cewek.


"Hah?"


Aku terkejut karena aku ingin terjatuh, aku tak bisa menyeimbangi tubuhku lagi, rasa malu telah bersiap terpasang di wajahku.


"Aaa!"


Rasanya ada yang aneh, aku langsung membuka mataku, ternyata aku tidak jadi jatuh, karena Noel dengan cepat menangkapku.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Noel dengan nada khawatir.


"iya aku baik-baik saja." senyumku agar dia yakin kalau aku baik.


"Cih gagal lagi!" kesal cewek tersebut.


Ketika cewek itu berbalik badan, ketua telah menghadangnya lebih dulu. Wajahnya terlihat sangat marah, jarang sekali ketua seperti ini, ia tidak suka ketika ada temannya di perlakukan kasar.

__ADS_1


"Kenapa kau menyandunginya?" tanya ketua sambil melakukan interogasi.


"Suka suka aku," jawabnya dengan wajah sombong.


"JAWAB AKU DENGAN BENAR!!"


Suara Felix menggelegar di seluruh ruangan kelas, seluruh siswa jadi diam terpaku menatap Felix yang sudah menjadi mode ketua tegas.


Saat dalam mode itu tidak ada satupun yang berani macam macam dengan ketua kelas, begitupun dengan diriku yang takut ketika ketua sedang marah atau selepasnya.


"A-aku membenci dia! Karena itu aku berbuat begini!" jawab gadis itu yang sudah merasa ketakutan tetapi ia masih berani memasang wajah angkuh di depan ketua.


Selepas aku mendengar kebenciannya, entah kenapa di dalam dadaku terasa sakit seperti tergores silet tetapi itu tidak berdarah sama sekali, apakah ini yang dinamakan sakit hati.


"Kenapa kau membencinya? Lucy tidak melakukan hal jahat padamu, dia saja tidak pernah mendekatimu?" tanya ketua sambil melipat kedua tangannya.


Gadis itu geram dan meremas tangannya.


"Aku menyukaimu dan selalu berusaha mendekatimu, aku suka responmu yang ramah, tetapi saat hari senin kemarin aku terkejut tiba-tiba saja kau duduk dengan gadis aneh itu, padahal aku selalu ingin menjadi orang yang paling dekat denganmu, jujur saja aku termakan oleh kecemburuan dalam hatiku! Aku ingin kau menjauh dari gadis aneh itu sekarang juga!!" jawab gadis itu dengan nada lantang.


Tetapi jawaban dari gadis itu tidak berpengaruh pada ketua.


"Perbuatanmu tetap salah Lina! Berteman dengan siapapun asalkan dia baik itu tidak menjadi masalah bagiku," ujar ketua.


Gadis yang bernama Lina itu terpaku mendengar hal itu, ia memasang wajah bersalah sebagai seorang sekretaris kelas.


"SEKARANG!! Aku ingin kau meminta maaf pada Lucy!" tegas ketua.


"Baik..." ucapnya lemas.


Ia berjalan kepadaku lalu ia memelukku dengan erat sembari meminta maaf.


"Maaf Lucy, aku telah berbuat kasar kepadamu, seharusnya aku tidak egois


seperti ini," ucap Lina dengan nada menyesal.


"Tidak apa-apa. Aku memaaf-"


"Hah!"


Dengan cepat ia menusuk perutku menggunakan pisau kecil disaat Lina memelukku dengan erat.


Mataku terbelalak tidak percaya, ia mencabut pisaunya dari perutku dengan kejam. Seluruh kelas langsung panik melihat darah yang menembus bajuku, aku langsung tersungkur sakit sambil memegang perutku yang berdarah.


"Lucy!"


....

__ADS_1


"Di dunia ini terdapat 2 tipe orang yang cemburu, cemburu yang di pendam dan cemburu dengan Dendam."


__ADS_2