
“Silahkan duduk Nona Lina,” ucap Alex yang mempersilahkan Lina duduk dengan diawasi seorang polisi.
“Jadi ada apa tuan memanggil saya?” tanya Lina dengan senyuman tipis manisnya, tetapi disisi lain Alex juga melengkungkan senyumannya.
Jantungku berdetak kencang ketika sang kriminal berada disini, seolah ia bisa melukaiku kapan saja.
“Hei...bukankah kamu pelaku panggilan telepon itu?” simpul Alex sambil menunjuk Lina.
“EEH!?”
Jantungku meledak mendengar hal tersebut. Tapi bagaimana caranya? Dia kan dipenjara, bahkan tak ada celah sedikit pun didalam sel besi itu. Bagaimana ia menyimpulkan hal tersebut dengan mudahnya? Lina tertawa kecil mendengar hal tersebut, ia menganggap perkataan Sang Detektif hanyalah omong kosong baginya.
“Hahaha... apa maksudmu Tuan? Aku saja tidak bisa keluar dari sini, bagaimana caranya aku menelepon dia dengan nomor Master Kendrik?” ucapnya dengan nada remeh.
“Iya itu dia, kau tertawa dan mengatakan hal yang seharusnya kau tidak katakan, bukan?” seru Alex.
“Hah? Aku tidak paham apa maksudmu Tuan?” tanyanya bingung dengan senyum gugup.
“Aku paham!”
Tiba-tiba saja Niki berteriak sambil bangkit dari duduknya. Itu juga membuatkuterkejut.
Cih, Belakangan ini banyak sekali yang membuatku senam jantung.
“Kamu seharusnya tidak tau tentang panggilan pelaku yang memakai nomor Master Kendrik!!” tegas Niki.
“(.....)”
Seketika ruangan menjadi sepi. Aku sebenarnya berpikiran sama, seharusnya dia tidak tau tentang panggilan itu. Hanya kami dan Kak Alvin yang tau.
“Itu benar sih, tapi bukan itu yang ingin aku katakan,” gumam Alex.
“EEH!! lalu apa?” kejut Niki.
“Mungkin ia sudah tau, karena ia telah menguping ceritanya sedikit tadi,” jelas Siska.
“Begitu yak,” gumam Niki.
“Eh cewek cabai jangan langsung menuduhku sembarangan yak,” jengkel Lina.
“Siapa yang kau bilang cabai!!” kesal Niki.
“Sudah... Sudah... Jangan buat keributan disini, ini kantor polisi loh,” ujar Alex sambil menggeleng pusing.
“Niki duduklah,” suruhku.
__ADS_1
“Tapi...” ucapan Niki terpotong setelah melihat wajahku berubah seram. Aku tau ia ingin membantahnya. Iya aku tau, makanya aku langsung memakai ekspresi itu.
“Baik.” Niki duduk dengan keringat dingin.
“Jadi begini bagian ketika kau mengatakan ‘Aku saja tidak bisa keluar dari sini’ nah bagian itu yang membuat banyak pertanyaan dibenakku serta kesimpulan yang kudapat.” ujar Alex.
“Begitu yak? Aku penasaran, apa yang aneh dengan bagian itu?” tanya Lina dengan nada menatang.
“Baiklah biar aku simpulkan. kau seharusnya juga bisa berpikir, kau dapat keluar dari sini. Tentunya dengan uang kan?” ucap Alex yang seketika berubah menjadi sinis dan tersenyum seram.
Lina sesekali menelan ludahnya sendiri mendengar hal itu. Lalu Sang Detektif melanjutkan penjelasannya.
“Karena kau ingin balas dendam, jadi kau urungkan niat keluar dari penjara dan memanfaatkan keadaanmu yang tidak berdaya sekarang. Ketika orang tuamu datang tentunya kau meminta mereka untuk mengundurkan pembayaran keluar dari penjara, kan? bahkan pembayaran itu tak diperbolehkan ada di negara ini. Hukum tetaplah hukum,” jelas Alex.
“Cih, hanya itu? Kau juga tidak punya bukti tentang caranya aku mendapatkan kartu telepon master,” ucapnya dengan sombong.
“Tentu saja aku akan menjelaskannya,” seru Alex senang.
Keringat dingin mulai bercucuran serta tangan Lina yang gemetar. Perasaannya pasti tidak stabil sekarang jika diinterogasi seperti ini.
“Kalau tidak salah 2 jam setelah penculikan Tuan Kendrik. terjadi pemadaman listrik mendadak di kantor polisi, saat itu kamu menerima tamu yang mengaku sebagai pamanmu. Ketika pemadaman listrik berlangsung kamu menerima kartu nomor telepon yang telah dicuri dari handphone korban. kemudian kamu menelepon gadis ini. Aku yakin kamu melakukan panggilan ketika suasananya sedang sepi jadi agak menggema gitu loh, ” jelas Alex sambil menunjukkan kartu telepon master kendrik diantara jari tunjuk dan tengah.
Lina terbelalak melihat kartu nomor telepon di tangan Alex.
“Bagaimana bisa kau mendapatkan itu?” tanyanya dengan panik.
“Lalu darimana kau tau aku menerima kartu itu padahal sedang pemadaman listrik?” tanya Lina.
“CCTV di sini tidak memakai listrik dan terus terhubung pada laptop. Jadi adegan seperti itu masih terekam di layar kami walau dalam keadaan gelap gulita.” jelas Alex dengan santai.
Lina menggeretakkan giginya sebal dengan perkataan Sang Detektif, ia bangkit dan ingin menendang Alex tetapi dengan sigap Polisi langsung menahannya.
“Jadi beritahu kami, di mana Tuan Kendrik sekarang?” tanya Alex.
“Aku tidak akan memberitahu apapun!” jawabnya.
“Jika tidak memberitahu kami sekarang juga, tidak ada pilihan lain, selain memperpanjang masa tahananmu menjadi 1 tahun.” tegas Alex.
“Hah!” ekspresi Lina menjadi panik mendengar hal itu. Tubuhnya menjadi lemas dan duduk kembali.
“Aku tidak ingin dikenang sebagai seorang kriminal.” lirih Lina.
“Maka dari itu beritahu kami.” ucap Siska.
Lina mengigit bibir bawahnya, rasa campur aduk yang sangat kuat di hatinya menggejolak, antara ingin bertahan dan menyerah. Bibirnya yang gemetar menyerahkan diri untuk berkata-kata dengan rumit.
__ADS_1
“Master ada di sebuah rumah kosong di jalan blok B nomor 27 tepat didepan toko kue yang selalu buka setiap hari.”
“Baiklah, sekarang ucapkan permintaan maafmu dengan sungguh-sungguh pada gadis ini.” pinta Alex sambil menunjukku.
Pupil matanya mengecil dan raut wajahnya berubah menjadi marah besar seakan akan ia ingin mengamuk di depanku. Aku agak tegang ketika Alex meminta dia untuk minta maaf, saking tegangnya aku tak bisa bersandar saat duduk.
“Cepat minta maaf Nona Lina.” tegas Siska mengulang.
“Tidak mau!!”
Dia menggeretakkan giginya. Mendesis seperti ular dan ingin menerkam diriku seperti singa yang kelaparan. Sebenarnya aku tidak terlalu mengharapkan lina untuk meminta maaf. Aku hanya mengharapkan perdamaian tentram. Aku tau, mungkin ini kesalahanku juga. Aku salah karena telah terlahir dan hanya membuat rasa sakit bagi seseorang. Tetapi aku ingin semua orang tau apa yang ada didalam pikiranku yang sebenarnya.
Keinginan, mimpi, kebahagiaan dan juga kesenangan, aku ingin semuanya mengetahui hal itu. Bahwa aku masih memiliki tujuan hidup.
Ekspresiku begitu memilukan untuk dilihat sekarang. Aku ingin mengatakannya sekarang walau dalam ketegangan dan ketakutan, tapi aku yakin aku bisa melakukannya.
“Andai kamu tau, aku hanya sebatas teman dengannya. Aku tidak memiliki perasaan spesial yang seperti kau rasakan setiap kali kau mendekatinya. Tidak pernah. Tidak pernah merasakan jatuh cinta atau rasa ketetarikan yang berlebihan pada lawan jenis. Aku.... Hatiku..... Dan emosiku rasanya sudah mati rasa. Perasaanku yang begitu transparan selalu disalahpahamkan. Jadi aku mohon jangan salah sangka kalau aku menyukai ketua. Tidak masalah seberapa bencinya kamu terhadap diriku, tetapi aku tidak akan menjadikan dirimu musuh bagiku.”
Sepi dan tak berdenting sedikitpun. Tak ada reaksi dari mereka, hanya ada kesunyian mendalam yang aku rasakan.
Entah kenapa aku mengatakan itu padanya, tetapi ini lebih baik daripada ia tak tau apapun yang aku rasakan.
“Maaf...”
Aku terbelalak mendengar satu kata itu. Kali ini itu terasa tulus di telingaku. “Aku minta maaf...hiks...”
Lina menutup matanya dengan lengan tangannya menahan air mata yang keluar. Wajah yang sebagian terlihat hanya menggambarkan penyesalan.
“Maafkan aku yang begitu gegabah tanpa berpikir tentang perasaanmu.”
“Tenang saja, aku tidak memiliki rasa apapun dihatiku.” jawabku.
“Lucy...” lirih Niki yang memandangku khawatir.
“Hentikan tatapan khawatirmu itu, Niki jangan tatap aku seperti itu.”
“Maaf ”
“Jangan tersinggung, aku hanya tidak pantas untuk ditatap begitu.” ucapku. Niki-pun akhirnya hanya diam.
“Baiklah ayo kita cari Tuan Kendrik sekarang!!!” semangat Alex.
Akhirnya acara minum teh selesai dan berpindah ke tempat berikutnya yaitu rumah kosong jalan Blok B nomor 27.
....
__ADS_1
“Bukalah pikiranmu sebelum membuka mulutmu.”