
“Lucy! Lucy!”
Seseorang memanggil namaku walau suaranya bercampur dengan isak tangis yang terus ia curahkan. Apakah aku hanya tenggelam di laut yang terdalam?
“Kumohon bangunlah!”
“Hah!”
Aku langsung membuka mataku selepas mendengar kata-kata tersebut. Tubuhku gemetar disertai keringat deras yang mengucur di sekujur badanku. Mataku teralihkan pada pandangan seorang gadis berambut merah dengan tatapan yang sangat begitu cemas.
‘Apa itu artinya aku sudah kembali?’
Aku awalnya tertidur disebuah batu besar berlumut dan kepalaku agak pening saat mencoba untuk duduk. Walaupun begitu tetap saja aku ingin melihat sekitaranku yang dipenuhi perpohonan rindang, hingga mataku terbesit melihat bangunan terbengkala walau hanya terlihat balkonnya saja.
“Lucy ada apa? Apakah kepalamu sakit?” tanya Niki yang terus memegangi pundakku.
“Tidak apa, terima kasih sudah menyelamatkanku dan....” Kata-kataku agak sedikit aneh tetapi ini adalah ucapan terima kasih berkat teman-temanku yang terus mengingat diriku saat di dunia ilusi.
“Dan?” Niki memiringkan kepalanya menunggu kelanjutan dari mulutku. “Dan terima kasih juga karena kamu masih mengingatku yang dulu,” ucapku
tersipu malu, bahkan Niki ikut terharu mendengar hal tersebut.
“Dasar bodoh! Tentu saja aku masih mengingatmu,” Niki dengan spontan memelukku dengan erat tanpa mengkhawatirkan tubuhku yang masih rapuh.
Akan tetapi Niki seperti menyesal karena hampir tidak mengingat diriku.
Niki pun mengatakan yang sejujurnya pada kejadian yang menimpannya. “Sejujurnya aku minta maaf karena aku hampir lengah dan hampir percaya bahwa itu kau Lucy.. Hiks.. Hiks... Andai aku lebih mendengar perkataan Felix.”
“Felix?”
“Iya dia yang tau tentang bayangan Claura yang muncul setiap tiga tahun sekali... Hiks.. Hiks.. Aku ini sangat bodoh karena mengabaikan temanku yang dalam bahaya!”
“Sudah sudah jangan menangi,” ucapku sambil mengusap kepalanya.
Lagi-lagi dia menangis seperti biasanya, gadis sepertimu selalu dengan mudahnya berubah emosi, entah kenapa setiap emosimu begitu memunculkan warna yang berbeda-beda. Itulah yang membuatmu istimewa, karena itu berbagilah emosi denganku. Niki.
***
Tak lama kemudian terdengar suara ricuh langkah kaki yang terburu-buru, suara tersebut semakin mendekat.
“LUCY!” panggil ketiga lelaki yang memanggilku dengan serentak.
“Hah? Apa?” tanyaku dengan wajah terkejut, alangkah lebih terkejutnya melihat wajah mereka yang cemas dan bercampur ketakutan.
Gabriel, Alder dan ketua Felix menghampiriku yang masih terduduk lesuh di tanah.
Tiba-tiba saja Felix terpuruk kelelahan di tanah dan bersandar di pundakku.
“Syukurlah kau masih selamat.” bisiknya.
“Ketua...kau baik baik saja?”
Lalu Gabriel dengan senyum malaikatnya mengatakan, “dia yang sudah menyegel Claura dan menyelamatkanmu Lucy.”
kini sandaran ini berubah menjadi pelukan hangat dari Sang Ketua Kelas. “Aku sangat mengkhawatirkanmu loh,” ucap Ketua yang hampir ingin menangis. Dari lubuk hatinya saja aku bisa merasakan betapa beratnya ia berjuang dalam menghancurkan kegelapan yang sangat mengerikan itu.
“Ketua, saya sungguh berterima kasih tapi kenapa?” tanyaku dengan nada yang memilukan.
“Aku tidak ingin orang yang kusayangi hilang dari hadapanku lagi.” pelukannya semakin erat seolah ia tidak ingin kehilangan diriku. Bahkan aku yang mendengar itu begitu turut bersedih.
Kata-katanya seperti ia menyesali banyak hal selama ini, ia menahan rasa sakit dari kehilangannya tersebut. Dia terus memegang prinsip hidupnya untuk melindungi orang yang ia sayangi dan paling berharga.
__ADS_1
“Untungnya aku tidak mengabaikan peringatan itu,” ucapan Felix terdengar di telingaku. tidak. Tidak hanya aku tetapi semua yang ada di sini.
“Apa maksudmu?” tanyaku bingung, yang lain juga ikut penasaran dengan ucapan yang ia katakan barusan.
“Aku tidak menyangka Claura mengincar dirimu setelah aku membaca buku kutukan yang ditunjukkan oleh kakekku,” ucap Felix yang sudah melepas pelukannya.
“Jadi kau sudah tau target Claura tahun ini?” tanya Alder dengan perasaan agak jengkel.
“Iya, jadi aku mempersiapkan segala yang aku bisa untuk melindungimu Lucy, salah satunya adalah duduk disampingmu. Aku pikir semuanya akan berjalan lancar sesuai keinginanku tetapi tiba-tiba saja ada tragedi penusukan dikelas, hal itu menjelaskan kepadaku bahwa aku masih kurang dalam melindungi orang yang kuhargai. Entah kenapa kekuranganku itu membuatku sangat sebal dan jengkel jadi aku sangat marah besar saat itu,” balas Felix dengan tatapan yang melembut pada tangannya yang menggengam tanganku dan karena itu juga dua cowok si hitam putih yang berada disampingnya menampakkan wajah agak risih walau sudah membuat senyuman yang seperti dibuat-buat.
“Aku tidak tau kapan Claura akan muncul, tetapi di tahun ini dia akan menampakkan dirinya. jadi aku memberi tau sahabatmu agar dia bisa menjagamu saat di luar pantauanku. Sebenarnya aku cukup sangat terkejut saat harinya tiba, perubahan sifatmu itu membuatku sadar kalau kau sudah dirasuki Claura dan ditambah lagi aku yang sudah melihat Claura 3 tahun yang lalu. Hal Itu membuatku semakin yakin bahwa kau sedang tidak baik-baik saja. Orang yang sudah melihat Claura pasti bisa melihat wujud aslinya yang mengerikan.”
“3 tahun yang lalu... Apa yang terjadi disaat itu...?” Tanyaku mencoba untuk memberanikan diri bertanya walau sebenarnya itu akan membangkitkan traumanya yang dulu.
“Claura telah membunuh ibuku.”
Semua orang gentar mendengarnya, suasana hening kini melanda tempat yang mengerikan ini. Kami menahan nafas beberapa saat ketika mendengar duka tersebut.
“Iya saat itu adalah hari terburuk bagiku... Semenjak itu juga aku membenci akan adanya kegelapan, bahkan bayanganku sendiri aku membencinya.”
“Ketua aku minta maaf... dan aku turut berduka atas kematian ibumu,” ucapku yang menyesal menanyakan hal tersebut.
“Tidak apa kok yang penting aku bisa membalas perbuatan Claura yang terkutuk itu.”
Pertanyaan aneh tiba-tiba terlintas di benakku, aku-pun mengutarakan pertanyaan itu pada ketua dengan perasaan pasti.
“Hmm ketua.”
“Iya.”
“Ketua pernah bilang ketua duduk disampingku untuk melindungiku dari Claura, kan? apa selepas dari kejadian ini ketua akan pindah tempat duduk?”
“Tidak, aku tidak punya tempat lain selain di sisimu lucy.”
Tiba-tiba saja wajah kami agak dekat dan dahi kami bersentuhan, wajah Felix nampak begitu tenang karena ia merasa sosok ibunya kini bahagia di dunia sana.
“Dan lagipula Lucy terlihat seperti ibuku loh.”
“Sungguh?”
“Iya, walau kalian jarang berbicara dan sama-sama pendiam akan tetapi senyuman kalian yang menawan itu tidak akan pernah kulupakan.”
Senyuman hangat ketua terlihat sangat dekat di mataku. Aku tersipu malu mendengar ucapan ketua. Aku ingin menyangkal ucapan ketua tapi aku mengurung niat karena takut menyinggung perasaannya.
“Sudah cukup berdekatannya!” oceh Alder yang langsung memisahkan ketua denganku. Dan, ia langsung melingkarkan tangannya pada leherku sambil berkata, “ingat! kalau dia punyaku.”
Felix hanya tersenyum bingung ditempat seolah tanda tanya mengambang di kepalanya. Kemudian Gabriel langsung menangkas ucapan Alder.
“Kau tidak boleh merebut sesuatu yang sudah ada pemiliknya loh apalagi pemiliknya sendiri ada di sampingmu.”
“Masa bodoh denganmu ubanan!”
Perkataan Alder langsung menusuk Gabriel hingga tanda merah perempatan sudah berada didahinya, tanpa aba-aba lagi Gabriel memukul Alder sampai dirinya berpisah dariku.
“Diam saja kau mawar busuk.”
“Oh iya Gabriel dan Alder juga turut ikut membantuku dalam menyelamatkanmu dari Claura,” jelas Felix.
“Benarkah? Terima kasih untuk kalian berdua,” seruku tersenyum hangat pada mereka.
Membuat Alder dan Gabriel yang tadinya berantem adu mekanik menjadi terpaku pada senyumanku.
__ADS_1
“Tidak masalah, itu sudah menjadi tugas kami,” balas Gabriel dengan senyuman bagai malaikat.
“Lucy kamu bisa bangun?” tanya Niki sambil menjulurkan tangannya.
“Tentu, terima kasih,” Aku pun menerima ulurannya.
“Baiklah ayo kita kembali ke sekolah,” seru Felix yang ikut berdiri.
“Eh?”
Felix bingung dengan respon mereka, “ada apa?”
“Tidak... Tidak... Tidak mungkin kita kembali ke sekolah, kita sudah melewatkan banyak pelajaran, kan? Pasti guru-guru akan memarahi kita,” ucap Niki yang tubuhnya mulai gemetar membayangkan guru matematikannya memarahi dirinya lagi.
“Meskipun begitu barang-barang kita masih di sekolah. Pasti para guru juga mencemaskan kita karena barang kita masih dikelas tetapi orang yang punya malah tidak ada,” kata Felix.
“Yaa semoga baiknya begitu sih, tetapi itu tidak merubah kenyataan kalau para guru akan mengira kita bolos ditambah lagi kita keluar sekolah tanpa izin lohh.”
“Kalau saja itu terjadi, aku yang akan menjelaskannya. Kalian sudah menyelamatkanku dari kematian, jadi aku ingin membalas kebaikan kalian,” ujarku dengan tatapan yang menyakinkan.
“LUCY!! kau baik sekali,” sanjung Niki.
“Baiklah ayo kita kembali,” semuanya mengangguk setuju dan berjalan kembali ke sekolah.
***
Saat sampai disana kami masuk ke kelas dengan selamat, itu semua bukan karenaku tetapi kebetulan saja gurunya ada rapat. Jadi para murid hanya diberikan tugas saja di kelas.
“Aaahhh syukurlah gurunya sedang tidak ada...” Lega Niki, Sarah yang berada duduk disampingnya merasa bingung.
“Darimana saja kau!?” judesnya.
“Dari hutan.”
“Hah!?” akhirnya Sarah-pun mulai berpikir hal aneh pada Niki.
‘Ngapain Niki ke hutan?’ batinnya
“Kamu ngerjain tugas apaan Sarah?” tanya Niki yang tertidur lemas di meja.
“Tugas matematika halaman 17, gurunya sedang rapat jadi kau bebas mau ngerjain sekarang atau di rumah,” jawab Sarah sambil santai di kursi.
“Oooh. Tidak ada pemberitahuan lagi kan dari guru?” tanya Niki lagi dengan nada tidak niat bertanya.
“Ada, besok ada festival meriah di sekolah yang disponsorin langsung oleh... Oleh... Siapa yak namanya lupa aku.”
“Festival!! waah seru tuh,” tiba-tiba Niki menjadi semangat.
“Yaa pokoknya lihat saja besok, haha besok juga aku akan mengajak Ivan untuk berkencan,” seru Sarah yang juga tidak sabar untuk hari esok.
“Enak saja aku yang akan mendapatkannya lebih dulu,” bantah Niki.
“Tidak perluh ikut campur kau cabai,” ucap Sarah dengan jengkel.
“Apa maksudmu? Aku yang akan mengajak ketua lebih dulu darimu,” ejek
Niki.
“Haaa lihat saja nanti,” seru Sarah sambil melipat kedua tangannya.
Kini keduanya saling beradu tatap dan menantikan hari esok yang lebih meriah.
__ADS_1
.....
“Kehilangan seseorang sangat menyakitkan seperti hati yang tergores dan tercabik-cabik, terlebih lagi kalau itu adalah orang yang paling dekat dan paling disayangi. Jadi jangan sampai kita mengecewakan orang tersebut atau kita sendiri yang akan menyesal nantinya.”