
Keesokan harinya aku mulai siap-siap untuk ke sekolah hanya saja pergi ke sana bukan berarti selalu belajar untuk mendapatkan nilai terbaik tetapi belajar untuk berkomunikasi dengan teman dan membuat sebuah kenangan bersama.
“Seindah itukah kenangan?”
Roda terus berputar mengitari seluruh waktu yang ada, kumenunggu di aula menanti ada seseorang yang kukenal datang. Aula sudah hampir penuh, tetapi mereka semua belum kunjung datang.
‘Seharusnya aku datang ke rumah Niki dulu,’ pikirku.
“Lucy!!”
“Akhirnya mereka datang juga,” aku merasa lega karena kupikir aku akan ditinggal sendirian.
“Maaf kami datang terlambat,” ujar Ketua sambil memegang kepala belakangnya dan meminta maaf.
“Apa yang terjadi dalam perjalan kalian?” tanyaku karena terlanjur kesal menunggu mereka yang datang cukup lama dari yang di rencakan.
“Ada banyak berbagai hambatan dalam perjalanan kami,” ujar Niki sambil tersenyum miring.
‘Heem mencurigakan,’ batinku.
“Ngomong-ngomong acaranya mau dimulai, ayo kita ambil barisan dulu,” ajak ketua pada kita semua.
“Baik.”
Lalu acara-pun dimulai dari pembukaan terlebih dahulu, kue besar sudah terbetang di atas panggung dengan jejeran para guru dan kepala perusahaan wizzy.
Setelah nyanyian lagu ulang tahun serta sambutan dari kepala perusahaannya langsung, pemotongan kue-pun dimulai.
“Dengan ini acara ulang tahun wizzy yang ke-5 dimulai!!!” seru Sang Pembawa acara.
Sorak buyar disertai tepuk tangan para murid terdengar menggema seisi aula. Musik dinyalakan dan pesta dansa sudah dimulai, mereka memulai formasi yang elegan dengan disinarinya lampu yang terlihat manis.
Aku hanya menonton pertunjukkan dansa dari pinggiran meja makan, daripada diriku menari lebih baik aku mengambil kudapan manis sebelum kehabisan.
“Lucy,” seseorang menepuk pundakku dengan lembut.
Manik mataku sekali lagi bertemu permata yang indah. Rambut salju itu tidak pernah luntur oleh cahaya yang hangat. Kulit yang putih nan dingin itu nampak masih pucat.
“Apa yang sedang kau lakukan Lucy?” tanyanya.
“Aku hanya ingin makan cemilan manis ini,” jawabku yang sudah mengambil piring kecil dan garpu.
“Bagaimana kalau kau tunda dulu dan berdansa denganku saat ini,” tawar Gabriel yang sudah tersenyum cerah padaku.
Cahaya yang ia keluar benar-benar mengalahkan kegelapan dari dalam diriku. Mungkin sedikit gerak tidak masalah, tangannya daritadi sudah menjulur menungguku untuk menerimanya.
Aku menghela nafas lelah dan kutaruh tanganku di atas tangan miliknya.
“Baiklah ayo...”
Senyuman Gabriel merekah dan menarikku kedalam lingkaran yang menawan. Tiap langkah kunikmati sebisa mungkin. Alunan musik mulai menuntun kami pada setiap langkah yang didapat dan menjadi perhatian banyak orang saat itu. Banyak yang terkagum dengan gaya dansa kami yang cukup terasa elegan dan indah. Cantik tapi cukup menawan.
Apalagi mereka mengatakan pada kami kalau kami terlihat seperti boneka hidup yang sangat cantik. Aku tidak bisa menyangkal perkataan mereka, faktanya kami berdua memang sama-sama memiliki kulit putih pucat serta rambut kami yang halus, terus menari-nari di setiap bagian putaran. Kaki jejang kami tidak merasa kaku sedikitpun saat berdansa dan pakaian kami yang unik membuat banyak orang terpesona melihatnya.
‘Syukurlah tidak ada yang mengejek kami saat berdansa.’
Niki, Felix, Sarah terkagum melihat kemampuan yang dimiliki anak introvert itu. Anak introvert yang dimaksud tentu saja aku.
“Momen yang langka harus kurekam.” Niki langsung mengeluarkan ponselnya.
“Luar biasa, andai aku dan Ivan bisa seperti itu,” dan Sarah hanya menghalu melihat kami sebagai dia dan Felix.
“Mereka cukup membuatku terkejut tetapi itu terlihat sangat indah. Aku menyukainya.” Felix memuji kami berdua.
__ADS_1
Seiring berjalan waktu musik akhirnya selesai dan kami saling memberi hormat satu sama lain. Tepuk tangan para tamu dan murid-murid terdengar di telinga kami.
Dibalik banyaknya kerumunan, pemuda berambut hitam nampak kesal dan tidak menerimanya. Dia malah mencemoohkan pasangan dansaku. Lalu ia tersenyum dan mengatakan, “tidak masalah, selama aku masih bisa merebutnya. Aku pasti yang akan mendapatkannya lebih dulu.”
Pemuda bermata mawar itu pergi dari aula dengan mengibaskan jubah hitamnya.
“Entah kenapa aku bisa mencium aura raja iblis yak,” gumam Gabriel yang membuatku agak terkejut.
Dansa tahap 2 akan dimulai lagi di jam 10:00, untuk itu Felix harus menjawab perasaannya terhadap kedua sejoli itu dengan mengajaknya berdansa di pukul 10 pagi.
“A-apa? pukul 10?” paniklah Felix yang mendengar pernyataan itu.
“Iya itu benar, karena itu mari kita bersenang-senang terlebih dahulu sebelum pukul 10,” seru Sarah.
“Katanya ada pertunjukkan di setiap kelas, ayo kita ke kelas saja,” seru Niki. Mereka berdua nampak sangat bersemangat sisanya biasa-biasa saja.
“Apa ini yang dinamakan kenangan yang kau maksud?” ucapku.
“Aah ini di luar ekspetasiku,” sedih Felix yang wajahnya sudah terlihat kecewa.
“Hahaha... Semangatlah Felix jika kau tidak menjawab keduanya bukan berarti dunia ini akan berakhir,” ucap Gabriel menyemangati Felix.
“Siapa juga yang bilang dunia akan berakhir,” gumamku.
“Ayo kita refreshing dulu ke setiap kelas.” Gabriel mendorong tubuh Felix yang lemas.
Kami menaiki lantai 2, kami memulainya dari kelas 12-C kelasnya Niki dan Sarah. mereka memiliki tema cafe maid. Cukup menarik bagi kalangan cowok tentunya karena dilayani oleh gadis cantik yang memakai baju maid.
“Ayo kita masuk, barangkali kalau kamu minum kopi pikiranmu akan membaik,” bujuk Gabriel.
“Baiklah...”
Gabriel, Felix, Sarah, Niki dan aku masuk kedalam kelas tersebut dan sudah disambut oleh maid maid cantik dari pintu.
“Silahkan Nona dan Tuan Muda duduk di sebelah sini.”
“Nona dan Tuan ingin memesan apa?”
“Cafelatte 4 dan tehnya 1,” ucap Gabriel setelah beruding ingin memesan apa.
“Baiklah pesanannya akan datang sebentar lagi.”
Maid itu pergi dan kami mulai berbincang beberapa kelas yang mengadakan acara berbeda-beda.
“Setelah ini mau pergi ke kelasku?” ajak Gabriel pada kami.
“Tentu saja, aku dengar kelas 12-B mengadakan acara yang sangat menarik, itu membuatku penasaran. Habis kita minum ayo kita kesana,” seru Niki bersemangat.
‘Aduh, sepertinya aku punya firasat buruk pada kelas 12-B.’ pikirku yang tiba-tiba bergidik ngeri mengingat orang-orang yang menyeramkan di sana.
“Pesanan anda sekalian sudah datang,” ucap maid dengan ramah.
“Wuah cepatnya.”
Kami mulai menikmati minuman kami masing-masing, rasa dan harum wanginya sangat manis dan hangat. Kami tak lupa memberikan nilai pada cafe 12-C ini. Menurutku tempat ini cukup nyaman bagiku. Kalau terus di adakan aku bisa membaca buku dengan tenang di sini sambil minum kopi. Aku beri nilai 9/10
“Terima kasih datang lagi yak,” ujar gadis manis berambut hitam pendek. Yup itu benar, maid yang sedari tadi melayani kami adalah wakil ketua OSIS. Ia turut membantu acara kelas 12-C.
“Terima kasih juga Snowy, kerjamu cukup bagus,” ucap Sarah ramah.
Wajah Snowy agak tersipu dan ia melambaikan tangan pada kami dengan suara lembut nan kecil ia mengatakan, “selamat bersenang-senang.”
Kami sudah selesai mengunjungi kelas 12-C sekarang adalah kunjungan ke kelas 12-B.
__ADS_1
“Baiklah ayo kita lihat kelas 12-B,” ucap Niki yang jalan terlebih dahulu daripada kami.
Sesaat sudah sampai di sana, wajah kami seketika menjadi pucat kecuali Gabriel yang tersenyum polos seperti tidak tau apa-apa.
“Apa maksudnya ini!?” wajah seram Niki terlihat jelas sambil menunjuk papan yang tepapang jelas di pintu.
‘RUMAH HANTU’
“Ini tidak seburuk apa yang kau lihat, bukankah dengan ini Felix akan melindungi kalian saat kalian ketakutan.”
“Oh iya itu benar, bukankah ini bagus,” kagum Sarah yang menyukai ide Gabriel.
“Tidak buruk juga. Felix pasti akan melindungiku,” semangat Niki masih belum kujung hilang.
Tiba-tiba Felix disudutkan lagi gara-gara perkataan Gabriel. Padahal Gabriel hanya ingin Felix merasa baikan kini malah tambah parah.
“Ayo tunggu apalagi ayo masuk.”
Dan alhasil Felix yang maju paling depan disusul Sarah, Niki, Gabriel dan aku yang paling belakang.
“Jangan takut Lucy, aku yang akan melindungimu saat hantu-hantu itu bermunculan,” ujar Gabriel memberikan jempol padaku.
“Hemm,” wajahku tidak ketakutan sama sekali dan hanya terlihat datar.
Dan mulailah suara mencengkam datang, tiba-tiba boneka jatuh tepat dihadapan Felix.
“AAAHH” Niki dan Sarah ketakutan setengah mati, tanpa sadar mereka berpelukan satu sama lain. Sedangkan Felix hanya membeku di tempat.
“Tidak apa-apa, jangan takut, ayo lanjutkan terus,” ucap Gabriel memberi mereka dorongan untuk terus maju.
‘Apa yang mau dilanjutkan, kakimu saja gemetar Gabriel,’ ucapku dalam
hati.
Akhirnya mau tidak mau mereka melangkah ke ruang berikutnya. Saat mau masuk tiba-tiba saja sudah disergap oleh sesosok rambut hitam pajang memakai baju putih menjulur sampai ke lantai.
“AAAAHHH!!” teriakan mereka terdengar sampai luar kelas.
Sesosok itu tidak hanya mengkagetkan kami saja tetapi juga mengejar kami sampai ke ruangan yang sebelumnya.
“Pergilah jangan ganggu kami,” teriak Sarah.
Dengan wajah yang berdarah-darah, ia mengejar kami dengan cara kayang.
Bukankah itu terlalu mengerikan.
“Aku akan memberimu kacang jadi jangan mengejar kami lagi.” Felix melempar sebungkus kacang dan mengenai hantu tersebut.
Hantu itu berhenti seketika dan mengambil sebungkus kacang yang dilempar Felix lalu ia pergi meninggalkan kami.
“Wuah Felix adalah penyelamat kita,” puji Niki, Sarah dan Gabriel.
“Haha untung aku bawa kacang,” perasaan kecewa Felix menghilang setelah menyelamatkan kami.
“Syukurlah dia pergi.” aku menghela nafas lega. Nafasku masih tersenggal karena lari-larian terus.
‘HAP!’
Tiba-tiba saja jatungku terasa mau copot, karena tanganku di genggam kuat dan ditarik dari balik kain-kain yang tertutupi.
“AAAHH!”
“Lucy!”
__ADS_1
....
“Omonganmu tak dapat kupercaya tetapi aku percaya akan tindakan yang kau lakukan kepadaku.”