
Setelah kelas selesai, berahli ke waktu favorit kita yaitu istirahat. Niki menghampiriku dengan senang. Sembari membawa sekantung coklat penuh untuk dibagikan.
“Apa kau sudah siap?” tanya Niki dengan senyum yang bersemangat.
“Tidak tau,” balasku plin plan.
“Eeh... harus siap dong.”
“Siap.”
“Nah gitu dong, kamu sudah kasih ke Felix?” tanya Niki.
“Aku menaruhnya di tas saat ia pergi ke kantin,” jawabku yang masih menatap bingkisan coklat di tanganku.
“Oh, segitu malunya kau pada ketua kelas. Setidaknya kau memberikan namamu di bingkisan itu, kan?” ujar Niki.
Aku hanya mengangguk ‘iya.’
“Yosh, aku ingin ke kantin, untuk memberikan bingkisan pada ketua kelasmu secara langsung. Kau mau ikut?” ajak Niki.
Sayangnya ada yang harus kulakukan saat ini. “Tidak, terima kasih. Ada yang harus kuurus sekarang,” jawabku menolak.
“Baiklah. Aku pergi yak, bye.”
“Bye.”
Niki akhirnya meninggalkan diriku. Semakin besar langkah ia menjauh, semakin aku tidak punya keberanian untuk memberikannya.
Entah niat atau tidak, itu tergantung dari diriku bertemu dengannya atau tidak. Hal semestinya yang aku inginkan adalah reaksinya saat kuberikan coklat seperti apa?
Mungkin dimulai dari berkeliling dulu untuk menemuinya. Sudah seharusnya aku bergerak daripada tidak sama sekali, mencoba saja dulu barangkali aku bisa melakukannya.
Ketika aku berkeliling sekolah, begitu banyak murid laki-laki yang mendapatkan coklat dari perempuan. Tidak sedikitpun yang mendapatkannya, karena sekolah ini juga terkenal dari muridnya yang tampan dan cantik. Tidak heran jika banyak yang ingin daftar sekolah di sini.
Sebuah mimpi jika lolos dari ujian masuk sekolah sih dan suatu kebetulan aku masuk ke sini. Selain itu hanya sekolah ini yang dekat dengan rumahku, aku juga ingin berguru pada Master Kendrik. Tetapi di luar fantasiku, ia tidak terlalu banyak mengajar karena kesibukannya menjadi pelukis terkenal.
Yaa sudahlah, namanya juga pekerjaan. Aku pernah merasakan yang namanya kesibukan.
“Aww.”
Pada akhirnya aku tidak memperhatikan jalan dan menabrak seseorang.
“Lucy?”
“Eh, Noel.”
Aku sadar, aku juga harus memberikan coklat untuknya, aku segera mengambil coklat dari tas selepangku dan memberikannya tanpa kata-kata.
“Eh untukku?”
Aku mengangguk serius.
“Terima kasih.”
Aku mengangguk lagi.
“Kau nampak sedang serius yak.”
Aku menggangguk sekali lagi.
“Ha-ah baiklah, aku pergi dulu yak. Sampai jumpa.”
Aku menggangguk ‘iya’. kemudian Noel mengusap kepalaku sekilas lalu kembali melanjutkan perjalanannya.
Aku hanya memegang kepalaku dengan ekspresi datar menatap kepergiannya. sembari membatin ‘aku bukan anak kecil.’ lalu kembali berjalan untuk melanjutkan misi.
__ADS_1
Di suatu taman, kemudian.
Secara kebetulan, aku melihat Gabriel. Aku agak takut tapi aku harus melakukannya. Ia tengah melihat bunga-bunga bersemi indah di sekitar taman. Dengan langkah getar, aku ingin menghampirinya. Secara perlahan tetapi pasti. Sambil mengendap-endap walau resikonya adalah membuat dirinya kaget.
Semakin dekat, semakin dekat, ia tak menyadari langkahku dan akhirnya... “Baaa!”
“Aaaah.”
Aku terkejut hingga mundur beberapa langkah dan membuatku semakin jauh darinya. Hanya saja teriakan kagetku membuat Gabriel tersadar dan menatapku polos.
“Ada apa dengan wajahmu? Kenapa memerah begitu. Haha.”
“Serius. Itu tidak lucu Alder,” ucapku geram.
“Apa yang kalian berdua lakukan?” tanya Gabriel yang sudah di belakang Alder, hingga Alder ikutan kaget. Itulah karma.
“Berhenti muncul di belakangku!” kesal Alder.
“Dan kau juga berhenti berada di hadapanku.” balas Gabriel dengan senyum malaikatnya.
“Kalian jangan bertengkar,” ucapku suram.
"Ba-baik!" kompaklah mereka dengan panik.
Aku menghela nafas lelah, hatiku saat ini bimbang. Perasaan yang tak terlukis ini membuatku gempar dengan detakan jantung yang semakin kencang.
“Lucy... Ada apa?” tanya Gabriel yang sadar dengan wajah tidak nyamanku ini.
Wajahku memerah dan memanas. Keberanian inilah saatnya untuk kukeluarkan “Aku... ingin...”
Aku mengambil sesuatu di tas selepangku. Kemudian memberikannya pada kedua orang tersebut secara bersamaan.
“Memberikan kalian ini,” sambungku.
Tak ada pilihan lain selain menatap mereka berdua yang belum mengambil pemberianku.
Entah kenapa, Mataku berbinar selepas melihat mereka yang sedang berdebar-debar. Ini pertama kalinya aku melihat Gabriel tersanjung dengan sebuah hadiah dan ini juga pertama kalinya melihat Alder tersenyum kacau saat kuberikan hadiah.
Mereka berdua mengambil bingkisanku dengan perasaan senang dan terharu.
“Terima kasih.” ucap Gabriel dengan nada halus.
“HOREE! AKHIRNYA AKU DIBERIKAN COKLAT OLEH LUCY!” seru Alder yang berteriak riang sambil berlari lari kemenangan.
“TERIMA KASIH LUCY!!” Alder tiba-tiba saja memelukku dengan erat.
Aku kaget saat ia memelukku se-semangat itu. ‘PLAK’
Pada akhirnya Gabriel menyelamatkanku. Membuat Alder yang habis dipukul merintih kesakitan.
“Aku akan melindungimu dari orang mesum itu.” ucap Gabriel yang bersinar- sinar layaknya seorang malaikat.
“Iya, terima kasih.”
Alder hanya menangis dipojokan taman sambil menahan sakitnya.
Andai kalian berdua tau, aku berhasil menjalankan misi dalam perayaan valentine ini. aku bisa merasakan kesenangan dan semangat kalian. Kebahagiaan kalian memberikanku energi positif lainnya. Jadi berbahagialah, aku tau rasanya menyakitkan. Tetapi kalian berhak merasakan kesenangan tersebut.
.
.
.
.
__ADS_1
BONUS!
Reaksi orang-orang ketika melihat coklat buatan Lucy.
- Felix Ivander Wilson
“Waah siapa yang menaruh coklat di tasku.”
Felix membaca pesan yang tertulis di bingkisan.
‘dari Lucy, aku membuat coklat dari bentuk wajahmu.’
“Iyakah? waah seperti apa yak wajahku ini,” seru Felix sembari membuka bingkisannya.
“Alien??”
Lalu Felix paham apa maskud dari gambar coklat tersebut.
“Aku paham. Lucy pasti kangen dengan tim Alien saat main game VR waktu itu. Ngangenin deh.”
(Chapter Cinderella)
Felix pun akhirnya mengenang kembali tim ALIEN.
(Merindu)
- Noel William
“Berikutnya adalah Lucy,” ucap Noel selepas membuka bingkisan dari Niki.
‘dari Lucy, aku membuat coklat dari bentuk wajahmu.’
“Waah aku ingat kalau lucy itu pintar gambar.” Saat dibuka...
“Alien?? aku baru tau kalau Lucy suka alien. EEh!? wajahku memangnya seperti alien?”
(Panik)
- Alder Winston
‘dari Lucy, aku membuat coklat dari bentuk wajahmu.’
“Keren...aku akan membuka bingkisan dari calon tunanganku.” Saat dibuka...
Gaya lebay-nya pun keluar.
“ALIEN!! waah apakah aku sejenius itu.”
(Kepedean)
- Gabriel Alexander
‘Dari Lucy, aku membuat coklat dari bentuk wajahmu.’
“Aku deg degan saat membaca pesannya.”
Gabriel perlahan membuka bingkisannya dengan tangan gemetar. Saat dibuka...
“Syukurlah, bukan malaikat maut.” Gabriel menghela nafas lega dengan tangan didadanya.
(Senang)
....
“Datang hanya melihat kelebihan kita, pergi karena melihat kekurangan kita.”
__ADS_1