
"Apa yang sedang kau cari, Nona?"
Aku menjauh beberapa langkah dari pemuda bertopi coklat ala detektif tersebut.
"Aku sedang mencari Master Kendrik," jawabku.
Dengan jari jemari lentiknya yang berada di dagunya, ia memperhatikan diriku dari ujung kaki hingga ujung kepala. Ia tersenyum lebar padaku.
"Oouhhh, Kamu gadis yang digosipkan itu yak?"
Sang Polisi wanita yang berada dibelakang Detektif langsung mengeluarkan pistolnya padaku setelah mendengar pernyataan sang detektif.
Dan Sang Detektif mengangkat sedikit tangan kanannya bermaksud memberi aba-aba untuk menahan tindakanya.
"Turunkan pistolmu."
"Tapi... "
"Aku bilang turunkan pistolmu."
Polwan itu hanya menelan ludahnya dan menuruti permintaan Sang Detektif.
Untung saja dia tidak langsung menembakku. Aku sampai jantungan loh.
"Maaf tentang tindakan polwan tadi. Oh iya...kau sedang mencari Tuan Kendrik Kandela, kan?"
"Benar. Aku dengar Master diculik, jadi aku datang untuk mengeceknya sekali lagi, karena aku tidak percaya dengan pernyataan orang itu."
"Siapa orang yang kau maksud?"
"Pelaku yang menculik Master. Ia meneleponku dan aku merekam panggilan tersebut. Ini adalah bukti pertama yang aku dapatkan," jawabku dengan tatapan dingin sambil memperlihatkan rekaman dilayar handphoneku.
"Okeee kalau begitu!! Mari kita dengarkan!!" ucapnya riang sambil memutar isi rekaman tersebut.
'Anda akan kehilangan orang yang berharga dari si pemilik nomor ini, jika anda ingin menyelamatkan nyawanya. Serahkan diri anda ke polisi untuk mengakui kalau anda adalah pelakunya.'
Sang Detektif mengangguk-angguk tidak jelas dengan senyuman tipis yang semakin melebar.
"Oke!! Setelah aku mendengar ini tentunya ada dua kemungkinan. Yang pertama Sang Pelaku memakai suara palsu untuk tidak diketahui identitasnya dan yang kedua dia menelepon ditempat tertutup karena suaranya agak menggema. Oh iya anehnya di sana tak ada suara korban, padahal mereka ada di satu ruangan," jelas sang detektif.
"Tidak ada suara Master? Kalau ia dibekap bagaimana?" tanyaku.
"Walaupun dibekap tetap saja ia akan berteriak dari dalam mulutnya," jawabnya enteng.
"Begitukah? Jadi pelaku dan korban ada di tempat berbeda."
"Yup, Ngomong ngomong, ia temanmu, kan?" tanyanya sambil menengokNiki.
__ADS_1
"Dia Niki," ucapku.
"Heeeiii, kenapa kau ada disana?" tanya Detektif sambil melambaikan kedua tangannya pada Niki.
"Karena aku tak tahan melihat korban yang berceceran begitu tau!!" kesal Niki.
Detektif itu cekikikan melihat Niki yang bersembunyi ketakutan.
"Aaahh kamu mah pengecut," ejek Sang Detektif. Tentunya itu mengundang kemarahan Niki.
"APA!!"
"Apa yang terjadi dengan korban itu?" tanyaku mengalihkan suasana.
"Seperti yang kau lihat, mereka terbunuh saat pelaku berusaha menculik Tuan Kendrik," jawab Detektif.
"Kejam," gumamku.
"Begitulah manusia," seru Detektif.
Polwan tersebut mendekati kami dan angkat bicara.
"Maaf mengganggu Detektif. Tapi... Jika rekaman itu hanya tipuan belaka dan hanya dibuat buat "
"Itu tidak mungkin."
"Kamu tidak boleh menuduh sembarangan, mereka itu adalah tamu kita loh. Mereka adalah petunjuk bagi kasus ini agar cepat terselesaikan," jawab Sang Detektif mengomel.
"Kalau begitu, maafkan saya," ucapnya dengan menunduk tubuhnya sedikit dengan wajah menyesal.
"Hei... Apa kau membenciku?" tanyaku tiba tiba. "Bu-bukan begitu... Aku tidak bermaksud untuk..." "Baguslah kalau tidak benci," ucapku memotong.
Polwan itu memandang diriku suram, ia sekarang merasa bersalah menuduhku sembarangan. Yang hanya ia pikirkan adalah menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat tetapi tidak tepat.
"Maafkan saya..."
"...." '
PRAK'
Tepukan tangan kencang Detektif membunyar suasana hingga kami semua terkejut. Untungnya tak ada yang terkena serangan jantung saking kagetnya.
"Biar seru kita bercerita sekaligus curhat yuk di kantor polisi sambil makan cemilan manis dengan secangkir teh!!" ajak Detektif.
"Lalu bagaimana dengan semua korban itu? Bukankah mereka seharusnya di autopsi daritadi," tanyaku.
"Oh itu hanya boneka kok," seru Detektif dengan perasaan tak bersalah.
__ADS_1
"Eehh! Serius itu boneka? Kayak manusia beneran loh," ucap Niki dengan ngeri.
"Kamu tidak tau kehebatan Sang Pembuat Boneka yak. Sudahlah itu hanya rekaan sekilas yang terpenting kita ke kantor polisi untuk petunjuk lebih lanjut."
"Kamu tidak akan menangkap lucy kan?" tanya Niki sambil memeluk lenganku seolah aku miliknya.
"Tidak kok, aku kan sudah bilang kalian adalah tamu penting kami. Aku tidak akan memenjarakan kalian tanpa bukti yang jelas," ucap detektif.
Niki dengan mengembungkan pipi sebelah serta menatap tajam detektif, perlahan melepaskan lenganku.
"Yaa Sekarang ayo kita ke kantor polisi," serunya dengan melangkah paling depan.
"Dia itu seperti Kak Alvin yak," bisik Niki
"Kenapa?"
"Tingkahnya seperti anak kecil."
"AKU DENGAR LOH." ujar Detektif. "
Eeh?" kejut Niki.
"Cih, bagaimana bisa?" kesal Niki sambil mengepal tanganya kuat. Lalu Polwan dengan tubuh ramping melewati kami sambil berkata.
"Kalian jangan pernah meremehkan detektif seperti dia," ucapnya dingin.
"Iiissh, wanita itu judes banget sih," gumam Niki.
"Oh iya siapa nama kalian?" tanyaku pada dua orang tersebut.
"Aku Siska," jawab Sang Polwan.
"Aku Alex Sang Detektif terkenal yang memecahkan puluhan kasus dalam jangka waktu cepat," jawab Sang Detektif dengan gaya yang aneh.
"Kami akan melindungi dunia dari kejahatan," ucap mereka dengan serentak.
Mereka cukup hebat mengatakan kata-kata itu dengan cahaya terang benderang dibelakang mereka dan menciptakan bayangan dari sosok yang berjasa.
Akhirnya hujan berhenti, cahaya matahari masuk kedalam kaca besar rumah sakit dan jalanan masih becek tentunya.
Wajah pucatku terpapar sinar mentari hangat. Tetapi ini tak sehangat apa yang telah kualami walaupun kuterus menutupinya dengan perasaan dingin.
Aku-pun mulai serius dengan kasus ini. Aku berusaha untuk hidup dengan nyaman tetapi ini melebihi ekspektasi. Sungguh kelewatan bukan? Jadi aku akan mengubah takdirku untuk kembali ke arah lurus seperti biasa.
"Jadi Mohon kerjasamanya."
....
__ADS_1
"Melangkahlah ke depan, jangan lari dari kenyataan."