MENTARI TANPA EMOSI

MENTARI TANPA EMOSI
Kamera


__ADS_3

Sosok Master tenggelam dalam penglihatanku. Aku kembali masuk dan mengeluarkan isi hadiah dari Master.


Biasa... Hanya beberapa kuas, cat air, dan palet. Ouh ada surat, sepertinya ini pesan dan doa dari master untukku.


Aku berpikir tentang Master, dia orang yang cukup pintar membongkar rahasia seseorang. Kenapa dia tidak menjadi detektif saja daripada menjadi pelukis. Aaah tidak, itu adalah hobi dan bakat Master. Aku tidak akan menyalahkan dia untuk bermimpi.


Aku terpaku dengan isi suratnya, warna penanya merah disertai bercak darah.


Tunggu ia menulis ini dengan cat air atau darahnya sendiri?


Tapi ini lebih pekat dan tak terlihat seperti darah. "Oh tidak."


Aku langsung bergegas dari rumah dan pergi menggunakan sepeda, aku menggoes kayuh dengan cepat, mengejar kepergian Sang Master.


Lalu dengan gesitnya aku berbelok ke arah gang gelap dan kertas yang aku pegang telah terbang tak tau kemana, meninggalkan tulisan HELP ME! Dengan kesan yang mengerikan.


Cepat sekali Master menghilang, padahal baru pergi beberapa menit yang lalu. Seharusnya tidak jauh dari sini.


"Master!!" panggilku.


Aku terus mencarinya di berbagai lorong dan toko-toko yang telah kulewati di setiap gangnya.


Aku tak dapat menemukannya. Aku tetap berusaha mencari master untuk terakhir kalinya di balik bangunan yang dibanyaki oleh orang-orang mabuk dan pelacur.

__ADS_1


Tak pikir panjang, langsung kuterobos gangnya. Terdengar samar-samar suara ricuh didalam. Suara itu semakin jelas ketika aku dekati. Tawa-tawa orang serta ucapan kotor yang mereka ucapkan semakin jelas di pendengaranku.


Pandanganku terbesit melihat seorang pria di cekik oleh pria kekar dan diangkat tinggi ke udara sambil Semeringai. Wajah pria tercekik itu penuh memar dan mimisan di hidung. Aku baru saja menyadari kalau itu adalah Master yang sedang dibabak belur oleh sekumpulan berandalan.


Aku langsung turun dari sepeda.


"LEPASKAN!!" tanpa sadar aku berteriak keras melihat Master diperlakukan begitu kasar.


Teriakanku mengundang perhatian sekumpulan berandalan tersebut. Aku menjadi ciut ketika mereka menatapku tajam.


"Lepaskan Masterku," dengan tubuh gemetar aku memberanikan diri untuk melawan. Aku tau tubuhku tidak sekuat baja, jika ini diteruskan kemungkinan master akan kehabisan nyawa untuk bertahan.


"HAH!! ANAK KECIL TIDAK PERLU IKUT CAMPUR."


"Kau akan menyesal karena telah membabak belur Sang Master, apa kau lupa jika master terkenal diseluruh dunia, jika fans-nya mengetahui akan hal ini. Tentunya kalian akan dikeroyok oleh sejuta fansnya hingga mati."


Sepedaku sudah kupasang rekaman live saat ini. Terdengar sirine polisi datang beramai ramai dan suara orang orang yang ricuh diluar sana membela dan menyelamatkan Master.


Sekumpulan berandalan itu terpojok sekarang. Mereka memasang wajah kesal dan marah kepadaku sedangkan aku tersenyum kemenangan.


"Awas saja kau anak kecil, aku tau kamu adalah Lucy. Kau akan mati dalam beberapa hari lagi!! Lihat saja nanti!!" ucap pria kekar itu, ia marah marah sambil menunjuk-nunjuk diriku.


Para Polisi langsung menahan sekumpulan berandalan itu dan Master akan dilarikan ke rumah sakit. Sebelum itu ia memelukku erat.

__ADS_1


"Terima kasih, sungguh terima kasih sudah datang."


"Tidak apa-apa Master."


"Aku bersyukur ketika kamu datang, tetapi disisi lain aku takut kamu akan terluka. Tapi aku tau kalau anggota club-ku sangat pintar dan juga aku tau siapa saja bawahan Lina yang akan menyerang dirimu," ucapan rasa syukurnya berubah menjadi bisikan kejutan bagiku.


"Master... Kau dibabak belur begini hanya untuk mengetahui bawahan lina dan demi melindungiku," Ujarku dengan suara gemetar.


Master hanya tersenyum kepadaku. Aku tak tau apa pentingnya semua itu untuk master.


"Kenapa? Kenapa Master ingin menyelamatkanku, aku.... Aku ini bukan siapa siapanya master. Master tidak perluh berbuat sejauh ini hanya untukku," ujarku dengan nada kesal dan sedih sambil menundukan kepala.


Master memegang pundakku dan membuat tubuhku kembali tegap.


"Kau itu adalah anggota klub ku yang berharga. Seorang guru tidak akan membiarkan muridnya terluka bagaimanapun juga. Karena kamu adalah bibit keunggulan untuk masa depan yang lebih baik."


Aku tertegun dengan kata-kata Master. Hatiku seolah terbuka kembali melihat master yang kesakitan sembari tersenyum riang untukku.


"Tetaplah menjadi dirimu sendiri Lucy."


Akhirnya Master dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk penyembuhan lebih lanjut.


....

__ADS_1


"Kalian para pemuda dan pemudi adalah bibit unggul untuk masa depan yang lebih baik." - Master Kendrik Kandela.


__ADS_2