MENTARI TANPA EMOSI

MENTARI TANPA EMOSI
Patung


__ADS_3

Aku tinggal di sebuah perkotaan yang memiliki nuansa kelabu bak bangsawan bagian eropa, ini adalah zaman modern di mana semuanya serba teknologi tetapi tidak meninggalkan tradisi berpakaian rapih seperti pada era kebangsawanan, walaupun pakaiannya telah dimodifikasi sedikit dan memasuki era modern. Tetap saja kami tidak akan meninggalkan kesan berpakaian manis dan modis.


Dalam keseharianku, aku memakai dress yang selutut berwarna gelap, jarang sekali aku memakai yang warnanya begitu terang, bisa saja aku memakai warna tersebut, tetapi hanya dalam acara atau festival tertentu yang diharuskan berpakaian cerah dan berwarna.


Aku tidak ingin terlihat mencolok di mata siapapun, aku tidak pandai bergaul dengan siapapun, bisa dibilang aku ini antisosial, suka diam di rumah dan kesepian.


“Haha, siapa juga yang menyukai diriku? Jika ada, mungkin ada masalah dengan penglihatannya.”


Aku berbicara pada diriku sendiri dan menyindir diriku sendiri. Aku terkadang membenci diriku sendiri dan terkadang bangga pada diriku sendiri.


Lucu, kan? Semua yang aku lakukan selalu tidak masuk akal. Apakah aku gila? Jika ditanya seperti itu, lebih baik aku menjawab. “Bahwa aku ini jenius, orang jenius tidak akan memikirkan hal yang ekstrem dan membosankan seperti itu.”


Bagus, aku sudah menulis karangan yang tidak masuk akal itu dan tada~ apa kata pembaca, tentunya ada yang mengatakan itu menarik, tidak masuk akal, tukang halu dan bla bla bla.


Segala pujian serta kritikan menyelimutiku. Mungkin beberapa penulis akan sakit hati, tetapi harusnya umbarkan saja imajinasimu, tuangkanlah apa yang kau pikirkan seperti aku ini. Kau berkarya bukan? Buatlah karya yang indah dan jadilah orang jenius itu.


“Baiklah, sudah cukup. Aku ingin tidur.”


Aku meregangkan tubuhku yang pegal terutama punggungku yang mulai sakit karena aku terlalu membungkuk malas. Pekerjaanku selesai, tinggal dikirim naskahnya dan selesai.


Aku berbaring pada kasur dan mulai memainkan handphoneku, seperti biasa Niki terus mengkhawatirkanku. Emosionalnya terlalu berlebihan.


Sepanjang hari dia terus menanyaiku, ‘apa kau sudah makan? jangan sampai terlambat! Jangan lupa tidur lebih awal, jangan bergadang, jangan mandi terlalu lama nanti masuk angin, jangan terlalu banyak melamun, lebih baik gerak biar tidak gemuk.’ dan lain sebagainya.


Dia itu bukan ibuku, aku bisa melakukannya sendirian. Aku resah kepada semua orang yang mencemaskanku, aku tidak suka dinasehati. Aku bisa hidup dengan tenang bersama mimpiku.


Kalau kalian tidak ingin aku bunuh diri karena menderita, tolong hargailah aku.


Aku menutup ponselku dan langsung memejamkan mataku. Biarkan aku


istirahat sejenak untuk esok hari yang melelahkan.


***


Aku melihat pemadangan yang indah, kakiku menginjak halus rumput hijau nan segar, sekarang aku ada disebuah ladang bunga. Beberapa patung besar berdiri di sekitarku, jaraknya berjauhan dengan patung lainnya. Aku melihat di sekitarku, semuanya dipenuhi bunga-bunga seperti tak ada ujungnya sama sekali. Ada 4 patung yang menggambarkan setiap emosi, patung pertama berbentuk gadis seperti mengamuk dengan emosi yang tinggi,itu adalah kemarahanku


yang tersembunyi dan terus bergejolak didalam diriku, itu agak seram.


Lalu Patung kedua menggambarkan seorang gadis yang terpuruk dengan raut wajah yang menyesal, ia menangis dan putus asa, itu adalah kesedihan yang aku pedam dibalik wajah tanpa ekspresiku.


Kemudian Patung ketiga, seorang gadis yang memeluk dirinya sendiri seperti sedang berlindung diri, ia ketakutan dan sendirian, seperti akan ada seseorang yang mengancam hidupnya. Itu adalah ketakutanku dibalik keberanianku.


Dan terakhir patung keempat, gadis memegang bunga dengan gaun yang polos, tetapi aku tidak bisa menebak emosi apa itu, karena patung itu tidak memiliki wajah dan ekspresi. Senang? Sepertinya bukan. Dikala aku senang aku berencana akan memakai gaun indah untuk merayakannya.


“Sepertinya tertutup debu, aku akan mengusap wajahnya.”


Aku menghampiri dan berjalan menuju patung tanpa wajah itu. Aku menjijit untuk mencapai wajahnya, tetapi ada yang memegang pundakku dan menarikku menjauh dari patung tersebut. Tangan telunjuknya muncul dari belakangku dan diletakkan didepan mulut dan hidungku, itu membuatku jadi tutup mulut.

__ADS_1


“Itu rahasia.”


Aku berbalik badan, setelah mengenal suara yang familiar. Tentu saja itu adalah Noah yang tersenyum tipis dengan kelopak bunga yang terbang disekitarnya.


“Apa yang kau rahasiakan?” tanyaku mulai selidik.


“Entahlah, bagaimanapun kau tidak akan bisa memunculkan wajahnya tetapi kau yang harus membuat wajah dirinya sesuai perasaanmu. Lucy,” jawab Noah yang ikut memadang patung itu.


“Apa yang harus kubuat? Kebosanan, kesepian, menderita? Hanya itu yang kurasakan, tetapi konsepnya tidak akan sama dengan patung lainnya,” ucapku dengan tatapan sendu pada patung tersebut.


“Iya iya itu benar, selagi kau berpikir, mari kita minum teh bersama, didekat sini ada sebuah istanah yang tak terpakai, mari kita istirahat di sana,” ajak Noah.


Aku menerima ajakannya, berjalan kaki menuruni bukit, ketika sudah terlihat mataku terbelalak, ternyata benar ada sebuah istanah indah disana. Tapi terasa tidak ada penghuninya dari kejauhan.


Kami berdua masuk dan langsung disambut hormat oleh penjaga istana yang berbaris di setiap jalan yang kami pijak. Aku salah, ternyata ada penghuninya. Lalu aku mencari-cari seseorang di dalam istanah tersebut.


“Kau sedang mencari siapa?” tanya Noah yang melihat gerak gerikku.


“Dimana raja dan ratu?”


Noah hanya tertawa renyah melihat sifat polosku. Kemudian ia memegang kedua tanganku sambil berkata dengan senang.


“Kau tidak tau?”


“Apa?”


“Raja dan Ratunya adalah kita.”


Wajahku agak memerah selepas aku terkejut mendengar pernyataan itu, tetapi aku masih tidak bisa menerimanya.


“Bohong, aku tidak mau melakukan kegiatan yang dilakukan seorang ratu yang bikin kepala pusing tujuh keliling,” gerutuku.


“Tidak kok... kamu bisa bebas bermain disini.”


“Benarkah?”


“Iya, bersenang senang dan lepaskan penatmu disini!!” seru Noah sambil menyebarkan serpihan kertas warna-warni.


Akhirnya aku menikmati teh ditempat semewah ini, aku tak percaya mimpiku seindah ini. Mungkin ini rasa penatku seharian mengerjakan tugas matematika dan naskahnya.


“Menyenangkan, kan? Oh iya di istanah ini banyak pertunjukkan yang mengasyikan loh, mau lihat?” tawar Noah.


“Boleh saja,” jawabku tak peduli.


“Ayo pertunjukkan dimulai!!”


Banyak orang yang tampil di depan, dari yang petunjuk kan paduan suara, menari, serta atraksi sirkus ditampilkan dihadapan kami, menakjubkan dan spektakuler. Semua orang takjub akan penampilan mereka yang berkilauan, para warga ternyata ikut menonton dan turut bertepuk tangan meriah atas acara ini. Keanehan mulai terjadi padaku, ‘perasaan aku tidak selama ini ada di dunia mimpi, sepertinya sudah cukup lama aku berada disini, apa alarmku rusak yak?’

__ADS_1


Pikiranku mulai cemas, aku harus bangun atau aku akan terlambat ke sekolah. Aku takut kalau aku akan dikeluarkan dari sekolah jika aku terlambat lagi. Lebih baik aku segera bangun sekarang.


Aku bangkit dari kursi singgahsana, bermaksud untuk pamit dari dunia yang indah ini.


“Kau mau kemana?” tanya Noah.


Aku menjawab tanpa memandang wajahnya. “Kembali ke dunia nyata, jadi aku pamit dulu.”


Aku melangkah meninggalkannya tetapi tangannya menggenggam tanganku dengan kuat. Menghentikan langkahku dan membuatku menoleh kepadanya.


“Jangan pergi.”


Perasaan Noah menjadi sedih, wajahnya tertunduk kecewa, tiba-tiba saja kesunyian melanda tempat ini, semuanya menjadi gelap dan kelabu. Yang tadinya meriah sekarang menjadi senyap seketika.


Semua orang menatapku horror, dari situlah diriku mulai merasa takut. “Tapi... aku harus kembali, kita akan bermain lagi di malam selanjutnya.”


“TIDAK!!”


Aku sontak terkejut dengan nada bicaranya yang meninggi. Sebelumnya dia tidak pernah begitu padaku. Genggamannya semakin kuat dan itu terasa kasar.


“Tetaplah disini...disini menyenangkan, aku ingin kau tetap menemaniku. Aku tidak bisa dibawa ke duniamu.”


“Noah, aku akan kembali setelah aku melakukan aktivitasku,” jawabku dengan nada sabar.


Tetapi dia tetap tidak rela jika aku pergi dari sini. Genggamannya malah semakin kuat, dan tatapannya berubah, matanya menjadi siluet merah.


“Tanpamu aku kesepian.”


Wajahnya yang sedih itu berubah menjadi senyuman seram yang pertama kali aku lihat darinya. Tanganku berkeringat dan gemeteran.


Aku menyadari kemunculannya.


***


Waktu itu aku tertidur dan bermimpi hanya aku sendirian di sana, aku menangis sejadi jadinya ditempat kosong itu.


“Aku kesepian... Tolong temani aku...” setelah aku mengatakan itu, sesosok pemuda tersebut muncul dan mengulurkan tangannya dengan senyuman mengembang diwajahnya. Sambil mengatakan sesuatu padaku.


“Jangan menangis, sekarang aku ada disini.”


***


“Hei Lucy aku tidak akan membuatmu pergi dari sisiku, aku akan kesepian seperti saat aku melihat dirimu pertamakali. Jika kau pergi ruangan ini menjadi kosong karena kehilangan imajinasi dari pikiranmu,” ucap Noah sambil merayuku untuk tetap tinggal, dia berubah menjadi seorang psikopat yang cinta gila terhadap diriku.


Tetapi satu hal yang aku ingat dan aku sadari...


Bahwa dia terbentuk dari rasa kesepianku.

__ADS_1


......


“Jangan membenci dirimu sendiri, banggalah pada dirimu sendiri karena kamu adalah edisi terbatas satu satunya di dunia.”


__ADS_2