
'Tit'
Panggilannya ditutup dan meninggalkan teka-teki yang membuatku kebingungan.
"Eh? Bohong kan?" Tanpa sadar aku menjatuhkan handphoneku.
"Lucy!?"
Kalau begini terus, aku tidak dapat pulih dengan cepat. Apa yang harus aku lakukan? Pergi menyerahkan diri ke Polisi adalah cara terbodoh untuk menyelamatkan Master.
Haruskah aku pergi ke rumah sakit di hari yang begitu kelabu? Aku telah keluar dari rumah beberapa kali untuk mempertaruhkan segalanya demi kegembiraan seseorang yang bahkan tak dapat aku rasakan.
Aku tertekan disini. Rambutku setiap hari berguguran setiap aku menyisirnya.
Apakah aku sedang stress sekarang?
Aku mengepal tanganku dan menunduk putus asa. Mataku melihat ke segala arah, terjebak dalam permasalahan yang tak seharusnya diurus oleh anak remaja seumuranku. Ini semakin rumit jika tidak ditangani dengan baik.
Aku bangkit dari sofa dan beranjak pergi ke pintu rumah. Terdengar rintikan hujan deras diluar sana.
Aku membuka pintu itu lebar lebar, jalanan sudah dibasahi air hujan dan hanya ada payung yang berjalan di trotoar.
Aku melangkah keluar memandang awan abu-abu serta kilat yang menari-nari.
Aku memakai sepatuku dan berpijak pada tanah yang bearoma khas hujan,
entah kenapa aku tidak kebasahan ketika berada di tengah butiran air berjatuhan. Aku pun sadar dan menengok kebelakang, ternyata Niki memanyungi diriku.
"Jangan lakukan ini sendirian," ucap Niki.
__ADS_1
Aku memegang gagang payungnya, Niki juga membuka payung lainnya. Wajahku selalu menunduk, tak ingin ada yang tau bahwa seberapa kecewanya diriku sekarang.
"Aku akan mengikutimu kemanapun kau berada," ujar Niki.
Aku hanya menatapnya diam. Lalu Kak Alvin yang berada diambang pintu melambai pada kami.
"Aku juga ingin ikut!!" Teriaknya.
"Tidak, tetaplah disana atau kau akan di pulangkan ke rumah!" bantah Niki.
"IIIH PELIT!"
Akhirnya Kak Alvin ngambek. Aku menghela nafas panjang dan berjalan menghampirinya.
"Kami akan kembali lagi, aku tak mau ada orang yang tak bersalah terluka lagi karena aku. Jadi tolong jaga rumah saja," ucapku memohon.
"Cih, cepatlah kembali. Jika kau tak kembali, aku tak akan memaafkanmu loh!" kesal Kak Alvin sambil melipat kedua tangannya.
"Hati-hati dijalan!!" teriak Kak Alvin dari kejauhan.
Langkah demi langkah. Kami berlari walau hujan membasahi jalanan terus menerus hingga aku terpeleset berkali kali, meskipun begitu aku tak akan berhenti menyelamatkan orang orang yang telah tersenyum kepadaku.
"Aku yakin rumah sakitnya tidak jauh dari tempat kejadian," ujarku.
"Kalau begitu, pasti yang itu," tunjuk Niki yang berlari di sampingku.
Akhirnya kami sampai dengan tubuh yang agak basah kuyup, nafas kami tersenggal karena terus berlari. Aku langsung saja menanyakan seorang gadis yang bertugas sebagai Front Office di sana.
"Permisi, bisakah anda memberi tau nomor kamar pasien bernama Tuan Kendrik Kandela?" tanyaku.
__ADS_1
"A-apakah kau kerabatnya?" tanya wanita itu dengan terbata-bata.
"Bukan, aku adalah muridnya," jawabku.
Wanita itu seperti mengambil sesuatu dari bawah meja. Ia menyerahkan secarik kertas kepadaku.
'Sudah kubilang serahkan dirimu pada polisi. Percuma saja kau pergi ke rumah sakit, Mastermu tidak akan ada disana.'
Aku meremas kertas itu hingga berbentuk bola dengan kesal.
"Beritahu aku dimana kamarnya?" tanyaku bersih keras.
"Ada di nomor 404 lantai 3," jawabnya ketakutan.
Kami langsung pergi ke tempat lift dan menaiki lantai 3. Setelah pintu lift terbuka.
Didepan kamar nomor 404 terdapat garis kuning polisi, serta bercak darah yang berceceran dilantai. Terlihat beberapa anggota tubuh keluar dari pintu itu.
Aku tak segan-segan melihat isi ruangan yang telah terbuka pintunya. Berdiri dua Polisi dan satu Detektif. Pupil mataku mengecil melihat beberapa Suster dan Dokter tergeletak bersimbah darah. Mereka dibunuh dengan sadis.
Niki sampai tak kuat melihatnya dan berlari menjauhi ruangan karena mual melihatnya.
Aku harus bertahan, mencari Master diantara para korban. pasti ada petunjuk untuk mencari master ke tempat selanjutnya.
Lalu seorang pemuda dengan topi berwarna coklat mendekatiku dengan kaca pembesarnya yang ia tunjukkan didepan mataku. Dengan senyuman tipis ia bertanya padaku.
"Kau sedang mencari apa?"
......
__ADS_1
"Kau tak perlu mencarinya tetapi berusaha mendapatkannya. dikemudian hari yang kau cari-cari itu akan menghampiri dirimu sendiri."