
"Kenapa?"
"Kenapa kau tidak ingin berteman, padahal murid di kelas kita ingin berteman denganmu?"
Pertanyaan dari ketua yang berputar-putar dalam kepalaku, tanganku yang selalu menapung kepala beratku, rasa pusing yang selalu menggeliat di pikiranku dan hanya hatiku yang tau alasan kenapa aku tak ingin berteman dengan murid di kelasku.
Niki saja telah menghalangi aksi percobaan bunuh diriku, apalagi jika aku mempunyai ribuan teman, aksiku akan gagal karena ditarik ribuan manusia, dibanding itu semua aku lebih baik pindah ke mars dan tinggal bersama alien.
Kenapa aku suka alien? Karena mereka unik, bahasa yang tidak bisa dipahami manusia, tak punya ekspresi, tetapi memahami satu sama lain, dan menjadi perhatian di seluruh dunia, hebat bukan?
Maka dari itu, mereka selalu mengatakan ciri ciri yang sama seperti itu padaku tiap harinya, jadi aku sempat berpikir kalau aku tergolong makhluk alien yang sedang menyamar menjadi manusia.
"Aku lelah dibandingin oleh anak tetangga!!"
Niki berteriak kesal saat masuk ke rumahku dengan membanting kertas ulangan harian matematika bernilai 30.
Sudah dalam keseharian ia marah marah begitu setiap pembagian nilai ulangan, orang tuanya selalu membandingkan Niki dengan anak yang kaya dan juga pintar. Anak itu bernama Noel William, pemuda berambut ungu dan bermata emas, ia memang memiliki bakat yang luar biasa, ia meraih prestasi yang tinggi dan mengikuti beberapa olimpiade termasuk pelajaran matematika, ia juga sudah menghasilkan uang di umur yang masih muda. Tidak heran kenapa niki selalu dibandingkan oleh anak yang sehebat itu.
"Lucy~ kita pergi dari bumi yuk..." ajak Niki.
Ia memelukku lemas, kepalanya juga bersandar pada pundakku dengan manja.
"Aku setuju, di sini sangatlah membosankan," balas diriku sambil berdiri.
Saat aku berdiri Niki langsung tersungkur jatuh, ia tetap terbaring lemas di kasurku dan berguling-guling sambil mengeluh kesal, ia tidak memikirkan seprai kasur yang sudah ku tata rapih jadi berantakan.
"Aku harus kembali bekerja sebagai penulis dan pembuat illustrasi, aku tak bisa mengandalkan harta warisan orang tuaku terus," ucapku sambil duduk di bangku kerja.
"Oke," jawab Niki.
Aku langsung mengetik cepat naskah yang akan kubuat, semua pikiran dan keluh kesahku adalah sebuah ide dalam cerita novelku.
Waktu terus berjalan, berjam jam aku terus menatap layar laptop, kopi yang sudah disungguhi di meja kerja dan beberapa tumpukan buku untuk referensi.
"Z z z z"
__ADS_1
Dan suara berisik dari Niki yang sudah tertidur pulas, tetapi aku tidak terganggu sama sekali dan fokus dalam bekerja.
Hingga larut malam.
***
'Kriiiiingg~'
Alarm berbunyi nyaring. Tanpa sadar aku tertidur di depan laptop, sebuah buku menjadi bantal tidurku, dan selimut yang entah kapan aku memakainya, mungkin niki yang memberikan selimut itu padaku.
Aku meregangkan tubuhku yang sangat pegal, aku menguap dan mengucek ucek mataku yang agak sipit. Aku berjalan mengambil anduk dan mandi bersiap siap untuk pergi ke sekolah.
Hari ini adalah hari selasa, dimana hari yang bagiku cukup berubah karena kejadian kemarin pada hari senin. Hari ini cukup sama hebohnya dari yang kemarin, mungkin ini penyebab dari game virtual reality itu. Karena sekarang...
Ketua sedang duduk disampingku!
Seandainya kalian tau bahwa ketua sangat populer karena orangnya bersahabat, baik hati, ramah, dan pintar, ia layaknya sinar mentari di kelas yang suram ini.
Semenjak ketua duduk di sampingku banyak murid cewek yang menatapku tajam dan memandangku tidak suka, aku awalnya mengabaikannya tetapi ini semakin membuatku tidak nyaman, karena mereka selalu menjahiliku setelah makan siang ataupun pulang sekolah.
Segala macam mereka perbuat untuk memisahkanku dengan ketua, padahal aku tidak punya niat apapun pada ketua. Rasa suka-pun tidak ada sama sekali, aku tidak tau apa tujuan ketua duduk disampingku dan bahkan aku berada di pojokan dekat jendela.
Aku tak bisa kemana mana karena ketua menghalangi jalan keluar dari mejaku. Biasanya aku selalu sendirian walau ada kursi kosong disampingku, dan sekarang sudah ada penghuninya.
"Hmm ketua kenapa kau duduk di sampingku?" tanyaku.
"Karena aku ingin kita lebih akrab lagi, kau selalu sendirian di kelas, walaupun kau punya teman bernama niki di kelas lain, kau tidak punya banyak waktu dengannya kan? Jadi aku mengisi waktu kosongmu untuk menjadi temanmu, daripada kamu bengong terus, aku tidak tega melihatmu begitu," jelasnya dengan nada riang.
Jika begini terus, aku tidak akan sempat memikirkan caranya bunuh diri ataupun berimajinasi. Tentunya itu sangat merugikanku.
"Apa tidak bisa ketua duduk di tempatnya kembali, semenjak ketua duduk disini aku merasa tidak nyaman sebab ada yang menjahiliku karena ada yang cemburuan?" bujukku dengan jujur.
"Benarkah? Tapi tempat dudukku akan diisi oleh murid baru," jawab Felix.
"Oh ada murid baru yak?"
__ADS_1
"Benar, tapi kalau ada yang menjahilimu sih, kita pulang bareng saja pasti mereka tidak akan berani padamu karena ada aku disisimu!" ucapnya berani dengan tangan yang menepuk di dadanya.
"Tidak perlu, aku akan melaporkan kejadian ini ke wali kelas saja," ucapku menolak.
"Aku akan menemanimu, sekalian membawa tumpukkan PR Sejarah hehe," ucap Felix sambil terkekeh tidak jelas.
"Baiklah, aku akan membantumu membawa PR nya," ujarku sambil menggaruk kepalaku yang tak gatal karena frustasi.
"Terima kasih!" jawabnya dengan senyuman manis kepadaku.
Akhirnya bel berbunyi menandakan kelas akan dimulai, hari ini kebetulan adalah pelajaran bahasa Inggris, Miss Lisa dengan anggun memasuki kelas 12-A.
"Good Morning~" sapa Miss Lisa.
"Morning miss!" sahut murid-muridnya.
"Hari ini kita kedatangan murid baru dari sekolah Lawrence Academy, silahkan masuk!" panggil Miss Lisa kepada murid baru.
Saat murid baru itu masuk, satu sekolah terkagum-kagum dan para perempuan menjerit tidak jelas.
"Kyaaaaa, dia-kan anak yang terkenal itu-kan!"
"Iya, dia adalah orang hebat."
"Perkenalkan dirimu," ujar Miss Lisa.
"Baik, nama saya Noel William, saya dari sekolah Lawrence Academy, Saya pindah ke sekolah ini karena keinginan saya sendiri jadi tolong kerja samanya yak."
"Kyaaaa tampannya," para gadis semakin berteriak histeris.
Aku sempat terkejut melihat murid itu datang ke kelas 12-A, tak disangka dia pindah ke sekolah ini, apakah karena sekolahnya terlalu mahal, tetapi ia kan anak kaya, biaya seperti itu tidak ada apa apanya, tujuan dia kesini sebenarnya untuk apa? Dan bagaimana reaksi Niki jika mengetahui Noel pindah kesini?
....
"Saya tidak sedang menghindari kehidupan dan sosial ini. Saya hanya perlu menyendiri, karena hanya diri sayalah yang memahami keadaan saya sendiri daripada orang lain."
__ADS_1