
1 hari sebelum kami tampil nanti, semuanya mempersiapkan hiasan serta properti panggung lainnya. Dan sekarang aku sedang mencoba kostumnya. Semuanya sudah lengkap lalu aku melangkah keluar dari ruang ganti. Mereka semua melihat diriku, sang pemeran utama, gadis berkerudung merah.
“Bagaimana?” tanyaku. Aku tak mau mereka hanya menatap kejut diriku. Kau tau itu sangat risih.
“LUAR BIASA!!” seketika Alder langsung mendramatisir suasana.
“Lucy cantik banget!! belum lagi dipakai make up,” puji Niki sampai geregetan.
“Itu kelihatan bagus untukmu,” ujar Tony mengancungi jempol.
Aku hanya mengucapkan terima kasih atas pujian mereka, Kami pun mencoba latihan lagi selepas mencoba kostumnya.
“Ayo suaranya harus latang,” ujar Tony yang memperhatikan setiap perannya.
“Baik.”
Setelah kami latihan, kami kembali ke kelas untuk belajar kembali. Saat di perjalananku ke kelas, Niki mengejarku.
“Lucy.... Haa... Haa...”
“Eeh!? Kenapa kamu mengikutiku?”
“Aku minta maaf soal beberapa hari yang lalu.”
Aku memijit keningku, sudah berapa kali dia mengatakan maaf dari kemarin.
“Aku kan sudah bilang tidak masalah, kenapa kau harus meminta maaf lagi. Kamu semalaman sudah minta maaf di chat sampai nyepam loh.” ujarku lelah.
“Ha-ah aku merasa sangat bersalah, padahal prinsip sebagai sahabat adalah saling percaya,” jawab Niki yang sudah menahan bulir air mata.
“Yaa sekali saja sudah cukup Niki.”
“Benarkah?”
Aku mengangguk ‘iya.’
“Terima kasih!”
“Iya sama sama, sana pergi ke kelasmu. Bentar lagi mau bel,” ujarku mengusirnya.
“Baik.” Niki langsung pergi ke kelasnya.
Aku berbalik dan melanjutkan perjalanan ke kelas, tiba-tiba Gabriel menghadang jalanku. Aku mencoba untuk lewat tetapi ia tidak membiarkanku untuk pergi ke kelas.
“Ada apa? Bentar lagi bel akan berbunyi,” tanyaku heran.
“ini...” Gabriel dengan senyumnya memberikanku sesuatu.
“Apa ini?”
“Bukalah.”
Aku membuka kotak kecil di tanganku, seketika mataku berbinar. Gantungan kecil boneka kucing dengan tulisan ‘semangat’ membuatku tak dapat berkata-kata.
“Aku juga punya yang sama. Jadi kita couple-an.” seru Gabriel sambil menunjukkan gantungannya satu lagi.
“Terima kasih.”
Senyuman Gabriel tambah mengembang seperti bunga mekar, tetapi di hancurkan oleh kemunculan Alder bagai perusak suasana.
“Mana punyaku? Aku kan juga ikut pentas besok,” cerocosnya. Gabriel langsung memegang keras kepala Alder.
“Beli saja sendiri,” ujar Gabriel dengan senyuman sebalnya.
“Aaaa- sakit, sakit.”
“Aku akan pergi ke kelas dulu, terima kasih hadiahnya,” ucapku buru-buru pamit.
“Baik, semangat untuk pentas besok,” seru Gabriel lalu aku mengangguk ‘iya’.
“LEPASKAN!!”
>>>> keesokan harinya >>>>
Waktu yang dibilang begitu cepat, hari dimana saatnya aku tampil diatas panggung dengan sungguh sungguh. Aku begitu gugup, begitupun dengan yang lainnya .
‘Aaah~ gawat tangan dan kakiku gemetar.’
“Tenanglah. Aku yakin kita semua pasti akan berhasil!!” ujar Tony dengan lantang.
__ADS_1
Hati kami semua getar mendengar itu, bahkan mereka semua tersenyum satu sama lain. Niki memegang lenganku sambil berkata.
“Kita tak perluh gugup karena kita tidak sendirian. Lakukan seperti latihan sebelumnya.”
“IYA!”
Semua orang menjadi antusias setelah itu, bahkan aku bisa melihat kobaran api dalam diri mereka seolah mereka mengatakan ‘aku akan berjuang!’
Mereka hebat. Bahkan aku tidak bisa sesemangat itu kalau tidak terbawa suasana saat ini. Apa aku bisa berjuang seperti mereka? Aku juga teringat oleh gantungan kunci yang diberikan gabriel kemarin, aromanya seolah dirinya ada di hadapanku sambil mengatakan ‘Semangat’ kepadaku.
Hatiku agak lega sekarang berkat gantungan mungil ini.
“Siap siap semuanya. Lucy ayo cepat.”
“Baik.”
Aku beranjak dari tempat rias dan menuju belakang panggung. Tony juga sudah naik ke panggung untuk pembukaan.
‘Gawat....banyak banget pengunjungnya,’ batinku sambil mengintip para penonton.
Tiba-tiba saja seseorang menepukku dari belakang. Aku ingin menoleh tetapi orang itu membisikkan sesuatu di telingaku,
“Jangan takut, aku yakin kau bisa. Semangat yak.”
Suara ini tidak asing di telingaku, saat aku ingin berjalan menaiki panggung itulah kesempatanku menoleh. Seketika mataku berbinar memandang orang itu
“Ketua, terima kasih,” balasku sebelum menginjak kakiku di panggung. Aku tidak menyangka Felix datang ke belakang panggung hanya untuk menyemangati kami semua. dia tau kapan saja disaat teman-temannya sedang takut atau khawatir, itulah sisi keren sang ketua kelas 12-A.
‘Ok ayo kita mulai.’
“Suatu hari ada seorang gadis yang sedang berulang tahun, Ibunya memberikan gadis manis itu sebuah hadiah yang istimewa untuk sang anak yang tercintanya... ketika Ibunya memberikan hadiahnya, wajah gadis itu tampak berseri atas hadiah yang ia dapatkan,” ucapNarator.
“Ibu apa ini?” tanyaku.
“Coba bukalah.”
Aku membuka hadiahnya dan isinya adalah jubah merah lalu aku mengangkat jubah itu tinggi tinggi agar penonton bisa melihat jubah yang dihadiahkan Ibu.
“Terima kasih Ibu, ini hadiah yang bagus,” pujiku. “Syukurlah kalau kau senang,” seru Niki.
“Saking senangnya dengan hadiah tersebut, gadis itu tak bisa berhenti memakainya hingga orang orang sekitar memanggilnya si tudung merah. Di hari berikutnya si tudung merah di perintahkan oleh Ibunya untuk mengantar sesuatu pada Neneknya,” lanjut Sang Narator.
“TUDUNG MERAH!!”
“Iya ada apa, Bu?” tanyaku menghampirinya.
“Nenekmu sedang sakit, jadi bawakan keranjang ini pada Nenekmu yak, isinya adalah kue kesukaanya. Jangan sampai jatuh ataupun melemparnya ke sungai hanya karena kamu saking membenci Nenekmu. Paham?” ujar Sang Ibu tundung merah.
Penonton tertawa mendengarnya.
“Paham, Bu.”
“Satu hal lagi dan jangan sampai kau melupakannya, jangan pernah.....
Melewati Jalan kelinci. Oke jangan pernah lewatsana.”
“Kenapa? Di sanakan banyak kelinci, bunga-bunga, serta istanah yang mewah.”
“Jangan berkhayal kamu! Sesuatu yang terlihat indah adalah jebakan dari Sang Serigala.” tegas Sang Ibu.
“Iya iya paham,” ucapku tak peduli sambil meneteng keranjang di pundak.
“Rumah Nenek ada di perdalaman hutan yang lebat. Si tudung merah harus melalui jalan yang panjang, saat ia melihat jalan kelinci. Ia hanya berpikir itu adalah jalan pintas ke rumah neneknya, lagipula dia sudah kelelahan. Baginya dimana itu adalah perintah disitulah ia melanggar,” ucap Narator.
“Baik, aku lalui saja jalan kelinci,” ucapku serius sambil mengepal tanganku dengan semangat.
‘Bar bar banget!’ batin Sang Penonton.
“Lagipula aku pernah kesini beberapa kali, tetapi tidak ada tuh serigala, apa mungkin aku bersama pemburu waktu itu,” gumamku sambil berjalan.
“Lalu Si Tudung Merah, melihat beberapa bunga cantik yang menarik perhatiannya,” lanjut Sang Narator.
“Waah ada bunga... Apa aku ambil saja bunganya yak... Tunggu! Apakah ini bunga yang dibenci Nenek? Aku harus mengambilnya!” seruku sambil memetik bunga-bunganya.
‘Sebenci itukah?’ batin Sang Penonton.
“Saat Si Tudung Merah tengah asyik memetik bunga, muncul-lah Sang Serigala yang ingin menerkamnya. Tetapi saat Serigala ingin menerkam Si Tudung Merah secara diam-diam. Serigala menginjak ranting pohon yang membuat Si Tudung Merah menoleh ke arah Serigala.”
“Siapa kamu?” tanyaku sambil memiringkan kepala sedikit.
__ADS_1
‘IMUT!!!’ batin Sang Serigala yang membuatnya tersipu malu.
“Serigala yang melihat paras cantik dari Si Tudung Merah, merasa tidak sanggup untuk memakannya. Malah Sang Serigala merasa jatuh cinta pada Si Tudung Merah.”
Serigala mendekati Si Tudung Merah, walaupun di dekati Si Tudung Merah tetap menatap tajam Sang Serigala dengan tatapan seperti ‘menjauhlah dariku!’
“Aku bilang siapa kamu?” tegasku kembali.
“Aku adalah Sang Serigala, tetapi aku tidak akan memakanmu kok. Hanya saja...”
Serigala mengambil rambutku dengan lembut lalu menciumnya. “Aku jatuh cinta padamu.”
“KYAAAA!!” sorak penonton yang ikut merasa gereget dengan percintaan ini.
“Maaf saja yak, tetapi kau pernah berpikir manusia dan serigala berpacaran lalu anaknya jadi siluman gitu?” ujarku memberi tamparan kenyataan.
“Ya ampun, kamu sampai berpikiran kita akan menikah.” sanjung Sang Serigala yang membuat Si Tudung Merah menjadi geram.
“BUKAN ITU MAKSUDKU! Aah.. sudahlah tidak ada gunanya aku bicara padamu. Aku akan pergi saja dari sini,” ucapku berpaling darinya.
“Tu-tunggu!” Sang Serigala memegang pundakku agar langkahku terhenti. “Kamu mau pergi kemana?” lanjut Sang Serigala.
“Aku mau ke rumah Nenekku,” jawabku datar. “Ikut!!”
“Nggak usah, disini saja.” “Tidak, disini aku kesepian.”
“Jika kau menerkam Nenekku, aku nanti termasuknya komplotan penjahat juga. Jadi disini saja yak.”
Serigala mengembungkan pipinya, bahwa dirinya cemberut minta ikut.
‘Keras kepala banget!’ Geramku.
“Aku bilang aku tidak mau mengajakmu!” bentakku menghempas genggamannya dari pundakku.
Sayangnya. Serigala itu tidak mau menyerah....
Ia memelukku dari belakang. ia seperti boneka besar yang tengah memelukku dengan lembut. Mungkin baginya aku ini begitu mungil untuk di peluk, tetapi ini...
“Eeeeh!” sontak semua penonton terkejut dengan adegannya. Hanya saja ini...
“Ya ampun aku tidak menyangka akan seperti ini...” Bahkan di belakang panggung juga ikut tercengang apalagi Tony yang ikut berdebar-debar bersama penonton.
Bahkan adegan ini, suasana ini, tidak termasuk dalam naskah dongeng si tudung merah. Apakah kau sengaja melakukan ini Alder atau kau hanya mencari sesansi dari kecemburuan Gabriel yang ikut menonton pentas kita?
Aku tidak tau apa yang kau pikirkan, tetapi pentas kita bisa saja berubah genrenya.
“Aku tidak akan melepaskanmu,” bisiknya lembut ditelingaku. “KYAAAA!!” para penonton makin mendebar debar.
‘Dia sengaja melakukan ini padaku yak. Cih dia itu membuatku kerepotan saja. Aku kehabisan ide... Gimana ini?’ pikirku.
Aku-pun melepaskan pelukannya, lagi-lagi aku menunduk suram hingga penonton menunggu reaksiku. ini terlalu sulit tetapi aku juga harus terlihat natural juga.
“Jika kau tidak ingin bernasib buruk tetaplah disini. Aku akan berjanji akan kembali setelah aku mengantarkan kue pada Nenekku,” ucapku lembut dengan menunjukkan jari kelingkingku.
Entah kenapa wajah serigala saat ini menjadi memerah. Sang serigala juga menyatukan jarinya pada jari kelingking mungilku. Hingga terikatlah sebuah janji.
“Aku pergi yak.”
Sang serigala mengangguk dengan pipi yang masih merona. Lalu tirai pun tertutup....
(Di belakang panggung)
“Gimana dong? Penonton mengharapkan kalian hidup bahagia. Ini semua gara-gara Alder!!” sebal Tony padahal dia tadinya juga terhanyut dalam adegan tersebut.
“Loh kok aku?”
“Iyalah gara-gara kamu membuat adegan seenak jidatmu, para penonton jadi ingin melihat kalian berdua hidup bahagia!! padahal kau harus mati dalam cerita itu!” tegur Tony
“Nah itu aku benci kalau Serigala harus mati,” ujar Alder.
“Terus kalau kamu tidak mau mati. Apa gunanya Sang Pemburu.”
“Kenapa tidak kau hubungkan dengan ceritamu yang bagian C.”
“Hah!” si Tony juga kepikiran terus soal cerita yang ia simpan itu.
“Sudah kubilang jangan ditahan, keluarkan imajinasimu Author. Kau tau-kan pentas kapan saja bisa berubah ubah genre hehe,” ucap Alder dengan muka tanpa bersalah.
“Hehe, palamu!” geram Tony
__ADS_1
.....
“Jangan ditahan lepaskan saja daripada nanti stress berakhir dengan lebih buruk.”