
Inilah yang terjadi jika pembaca memilih opsi B. Mendorongmu.
***
Aku tidak memiliki pilihan lagi selain mendorong Niki menjauhiku. Karena aku tidak ingin ia ikut denganku untuk terjun dari menara ini.
“Maaf, lepaskan aku sekarang!”
“Aaaarghh”
‘BRAK!!’
“!!!!”
Doronganku terlalu kuat sampai kepalanya terkena pilar dan mengalami benturankeras.
Setelah itu, Niki mulai tak sadarkan diri, tetapi ada yang menetes dari kepalanya.
‘Darah!’
“Ni-Niki?” panggilku dengan harapan ia masih sadar.
Tak ada jawaban yang keluar dari mulutnya justru semakin lama darahnya mulai menetes banyak.
Hal tersebut membuatku sangat syok, membuatku semakin panik dan wajahku mulai ketakutan. Aku menatap tanganku yang bergetar sambil berkata.
“Apa yang telah kuperbuat?”
Lalu menutup wajahku dengan kedua tanganku dan terucap sekali lagi, “Aku merusak kebahagiaanku lagi.”
***
Aku bergegas mengantarkan Niki ke rumah sakit. Ia dibawah ke ruang unit gawat darurat.
Operasi pun dijalankan oleh para medis, tentunya aku tidak dapat masuk kedalam dan hanya menunggu di luar sambil menunggu kabar dari Dokter.
Tak berselang lama yang lain datang dengan ekspresi terkejut dan khawatir.
“Lucy, apa yang terjadi?” tanya Noel dengan panik.
Aku ******* bibirku dan menunduk dengan rasa bersalah, sambil menjawab dengan perasaan sedih.
“Ini semua salahku, aku tidak sengaja mendorongnya dengan keras. Tidak, aku sengaja mendorongnya tetapi doronganku terlalu keras hingga kepalanya terbentur pilar. Aku benar-benar minta maaf.”
Noel terlihat sangat kecewa, tetapi bagaimana lagi nasi sudah menjadi bubur, tak ada yang bisa dilakukan lagi selain menunggu kabar dari Dokter.
“Kenapa kamu mendorongnya? Apa kalian sedang bertengkar?” tanya Sarah.
Aku tidak ingin memberitahunya tetapi pada intinya aku harus memperbaiki ini semua.
“Aku akan bertanggung jawab!” Ucapanku yang lantang, membuat mereka semua terkejut.
“Aku akan bertanggung jawab sampai akhir,” ucapku sekali lagi.
Gabriel menghela nafas panjang kemudian maju beberapa langkah mendekatiku sampai ia mengelus kepalaku dengan lembut.
“Tenanglah, jangan lakukan ini sendirian. Ingatlah bahwa kami akan ada untukmu,” ucapnya dengan senyum bak malaikat.
“Itu benar, jika kau memiliki masalah kau bisa minta bantuan dengan kami,” tambah Felix.
“Aku tidak tau apa yang terjadi dengan kalian, tapi jangan sembrono sendiri Lucy,” ucap Noel.
“Itu benar, kalau ada masalah ceritalah padaku,” ujar Sarah.
“Lucy segalanya aku akan ada untukmu,” seru Alder yang melangkah mendekatiku karena takut diambil Gabriel.
Aku yang mendengarnya ikut terharu. “Terima kasih, sekali lagi aku minta maaf.”
Kemudian Dokter keluar dari ruangan dan mempertanyakan dimana kedua orang tuanya, tetapi aku segera menjawab kalau aku yang akan mendengar bagaimana keadaan Niki.
“Tidak bisa, saya harus menemui orang tuanya.” bantah Sang Dokter.
“Itu...”
Noel memegang pundakku dan ia berbisik,
“Tidak apa-apa, semuanya bisa dibicarakan dengan baik-baik.”
Aku merenung dan sangat menyesal, tetapi disisi lain aku takut ketika orang tuanya mengetahui tentang keadaan Niki saat ini.
Aku mencari kontak orang tuanya di ponsel dan menelepon mereka untuk datang ke rumah sakit.
Aku menjelaskan apa yang terjadi pada orang tuanya, mereka setuju dan akan pergi ke rumah sakit, membuat pembicaraan kami berakhir.
‘Tit’
“Aku sudah meneleponnya.”
“Baik, terima kasih, saya akan menunggu mereka datang.”
***
Orang tua Niki pun akhirnya datang dan menemui Sang Dokter. Dokter menjelaskan keadaan Niki saat ini, kini Niki sudah berada di ruang ICU.
Kami melihat keadaan Niki yang masih belum sadarkan diri, mereka berharap kalau Niki akan baik-baik saja, tetapi selepas dari apa yang dikatakan Sang Dokter.
Ingatannya menghilang.
Rasa bersalah serta menyesal memenuhiku kembali, aku hanya menggenggam tangannya yang dingin, wajahnya sudah putih pucat, aku harap dia segera sadar.
“Lucy?” panggil Ibu Niki.
Aku segera bangun dan menjawab. “Iya Tante?”
“Lucy, saya serahkan padamu, kami tidak bisa menemaninya karena kami harus kembali dengan urusan bisnis,” ucap Ibunya Niki dan juga ada Ayahnya Niki di sampingnya.
“Baik Tante, saya yang akan bertanggung jawab.”
“Jika ia sudah sadar kabarin Tante saja.”
“Baik Tante, maaf sudah merepotkan.”
Kedua orang tua Niki pergi meninggalkan rumah sakit, bagaimanapun ini adalah kesalahanku aku harus menembus semua dosa-dosa ini.
***
Aku sendirian bersamanya, keadaaan sepi ini tidak biasa seperti di rumahku. Sunyi dengan suasana mencengkam di rumah sakit membuat kuduk buluku merinding apalagi pintu yang terbuka memperlihatkan lorong yang redup dan minim percahayaan.
“Aku minta maaf, aku minta maaf, aku minta maaf, aku minta maaf...” Gumamku tanpa henti sambil memegang tangan niki yang dingin.
“Aku minta maaf, aku minta maaf, aku min--”
‘kretek!’
‘Kretek!’
Terdengar suara bunyi aneh yang sumbernya ada di lorong gelap tersebut.
Lampu di lorong tersebut berkedap kedip membuat nuansa menjadi seketika horror.
“Siapa di sana!?” tanyaku dengan suara yang keras.
__ADS_1
Tidak ada jawaban, apa itu adalah keisengan belaka. Mungkin anak kecil disini ada yang nakal. Aku hanya harus mengabaikannya.
‘KREEeetteeekKKK.’
Kali ini suaranya menjadi keras dan panjang, membuatku menjadi penasaran dan keluar untuk memeriksa apa yang terjadi di lorong tersebut.
“Bunyi apa itu?”
Aku menatap lurus padangan menunggu apa ada orang di sana.
‘Deg deg deg.’
“LUuuuCyy~”
“Aaa!”
Aku sontak menutup mulutku, aku terkejut setengah mati ada makhluk di belakangku.
“Jangan mengejutkanku seperti itu Peter!” ucapku dengan nada marah.
“Aaku MiinTa Maaf.”
Mataku menjadi berkaca-kaca lagi melihatnya hadir dihadapanku. “Darimana saja kau selama ini... Hiks”
Peter segera memelukku, walau ia hanya terlihat seperti dari segerombolan serbuk hitam. Aku bisa merasakan kehangatan pada tubuhnya yang cukup tinggi itu.
Peter mengambil tisu dari saku jasnya dan memberikannya padaku. “Terima kasih.” ucapku menerimanya.
Setelah aku menyekat air mataku, aku melihat ada tinta muncul tetapi agak luntur karena terkena air mata, bertuliskan ‘Sorry’
“ini semua salahku.”
Ia kembali mengusap kepalaku sambil berpikir sesuatu, alhasil rambutku menjadi kusut semua. Setelah itu ia merogoh saku celananya dan memberikanku permen yang bertuliskan ‘HAPPY’
“Hufft~”
Aku menghembuskan nafas dan mengambil permen tersebut dari tangannya, aku tidak bisa menebak apa yang ada dipikirannya, tetapi setelah kumembaca kata ‘HAPPY’ mungkin ia hanya bermaksud untuk menghiburku.
“Aku harus kembali ke ruangan, sampai jumpa lagi,” ucapku.
Saat aku diambang pintu, mataku terbelalak dan membeku karena Niki sudah duduk sambil melihat-lihat sekitar.
“Niki!!”
Aku berlari kearahnya dan memeluknya dengan erat, membuatnya bingung dan terheran-heran.
“Akhirnya kau sadar Niki. Aku sangat bersyukur kau sudah bangun. Aku sungguh minta maaf niki, aku minta maaf.”
Ia memandangku dengan polos, sambil memiringkan kepalanya.
“Kamu siapa? Aku dimana? Kau bilang Niki?”
Aku melepaskan pelukannya dan memandangnya dengan ekpresi tidak tau apapun.
Ya ampun aku baru ingat.
‘Aahh~ betapa bodohnya aku.’
“Maaf untuk sebelumnya, aku akan menjelaskan padamu apa yang terjadi, jadi.... Aku harap kamu mendengarnya dengan tenang yak,” ucapku dengan nada ramah tetapi dilain sisi dadaku terasa sesak.
“I-iya.”
“Kamu mengalami benturan keras di kepalamu, karena benturan itu yang menyebabkanmu hilang ingatan.”
“Kenapa aku bisa terbentur?” tanyanya.
Aku harus menahan semua rasa sakit ini. Ia benar-benar tidak mengingat apapun, aku tau ini hilang ingatan, tetapi rasanya melihat dirinya melupakan segalanya membuatku sakit.
“Karena ada seseorang yang mendorongmu hingga kau terbentur pilar menara,” jawabku dengan mempertahankan senyuman di wajahku.
“Aku tidak mengerti.... Kenapa dia mendorongku? Apa dia membeciku?” tanyanya lagi.
“Tidak, dia tidak membecimu.”
“Lalu kenapa ia mendorongku?”
“Dia... Dia tidak senga--”
“Siapa orang yang mendorongku?”
“....”
“Apa kamu tau namanya?”
“...”
“Apa kau mengenalnya?”
“...”
Aku meremas selimutnya, aku tidak tau bagaimana ekpresinya bila ia mengetahuinya.
“Apa kau tidak mengenalnya??”
“Kenapa kau tidak menjawab?”
“Itu aku.”
“???”
“Aku yang sudah mendorongmu,” jawabku dengan ekpresi suram.
“Kenapa?”
“Itu karena kamu mencoba untuk menghentikanku bunuh diri.”
Aku menggenggam erat kedua tanganya, dengan wajah serius dan perasaan yang mampan, aku memberanikan diri untuk memulai kebersamaan ini dari awal.
“Niki.” panggilku.
“Niki?”
“Iya, itu adalah namamu, ingat itu baik baik.”
Dia menggangguk dengan polosnya. Aku tertawa kecil selepas itu.
“Aku minta maaf karena tidak sengaja mendorongmu, aku benar-benar menyesal ketika kamu terluka dan tidak sadarkan diri. Rasanya aku sudah merusak sesuatu yang penting dalam hidupku. Akan tetapi...”
‘Aku akan bertanggung jawab atas semua ini sampai kau kembali dan menjalani aktivitasmu seperti biasa,’ Hal yang kupikirkan tadi membuatku semakin menggenggam erat dan yakin aku bisa memulainya dari nol.
“Mari kita mulai dari awal, aku akan membantumu untuk mengembalikan ingatanmu sampai kau bisa mengingat lagi, tidak apa-apa, pelan-pelan saja dan tidak usah terburu-buru untuk memperbaiki semuanya.”
Aku melepas tangannya tetapi Niki masih menatapku dengan kagum melihat kedua manik mataku yang berkilauan, serta aura yang berubah dratis dari Lucy yang ia kenal lama.
“Ngomong-ngomong namaku Lucy Aureista, kamu bisa memanggilku Lucy, jadi salam kenal yak,” ucapku menawarkan jabat tangan.
“Iya salam kenal.” ucap Niki yang menerima jabat tangan tersebut. 2 hari berjalan, perlahan ingatannya kembali.
Aku senang melihatnya tersenyum lagi bersama dengan teman-temannya dan juga keluarganya.
***
__ADS_1
Lewat pesan yang bertuliskan ‘Temui saya di atap rumah sakit.’ aku menaiki tangga paling atas. Hingga sebuah pintu berwarna abu- abu terlihat didepan mata.
Aku mendorong pintu tersebut dan cahaya yang terang mengenai wajahku hingga aku harus menutupnya dengan telapak tanganku sambil memberi celah untuk melihat ke sekitar.
Aku hanya melihat banyak kain-kain putih yang dijemur secara berjajar rapih dan menari-nari tertiup oleh angin.
Beberapa genangan air masih terlihat di beberapa tempat sekitar, awan mendung yang diselingi oleh pancaran cahaya menandakan hujan telah reda.
Pelangi perlahan terlihat dengan sedikitnya air yang berjatuhan.
Aku cukup kagum melihat pemadangan tersebut dan tidak lupa melihat perkotaan dari atas yang terlihat seperti kota mati, aku berjalan lebih maju sambil memandang sekitarku.
Di antara kain-kain yang terkibas oleh angin, terlihat sebuah makhluk tinggi, hitam dan ber-jas rapih dengan membawa payung yang sudah tertutup di tangannya melambaikan tangan kepadaku.
“Peter. Ada apa?”
Ia memberikan sekucup surat yang bagiku terasa tidak asing, sekucup surat berwarna putih dengan cap lilin merah bermotif bunga mawar pernah kutemui pada waktu Peter pertama kali memberikanku surat tentang kebenaran lewat celah dibawah pintu rumah.
Aku tanpa pikir panjang membukanya dan membaca isi surat tersebut dalam hati.
Yang terhomat, Lucy Aureista.
Dengan surat ini saya mengucapkan terima kasih banyak kepada anda yang telah mengikuti arahan surat dari saya sesuai dengan petunjuk yang telah diberikan, sebuah kehormatan bisa melayani anda menuju kebenaran dan menghindari permasalahan yang ada, saya bersyukur segala konflik yang diakibatkan dari kebenaran tersebut telah diselesaikan, melalui surat ini saya meminta maaf bila ada banyak kesalahan yang membuat anda tersinggung atau marah dalam proses pencarian kebenaran, pekerjaan mencari kebenaran adalah bagian pekerjaan seorang Shadow Hunter untuk membantu mereka yang telah melupakan masa lalu mereka, mengingat penduduk kota siluet yang cenderung mengurung diri mereka. Sekali lagi saya berharap dengan kebenaran ini anda akan menemukan jalan titik terang yang terbaik untuk anda. Dengan ini saya mengakhiri pertemuan kita kali ini.
Terima kasih, Salam dari Peter.
Aku menatap Peter dengan perasaan sedih yang mendalam, justru adanya dirimu aku bisa mengetahui ini semua. Semua kebenaran yang disembunyikan oleh orang-orang.
“Terima kasih banyak sudah memberitahuku tentang kebenaran yang kau tunjukkan Peter.”
Kemudian, ia menyetuh kertas tersebut dan tinta-tinta tersebut menyatu lalu membentuk sebuah kalimat lainnya,
‘Tidak masalah Nona Lucy, walau anda sempat tidak menerima kebenaran tetapi saya berusaha yakin kalau anda pasti bisa menerima dan menyelesaikan setiap masalah yang ada.’
“Sebenarnya apa itu Shadow Hunter? Apakah itu sebuah organisasi?”
‘Saya tidak bisa memberitahukan kepada publik tentang shadow hunter, tetapi kami melayani setiap permintaan klien yang ada.’
“Permintaan? Kapan aku memintamu untuk mencari kebenaran?” tanyaku yang tidak ingat untuk minta tolong seseorang untuk mengingat masa laluku.
‘Bukan anda yang memintanya, tetapi ini adalah permintaan dari Tuan Baron. Agar Tuan Baron bisa menemui anda dan mengungkapkan satu-persatu yang ia ingin katakan.’
“Jadi selama ini Tuan Baron...”
‘Iya, selama ini beliau selalu memikirkan Nona bertahun-tahun, mengingat Nona tidak keluar dari mansion karena harus menunggu Ibu Nona pulang.’
Aku tidak menyangka, selama ini Tuan Baron benar-benar memikirkanku bahkan walaupun ia sudah tidak menjadi kepala pelayanku lagi. Aku cukup terharu mendengarnya. Suatu hari nanti aku akan membalas kebaikannya.
‘Apa sahabat Nona sudah pulih ingatannya?’
“Iya, sudah lumayan ia bisa mengingatnya, besok dia bisa dipulangkan ke rumahnya,” jawabku dengan senyum mentari.
‘Senang mendengarnya, tetapi saya tidak bisa menemani nona karena tugas saya sebagai shadow hunter sudah selesai.’
“Sudah mau pergi ya, sepertinya aku akan merindukanmu, terlebih lagi dengan suaramu yang serak dan berat itu.”
“SEePerRtii Inii?”
“Hahahaha, ooohh sudahlah itu membuatku merinding,” ucapku sambil terkekeh.
Peter merogoh sesuatu dari balik jas-nya dan memberikanku sebuah kartu namanya. Aku melihat kartu namanya tersebut dengan seksama.
“Ternyata aku bisa menghubungimu lewat telepon. Aku akan menghubungimu bila ada masalah nanti,” ujarku.
Peter mengangguk setuju dan untuk terakhir kalinya ia mengatakan, “Selamat tinggal Lucy. Shadow hunter akan selalu ada untukmu.”
Suaranya yang merdu terdengar di telingaku, suara saat ia menjadi pemandu wisata sekolah.
Aku melambaikan tanganku padanya dan mengucapkan selamat tinggal dan berharap kita bisa bertemu lagi.
“Selamat tinggal Peter.”
Tubuhnya yang bagai debu-debu hitam itu terhempas dibawa oleh angin. Hingga tidak ada satupun jejak darinya. Walau perpisahan ini cukup sedih, aku yakin di luar sana ada yang lebih membutuhkan dia selain diriku.
***
6 tahun berjalan dengan cepat, semua berubah menjadi lebih baik.
Namaku Lucy Aureista, umurku sudah menginjak 23 tahun sekarang. Saat ini aku bekerja sebagai Freelancer illustrator dan seorang Penulis buku fiksi.
Setiap minggunya aku mengecek kesehatan mentalku di rumah sakit dan berkonsultasi dengan Dokter Psikologku, Gabriel Alexander.
"Halo, senang melihatmu lagi, bagaimana kabarmu, Nona Lucy?"
Setelah itu aku mampir berkunjung ke tempat Alder dan Rosa yang keduanya bekerja sama membangun brand fashion terkenal di dunia. Mereka berdua menyambutku dengan hangat. Tentu aku juga termasuknya ikut dalam project mereka sih.
Selepas dari pekerjaanku, aku mampir ke toko bunga milik Sarah, aku senang ke tokonya melihat bunga-bunga segar dan cantik yang terawat dengan baik.
Dan tak lama kemudian Felix datang ke toko bunga Sarah, Felix hanya menyapa kami dan melanjutkan patrolinya sebagai Polisi kota siluet.
“Aku dengar-dengar noel akan membuat album baru lohh,” ucap Sarah.
“Benarkah? Sepertinya aku harus membeli albumnya lagi.”
Noel yang selama ini kita kenal sekarang menjadi Penyanyi dan Komposer musik serta membangun perusahaan musik yang cukup terkenal di dunia. Cita- citanya benar-benar sudah tergapai.
Aku pamit pergi dan melanjutkan perjalananku setelah aku membeli sebuket bunga lily putih.
***
“Akhirnya sampai juga.”
Aku melihat pemakaman yang terjajar rapih di hamparan rumput. Aku menghampiri makam nisan Ayah dan Ibu yang saling berdampingan.
Aku memberikan keduanya bunga dan mengucapkan sepatah kata.
“Ibu... Ayah... Terima kasih sudah menemani masa kecilku, aku sangat bersyukur memiliki sahabat dan teman seperti keluargaku sendiri, suatu hari aku pasti akan menyusul kalian.”
Aku berdiri dan meninggalkan tempat pemakaman. Pagi sudah berganti menjadi malam, aku berpikir kalau makan malam kali ini di restoran saja.
“Selamat datang Lucy! Apa yang ingin anda pesan.”
Aku tidak menyangka kalau aku langsung dilayani oleh kepala restoran mewah ini. Aku pesan beberapa makanan dan minuman yang ada di buku menu.
“Terima kasih Niki, apa kau yang memasaknya lagi?” tanyaku.
“Iya itu benar, aku ingin Lucy terus merasakan masakanku terus,” seru Niki.
Niki Terelia adalah kepala restoran sekaligus koki ternama di kota siluet, masakan khasnya membuat restoran mewah ini memiliki banyak pengunjung yang datang.
Semuanya terlihat sangat baik dan aku berhasil mengembalikan ingatan Niki. aku melahap makanan buatan-nya.
Makanan ini mengingatku kebersamaannya sewaktu kami masih sekolah.
“Sudah... Sudah... Padahal kau hampir setiap hari makan di restoranku, bukan? Tidak perluh menangis begitu,” ucap Niki.
“Makanan ini sangat enak~”
“Hahaha terimakasih.”
Senyumanmu tidak akan pernah pudar, begitupun dengan kebaikan dihatimu dan aku senang aku bisa menemukan kebahagiaan dan ketidakbahagiaan sejatiku disini.
__ADS_1
...- HAPPY ENDING/ TRUE ENDING-...
...TAMAT....