
"Sudah kuduga ada yang tidak beres denganmu Lucy."
"Apa maksud ketua?" tanyaku tak paham.
"Kenapa kau selalu sendirian, semua murid dikelas kita juga ingin berteman denganmu?" ujar Felix, memandangiku dengan kasihani.
Aku benci saat ia mengatakan itu, aku menunduk suram tak melihatnya, aku lelah dengan pernyataan dan pertanyaan yang terus menerus kudapatkan selama ini. Karena lelah, tak ada pilihan selain untuk tersenyum palsu dan mengulurkan tanganku padanya.
"Nanti saja kita bicarakan itu, ayo tetap berjalan kedepan dan gampai angka 100 sebelum mereka melangkah di depan kita."
Ia menerima uluranku dan sekarang ia menatapku dengan mata berbinar, ia sangat cepat berubah sikapnya pada seseorang.
Kami melangkah ke nomor 10, walaupun jauh dari tim drisia entah kenapa ada aura hitam yang besar dibelakangku, lebih baik aku tak melihat ke belakang dan fokus ke depan.
Di depan kami dunianya sudah berubah menjadi hutan, mungkin sekitar di lantai nomor 15 kami akan berada disana.
***
Sedikit demi sedikit, kami sampai di sebuah nomor 90 dan tim drisia berada di nomor 85, mereka melempar dadunya dengan tangan lemas mereka, mereka kelelahan begitupun dengan kami, tim alien yang hampir sampai ke nomor 100, hampir digagalkan karena kejadian yang tak terduga.
"5!"
Mereka melangkah lemas menuju angka yang dituju, kami terkejut karena kami satu daratan dengan mereka.
Kita saling menatap satu sama lain seperti mengatakan 'kenapa kau ada disini?'
"Wah wah kalian sudah bertemu seperti ini, apakah kalian ingin melakukan perlawanan? Bertarung aja yak biar makin seru!” seru robot itu sambil menyiapkan popcorn melihat sebuah pertunjukan yang baginya menarik.
'Dasar provokator!!' batinku
"Tidak perlu, kami tak perlu bertarung, karena kita semua berteman-kan?" ucap Felix membujuk tim drisia.
Tim drisia mematung tak dapat membantah kata kata gebetan mereka, hmm sebenarnya aku menunggu momen pertarungan ini, tetapi aku juga sudah lelah dengan game ini, karena terlalu sulit mencapai nomor 100, kami selalu mundur langkah disebabkan kalah dalam tantangan.
"Tidak!! Jika kita tak melakukan perlawanan, Lucy akan menang dan kita tak mendapatkan nilai tambahan," tegas Niki menolak perkataan Felix.
"Maaf, ivan seperti apa kata rivalku, kami takkan menyerah," semangat Sarah.
Aku bersemangat melihat mereka menatangku begitu, tak ada pilihan lagi selain menerimanya.
"Baiklah, aku terima tantangan kalian!"
"Eehh? Kau menerimanya!" kejut Felix.
"Ketua! Kita tak boleh kalah dari mereka juga," jawabku sambil melipat tangan.
"Hmm, padahal kita hampir saja mau menang loh, kamu tidak akan menyesalkan saat kita kalah?" tanya Felix padaku.
"Aku orang yang tipe berpikir terlebih dahulu sebelum bertindak," jawabku padanya sambil menujukkan jempol bahwa ini akan menjadi baik baik saja.
"Baiklah," Akhirnya ketua menyetujui keputusanku.
Seketika semuanya menjadi medan perang, berbeda dengan yang kami pijak tadi, terlihat bahwa kita berada di sebuah stadion besar.
"Pertarungan dimulai!!"
"Eeehh!! Tanpa aba-aba apapun!" kejut Niki.
Aku langsung mengeluarkan sayap hitamku dari punggung, dan mengangkat sabit bersiap memenggal kepalanya.
Niki yang awalnya panik, langsung mengambil pose ala model dan entah kenapa muncul efek cinta keluar dari tubuhnya.
"Tu-tunggu kenapa kau tidak tergoda!!!" panik Niki.
"KARENA AKU INI CEWEK!!"
Dia cukup bodoh untuk dikalahkan, aku menebas dengan cepat, beruntung ia menundukkan kepalanya, ia selamat dengan tubuh gemetar ketakutan dan tak mengenai sabitanku.
"Aah~ aku meleset yak?" ucapku dengan memangku sabit di pundakku. Dan menatapnya dengan angkuh.
"Aku mi-minta maaf soal aku tidak satu tim dengan mu hehe, ja-jangan pikirkan apa yang aku katakan saat aku mengucapkan 'aku bukan temanmu', SUNGGUH AKU MINTA MAAF." Niki bersujud berkali-kali di hadapanku.
Aku memberikan tatapan malaikat maut lalu tersenyum jahat kepadanya. "Sekarang kau akan melihat Cinderella versi dark!!"
Aku mengangkat sabitku setinggi-tingginya, lalu menyerangnya dengan tekanan tinggi.
'Sring~'
__ADS_1
Tetapi aku langsung mengarahkan sabit itu ke tempat lain untuk menangkis anak panah yang ingin menancap jiwaku. Aku melihat sang pemanah sedang sekarat sambil memegang perutnya yang kesakitan, tampilannya sudah berantakan, tetapi lawannya masih utuh dan tak ada satupun luka.
"Ketua memang hebat," ujarku dengan menunjukkan jempol padanya.
"TERIMA KASIH LUCY!" teriak Felix dari kejauhan.
"Aku yang akan menjadi lawanmu!" ucap Sarah sambil bertahan menahan
sakit.
"Dengan keadaan begitu, kau sedang berada di ambang kematian loh."
Aku mencoba untuk menolak penukaran lawan ini, karena yang pasti jika Niki melawan Felix yang diuntungkan adalah mereka.
"Tidak, aku akan tetap melawanmu!!"
"Terima kasih, rival!!" Niki langsung berganti posisi melawan penyihir.
"Aku belum memutuskannya," ujarku.
"Kami tak perlu keputusanmu!" Sarah tetap keras kepala, ia langsung menarik dan bersiap memanahku, sungguh tekad yang berani untuk melawan malaikat mautnya sendiri.
"Rasakan ini!!" ia melepaskan puluhan anak panahnya, aku langsung terbang mengarahnya sambil menangkis serangannya.
Pertarung jarak dekat melawan pertarung jarak jauh sangatlah bentrok bagiku.
Semua serangan sudah kutangkis, sekarang adalah menebas lehernya hingga terpisah dari tubuhnya.
Ia tersenyum semeringai, aku memang merasakan ada yang mengganjal dari dirinya.
'Crat!'
"Aaaaarrggh!"
Aku menjerit kesakitan, saat anak panah itu berbalik arah kepadaku, puluhan anak panah berkumpul dan menusuk punggung belakangku, aku terjatuh ke tanah dengan keras. Dan darahku mengalir kemana-mana.
"Jadi ini yang direncanakanmu sejak awal " gumamku menahan sakit.
"Bagaimana? Apa kau sudah puas meremehkanku!!"
Sarah menarik, menekuk nekuk dan menginjak injak sayapku hingga patah, bulu sayapku ia cabut semuanya, seolah aku adalah bahan pelampiasan kemarahannya.
Ia menariknya dengan sangat kencang, tak kuasa menahan sakit ini, aku memberontak, tetapi kepalaku diinjak oleh kakinya.
Ia memanah sayapku berkali kali, sayapku sudah dalam keadaan tak bisa dipakai lagi untuk terbang.
"Dasar Pelakor!"
"Aku tak berniat merebut ketua darimu, aku hanya berusaha untuk menyelesaikan masalah pertingkaianmu dengan Niki, aku kira jika kalian satu tim, kalian akan lebih akrab lagi." ucapku lirih.
Sarah kesal, dengan apa yang aku ucapkan.
"Bohong! KAU BERBOHONG!"
Anak panah semakin menyelimuti tubuhku, aku menjerit kesakitan, aku menahan rasa sakit itu sambil memukul mukul tanah.
"Sudah cukup!" Niki mengambil busur itu dari tangan Sarah.
a yang kau lakukan!?" kesal Sarah.
"Mereka sudah kalah..." jawab Niki.
Aku terkejut mendengar hal itu, pupil mataku mengecil ketika melihat Felix terbaring tak berdaya ditanah. Aku tau kalau pertukaran lawan ini yang menyebabkan kami kalah.
"Sarah... Apakah kau tau? cinta itu buta, kau sudah dibutakan oleh cinta," ujar Niki menyadarkan Sarah.
Sarah tak membalas pernyataan dari Niki, ia manatapiku dan sadar kalau ia telah melukai seseorang dengan kejam.
"Maaf... Aku telah berlebihan...." lirihnya dengan memeluk tubuhnya yang gemetar.
"Baiklah, karena tim drisia menang, kalian ditambahkan 9 langkah! Dan tim alien kalian dikurangi 20 langkah." seru robot itu.
"Banyak banget kurangnya!" kejut Niki,
Tiba-tiba kami terjatuh dalam lubang hitam dan diturunkan di nomor 70, sekaligus tenaga kami dipulihkan kembali.
"Kita benar-benar kalah yak," keluh Felix.
__ADS_1
Aku diam tak berkutik, memikirkan rasa sakit hati yang dialami Sarah.
Itu yang dinamakan rasa ketidakbahagiaan, aku tak paham dengan perasaan itu, karena aku belum pernah merasakan sakit hati karena cinta pada seseorang.
Dan di sisi lain tim drisia berada di nomor 99, 1 langkah lagi mereka akan sampai pada nomor 100.
Setelah sesi melempar dadu kami habis, sekarang tim drisia yang melempar dadunya.
"Sudahlah Sarah, setelah game ini berakhir kita akan minta maaf pada Lucy, aku percaya Lucy tidak berniat merebut Felix dari kita, ia gadis yang tidak mudah jatuh cinta, walaupun luarnya terlihat agak jutek tetapi ia masih memiliki nurani hati yang baik," jelas Niki sambil memegang pundak Sarah.
"Apakah dia akan memaafkan kita?" tanya Sarah.
"1 langkah lagi kita akan mengetahui jawabannya," ucap Niki sambil menunjukkan dadu di tangannya, kemudian Sarah memegang dadu di sisi lainnya juga dengan tersenyum.
Mereka bersama-sama melempar dadu tersebut. Dadu nya berguling guling menjauh dari mereka, akhirnya tim drisia mendapatkan angka keberuntungan mereka.
"1!!"
"Yeeeaaay Selamat tim drisia telah mencapai angka 100!!!" sorak robot tersebut.
"Akhirnya!!!"
Kedua sejoli itu berpelukan layaknya teletabis dan bersorak-sorai penuh kemenangan.
Dan akhirnya pembagian hadiah yang ditunggu tunggu telah tiba. "Jadi...pemenang Game Virtual Reality adalah..... TIM ALIEN!!!!" seru
robot itu membagikan hadiah sertifikat lomba pada tim alien
"!?"
Tim drisia terkejut mendengar hal itu, mereka tak percaya apa maksud semua ini, mustahil tim alien menang karena mereka dikurangi 20 langkah.
"Terima kasih!" ucap tim alien setelah menerima sertifikat dan kartu penambahan nilai.
"Ayo di foto dulu!"
Miss Lisa mengambil foto dalam game virtual reality ini. Tim drisia yang kebingungan tak terima dengan keadaan yang membuat mereka kalah.
"Maksudnya apa ini!? Bukankah kami yang menang karena mencetak angka 100!" Tanya Niki tak terima.
"Mereka sudah mencetaknya duluan loh." ucap Miss Lisa sambil tersenyum manis.
"Kapan?"
Felix menjelaskan rencanaku dari awal sampai kami bisa mencetak angka 100 lebih dulu daripada tim drisia.
"Jadi begini, saat kami diturunkan di nomor 70, saat sesi melempar dadu kami masih ada, lucy mengatakan untuk menggunakan mantra terlarangnya, kami harus membayangkan kami berada di nomor 100 sebelum waktu sesi dadunya habis, tentu saja mantra terlarang itu berhasil membuat kami berada di nomor 100 sebelum kalian melempar dadunya, bagitu," jelas Felix sambil tersenyum kemenangan.
"Bukankah itu curang!?" tanya Sarah kesal.
"Di peraturan permainan 'tidak boleh ada yang curang', tidak ada-kan di daftar peraturannya? Jadi kita harus pintar pintar mencari trik untuk menang!" seru diriku.
"Yaahhh~ kita benar benar kalah... Hiks," sedih Niki.
Aku datang menepuk punggung Niki untuk menenangkannya,
"Tenang saja, nanti traktir aku ice cream lagi," ucapku menunjukkan jempol.
"ENAK SAJA KAU!"
Bukannya menghibur malah emosian. Sarah dan Felix tertawa melihat kami begitu, akhirnya game ini berakhir dengan damai, tidak terlalu damai bagiku ketika mereka berdua meminta maaf.
"TOLONG MAAFKAN KAMI!!" ucap tim drisia.
"Aku akan memaafkan kalian," balasku lembut "Serius! Terima kasih!"
"Dengan syarat!" tegasku kembali dengan wajah seram. Seketika mereka berdua mematung dan menelan ludah sendiri.
"Kalian jangan bertengkar lagi hanya gara-gara ketua! Jika kalian ingin mendapatkan ketua, siapa yang menyatakan cintanya lebih cepat ialah pujaan hatinya ketua!" ujarku semangat.
"BAIK!" dan kompaknya mereka mematuhiku.
Felix dengan polosnya hanya bengong mendengar syarat itu, aku yakin dia tak akan paham dengan cinta ini.
Begitulah liburan di hari sabtu ini, pertemuan dengan ketua dan teman sekelasnya Sarah, walaupun konflik remeh ini sempat dibesar-besarkan tetapi akhirnya kami kembali akrab.
....
__ADS_1
Apa itu hidup bagimu?