MENTARI TANPA EMOSI

MENTARI TANPA EMOSI
Redup


__ADS_3

Angin sejuk memasuki jendela dan menerbangkan tirai perlahan. Aku bisa duduk sekian lamanya.


Mataku selalu melihat isi luar jendela, aku merasa berada di lantai 4, melihat beberapa bangunan tinggi nan jauh di sana.


Melamun dan terjebak dalam surga imajinasi, aku sedang berbicara pada lawan jenis dengan singkat dan padat. Ternyata dia lebih cerewet dari dugaanku.


Langit biru menyertai lukisan jendela. Menggambarkan awan kapas yang kuimpikan.


"Apa kau mau kesana?" aku menunjuk langit biru, bermaksud bertanya


'maukah kau terbang bersamaku?'


"Tidak, aku belum siap," jawabnya yang masih menyertai senyuman tanpa henti, apakah wajahnya tidak pegal karena tersenyum terus.


Mata dengan dua warna membuatku masih terkagum akan keindahannya. Putih adalah warna yang kusuka. Kata kata hangat yang selalu ia keluarkan, membuatku tertarik akan kehadirannya.


"Kenapa kau sering melamun?"


Ia bertanya hal yang tidak berguna, menggunakan basa basi untuk mengisi waktu luang. Mengenalku lebih dalam hanya membuatnya akan khawatir tentang kehidupanku.


"Aku terjebak dalam angan angan yang membuatku terlena dengan dunia ini," jawabku.


"Apa yang sedang kau lihat dalam angan angan itu?"


"Kematian."


Aku membayangkan bagaimana aku meninggalkan dunia ini, bunga apa yang diletakkan di pemakamanku, berapa banyak orang yang mengunjungi ku untuk berdoa dan menangis akan kehilanganku. Aku ingin mengetahui itu semua dari atas sana. Aku ingin tau seperti apa wujud malaikat maut itu.


Tangan pucat itu memegang dahiku, wajahnya dekat beberapa centi dari wajahku. Mata nya berkilauan lebih pekat dari mata berlianku. Nafasnya hangat, aku bisa merasakannya.


Pemuda itu yang tadinya duduk, berdiri dekat ranjangku, lalu bertanya. "Apa kau demam?"


Tanpa sadar aku menahan nafasku dan menjauh sedikit. Lalu ia ketakutan.


"A-aah maaf aku tidak bermaksud untuk menakutimu. Aku hanya khawatir


karena kamu berhalusinasi begitu. Penampilanku memang menyeramkan yak," ucapnya menjaga jarak dariku.


"Maaf yak," suara lelaki itu terdengar kecewa. Bukan itu maksudku yang membuat aku menjauh darimu.


"Tidak, Itu cantik kok. Aku menyukainya."


"Hah?"


Aku memandang matanya lagi dan lagi. Pikatannya sangat kuat. Karena aku suka dengan kedua warna itu.

__ADS_1


"Jika diperhatikan dengan dekat, ternyata matamu seperti permata yang langka yak," ucapku.


"Serius?"


"Iya, karena itu aku suka matamu yang indah itu."


"E-eh?" Gabriel menutup mulutnya. Seperti terkejut selepas aku mengatakan itu.


Kenapa? Wajahnya yang pucat, memerah.


"Apa aku perluh memanggil perawat?" ujarku yang bersiap menekan tombol panggilan.


"TIDAK, TIDAK PERLUH!!" cegatnya.


Wajahnya memanas, nafasnya terpenggal dan tangannya meremas baju di dadanya.


"Kenapa?" tanyaku.


"Haha... Bukan apa apa kok, ini tidak sakit dan bukan penyakit, tapi ini perasaan yang sudah lama tidak kurasakan. Rasanya berdebar-debar loh," seru Gabriel.


"Be-begitu yak. Jika kau butuh oksigen. Beritahu aku yak."


"Iya, terima kasih."


Kamu membuatku khawatir loh, apa aku yang menyebabkan kamu berdebar-debar begini?


Tiba-tiba suara ketukan dari pintu kamar terdengar. Pintu itu terbuka dan perawat masuk dengan membawa baket bunga dan benda berbentuk cinta berwarna pink di tangannya.


"Ini kiriman dari Tuan Alder untuk Nona Lucy," ucap perawat itu dengan memberikan hadiah yang cantik itu kepadaku.


"Terima kasih." Jawabku menerimanya dan perawat cantik tadi pamit keluar ruangan.


Kemudian aku melihat ada secarik surat yang terselip diantara bunga-bunga. Aku mengambilnya dan membacanya dalam hati.


'Halo Lucy ~Sayang~


Lucy kamu baik-baik saja, kan? Aku ingin menengokmu tadi pagi.


Tapi aku ingat kalau aku harus sekolah.


Aku sangat mengkhawatirkanmu. Sungguh, aku hampir setiap hari memikirkanmu sepanjang waktu.


Penjahat itu sudah mendapatkan ganjarannya. Jadi aku harap kau cepat sembuh dan jangan terlalu dekat dekat dengan cowok ubanan yang sekamar denganmu. Oke!


Bye~ salam hangat dari Alder Winston.'

__ADS_1


"Apakah itu pacarmu?"


Aku kaget karena gabriel ikut membacanya dari belakangku. "BUKAN! Dia itu penjahat tau!!" jawabku cepat.


"Jangan malu malu begitu~ aku paham kok maksudmu," serunya dengan senyuman yang mengambang lagi, sambil menggodaku dengan gerakan aneh.


"Tapi--"


"Jangan berbohong, dia memanggilmu sayang tuh. Ciee~" dia tetap menggodaku dan tidak percaya denganku.


Langit mulai mendung dan ruangan mulai redup, rintik hujan mulai turun. Aku tidak berbohong tentang orang ini. Aku menunduk suram menatap kertasnya, kemudian aku meremas kertas itu menjadi bola dengan kesal dan melemparnya ke ujung ruangan.


"Aku serius. Orang ini sangat menyebalkan. Dibanding dengannya lebih baik aku tetap disini bersamamu!!" ucapku membatahnya, dengan meremas celanaku.


Gabriel berhenti tersenyum, dia sudah tidak menganggapku main-main lagi.


Ia duduk di sampingku.


"Apa maksud dari kalimat 'jangan terlalu dekat dekat dengan cowok ubanan yang sekamar denganmu.' apakah itu adalah aku?" tanya Gabriel.


"Iya... Siapa lagi memangnya selain kamu di sini!?" ucapku dengan nada sendu.


Aku benci orang ini. Sangat membencinya. Ia yang menyebabkan diriku sakit dan melihat mimpi buruk itu, Niki yang dipenjara diruang bawah tanah, dan pelayan yang ditipu lalu menderita disana. Orang itu pantas kutolak mentah mentah. Aku tidak mau melihatnya lagi atau hadiah yang dia berikan kepadaku, akan kubuang semuanya ke tempat sampah hingga hancur.


"Kalau itu adalah aku. Itu bagus, aku hanya perluh membuatnya cemburu agar dia tidak mendekatimu lagi," ucapnya lembut sembari memeluk tubuhku dan mengajak kepalaku untuk bersandar dipundaknya.


Hangat, kenapa ini terasa hangat. Perasaan ini... Sama ketika Niki memelukku saat itu.


Aku ingin perasaan ini terus berlanjut. Aku tidak ingin melepaskan kehangatan ini. Aku ingin lebih diperhatikan oleh kalian.


Lelah rasanya sendirian dan terjebak dalam kebosanan serta kesepian. Aku.... Hiks... Kenapa...? Kenapa hatiku menangis? Suara hati ini ingin kuutarakan kepadamu. Aku ingin memberitahu rasa sakit ini pada semua orang. Bahwa sekarang aku menderita.


"Jangan menangis lagi..." Gabriel menyekat air mataku dan tersenyum tenang padaku.


Eh? Aku beneran mengeluarkan air mata? Aku sadar aku menangis dihadapannya. Biasanya aku hanya menangis pada bantal tiap malam.


"Maaf.... Ini Pertama kalinya aku menangis dihadapan seseorang," isakku dengan menyekat air mataku sendiri.


"Tenang saja, aku akan melindungimu... Lucy."


Ia memeluk diriku kembali. Lagi-lagi aku tenggelam dalam kehangatan.


Hujan makin deras tetapi itu tidak menghentikanku merasakan perasaan ini.


Aku menyukainya.

__ADS_1


....


"Lebih baik minta maaf duluan walaupun dirimu tidak salah sama sekali."


__ADS_2