MENTARI TANPA EMOSI

MENTARI TANPA EMOSI
Ide


__ADS_3

Istirahat selesai, kami di kumpulkan kembali di dalam panggung. Saat kami melanjutkan drama tudung merah, Si Tony merasa frustasi kesekian kalinya.


Bagian Noel menyelamatku cukup membuat Noel merasa malu. Pasalnya saat ia berlari untuk menyelamatkanku, ia terpleset dan membuat semuanya panik dan bahkan kini ada yang menahan tawanya (Alder).


Niki datang mengulurkan tangan dengan wajah khawatir, “Noel apa kamu baik-baik saja?”


“Aku baik-baik saja.” ucap Noel menerima uluran Niki.


“Noel kalau sudah membaik, mari kita lanjutkan,” ucap Tony sambil membenarkan kacamatanya.


“Baik.”


Drama pun dimainkan kembali, Noel mencodongkan senapan pada Serigala yang sedang tergila-gila pada Si Tudung Merah.


“Angkat tanganmu wahai Serigala jahat,” tegas Sang Pemburu yang agak gemeteran karena habis terjatuh tadi.


Alder menengok Noel dengan suram, wajahnya menjadi seram seolah sedang mengacam balik Sang Pemburu.


“Diam kau manusia busuk, aku tak akan menyerahkan gadis cantik seperti dia menjadi istrimu.”


“Eh? Bukankah itu tidak ada di naskahnya.” ujar Noel kebingungan sambil mengangkat salah satu alisnya.


‘PLAK’

__ADS_1


Kesekian kalinya juga Alder mendapatkan beberapa pukulan dari sang narator yang sudah tidak memiliki belas kasihan.


“BODOH! Sudah kukatakan berapa kali jangan menggunakan alur sendiri.” Drama masih terus diteruskan walau banyak kesalahan dasar. Akhir di mana Serigala tertangkap dan Si Tudung Merah menyelamatkan Neneknya.


Telah dimulai...


Suasanannya bukannya menyenangkan tetapi terasa menegangkan.


“Apa Nenek baik-baik saja?” tanyaku cepat.


“Kenapa kau masih hidup?”


Tanpa sadar semua orang di panggung melongo mendengar pertanyaan kejam dari Sang Nenek.


“Siapa yang peduli, aku tidak suka cucu yang durhaka sepertimu!” ujar Karin yang masih dalam perannya.


“UWAAAAA!!” Tiba-tiba saja Narator menerbangkan lembaran lembaran yang banyak sambil berteriak kesal. Selepas itu semua terdiam terkejut menatap narator yang sudah mengamuk.


“KENAPA TAK ADA NORMAL DENGAN PERANNYA!” teriaknya.


‘Aduh... Naratornya ngamuk nih.’


Noel sesegera mungkin menenangkan kemarahan Sang Narator. Karin masih menatapku sinis. Apakah hanya karena aku adalah mantan keributan? Jadi dia tidak menyukaiku.

__ADS_1


“GILA KALIAN SEMUA YAK!! PADAHAL INI HANYA DONGENG YANG MUDAH DIPERANKAN!” protes Sang Narator sambil marah besar.


Seluruh panggung yang awalnya ricuh menjadi sunyi setelah dimarahi berkali-kali oleh Sang Narator. Jujur saja dalam cerita ini kami tak bisa bersifat sebaik yang ada di dalam dongeng.


“Menurutku dongeng ini yang menjadi masalahnya.”


Tiba-tiba di antara kesunyian, Alder membuka mulutnya dengan mata yang merenung pada naskah cerita sambil berjongkok.


“Sebelum kau memarahi kami, kau juga harusnya memikirkan perasaan kami dalam peran ini. Pada kenyataannya kami yang nyata tidak sesuai dengan peran yang ada di dongeng. Kepribadian kami sangat jauh berbeda dengan tokoh-tokoh tersebut. Kami juga tidak cukup pandai dalam berakting, kau tau kan drama ini tak akan lama lagi segera diadakan. Guru-guru juga mengira kita bisa melakukannya dalam jangka waktu seminggu. Pada kenyataan kita membutuhkan waktu yang lama lagi dengan kemampuan payah ini. Kau juga tidak dapat berbohong lagi, sebenarnya kau ingin berkarya juga, kan? Jadi sekarang kau sudah tau apa yang harus kau lakukan pada kertas-kertas ini. ”


Perkataan Alder membuat Tony membuka matanya lebar-lebar. Kami semua juga terkejut ketika Alder mengucapkan tentang kenyataan. Perkataannya mewakili perasaan kami juga. Untuk kali ini aku setuju pada Alder.


“Hahahaha ”


Tiba-tiba Sang Narator tertawa kecil seperti kerasukan sesuatu yang membuat kami bergidik ngeri. Lalu ia bangkit seperti monster. Ia benar-benar seperti orang yang sedang kehausan dengan idenya yang sudah penuh daritadi di benaknya.


“Aku hanya perluh menuangkannya, kan?” ucap Narator dengan senyuman mengerikan.


Alder tersenyum seru, kami semua juga mengharapkan hal yang sama pada Sang Narator sekaligus Sang Author.


‘Lakukanlah!’


.....

__ADS_1


“Lebih baik kau tidak tau menahu soal kata menyerah.”


__ADS_2