
“KYAA akhirnya ujian selesai juga,” ucap Niki dengan meregangkan kedua tangannya.
Ini adalah hari terakhir kami ujian, ya memang benar ujian sudah berakhir dan hanya menunggu hasilnya. Dan sekarang aku penasaran apa perluh kucari tau tentang surat itu.
“Niki...” panggilku
“Ya?”
“Apa kau sudah menyiapkan packing nanti besok?” tanyaku.
“Ooh...sudah kok, kamu belum?” Niki bertanya balik.
“Yaa saat aku pulang, aku akan mempackingnya.”
“Kalau begitu, aku akan membantumu sekalian main, boleh?” seru Niki dengan wajah yang penuh harapan.
Sejenak aku berpikir, mungkin tidak masalah mengajaknya ke rumahku, hampir tiap hari dia datang ke rumah seperti rumah keduanya. Lagian ini yang aku inginkan selama ini.
“Tentu,” jawabku disertai anggukan.
“Baik, ayo kita ke rumah Lucy~” seru Niki dengan semangat. Aku hanya tersenyum dan ikut berjalan ke rumah.
***
Sesampainya kami didepan rumahku, si niki sudah melangkah paling depan seolah dia adalah tuan rumahnya. Aku segera mengambil kunci rumah di sakuku.
Aku terbelalak, ketika aku melihat sekitarku, sosok peter itu hadir kembali didekat halte bus, disertai kehadiran kertas lainnya didalam kantungku.
‘Aku akan membimbingmu mencari kebenaran-peter’
Sekali lagi aku menatap sosok hitam tersebut, ia hanya menyapa dengan mengangkat tangannya yang bahkan tidak terlihat kulitnya. Hitam dia terlalu hitam.
‘Tidak jelas.’
‘Terlalu gelap, aku tidak dapat melihatnya.’
‘Apa aku perluh menghampirinya?’
“Lucy~ Lucy~”
Keheninganku pecah karena niki tiba tiba memanggil. Aku cepat cepat membuka pintunya dengan kunciku.
“Ada apa Lucy? Kau nampak aneh,” tanya Niki yang agak khawatir.
__ADS_1
Aku terlalu sibuk mencari-cari sosok hitam itu, sayangnya dia sudah menghilang dengan cepat.
“Tidak apa-apa, ayo kita masuk,” seruku dengan senyum. Berharap kalau niki tidak menyadari apa yang kulihat tadi. Bulu kudukku masih terangkat, aku merasa ada yang mengawasiku dari jauh.
Di rumahku kami sibuk menyiapkan berbagai hal sembari bercanda dan tertawa riang, bahkan kami makan siang bersama. Sampai kami berdua lupa waktu kalau langit sudah menghitam.
“Maaf Lucy, sepertinya aku harus pulang,” ucap Niki yang siap-siap untuk pulang.
“Oh oke aku akan mengantarmu sampai depan rumah.”
“Haha terima kasih, jujur saja aku belum terbiasa dengan dirimu yang sekarang, tetapi aku senang kalau kau berubah menjadi lebih baik,” ucap Niki yang bangga kepadaku.
“Terima kasih juga, karena kau sudah hadir di sisiku.”
Niki tiba-tiba tertawa, “haha ini bukan apa-apa Lucy, kau yang membuatku berada di sisimu. Aku senang bisa bertemu denganmu dan menjadi temanmu-- tunggu sebentar, kita ini bukan teman,” ucap Niki yang membuat keadaan ini menjadi hening.
“Apa?”
‘Kenapa tiba-tiba jadi begini?’ perasaanku menjadi tegang seketika, apa ada yang salah?
Lalu Niki tersenyum dan mengatakan, “Kita adalah sahabat.”
Di saat itu juga aku merasa lega, aku hampir tidak bernafas beberapa saat.
“Kau baik baik saja Lucy? Maaf tadi aku membuatmu takut yak. Aku minta maaf, aku tidak bermaksud begitu.”
Jemputan Niki sudah datang, aku tidak tau kapan ia menelepon jemputannya, tetapi aku tidak perluh khawatir lagi kalau dia dijemput oleh sopir pribadinya. Aku hanya cemas kalau dia jalan sendirian akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, terlebih lagi ini sudah malam, pasti banyak orang jahat yang sedang berkeliaran saatini.
“Tidak apa-apa, hati-hati dijalan,” ucapku.
“Oke sampai jumpa Lucy,” seru Niki sambil melambaikan tangannya dengan tinggi.
“Sampai juga,” balasku dengan melambaikan tangan hanya sekadarnya.
Kami berpisah, padahal aku ingin dia lebih lama lagi disini. Biasanya dulu dia sering menginap di rumahku, entah itu karena ia punya masalah dengan keluarganya atau hanya sekedar menemaniku. Sudahlah, dia hanya berniat membantuku untuk mempacking barang. Karena besok adalah pariwisata untuk perpisahan kelas 12.
‘Aku tidak sabar seperti apa nanti.’
Saat mobil itu pergi membawa niki, disitulah tatapan kami bertemu. Sosok itu muncul kembali di hadapanku, aku sontak menjadi kaget dan takut. Jujur saja melihat hantu atau monster di dunia nyata bukanlah impianku saat ini.
Sosok itu hanya diterangi lampu jalanan. Dan kini dia ada di seberang jalan.
Kakinya melangkah ke jalan raya berniat untuk menyebrang.
__ADS_1
Aku tidak tau kenapa, semakin ia maju semakin aku melangkah mundur. Saat ia ditengah jalan, lampu hijau menyala. Mobil kuning ngebut dari sebelah kanan hingga ia menabrak sosok hitam yang tinggi tersebut.
Aku terkejut setengah mati dan berlari melihat sosok itu masih hidup atau tidak, mobil kuning yang melaju cepat itu juga berhenti karena merasa ia telah menabrak sesuatu.
Pengemudi itu mencari-cari korban yang ia tabrak itu.
“Tidak ada apa apa. Aneh, perasaan aku menabrak sesuatu tadi,” Pengemudi itu kembali masuk ke mobilnya dan melanjutkan perjalanannya.
Aku yang menyaksikan itu hanya terpaku dan terdiam di tempat. ‘Bagaimana bisa ia tidak ada? Aku jelas-jelas melihat dia tertabrak tadi.’
“HallOooo..”
“Aah.” aku hampir berteriak histeris tadi, untungnya tidak ada yang men- dengarnya, karena tiba-tiba saja ia muncul tepat di belakangku.
Aku merinding karena sosok itu ada di hadapanku sekarang, bahkan jarak kami terlalu dekat sehingga aku tidak berani menatap wajahnya.
“A-ada pe-perluh apa?” tanyaku gugup.
Tangan sosok hitam itu tiba-tiba merogoh kantung jaketku, aku hanya bisa terdiam ddi tempatkarena masih tidak berani dengan sosok tersebut, lalu ia mengeluarkan kertas yang lainnya dan membukanya seperti menyuruhku untuk membacanya.
‘Apa besok kau akan pergi ke kota sebelah?’
“I-iya.”
Tiba-tiba tulisan dikertas berubah, tinta-tinta hitam itu menari-nari membentuk kata dan kalimat lainnya. Seketika aku agak takjub keajaiban yang ia miliki.
‘Kalau begitu, kau akan mendapatkan petunjuk disana soal kebenaran.’
“Ngomong-ngomong soal kebenaran, kebenaran apa yang kau maksud itu?” tanyaku yang berusaha berani untuk bertanya.
‘Lihat saja nanti, kau akan segera mengetahuinya.’
‘BRUSH’
Sosok itu menghilang seperti meledakkan dirinya dan meninggalkan debu- debu hitam yang berterbangan. Aku terbatuk-batuk karena debu-debu itu.
“Uhuk-uhuk, yaah dia sudah menghilang...”
Aku sebal karena ia menggantungkan pertanyaanku barusan.
‘Ya sudahlah, bagaimana lagi, aku bisa melihatnya nanti besok.’ gerututku sambil melangkah masuk kerumah.
Malam itu aku tidak menyangka bisa berbicara dengannya walau ia lebih banyak berbicara lewat kertas. Sepertinya sosok yang bernama peter itu jarang berbicara dan orangnya sangat misterius. Aku berharap ia memenuhi janjinya dan memperlihatkanku kebenaran yang ia maksud itu.
__ADS_1
....
“Apa yang kau bayangkan belum tentu menjadi kenyatan, apa yang kau lihat belum tentu menjadi milikmu dan apa yang kau rasakan belum tentu dirasakan oleh orang lain, sebagai manusia kita tau bahwa kita tidak boleh sombong dan terjatuh dalam mimpi yang terlalu dalam, sebagai manusia kita hanya bisa berdoa dan berusaha untuk menggapai sesuatu yang belum kita miliki saat ini.”