
Aku akan menceritakan sedikit tentang kisah Felix dengan Ibunya. Aku harap cerita ini membuat kalian memahami tentang perasaan Felix saat ingin menyelamatkan seseorang yang ia sayangi.
***
Suatu hari di rumah mewah bertingkat dua. ini berawal dari ketika Felix masih kecil, ibunya selalu mengurung diri didalam kamarnya dan hampir tidak pernah keluar dari ruangan yang redup dan kecil seperti ruang bawah tanah. Walaupun begitu ruangan tersebut berada di lantai 2.
Ibunya selalu memandang luar jendela dengan pandangan kosong. Seolah hatinya tidak merasakan apapun, tak ada satu-pun emosi yang wanita cantik itu keluarkan.
Tetapi anaknya yang tampan itu selalu masuk ke dalam kamar Ibunya saat para pelayan dan ayahnya tidak memperhatikannya. Felix selalu mengajak Ibunya bicara dan bermain, tetapi Ibunya tidak merespon apapun. Felix kecil nampak tidak menghiraukannya dan terus menghibur Ibunya agar bisa tersenyum bersamanya.
“Ibu... Aku tidak tau kenapa ayah jarang mengunjungi Ibu. Tetapi besok aku akan datang lagi.”
Waktu terus berjalan dan perlahan- lahan mengikuti pertumbuhan Felix yang sudah berumur 13 tahun itu. Setiap pulang sekolah ia selalu mencurahkan isi hatinya terhadap teman-temannya di sekolah dan sampai saat ini Ibunya tidak merespon apapun dari curhatan Sang Anak, tetapi Felix tetap tidak menyerah membuat Ibunya bisa berbicara padanya, sehingga Felix memutuskan untuk mewujudkan keinginan-nya.
“Ibu... aku punya sebuah mimpi yang harus kuwujudkan,” ucap Felix dengan semangat.
Ibunya hanya menatapnya polos dan tidak merespon apapun.
“Keinginanku adalah aku ingin membuat Ibu menjadi orang yang paling bahagia di dunia ini!” seru Felix dengan mata yang berbinar dan tangan yang terangkat di udara.
Ibunya nampak masih tidak merespon apapun, tetapi Felix terus mengatakan impiannya dan mimpinya kepada Sang Ibu.
“Jika Ibu ingin bercerita, ceritalah padaku, aku akan selalu ada untuk Ibu.” senang Felix dengan senyuman lebar di wajahnya.
Ibunya lagi-lagi tidak merespon sedikit-pun dan hanya menunduk menatap tangannya yang saling menggengam gemetar. Semenjak Felix mengatakan mimpinya, ia selalu membawakan Ibunya kue dan hadiah lainnya agar Ibunya bisa tersenyum untuknya dan ketika Felix akan kembali ke kamarnya, ia selalu mengatakan perasaannya sebelum ia pergi ke kamarnya.
“Oh iya Ibu.”
Ibunya menoleh Felix yang berada di ambang pintu.
“Aku sangat menyanyangi Ibu,” ucap Felix dengan senyum yang tidak memudar sedikitpun dihadapan Ibunya. Kemudian Felix berlari ke kamarnya dengan riang.
***
Hingga pada suatu ketika Felix berumur 15 tahun, pintu itu sudah digembok dan dirantai, hal itu membuat Felix menjadi sangat khawatir pada ibunya.
Felix terus memanggil Ibunya dibalik pintu akan tetapi Ibunya tidak menjawab panggilannya. Pelayan yang melihat Felix tersebut segera menghentikan tindakannya.
“Hentikan Tuan. Beliau tidak akan menjawab panggilan Tuan,” ucap Sang Pelayan rumah.
“Jelaskan kenapa kalian melakukan ini?” kesal Felix.
“Ini adalah perintah Tuan Besar. Saya hanya melakukan perintahnya saja,” jawab Sang Pelayan yang agak takut pada Felix.
“Berikan kuncinya,” pinta Felix yang sudah mengapung tangan kanannya. “Maaf Tuan Muda kuncinya tidak ada ditangan saya.”
“Ayah... Pasti ayah sedang merencakan sesuatu terhadap ibu,” jengkel Felix. Pasalnya ayahnya terlihat mencurigakan, ayahnya selalu menatap tajam pada istrinya dan tidak pernah menginjak kamar istrinya sekalipun.
Akhirnya Felix pergi ke rumah kakeknya yang berada tidak jauh dari rumahnya. Felix yakin ayahnya berada di rumah Sang Kakek untuk membicarakan sesuatu terhadap Ibunya yang terkurung di kamarnya.
Saat Felix sampai ia melihat satu wanita berambut putih, Kakek Felix, dan dua pria yang salah satunya adalah Ayahnya Felix. Keempat orang itu nampak mendiskusikan sesuatu.
“Apa kau sudah mengurungnya?” tanya Kakek pada Ayahnya Felix.
“Sudah, sesuai yang direncanakan.” jawabnya sambil memamerkan kunci emas yang menggantung ditangannya.
“Apa kalian berdua sudah siap?” tanya Kakek pada dua orang yang terlihat asing bagi Felix.
“Siap!”
Lalu Kakek itu mengeluarkan belati dari balik punggungnya dan memberikannya pada Ayah Felix.
“Aku serahkan padamu untuk membunuh makhluk yang berada di dalam ruangan itu.”
Seketika mata Felix terbelalak mendengarnya, ia meremas tanganya dengan erat dan menggeretakkan giginya dengan kesal.
“Baik akan kulaksanakan,” sigap Sang Ayahnya Felix.
“Ayo berangkat,” ucap sang wanita berambut putih panjang.
Saat mereka melangkah ke pintu depan, tiba-tiba saja rencana mereka dihalangi oleh Felix dengan wajah yang begitu menyeramkan.
“Apa yang Ayah lakukan pada Ibu?” tanya Felix dengan nada mengancam.
“Felix, ini semua demi ibumu, jadi diamlah dan duduk manis saja di rumahmu.”
“TIDAK! AKU TIDAK AKAN MEMBIARKAN AYAH MELUKAI IBU!”
Lalu wanita putih berusaha untuk menenangkan Felix perlahan,
“Kamu kemungkinan salah paham, kami tidak akan melukai ibumu.”
“Tapi Kakek bilang untuk membunuh makhluk yang berada di dalam ruangan itu!” balas Felix.
__ADS_1
“Itu tidak seperti yang kau duga.”
“KALIAN PASTI BOHONG!”
“FELIX!” semua orang terkejut dengan panggilan keras itu. bentakkan Ayahnya membuat Felix seperti tertancap paku.
“Diamlah disini,” sambungnya.
Dengan santainya ketiga orang itu melewati Felix yang hampir tak bisa berpindah tempat, ia seperti di rantai dan tak bisa kemana-mana.
“Tunggu! aku tidak akan membiarkan kalian menyetuh ibuku!!”
***
Ketika mereka sudah sampai didepan gerbang. Para ketiga orang itu segera memasuki rumah Felix dan membuka gembok ruangan tersebut berserta rantai- rantainya.
Terlihat wanita berwajah pucat terus memandang isi luar jendela.
“Tamat riwayatmu sudah, kami akan segera meleyapkanmu dari muka bumi,” ucap Ayahnya Felix yang bersiap mengeluarkan belatinya.
Di sisi lain Sang Kakek meninggalkan Felix sendirian. Sebelumnya ia mengatakan “Aku akan mencarinya di hutan.”
Setelah itu Felix baru berhasil menggerakkan kakinya dan ia-pun segera pergi ke rumahnya untuk menyelamatkanibunya.
Dengan langkah yang cepat Felix langsung masuk ke rumahnya dan menaiki lantai 2 dan di situlah Felix begitu tercengang melihat ibunya yang sedang kesakitan ingin di tusuk oleh ayahnya.
“HENTIKAN!”
Lengan ayahnya langsung ditahan oleh Felix, membuat ayahnya terkejut setengah mati ketika anaknya lolos dari rantai yang dibuat oleh Si Pria berambut hitam.
Seketika lingkaran cahayanya menghilang. Felix pun menghampiri ibunya yang terduduk dilantai
“Ibu tidak apa-apa?”
Lalu sang ibu perlahan memegang wajah Felix lalu mengeluarkan senyuman diwajahnya seolah rasa sakit itu hanya lewat saja.
“Aku baik-baik saja Felix.”
Hal itu membuat Felix begitu terharu melihat pertama kalinya ibunya tersenyum dan meresponnya.
“Ibu... Ibu tersenyum... Akhirnya ibu tersenyum.” sanjung Felix sambil mengeluarkan air mata bahagianya.
“FELIX!” sontak Ayahnya menarik Felix menjauh dari Sang Ibu. Tetapi hal tersebut langsung ditepis oleh Felix.
“Sadarlah Felix dia itu bukan ibumu!”
“Apa maksud Ayah, jelas-jelas wanita disana adalah ibuku ayah, rambut pirang dengan mata emas yang berkilauan! Padahal seindah itu, tidakkah ayah melihatnya?”
Ayah Felix begitu sangat sedih mendengarnya akan tetapi demi menyadarkan Felix untuk kali ini ayahnya mengatakan kebenaran yang selalu ia sembunyikan.
“Keindahan yang kau lihat adalah palsu nak.”
“Apa maksud ayah!?”
“Lihatlah baik-baik wajahnya dan ingatlah ibumu yang tidak pernah meresponmu dulu. Saat itu juga kau akan paham Felix.”
“Kenapa aku harus mengingat Ibu yang dulu?”
“Bukankah ia yang dulu lebih memiliki banyak kenangan indah bersamamu?”
“Hah!”
Dan kata-kata ayahnya itu benar. Ibunya yang dulu tak pernah merespon, lebih ia kenal daripada yang sekarang.
Dan beberapa detik kemudian, wajah cantik ibunya-pun memudar.
“Kenapa? Kenapa! Siapa orang yang ada di hadapanku ini sekarang!?” tanya Felix yang hampir ingin muntah melihat sosok yang mengerikan tersebut.
“Akhirnya kau sadar... cepat pergi cari ibumu di suatu tempat yang jarang di kunjungi orang-orang!” perintah Sang Ayah pada Felix. Felix-pun segera berlari mencari ibunya di luar.
“Sekarang giliran kami yang akan melawanmu!”
“Haaa! Coba saja hahahahaha!”
Tiba-tiba bayangan mengerikan itu menerobos jendela luar dan melarikan diri. Ketiga orang itu bergegas mengejar si bayangan tersebut.
“JANGAN LARI KAU!”
***
Saat Felix keluar dari rumahnya, ia teringat akan ucapan kakeknya saat beliau meninggalkannya sendiri.
“Aku akan mencarinya di hutan.” ucap Felix.
__ADS_1
Lari dan terus lari tanpa henti dan tanpa lelah, demi ibunya ia akan melakukan segalanya yang bisa ia lakukan.
Demi mewujudkan impiannya dia harus menyelamatkan ibunya terlebih dahulu.
“Ibu!”
“Ibu...ibu!”
“Ibu dimana!! Felix ada disini!”
“Ibu kumohon jawablah panggilanku, biarkan aku mewujudkan impianku ibu...”
“Ibu kumohon...”
Sunyi dan tenang tak ada suara yang membuatnya berdeting. Harapannya hampir pudar, tetapi Felix masih belum menyerah, ia cari ibunya sampai perdalaman hutan, dalam dan lebih dalam lagi.
Walau Felix tidak dapat menemukan Ibunya selama apapun, ia akan tetap mencarinya sampai wujudnya ditemukan. Semakin dalam, kabut putih mulai terlihat membuat pandangan Felix tidak begitu jelas.
“Ibu!”
Felix berusaha mencoba untuk melihat sekitarnya. Namun semuanya nihil, kabut malah semakin tebal. Hal tersebut tidak membuat felix melepas penglihatannya pada sebuah bayangan yang ada di hadapannya walau agak jauh, meskipun begitu ia mengenal sosok bayangan tinggi itu dan mulai berlari menghampirinya.
“IBU!! Akhirnya aku menemukanmu!” wajah senang Felix nampak mulai terlihat, mimpinya yang kini hampir sirna akhirnya kembali bersinar. Kabut dihadapannya mulai menipis dan memperlihatkan jalannya pada sosok Ibu yang ia sayangi.
Wajah wanita itu menoleh saat melihat anaknya berlari menghampirinya, kaki telanjangnya mencoba untuk mendekati Felix yang begitu mencemaskannya.
“Ibu, aku sangat mencemas--” akan tetapi semuanya sudah terlambat. Claura dengan gesitnya menebas tubuh si ibu.
‘Crat!’
“Ups, sepertinya aku tidak sengaja membuat dia terbunuh. Sudahlah aku harus melarikan diri sekarang! Yeay,” Claura si sialan itu pergi tanpa merasa bersalah.
Luka dari wanita kurus itu secara bersamaan keluar dan memuncratkan isinya. Menodai tempat itu dengan warna merah yang segar dan melayukan bunga-bunga yang berada disekitarnya. Felix membeku ditempat, matanya terbelalak melihat Sang Ibu terbunuh di tempat, beberapa saat suasana berubah menjadi mencengkam dengan diikuti darah yang terus mengalir dari tubuhnya. saking takutnya dan saking sangat takutnya, Felix egan menghampiri Si Ibu, akan tetapi itu membuat luka paling terdalamnya terbuka. Ia harus menghampiri ibunya. Itu harus!
Perlahan Felix menggenggam tangan Ibu yang mulai memucat, tangannya sangat dingin, Felix memegang tangannya dengan erat untuk menghangatkannya sambil menahan sesegukan tangisannya.
Impian yang ia wujudkan akhirnya hancur berkeping-keping dan hampir tak tersisa sedikitpun untuk di benarkan.
“Ibu~aku akan mengantarmu ke rumah sakit yak... Tolong... Hiks... Tolong jangan tinggalkan aku... Sendiri... Tempat ini cukup gelap... Hiks mari kita pulang bersama-sama yaa...Ibu.”
Tangan rapuh Si Ibu perlahan memegang wajah anaknya yang menangis. Matanya benar-benar kehilangan cahayanya. Akan tetapi Felix terkejut melihat ibunya pertama kali tersenyum padanya, ibunya yang asli. Ibu yang selalu membisu padanya kini akhirnya tersenyum untuknya,
“Impianmu akhirnya terwujud...dan Ibu sangat menyayangimu...Felix.”
Dan bersuara lembut padanya. Suara yang tak akan Felix lupakan dikala itu. Felix terus memohon pada tuhan untuk tidak mengambil ibunya. Tetapi keinginannya tidak dapat dikabulkan...
“hilang.”
“Detaknya sudah menghilang, hiks... Hilang..I. bu sudah meninggal.. Hiks. Ibu jangan tinggalkan aku. Aku akan kesepian tanpa Ibu.. Hiks.. HAAA!!”
Tangisannya menjadi pecah, air matanya tak akan berhenti mengalir sampai dirinya mengikhlaskan kepergian sang ibu tercintanya.
***
Rintik hujan kini jatuh pada pemakaman yang sudah dihiasi bunga lily putih. Orang orang dengan wajah berduka berkumpul mendoakan kepergian Sang Ibu dari keluarga Ivander Wilson yang sudah menjadi korban dari bayangan Claura yang terkutuk.
“Ayah...andai saja aku tidak menghentikan Ayah saat itu. Mungkin Ibu masih selamat,” sesal Felix dengan perasaan yang sangat sedih.
“Tidak... Ini salah Ayah karena tidak memberitahumu lebih awal.”
Kini keduanya merasa saling menyesal tak dapat menyelamatkan Sang Ibu dari kegelapan Claura.
Kesesalan Felix membuat dirinya harus menembus kesalahannya dengan mengalahkan Claura dan menyelamatkan orang-orang dari kutukan kegelapan tersebut.
Jadi dia mulai mempertanyakan soal tentang kegelapan yang terkutuk itu, ayahnya sempat melarangnya karena Felix tak memiliki teman yang mempunyai kekuatan segel.
Hal tersebut tidak membuat Felix menyerah sekarang, ia terus berusaha menyakinkan ayahnya lagi dan lagi. Ayahnya tau Felix adalah anak yang keras kepala sewaktu-waktu. Jadi Ayahnya memperbolehkan Felix melakukan misi membasmi Claura tersebut ditambah kedua rekan Ayahnya mendukung tindakan Felix dengan memperkenalkan anak-anaknya untuk ikut membantu Felix dalam membasmi Claura.
2 tahun kemudian Felix bertanya pada Sang Kakek siapa yang akan menjadi target sasarannya Claura berikutnya. Lalu Sang Kakek mengeluarkan buku dibalik punggungnya dan memperlihatkan sebuah nama target Claura. Warna emas yang ditulis itu adalah...
‘LUCY AUREISTA’
Felix tak menyangka nama yang ia baca adalah orang yang berada di kelasnya sendiri, hingga ia memutuskan untuk mendekati gadis bernama Lucy tersebut.
Di situlah liburan musim panas saat kami menjadi dekat. rencananya-pun di jalankan. Aku dan Felix yang perlahan saling mengenal dan memahami satu sama lain dengan bermain timezone, duduk bersebelahan, dan saling bercerita walau kebanyakan aku yang diam.
Itulah kisah dan penyebab Felix dekat denganku.
Aku sangat bersyukur Felix masih duduk disebelahku walau misinya sudah selesai. Ia nampak tidak peduli akan keburukan dan jeleknya dari orang yang duduk di sampingnya, yang terpenting adalah orang yang berada disisinya adalah orang paling berharga untuk Felix sebagai ketua kelas dalam melindunginya.
.....
“Untuk Sang Ibu terima kasih sudah melahirkanku di dunia ini. Aku akan selalu mengenang semua perjuangan dan kasih sayangmu.” - Felix Ivander Wilson.
__ADS_1