
"Lucy sayang, akhirnya kau datang juga."
***
Sontak aku menoleh orang tersebut, ini agak mengejutkan karena mata sebelahnya ditanamkan mawar merah.
"Apa kau kaget melihat tampilanku?" tanyanya padaku.
"Ti-tidak kok," ucapku gelagapan.
"Apa kita bisa memulainya?" Ia tersenyum manis kepadaku, mata merah yang ia miliki bersinar terang menatapku.
Aku terdiam sejenak, akhirnya aku paham maksudnya. "Kamu mau pilih yang mana?"
Aku menunjukkan seutas tali dan minuman beracun di kedua tanganku padanya. Ia tersenyum ngeri melihat kedua benda itu.
"Bukankah aku harus menyatakan cintaku dulu padamu?" "Hmm, silahkan tidak pakai lama yak," ucapku tak peduli.
"Baiklah."
Ia berjongkok dan memegang kedua tanganku dengan lembut, entah kenapa itu terasa lebih besar dan kasar daripada kedua tanganku. Kemudian ia menatap wajahku dengan tenang walau ia terlihat serius.
"Lucy.... Aku sudah mengenalmu lama sekali. aku jatuh cinta pada pandangan pertama saat masuk ke sekolah Royalty. Saat upacara masuk sekolah, aku gagal masuk karena terlambat, kemudian aku dihukum di hari pertamaku masuk."
Dengan ekspresi datar aku tetap mendengar pernyataan cintanya yang panjang lebar itu.
"Di sana aku kesepian. Karena aku tidak punya kesempatan berteman dengan yang lain di kelas, tetapi disaat itu juga aku memandang rambut jinggamu yang terhembus oleh angin, matamu yang bagaikan permata bersinar di bawah pohon hijau yang menyejukkan mata, saat itu aku melihatmu sedang membuat tali simpul gantung untuk bunuh diri....!!" jelasnya sambil merinding walau ia bicara dengan nada rayuan.
"Oh sepertinya aku agak ingat, kau si bocah culun yang sedang menyapu sampah itukan?"
"Bocah culun!!!!" kejut lelaki itu dengan hati yang menangis.
"Iya... Saat itu kau cukup meresahkan dimataku. Karena aku takut kau akan mengadu pada guru dan menceritakan apa yang aku buat di ranting pohon itu, aku tak ada cara lain selain mengancam dirimu untuk mati bersamaku," seru diriku, hingga membuat lelaki itu tampak ketakutan.
"Ya, tetapi aku menerima itu apa adanya dan aku akan membuatmu senang, kamu tak pernah tersenyum sejak masuk sekolah SMA, karena itu akan ku usahakan untuk membuat kita berdua hidup damai dan bahagia selamanya. Jadi kumohon jadilah pacarku. Mari kita jalani ini bersama-sama," ucapnya
__ADS_1
dengan wajah serius.
Aku bisa melihat keteguhan hati pada dirinya, tetapi apakah ia benar benar serius setelah ini?
"Aku harap kau menjawab iya Lucy," ujarnya.
"Jika ada wanita yang dilamar oleh orang yang tidak dikenal, mungkin kau sudah dianggap aneh oleh wanita itu," ucapku datar.
"Ma-Maaf, aku lupa memberi tau namaku, namaku adalah Alder Winston, anda bisa memanggil saya Alder, saya dari keluarga terkaya ke-3 dari negara ini, saya akan sanggup membahagiakan anda dan tidak membuat anda kekurangan apapun Lucy," jelas Alder.
Aku menatapnya rendah. mungkin sekarang aku memasang wajah seram padanya, tetapi ia masih melengkungkan senyumannya dihadapanku.
"Aku tidak terlalu memperdulikan kekayaanmu tetapi aku memerlukan keberanianmu untuk bersedia bunuh diri bersamaku," ucapku dengan nada dingin.
"A-apa!? Kau sungguh-sungguh akan melakukan ini?" tanyanya dengan ragu.
"Begini saja, jika kau ingin aku menjawab IYA! Maka kau ikut aku bunuh diri bersamaku, jika kau menolak, berarti aku menjawab TIDAK! Untuk penawaranmu itu," ucapku memberi syarat padanya.
"Bagaimana?" tanyaku kembali, sambil meletakkan tanganku di pinggang dan satunya memainkan handphone, dengan menghentakkan kaki sembari aku menunggu jawabannya.
"Kau sendiri yang mengajakku untuk bunuh diri setelah pernyataan cintamu- kan?"
"I-iya," jawabnya gagap.
"Seharusnya kau sudah siap dengan risiko apa yang telah kau tulis kepadaku, janji adalah janji!!" ucapku menegaskan.
"Baiklah, kalau begitu," ia pun berdiri dengan lemas dan mengangkat tangannya sambil memetikkan jari.
'Klik'
Seketika segerombolan pengawal berbaju setelan hitam mengelilingi kami berbentuk lingkaran, aku sempat bingung dan kaget, tetapi aku sadar kalau sedari awal ia telah merencanakan hal ini.
"Bawa dia ke mobil," perintah Alder pada pengawalnya.
Aku ditahan oleh mereka, percuma saja aku melawan jika jumlahnya sebanyak ini, tetap saja aku akan kalah.
__ADS_1
"Dengan begini keinginanku sudah terpenuhi," ucapnya dengan pesona yang berbeda dari yang tadi, ia terlihat seperti orang penting dan begitu dihormati, dan tibalah waktunya.
"HENTIKAN!!"
Mereka semua menengok asal suara itu. Aku tersenyum kemenangan disaat itu juga.
Sudah kuduga dia akan datang, aku sudah memperkirakan kalau kejadian ini akan terjadi juga. Karena saat ia ragu untuk diberikan syarat seperti itu, bisa ditebak kalau dia ingin membohongiku, maka dari itu aku mengirimkan surat darurat pada Niki.
Aku pun ikut melihat sosok itu, saat aku menatap Niki entah kenapa aku berpikir kalau dia itu bodoh.
"Lucy!! Kenapa kau tidak menungguku saat pulang sekolah!! Tanpa pengawasanku kau pasti ingin bunuh dirikan??" teriak Niki penuh dengan amarahnya.
Aku agak ragu kalau dia tidak membaca pesanku.
"Untungnya pesan yang kau kirimkan telah membawaku kesini!!" Aku hanya menghembuskan nafas lelah dan kecewa padanya.
"Kenapa kau datang sendiri? Aku menyuruhmu untuk memanggil polisi," tanyaku pada Niki.
"Hah!! Seharusnya kau menjelaskan apa yang terjadi sekarang! Dan siapa orang-orang ini Lucy!" Niki malah balik bertanya. dia itu tidak bisa membaca situasinya yak.
"Bawa temannya juga," perintah Alder.
Pengawal mulai mendekati Niki, hal tersebut membuat Niki kembali marah marah. Memang dia saja yang berapi-api dikala situasi dalam bahaya bukannya melarikan diri.
"SIAPA KALIAN!! PENCULIK CEWEK YAK!! LEPASKAN!!!!"
Sudahlah, aku merasa kesal kalau begini jadinya.
Aku mengangkat kakiku dan melayangkan ke wajah salah satu pengawal didepanku, kemudian saat orang yang menahanku lengah karena terkejut, disaat itu juga aku melepaskan tanganku dan berbalik meninjunya.
Mereka semua tercengang melihat aksiku, begitupun dengan Niki yang hampir kemasukan lalat karena mulutnya terbuka lebar disebabkan kaget.
"Lepaskan Niki... "
.....
__ADS_1
"Dikala kau merasa lelah dan sakit, di hari kemudian ada kalanya kau akan bahagia dan senang."