
"Lepaskan Niki "
Aku memerintahkan mereka untuk melepaskan Niki atau mereka akan menyesal dengan bela diriku yang tak sengaja aku mempelajarinya dari membaca komik bergambar.
'Deg '
"Hah!!"
Kenapa ini? Kenapa aku terbaring, kapan aku terjatuh seperti ini?
Mataku terbelalak ketika aku menyadari kalau aku dibuat kaku oleh alder dan pingsan ditangannya.
"LUCY!!" Niki memanggilku dengan teriakan khawatir.
Ia membawaku ke mobil yang berbeda dari Niki. aku satu mobil dengan Alder.
Aku sedikit sadar dari suara Niki yang perlahan menghilang dari pendengaranku.
Di dalam mobil, aku tampak sangat buruk.
Keringat dingin dan wajahku memucat, aku tidak bisa begini dalam keadaan perasaan panik dan takut. Aku mudah sekali sakit jika aku hanya mendapatkan perasaan itu.
Mungkin Alder menyadari keadaan itu, karena sekarang ia khawatir dengan keadaanku.
"Panggilkan dokter untuk pergi ke rumah!"
Dadaku sesak, tanganku mulai mendingin, dan tubuhku menggigil, sudah lama aku tidak merasakan ketidaknyamanan ini. Biasanya aku tidak seperti ini, rasanya seperti ada yang hilang dari diriku. Aku tidak tau apa yang kurang, aku larut dalam pikiran dan akhirnya aku terlelap tak sadarkan diri di bahu Alder.
***
Aku membuka kedua mataku.
Dimana aku? Kenapa aku ada di tempat gelap ini, dan juga tubuhku....
__ADS_1
Mengecil !? sensasi ini hanya pada diriku di umur 8 tahun.
Aku memandang sekelilingku yang gelap gulita, sekian detik ketakutan mulai menerjang diriku melihat tak ada apapun disekitarku. Aku takut sesuatu muncul secara tiba tiba dan akan menerkam tubuhku.
'DOR!!'
Aku mendengar suara keras di depanku, suara tembakan! Suara itu semakin jelas mengarah padaku dan seakan akan mendatangiku.
Pupil mataku mengecil, bibirku bergetar, dan tubuhku merinding ketakutan, kakiku tak bisa berpindah kemanapun, aku seperti direkat oleh permen karet, aku diam membeku di tempat.
'DOR!!'
Suara tembakan terdengar untuk kedua kalinya.
'Crat'
Semburan bercak darah menempel pada wajahku, aku melihat kedua tanganku yang mungil telah dikotori oleh darah segar...
Takut.... Sungguh takut....
Seorang pria dengan tubuh semampan muncul dihadapanku, wajah yang kurang jelas, tetapi ia tengah memegang pistol, pakaiannya dipenuhi oleh darah.
Ia melihatku dan menyimpan pistolnya, ia menatapku dengan lekat, matanya yang bersinar seperti bulan merah mempertemukan mataku yang bersinar seperti rembulan biru.
'Deg'
'Deg'
'Deg'
Pria itu mengatakan sesuatu padaku dengan suara beratnya, ia memegang puncuk kepalaku.
"Ikutlah bersamaku."
__ADS_1
***
"Hah!!!"
Mataku terbuka lebar, aku tengah berbaring di kasur yang besar, aku sadar aku ada dirumah orang lain, aku bangun memegang kepalaku yang sangat pusing.
"Nona tetaplah berbaring dan istirahat,"
Sesosok gadis dengan memakai baju rapih bak seorang pelayan kerajaan menyuruhku untuk berbaring kembali, ia menempelkan sebuah kompres di kepalaku, aku berkeringat banyak, dan bajuku berganti menjadi baju tidur.
"Karena nona sudah bangun, saya akan mengambil makanan untuk nona sebentar," ucap Pelayan itu sopan kepadaku, ia menundukkan kepala dan pergi meninggalkanku.
Tadi itu hanya mimpikan? Siapa orang itu tadi?
Seharusnya sekarang aku tidak boleh memikirkan itu, keadaanku sedang kritis begini, aku harus mencari solusi bagaimana caranya aku kembali ke rumah.
***
Waktu sudah menjelang malam, bulan purnama nampak di jendela besar, sela-sela cahaya masuk kedalam ruangan yang besar ini.
Aku mencoba untuk beranjak dari tempat tidur, aku memeriksa sekitar dan melihat lihat lukisan yang dipajang di ruangan, aku menyukai desainnya, ini terlihat menawan. Aku berjalan menatap bulan disertai taburan bintang yang berkelap-kelip, cahayanya terpantul ke dalam mataku. aku memandangnya dengan sanyup.
"Seperti sihir yak," gumamku.
'Krek~'
Tak berselang lama, pintunya terbuka dan menampilkan sesosok gadis yang tak jelas karena gelapnya ruangan, ia mulai berjalan kearahku.
"Siapa?"
.....
"Terkadang kehidupan itu seperti sebuah sandiwara yang berlebihan."
__ADS_1