
Tidak ada satupun yang tau. Apa yang kuperbuat di dalam rumah kuno ini.
Terima kasih sudah membaca cerita perjalanan Lucy.
Dan Selamat Datang di sisi gelap dunia Lucy.
‘Sruk.....Sruk.....Sruk ’
Tidak ada seorang pun yang tau apa yang ada di balik kamar bilik bernomor 40.
Ruang terkunci yang tidak pernah dijelajah oleh siapapun kecuali pemiliknya.
Tidak ada yang namanya kebahagiaan dalam wajah yang bersedih dan tidak ada seseorang yang tertawa dalam gelapnya ruangan.
Kita semua tau rasa sedih akan musnah jika kita melupakan masa lalu, meskipun kita melupakan-nya tetap saja terkadang ingatan itu kembali secara tiba- tiba ketika kita sedang termenung.
Rasa pahit menjajal dalam perasaan ini, hatiku perlahan meleleh karena panasnya emosi. Cairan warna hitam muncul setelah kumerobek robek dalam dadaku.
Aku kecewa berat, sampai-sampai aku harus menelan obat penenang. “Tidak, ini sama sekali tidak bekerja.”
‘Sruk....sruk....sruk ’
“Mereka semua menipuku! Kenapa?”
“KENAPA!?”
“Kenapa Ibu harus meninggalkanku seperti ini? Padahal aku sudah menunggu cukup lama sampai saat ini, Kenapa Ibu harus bunuh diri?”
‘Sruk...sruk...sruk..’
“Jika seperti itu kenapa Ibu tidak membawaku ikut bersamamu?”
Aku sudah berusaha untuk bertahan, tetapi semuanya hancur. Harapanku hancur...
‘Sruk... Sruk... Sruk..’
Tusuk, tusuk, tusuk, tusuk terus. Apa aku perluh menikam diriku sendiri seperti boneka yang tak berdaya ini. Boneka yang ku tusuk sudah berlumuran dengan darah.
Jangan takut, ini bukan darah yang dikeluarkan oleh boneka beruang, tapi ini darahku, darah yang keluar dari lengah tanganku.
Banyak, banyak sekali goresannya. Goresan yang kubuat memenuhi lenganku, rasa sakit yang kuterima masih kalah dengan yang ada di hatiku. Kenapa? Padahal tidak berdarah sama sekali.
“Hahaha, lucu sekali, bagaimana bisa manusia kesakitan tanpa adanya luka dari dalam?”
Aku meminum sekali lagi obat di sampingku dan lanjut menusuk-nusuk tubuh boneka sampai ia terkoyak dan hancur sepertiku.
“Arrghh ini sama sekali tidak bekerja. Apa aku harus minum melebihi dosis lagi?”
Aku menusuknya menggunakan cutter. Cutter yang kugunakan untuk....
‘Tring~tring~’ (suara dering telepon)
‘Tring~ tring~ tring~’
‘Tring~tring~tring~triiiiiiiiinggg’
‘BRAK!’
Aku melemparkan cutter pada ponsel itu sampai layarnya retak.
“BERISIK!”
‘Tring~tring~tring’
“Kenapa kau masih berbunyi ponsel bodoh! AKU SUDAH TIDAK PEDULI PADA SIAPAPUN LAGI!”
Aku menutup telingaku menggunakan kedua tanganku.
“Berisik, berisik, berisik, aku tidak ingin diganggu.”
__ADS_1
Bergumam terus-menerus, sambil menatap cermin yang retak di samping ku. Kepingan kaca masih berserakan di lantai, kain yang kusut dan tersobek-sobek berjajar di beberapa tempat dan bantal yang sudah compang camping hingga isinya keluar dan dinding yang tercoret-coret olehtinta merah dan hitam yang tidak jelas. Kamar yang berantakan ini memang bukanlah kamarku tetapi ruang melepas segala emosi hingga tidak merasakan emosi itu sendiri.
"LUCY!!"
Aku menoleh pelan ke pintu coklat yang agak rapuh.
"LUCY!! Apa kau di dalam?"
Terdengar suara familiar di telingaku, tetap saja aku mengabaikan orang itu.
***
Niki masuk kedalam rumahku dan mencari-cari apa yang ia cari.
"Lucy...? Apa dia ada di kamar yak?"
Niki memutar pegangan pintu lalu membukanya dan mengintip kedalamnya.
"Lucy?? Tidak ada yak?"
Niki melihat kamar yang ia masuki sedikit berantakan.
"Seperti biasa dia tidak membereskan kamar tidurnya sebelum pergi... Hmm tunggu dulu... Setiap ia pergi bukankah ia selalu mengunci pintunya? Itu artinya Lucy masih ada disini."
Niki melihat meja kerjaku yang penuh banyak kertas-kertas kosong.
"Sepertinya aku harus mulai dari sini," ucapnya yang mulai merapihkan banyak kertas yang berserakan di meja.
Setelah Niki merapihkan kertas, ia mencari-cari tempat untuk menyimpan kertasnya.
"Aku taruh di laci meja saja yak."
Niki menarik laci meja kerjaku, ia melihat sebuah kertas di dalamnya, ia mengambilnya dan membalik kertas tersebut. Ternyata di balik kertas tersebut ada sebuah tulisan.
‘Jika kau ingin tau kebenaran dan mendapatkan kembali ingatanmu, pergilah ke kantor polisi dan ucapkan nama Tuan Baron - Peter.’
Mata Niki terbelalak dan menjatuhkan kertas yang ditangannya hingga berserakan di lantai.
Tangannya gemetar dan wajahnya seperti ketakutan. Ia melihat ujung tulisan 'Peter'.
Ia mengerutkan alisnya.
"Siapa Peter? Bagaimana ia tau kejadian itu?" Niki segera berlari ke dapur dengan wajah panik.
"Lucy di mana kau?"
Ia tak menemukan orang yang dicari. Niki tak menyerah begitu saja, ia mencarinya di dalam kamar mandi.
Ia mendobrak pintu kamar mandi tanpa tau siapa orang yang didalamnya.
"LUCY!"
Tidak ada. Tidak ada di toilet juga. Wajah Niki mulai pucat, kemudian ia berlari ke ruang tamu sekali lagi, tidak ada, ia juga sudah memeriksa ke dapur dan halaman belakang tetap saja tidak ada. Niki berjalan pontang panting di lorong rumahku, dengan kondisi tubuhnya yang sudah terkikis energinya, ia terpuruk di lantai.
'Bruk!'
"Dimana?" gumam Niki dengan tatapan kosong.
'Sruk.... Sruk.... Sruk...'
Niki menoleh ke arah pintu disebelahnya, pintu kamar bernomor 40. Pintu yang dimana sempat aku larang untuk dimasuki.
Karena isinya merupakan sebuah kutukan yang menyebabkan siapa saja yang memasukinya akan merasakan kesakitan yang luar biasa sampai ia kehilangan emosi serta perasaan di hatinya selepas keluar dari ruangan tersebut. Cerita yang kusampaikan padanya berhasil membuat Niki ketakutan setengah mati dan tidak berani menyentuh pintu itu.
Akan tetapi tidak untuk sekarang setelah mendengar suara dari dalam. Ia menatap pintu itu dengan wajah frustasi. Ia terbangun sebelum ia memegang gagang pintu.
Perlahan tapi pasti. Niki membukanya pelan-pelan. Sebelum sampai ia melihatku duduk menusuk boneka yang sudah berlumuran dengan darah disertai kamar yang berantakan seperti kapal pecah, dan disamping itu obat-obatan yang bermacam-macam variannya juga hadir di sekelilingku.
Ia menatapku terkejut. Niki berlari kedalam dan menghentikan tindakanku yang cukup absurd. Niki menarik tanganku untuk berbalik kearahnya, sontak ia melepaskan tanganku setelah ia melihat banyak luka goresan di lenganku.
__ADS_1
"Lucy! Lenganmu..." ucapnya dengan bibir gemetar.
Niki berdiri dan hendak mencari penanganan pertama di kotak kesehatan darurat yang berada di dapur.
Saat ia berada di ambang pintu, aku bertanya padanya.
"Kenapa kau kesini? Padahal aku sudah melarangmu masuk kesini, bukan?"
Dan kesekian kalinya Niki terdiam dan mengabaikan hal tersebut. Membuatku agak heran.
Niki menuju ke dapur untuk mengambil kotak kesehatan darurat. Ia memberi obat ke setiap luka yang ada sebelum membalutnya dengan perban.
"Kenapa kau melakukan ini, padahal kau sudah berbohong padaku selama ini."
Niki tetap tidak menjawab dan hanya menundukkan kepala selayaknya sedang merenung dalam hati.
"Jawab aku Niki."
Matanya sudah berkaca-kaca, tangannya gemetar dan menjadi sangat dingin.
"A-aku... Aku mi-minta maaf Lucy."
Ia mengusap air matanya, padahal aku yang paling menderita disini.
"Semua kejadian itu bohong, kan? Tidak mungkin kau yang menembak Ayahku, kan!?"
Dengan perasaan berat hati Niki menjawab.
"Kejadian di teater puluhan tahun itu semuanya benar... Aku yang menembak Ayahmu waktu itu."
Tiba-tiba saja ia memegang kedua tanganku dan mengatakan dengan suara sendu.
"Lucy... Jika kamu ingat semua kejadian itu, aku mau minta maaf, aku benar- benar menyesal melakukannya. Aku tidak tau kalau kejadian yang mengerikan pada keluargamu itu semua karena perbuatanku. Aku sangat menyesal sekali. Kumohon maafkanlah aku. Aku minta maaf Lucy... Hiks.. Hiks... Aku merasa bersalah karena itu... Aku berusaha sebisa mungkin melindungimu sampai saat ini, awalnya untuk menembus dosa-dosaku ini tapi aku benar-benar tulus berteman denganmu Lucy... Hiks.. Hiks."
Ia lanjut menangis, tetapi aku hanya terdiam seperti merasa hatiku teiris-iris. "Keluar dari ruangan ini, aku sudah bilang-kan untuk tidak masuk kesini," ucapku dengan nada yang sudah tidak dikenal.
"Lucy... Aku tidak peduli dengan kutukan yang kudapatkan dari ruangan ini... Tetapi aku mendapatkan kertas ini di lacimu." Niki menunjukkan kertas di depan wajahku.
Aku menatap kertas yang pertama kali kudapatkan dari Peter. Selama ini kertas itu menuntunku pada sebuah kebenaran. Kebenaran yang menyakitkan.
"Lucy.... Jelaskan padaku siapa Peter? Kenapa ia tau tentang Tuan Baron?" tanya Niki dengan wajah serius.
"Aku tidak mengenalnya, jangan campuri urusanku."
"Lucy, ayolah... Jawab aku," pinta Niki sambil memelas.
"Aku tidak peduli dan sama sekali tidak tau tentang Peter. Keluarlah dari kamar ini."
Niki menjadi sedih karena tidak mendapatkan jawaban yang jelas. Kemudian pikiran-pikirannya menjadi negatif, hal yang membuatnya menjadi takut saat ia melontarkan pertanyaan padaku.
"Jika kau ingat semua kejadian itu, apa kau masih ingin berteman denganku?"
Wajahnya berubah panik, ia takut kalau jawabanku membuatnya kecewa. Ia sudah ragu dengan pertemanan ini.
Pertemanan yang dibangun setahun yang lalu, sampai saat ini kita cukup dekat, sampai-sampai kau tidak pernah luntur dalam senyuman hangat itu.
Apa kau lupa? Kalau Aku tidak senang melihat kebahagiaan orang lain. Karena itu aku merasakan sakit dan rasa sakit ini adalah hal yang terburuk tetapi bisa juga menjadi hal yang terbaik karena rasanya terdengar candu.
Aku terdiam dan tak merespon jawabannya, hanya saja sebuah kalimat keluar dari mulutku.
"Pergilah... Dan tinggalkan aku sendiri."
Terlihat Niki mulai memahaminya.
Dengan wajah murung, ia berdiri dan mengangkat kakinya dari tempat ini.
'Tolong maafkan aku.'
....
__ADS_1
"Terkadang kita harus memaafkan diri kita sendiri dan orang lain disertai menerima permintaan maaf walau rasa sakit tetap membekas di hati."