
"Eh... Ada perluh apa?"
Aku tersenyum bingung melihat pria muda yang tampan dihadapanku.
"Jangan bilang 'eh?' seharusnya Hei!" ucapnya seraya tersenyum padaku.
"Maaf atas ketidaksopanan saya. Master Kendrik," ucapku sambil hormat dan mempersilakan master masuk.
'Aduh... Ada perluh apa sih master datang kesini,' batinku miris.
"Kau tinggal di tempat sederhana ini?"
"Iya Master."
"Hemat sekali kamu," serunya sambil berkeliling melihat isi rumahku dan aku hanya melayangkan senyum kepadanya agar tidak terlihat suram di matanya, padahal hatiku mencaci maki dirinya. Sungguh aku memakai topeng dadakan saat ini.
"Apa kamu sudah sehat?" tanya Master sambil duduk di sofaku yang berwarna merah marun.
"Sebentar lagi aku akan pulih," jawabku dengan ramah. Padahal aku membenci diriku yang seperti ini. Diriku yang palsu.
"Syukurlah, semoga sehat terus yak. Oh iya hari ini aku ingin membagi makalah tentang teknik mewarnai, tolong bagiin ke semua anggota klub kelas kamu yak dan ajarkan pada adik kelas 10 untuk memahami materinya. Besok master tidak masuk karena ada urusan. Tolong yak," ujarnya memberikan makalah kepadaku.
"Iya. Terima kasih atas doanya."
"Dan ini untukmu," master menyerahkan sebuah kotak hadiah merah dengan pita kuning kepadaku.
"Apa ini?"
"Bukalah."
Aku mengintip isi hadiah itu. Sudah kuduga isinya ini ini terus.
"Terima kasih, dengan alat lukisnya," ujarku dengan senyum mengambang kembali padahal aku bosan diberi ini terus.
"Sama-sama. Berlatih keraslah untuk klub yak!" seru Master Kendrik yang beranjak dari sofa.
__ADS_1
"Iya," jawabku yang ikut berdiri juga.
"Master hari ini selalu disibukkan dengan pekerjaan. Menjadi pelukis terkenal melelahkan juga yak," keluhnya sambil berkacak pinggang.
"Iya. Master harus tetap semangat," seruku mencoba menghiburnya.
Master datang dan mengelus pucuk kepalaku dengan lembut. Lalu berkata kepadaku dengan hati terdalam.
"Kau juga jangan murung terus yak."
Mataku terbelalak kaget, hatiku tertancap panah sedalam dalamnya. Bagaimana bisa master mengetahui dibalik topengku?
"Haha Master aku terus tersenyum untukmu," seruku.
"Kamu tidak bisa melukis ekspresi palsu dengan kuas murahan Lucy, nanti kualitasnya memburuk disaat kamu ingin dipamerkan oleh semua orang."
"Eeh? Master mengira aku tersenyum palsu yak," ucapku dengan nada riang.
"Jelas terlihat begitu dimataku," jawab Master Kendrik.
Apa? Tak mungkin, ini tidak mungkin terlihat jelas dimatamu.
Tangan Master mengangkat wajahku dan memperlihatkan senyuman yang kini berbeda.
"Kamu tidak harus melukis wajahmu. Tetapi lukislah hatimu Lucy, hatimu tidak ada warnanya sama sekali. Kamu juga harus jujur terhadap dirimu sendiri. Jika kamu berhasil menggampai itu semua. Master akan selalu bangga padamu."
"Master."
Lalu terdengar suara dari kantung celana Master.
'Tring~'
Ponsel Master berdering, kemudian master menjawab panggilan tersebut.
"Halo."
__ADS_1
Aku bisa mendengar jelas orang yang menelepon Master begitu emosian. Tetapi Master selalu menghadapinya dengan tabah dan sabar menjalani pekerjaannya.
Masterku adalah guru club seni rupa, aku mengikuti klub itu karena aku dulu penggemarnya, aku mencintai karya lukis yang ia pamerkan. Lukisannya terlihat sangat hidup dan berwarna, ia melukis dengan sepenuh hati bak seorang profesional. Kini ia terkenal di seluruh dunia. Aku awalnya ingin seperti dia, tetapi ini berbeda dari kenyataanku.
Master selalu sibuk dan tak sempat memberikan materi kepada kami. Tetapi master begitu perhatian pada anggota club nya. Dan ia menjadi populer akan ketampanan nya dan kebaikan hatinya. Master terlihat memang tak tegas tetapi master tau apa yang harus dilakukan terhadap anggota klubnya.
'Tit'
Master menutup telepon tersebut dan menghela nafas kasar.
"Master lelah? Master ingin kuhidangkan apa?" tanyaku menatapnya datar.
"Tidak... Tidak perluh repot-repot. Master harus kembali bekerja. Maaf jika aku tidak banyak waktu untukmu. Padahal Master ingin menemanimu hingga temanmu itu datang," ucap Master yang bersiap-siap untuk pamit.
"Tidak apa-apa Master. Aku akan baik-baik saja walaupun sendirian, aku bisa menjaga diriku sendiri."
"Begitu yak. Aku senang karena kamu sudah besar."
"Dari SMP aku ini sudah besar tau," gerutu diriku.
"Hahaha iya iya, benar sekali," tawanya cengegesan.
"Master juga harus banyak istirahat, Tidak baik menjadi penggila kerja," ucapku menasihati.
"Haha iya kau benar. Jika Master ada waktu luang. Master akan menghabiskan waktu dengan semua anggota klub."
"Baiklah, Akan kunantikan ucapan Master," jawabku.
"Oke, sampai jumpa."
"Sampai jumpa juga master. Hati-hati dijalan yak," ucapku.
"Iya~"
Akhirnya Master pergi dari rumahku. Aku sadar ada kemungkinan topeng samaranku terbongkar. Pertama aku menjauh dikala teman anggota klub ku mendekati Master, kedua aku ini selalu sendirian, ketiga karena anggota klub memberitahu apa yang aku lakukan dikelas tentang kepribadianku. Itulah tiga kemungkinannya dan aku tidak menyangka akan dikejutkan oleh Master Kendrik Kandela.
__ADS_1
....
"Kau tidak harus melukis wajahmu untuk tersenyum. Tetapi lukislah hatimu untuk kehidupanmu agar menjadi berwarna."