
Kelopak bunga yang terbang jauh dari tangkainya terhempas oleh angin yang meliuk-liuk, membawa harum pagi yang menyegarkan pada seorang gadis berambut hitam pendek dengan pita merah di rambutnya, ia yang melepaskan kelopak bunga satu persatu, berharap perasaan saat ini benar untuk dilakukan atau salah untuk di pergunakan.
“Benar... salah... benar... salah benar.”
Walaupun jawaban itu benar, terkadang ia tak memiliki keberanian untuk mengungkap perasaannya. Ia mengambil bunga yang lain lalu melakukan hal yang sama dengan bunga yang ia petik sebelumnya. Kemudian datang seorang perempuan cantik nan anggun berambut abu-abu bergelombang sedang menegur gadis yang sibuk memetik bunga yang hanya untuk di lepas kelopaknya.
“Jangan memetiknya lagi, nanti kamu dimarahin guru lewat loh. Apa kamu tidak menghargai usaha seseorang yang telah menanam bunga sebanyak itu?”
Lalu gadis berambut hitam menjawabnya dengan lirih. “Aku sendiri yang menanamnya.”
Perempuan berambut abu-abu tersebut terkejut dan agak kesal, ia pun menaikan nada nya agak meninggi sembari mengepal tangannya kuat kuat.
“Kenapa kau tidak menghargai dirimu sendiri, Snowy!?”
Gadis berambut hitam itu menoleh wajah sang berambut abu-abu yang putih mulus serta mata birunya bagai laut yang menyejukkan.
“Entahlah, tapi aku sangat mempercayaimu. Karin.”
***
Aku datang ke sekolah saat menaiki tangga ke-dua, aku berpisah dengan niki disaat itu. Berjalan dilorong sendirian sembari melamun tidak jelas, lalu tak sengaja aku melewati kelas 12-B. karena aku ingin bertemu dengan grabiel, jadi aku agak mengintip sedikit dari dalam kelas yang terbuka pintunya.
Tiba-tiba tiba seorang gadis menghalangi pandanganku. Tatapan-nya dekat denganku, dahinya berkerut setelah melihat diriku. Mungkin aku orang asing yang baru pertama kali dilihat olehnya.
“Ada yang bisa aku bantu? Kamu sedang mencari siapa?” tanyanya dengan wajah jutek.
“Tidak ada,” balasku dengan wajah datar lalu pergi.
“Eeeh jangan pergi,” tanganku ditarik kembali olehnya. Aku tak mau berurusan dengan perempuan ini lebih lama lagi.
“Apalagi?”
“Tingkahmu jelas-jelas mencurigakan, sebenarnya kau sedang mencari siapa!?” tegasnya dengan genggaman yang agak kasar hingga aku menatapnya dengan tatapan tajam seperti wajah menatang.
‘Kenapa dengan perempuan ini sih? dia kasar banget.’
Dia kelihatan marah dari sebelumnya karena aku tak menjawab cepat pertanyaan-nya.
“JAWAB!”
Keributan itu membuat murid kelas 12-B keluar dari ruangan karena mendengar ricuh dari sang ketua OSIS.
Sial, dia mengundang orang orang keluar melihat pertingkaian kami.
__ADS_1
“Lucy??”
Perhatianku dicuri oleh orang yang memanggil namaku. Dua orang berambut putih dan hitam melihat diriku terkejut.
Gabriel dan Alder. Aku yang menatapnya langsung menunduk malu dengan ekspresi suram.
“Kalian mengenalnya?”
Aku langsung menepis genggamannya dan berlari cepat menuju ruang kelas. Aku tak menyangka kejadian memalukan ini dilihat oleh mereka. Mereka akan mengira kalau aku adalah pembuat masalah pada ketua OSIS padahal dia yang memulainya duluan.
Tanpa sadar pandanganku agak kabur dan menabrak seseorang hingga serpihan bunga berjatuhan dengan indahnya dari atas.
Lagi-lagi kejadian itu mencuri perhatian orang yang lewat.
“Maaf, pandanganku agak kabur tadi,” ucapku sambil membantunya berdiri.
Lalu aku memandang serpihan bunga yang berserakan kemana mana membuat diriku merasa bersalah telah menjatuhkan barang yang ia kumpulkan dengan susahpayah.
“Aku akan mengumpulkannya lagi,” ucapku sambil mengambil keranjang yang ia bawa.
“Tidak usah, bersihkan dan buang di tempat sampah,” jawabnya tak peduli dan pergi berlalu dari pandanganku.
Aku sadar Bunganya sudah terinjak injak oleh orang yang lewat, jadi tidak mungkin bisa digunakan lagi. Aku mengumpulkannya dan mengambil satu serpihan bunga kemudian aku berpikir sejenak sembari memperhatikan kelopak bunganya.
‘Benar juga. Bunga secantik apapun jika terjatuh dan terinjak-injak pasti akan terlupakan dan terbuang.’
Setelah selesai mengumpulkannya, aku kembali ke kelas dengan perasaan bersalah dan malu sepenuhnya. Felix yang melihatku seperti tidak ingin diganggu hanya terdiam membaca buku di mejanya.
Aku menidurkan kepalaku di meja. Lelah, capek, dan stress. Semalaman aku tidak bisa tidur lagi, aku harus menyesuaikan diriku malam ini agar tidak menjadi makhluk malam yang hobi bergadang.
“Aku ingin menghilang dari dunia ini,” gumamku dan itu terdengar dari telinga Felix. Felix pun kaget dan panik mendengar kalimat yang keluar dari teman sebangkunya.
“JANGAN MENYERAH!”
Itu cukup membuatku kembali bangun karena kaget. Teriakan Felix membuat perhatian pada satu kelas. Aduh... ada apa dengan dunia ini sekarang? Ini membuatku semakin ingin menghilang dari dunia.
“Lucy, aku yakin pasti ada jalan keluarnya, jadi jangan menghilang dulu,” ucapnya dengan semangat.
Aku menghela nafas lelah dan kembali tiduran di meja.
“Tidak, aku tidak apa apa.”
“Kau yakin?”
__ADS_1
“Iya.”
Bel baru saja berbunyi, kemudian guru mengebrak pintu dengan keras hingga semua murid langsung tegang. Seketika ruangan menjadi tempat pemakaman yang sunyi, Suram dan gelap datang secara tiba-tiba.
“Buka halaman 120 dan kerjakan sekarang, waktunya hanya 30 menit segera dikumpulkan hari ini!! Jangan ada yang berisik! Paham!”
“PAHAM!” sahut para murid.
Inilah kekerasan mental dari kelas 12-A, kelas kami begitu ketat karena para guru tidak ingin kepintaran kami memudar, tetapi jika begini terus kami bisa stress dan berakhir bunuh diri, pasalnya ada kejadian serupa karena muridnya terlalu stress belajar, seorang pemuda yang begitu diandalkan berakhir dengan kegagalan yang membuat dirinya terbuang, seolah olah dia barang sekali pakai yang tak berkualitaslagi.
Kelas kami dibagi A,B, dan C . kelas A adalah kelas yang di isi murid-murid pintar. kami merupakan harapan bagi sekolah ini untuk mengharumkan nama sekolah, dan kelas B adalah kelas dengan nilai standar, lalu kelas C adalah murid dengan nilai terendah.
Itu sebabnya kami diperketat, dimainkan mentalnya secara tidak langsung. Aku hampir tidak kuat menghadapi sekolah ini rasanya aku ingin mengundurkan diri tapi tidak bisa. Aku hanya pasrah dan menjalankannya.
“Waktunya habis!!”
Dan pada akhirnya kami tidak bisa menyelesaikan ini karena penekanan waktu. Bahkan materinya tidak tersampaikan pada kami dengan jelas, emosi guru bisa mengubah cara pembelajarannya serta pemahaman muridnya.
“Kumpulkan sekarang, saya tidak mau tau kalian selesai atau tidak!!”
Kami hanya menurut dan mengumpulkan buku kami di meja guru tersebut. Guru killer itu bernama Bu Desi. Ketika pada tahap pemberian nilai, seketika kami gemetar dan jantung terus berdetak lebih kencang.
“Nona Hana Grisellia, kamu belum tuntas menyelesaikan jawabannya.”
Buku Hana dibuang langsung keluar oleh Bu Desi dengan cepat. Kami pun tambah tegang pada di tahap tersebut.
“Harry Kristofer, sepertinya kau sudah siap berada di kelas 12-C nanti, JAWABANMU SALAH SEMUA!” tegas Bu Desi sambil merobek kertas Harry dan menggulungnya lalu membuangnya ke tempat sampah dengan kejam.
“Lucy Aureista. Apa apaan jawabanmu ini. Kau pikir dirimu jenius?”
Aku hanya terdiam tak berani untuk menjawab. Bahkan mulutku tak sanggup untuk bersuara.
“Kemari.”
Aku berdiri dan menghampiri meja Bu Desi. Kemudian bu desi bangkit dari kursinya dan menamparku menggunakan buku-ku dengan keras.
“Kerjakan sesuai yang ada di buku mata pelajaran. Jangan keluarkan pendapatmu pada pertanyaanku!!” tegasnya sambil melempar buku-ku dengan kasar. Aku pun hanya mengambilnya lalu kembali duduk.
Tanganku gemetar selama pembelajaran Bu Desi berlangsung.
Kalian pikir apakah hidupku tidak berat, diperlakukan kasar seperti tadi? Tidak dihargai dan dibenci. Rasanya sakit bukan? Aku tau, ada temanmu yang menghiburmu, tetapi itu akan tetap saja terus berlanjut jika kamu tidak mengubahnya.
‘Oh ya ampun, rasanya aku ingin menghilang saja.’
__ADS_1
.....
“Berusaha tidak semudah berbicara, jadi hargailah orang-orang yang telah berjuang sejauh ini. Mereka pantas diberi penghargaan karena usaha keras mereka yang membuahkan hasil.”