
"Baron."
"Iya, sekarang Nona hanya mengatakan 'aku ingin kembali' cepatlah," bujuk Sang Pelayan dengan nada yang ramah.
"A-aku.. Ingin kembali!" teriakku. Entah kenapa mengatakan hal tersebut sangatlah berat, seolah ingatan terpentingku ada disini.
Sekujur tubuhku mulai berubah menjadi transparan dan berwarna kebiruan muda, perlahan-lahan jari-jari lentikku menghilang menjadi serpihan kaca yang berterbangan di udara.
"Tidak bisa."
Ucapan itu membuat proses menghilangku dibatalkan. Aku terkejut siapa yang mencegah diriku kembali ke dunia asliku.
"Siapa kamu!?" tanya pelayan dengan geram.
Orang tersebut tidak menjawab pertanyaan dari pelayan, tetapi seperti memastikan keanehan dalam dunia ilusi ini.
"Pantas saja ada yang tidak beres, ternyata kamu pengganggunya." ujar sesosok bayangan yang kurang jelas itu sambil menunjuk arah ke kepala pelayan.
"Hey jawab dulu pertanyaanku!" tegas Sang Pelayan,
"Aku yang membuat dunia ini, bayangan yang dibenci banyak orang sekaligus ditakuti oleh banyak orang, aku adalah Claura sesosok bayangan yang bisa berubah menjadi siapapun," ucapnya memperkenalkan diri.
"Kau-lah pengganggu yang sebenarnya, biarkan Nona muda ini pergi ke dunia asalnya." kata Pelayan yang langsung membelakangiku bermaksud untuk melindungi.
"Kau pikir aku akan membiarkan dia datang dan pergi seenaknya dari dunia ini, tentu saja aku tidak akan membiarkannya!!"
Sesosok bayangan itu langsung terbang secepat kilat mengambil alih tubuhku, membuat diriku menjadi sesak dan mual, baunya seperti mayat yang membusuk disertai tenggorokanku yang rasanya sudah dipenuhi oleh kerumunan semut dan otakku seketika menjadi kacau balau hingga membuatku sakit kepala dan pusing.
Tentunya aku menjerit kesakitan, tanganku menggeliat dan menarik-narik bajuku hingga robek karena tubuhku tiba-tiba menjadi panas seperti terbakar.
"SAKIT! SAKIT!"
"LEPASKAN! PERGI!!"
'Rasanya seperti ingin mati!!'
"Nona!!" pelayan itu menahan tanganku yang mulai melukai badanku.
Bayangan yang ada di dalamku hanya tertawa senang merasakan diriku seperti orang yang di cambuk sebanyak 10 kali.
"Kumohon pergilah dari tubuhku~" aku menangis sambil memohon-mohon untuk mengakhiri rasa sakit ini.
'Mereka sudah melupakanmu loh~ bukankah kau ingin mati? Biarkan aku yang mengabulkan permitaanmu itu!' seru Claura.
'Bukan ini yang kuinginkan, cepat pergilah dari tubuhku!' batinku memohon.
'Aku tidak akan berhenti!'
'Sial, rasanya aku akan menjadi gila jika ini tidak dihentikan.'
Pelayan itu menarikku ke dalam ruangan bawah tanah dan mengikat tanganku ke atas dengan rantai yang terpasang di langit-langit atap.
"Bertahanlah Nona, aku akan mengambil obatnya di ruang kerja." Pelayan tersebut bergegas pergi ke ruang kerjanya meninggalkanku yang tersiksa.
"Cepatlah, rasanya aku ingin mati!" jeritku yang tak tahan akan penderitaan ini.
***
Di tempat lain, bel sekolah berdeting menandakan waktu istirahat sudah dimulai, si Lucy ceria itu membawa bekalnya ke kelas 12-C bermaksud untuk bertemu dengan sahabat dekatnya.
Saat di tengah perjalannya, ia bertemu Gabriel bermata unik, Luna-pun tersenyum lembut padanya.
"Hai Gabriel, bagaimana hari-harimu?" sapa Luna.
"Tentu saja baik, bagaimana denganmu?" tanya Gabriel dengan wajah yang cerah benderang tersebut.
"Aku baik dan cuacanya begitu cerah, ini membuatku jadi bersemangat dalam beraktivitas." jawab Luna dengan riang.
"Begitu yak..."
Luna mengangguk iya dan ingin pergi menjemput niki, "Sudah dulu yak aku ingin menjemput temanku dulu, bye."
"Oh iya hati-hati." Gabriel melambaikan tangan pada Luna yang berlari di lorong sekolah.
Sesampainya luna di depan kelas 12-C, ternyata Niki sudah menunggu Lucy daritadi, melamun dengan memegang kotak bekalnya sembari bersandar.
"Maaf menunggu lama tadi aku menyapa temanku dulu hehe." ucap Luna sambil terkekeh dan meminta maaf.
"Tidak apa, mau makan dimana?" tanya Niki.
"Di atap sekolah, seperti biasa." senyum Luna.
Niki menghela nafas panjang, ia sudah bilang kesekian kalinya. "Itu bukan atap sekolah tetapi menara."
"Iya memang seperti menara sih tetapi bagiku sama saja," ucap Luna cemberut. "Tentu saja berbeda, ayo!"
Mereka berdua menaiki lantai yang paling atas yaitu menara, jika sering sekali mendengarnya tentang atap sekolah sebenarnya itu adalah menara sekolah, tempat itu jarang dikunjungi walau disana merupakan tempat yang indah, di mana langit atapnya berwarnak biru tua kehitaman disertai bercak putih bagaikan bintang-bintang yang bersinar di langit malam, selain itu di tempat itu ada bola dunia berwarna emas sedang berputar mengikuti rotasinya.
Maka dari itu kami berdua begitu betah di menara apalagi angin sepoi-sepoi mudah sekali masuk ke tempat menara yang terbuka itu.
"Tempat favorit kita akhirnya masih belum terjamah oleh siapapun," seru Luna
"Hmm iya," balas Niki.
__ADS_1
Niki nampak memperhatikan Luna dengan tatapan tajam, ia kira ini adalah sebuah mimpi melihat Lucy sebahagia ini sejak pagi, tetapi ia tidak menghiraukannya dan duduk di asal tempat yang menurutnya nyaman.
"Ayo duduk..." ajak Niki menepuk tempat duduk disampingnya.
Luna dengan antusias langsung duduk di samping Niki dan membuka bekalnya yang begitu dihias dengan imut dan cantik.
"Selamat makan."
Sekali lagi Niki merasa ini semua adalah keterbalikan dari Lucy yang ia kenal, sifat, pakaian, serta makanannya, untuk kali ini Niki melihat Lucy memakan sayur padahal Lucy seharusnya membenci sayuran itu kecuali wortel bahkan wortel saja tidak ada disana, hal tersebut menambah kecurigaan Niki.
Di tengah makan siang, Niki nampak bergumam tidak jelas, "Sepertinya yang dikatakan dia benar."
"Tentang apa?" tanya Luna penasaran.
"Bukan apa-apa." jawab Niki datar.
Luna nampak tidak begitu penasaran lagi dan melanjutkan makan siangnya. "Eyooo gadis cantik yang di sana!"
Ratusan kelopak mawar berterbangan dibalik sosok berambut hitam yang menyebalkan. Kini ia datang ke menara untuk bertemu Lucy yang baru.
"Aku dengar calon kekasihku sudah menjadi orang yang paling bahagia di dunia ini yak," ucap Alder dengan gayanya yang persis seperti pertunjukan pesulap.
"Orang yang Lucy benci akhirnya datang juga dan kita lihat apa reaksi--" Niki terkejut atas reaksi lucy yang bahkan kalimatnya tidak dapat ia lanjutkan.
Gadis berambut jingga yang ada dihadapannya kini seperti seorang fans fanatik yang gila terhadap idolanya.
"Kenapa?" gumam Niki yang sangat begitu tidak percaya pada reaksi yang berlebihan ini.
"Kenapa ia bisa segila ini?" Niki hampir tak tahan ketika Luna berlari ke arah Alder dan memeluknya.
"Alder aku merindukanmu!!" jerit Luna.
Alder membalas pelukan Luna dengan lembut serta dibalas dengan kata-kata yang manis, "aku juga merindukanmu sayang."
Niki meremas kepalanya hingga rambutnya menjadi berantakan dan kusut. Ia pikir isi kepalanya serta penglihatannya ada yang tidak beres. Tetapi seorang pemuda menepuk bahu Niki untuk menghentikan kegiatan meremas rambutnya sekeras itu.
"Tenangkan dirimu, wahai sahabatnya Lucy," ujar si rambut putih.
Niki menoleh asal suara itu, cowok yang hampir ia kenal saat latihan drama Si Tudung Merah, aku pernah mengatakan namanya kalau dia adalah Gabriel Alexander.
"Gabriel... Apa yang sebenarnya terjadi padanya?" tanya Niki dengan mata yang berkaca-kaca.
"Syukurlah akhirnya kau menyadarinya," ucap Gabriel yang tersenyum lega lalu membantu Niki untuk berdiri karena syok melihat wujud Luna yang begitu mengerikan.
"Dia bukan Lucy tapi terlihat seperti monster kelaparan," ujar niki merinding.
"Iya itulah wujud asli dari Claura yang terkutuk," jelas Gabriel dengan menatap seram pada wujud yang tidak karuan itu, orang yang tidak menyadarinya pasti masih melihat monster kegelapan itu adalah Lucy.
Alder menatap Luna dengan lekat dan membisikkan Luna sesuatu. "Aku senang melihat Lucy bahagia seperti ini," seru Alder.
"Iya aku juga senang melihatmu bahagia, ayo menikah Alder agar kita selalu bahagia selamanya," balas Luna yang tak kalah bahagianya.
"Tentu saja tidak Lucy, soalnya saat ini aku sangat-sangat membenci~ dirimu," seru Alder dengan tatapan menusuk.
Luna yang mendengar itu hanya mematung tidak percaya apa yang dikatakan Alder.
"Apa maksudmu? Bukankah kau sangat mencitaiku Alder? Bukankah kau selalu mengincar diriku," tanya Luna yang berusaha untuk menyadarkan Alder tentang cintanya pada Lucy.
"Maaf saja yaa, aku tidak menyukai tubuh palsumu itu." ucap Alder dengan menampilkan senyuman hinaan untuk Luna, Hingga hati Luna seperti tersayat seketika.
"Woi Alder sudah cukup, itu keterlaluan," bela Gabriel yang melangkah kedepan.
"Gabriel!!"
Tiba-tiba Luna langsung berlari dan memeluk Gabriel dengan erat sambil sesegukan karena menangis.
"Gabriel, kenapa Alder seperti itu? Dia bilang dia mencintaiku,” ucap Luna sedih.
Gabriel membalas pelukannya dan menenangkan Luna yang terus menangis, Niki sampai ingin memprotesnya tetapi di balik punggung Gabriel seperti mengatakan untuk tidak mendekatinya.
"Sudah sudah tidak perluh kau hiraukan si mata mawar itu. Aku akan menenangkanmu sampai kau berhenti menangis."
"Terima kasih Gabriel kau sangat baik."
Gabriel tersenyum manis sambil mengelus kepala Luna dengan lembut. "Jadi selamat tinggal."
"AAAAAAAAAH!!!!"
Tiba tiba saja sebuah lingkaran putih bercahaya menyeliputi bayangan itu. Alder pun langsung membantu Gabriel membuat warna lingkaran itu berubah menjadi merah.
"Kau bahkan lebih kejam dariku Gabriel," ucap Alder sambil menggerutu.
"Aku tidak akan segan-segan terhadap orang yang sudah menyiksa Lucy di dunia lain."
"Apa maksudmu Lucy tersiksa!?" teriak Niki.
"Biasanya ketika bayangan itu merasuki tubuh si korban, korban akan terus kesakitan seperti tertusuk 5 pedang dan dilempari sampah busuk dalam tubuhnya sampai bayangan yang didunia nyata sudah lenyap tertelan cahaya," jelas Gabriel, kini Niki duduk tak berdaya lagi mendengar hal itu.
"Hei cewek yang di sana!"
"Huh?" Niki menatap Alder yang berteriak memanggilnya.
"Lebih baik kau cepat cari Lucy di perdalaman hutan, para korban sebelumnya selalu ada di tempat yang jarang dikunjungi!" perintah Alder dengan keras.
__ADS_1
Niki bangkit dan menghapus air matanya, perasaan yang membara ini adalah keinginannya untuk menyelamatkan Lucy yang kini sedang tersiksa.
"Baik!" Niki berlari cepat menuju tempat korban.
"Sekarang dimana orang itu Gabriel!" kesal Alder karena sudah menunggu cukup lama.
Dengan wajah Gabriel yang tenang sambil menahan kekuatan kegelapan, ia menjawab, "bersabarlah Alder sekarang dia sudah ada di belakangmu."
"Apa!" kaget Alder sambil menoleh ke belakang.
Di balik bayangan bangunan, wajah tampan dari kelas 12-A kini terlihat, rambut coklat yang berterbangan serta tatapannya yang penuh amarah, memperlihatkan dirinya begitu banyak luka yang telah ia alami. Tangannya yang gemetar itu membawa bilah pisau yang tajam.
Saat ia memasuki lingkaran cahaya tersebut, satu kaki yang berpijak menbuat warna lingkaran itu seketika menjadi pelangi.
"Felix kau harus kuat menerimanya," kata Gabriel.
"Cepatlah sebelum ia menguasai kekuatan kami," ujar Alder.
Felix memenjamkan matanya lalu membukanya, ia berlari secepatnya dan melompat setinggi-tingginya sambil mengangkat pisau lalu mendarat tepat di jantung sang bayangan.
"Matilahh!" teriak Felix seperti mencurahkan rasa sakitnya pada tusukan itu.
"TIDAAAKK!" seketika kegelapan itu lenyap tertelan cahaya yang berasal dari pisau tersebut. Kegelapan itu telah menghilang bersamaan dengan cahaya yang dikeluarkan, mereka bertiga langsung terpuruk karena kelelahan.
***
(Di dunia ilusi)
"Nona aku mendapatkan ramuannya."
Pelayan Baron terkejut melihatku yang sudah tidak sadarkan diri, ia langsung melepaskan rantainya dan memangku kepalaku sembari menampar pipiku pelan dan memanggil namaku.
"Nona Lucy bangunlah. Nona!"
Perlahan mataku terbuka menampilkan sesosok pelayan dengan wajah yang begitu ketakutan, aku-pun langsung bangun dan pelayan itu segera memelukku dengan erat.
"Syukurlah anda terbangun."
"Pelayan Baron... aku ingin mengatakan sesuatu untuk terakhir kalinya."
"Iya Nona?" kepala pelayan itu mendekat padaku.
"Sebenarnya aku tidak ingat masa laluku dan kedua orang tuaku setelah tragedi yang tragis itu terjadi menimpa diriku yang di mana katanya itu adalah peristiwa teater berdarah. Jadi aku ingin kau meminta petunjuk soal peristiwa yang mengerikan itu. Kumohon."
Mata pelayan Baron itu terbelalak mendengar ucapanku dengan wajah polos seperti tidak mengerti apa-apa dari kejadian itu. Namanya juga hilang ingatan, kan?
"Nona... sebenarnya itu adalah sebuah kecelakaan ditengah kejadian pembunuhan secara massal," jelas pelayan Baron.
"Apa?"
"Tapi saya bersyukur nona selamat dari tragedi tersebut," senyuman pelayan itu melembut dan begitu tenang.
"Apa tuan Baron tau dimana orang tuaku?" tanyaku sambil berpikir.
"Nona...saya agak segan mengatakannya rasanya begitu berat untuk dikatakan."
"Tidak apa-apa, terima kasih, walaupun banyak sekali pertanyaan yang harus anda jawab sih, sepertinya waktu sudah siap mengantarku kembali ke dunia asalku, Hingga waktunya tidak cukup," kataku sambil berdiri tegap.
"Nona.."
"Iya?"
"Saya minta maaf sedalam dalamnya atas peristiwa yang telah menimpa Nona, karena saya tidak dapat menolong keluarga Nona tepat waktu," ucap pelayan Baron sambil menunduk hormat minta maaf
Aku diam tak menjawab, entah kenapa rasanya begitu sakit dan sangat sakit, bahkan aku tak dapat mengingat wajah orang tuaku karena ingatanku hilang.
"Sepertinya begitu berat untuk menerima hal ini, tetapi saya akan menerima jawaban Nona apa adanya," ucap pelayan Baron.
"Aku tidak akan memaafkanmu!"
Pelayan itu kaget lalu menjadi tenang, ia tetap menerima jawaban yang didapatkannya dari tuannya.
"Baik Non-"
"Sampai aku mengetahui kebenarannya," sambungku dengan senyum lepas tanpa beban.
Bahkan pelayan Baron tertegun melihat senyuman cerahku hingga dirinya mengeluarkan air matanya.
"Aku ingin pulang."
Air matanya semakin deras, aku membantu menghapus air mata yang tak harusnya jatuh untukku dengan tubuhku yang sudah transparan dan menghilang bagaikan kilauan yang berterbangan.
"Sampai jumpa pelayan Baron." pamitku.
"Selamat tinggal Nona." tangisnya menjadi pecah akan perpisahan yang begitu menyakitkan ini.
Tubuhku seolah melayang jauh di langit biru, rasanya seperti burung yang bebas dari sangkarnya. hingga seseorang memanggil namaku berkali-kali
"Lucy! Lucy!"
.....
"Terbanglah sejauh yang kau bisa, tertawalah selagi masih bisa dan berbahagialah selama kau bisa memilikinya."
__ADS_1