MENTARI TANPA EMOSI

MENTARI TANPA EMOSI
Rival


__ADS_3

"LUCY!"


Teriakan pagi yang bagus untuk ditampar mulutnya. Aku membuka mataku yang berat, disebabkan kurangnya jam tidur kemarin malam.


Aku mendengar langkah Niki mendekat dan ia mulai menggoyangkan tubuhku untuk bangun, tetapi tubuhku menolaknya.


"Bangun Lucy!!!"


"Apa sih! Ini hari libur, jangan ganggu aku!" ucapku sambil menepis tangan Niki dari tubuhku.


"Ouch! Ya ampun, kau ini susah banget kalau dibangunin! Hari ini kau bilang ingin menemaniku belanja! Saat ini lagi banyak diskon loh," ucap Niki seraya memarahiku.


"Aaahh~ malasnya, di sana adalah musuh bebuyutan anak introvert, pasti ramaikan? Aku tidak ikut," aku kembali mengambil posisi tidur yang enak.


Itu membuat Niki tambah marah dan kesal, ia menyeret baju belakangku seperti sebuah sampah yang berat dan melemparnya ke kamar mandi layaknya sebuah tong sampah.


"Aww sakit sakit."


"Cepat bersihkan diri atau barang diskonnya akan habis!!!"


Niki menutup pintu kamar mandi dengan keras dan hampir saja dirusak olehnya, aku tak bisa apa-apa lagi selain terkurung disini, lebih baik aku mandi daripada telingaku yang nantinya ditarik.


***


"Akhirnya musim panas datang!!!" teriak Niki dengan pakaian yang santai khas musim panas sambil menuju mall yang dipenuhi taburan diskon.


"Panasnya~" aku hanya mengibas-ngibaskan tangan karena disini hawanya benar benar panas, rasanya aku akan menjadi debu jika berlama lama di tempat pengap yang penuh keramaian. Untungnya aku memakai topi jerami berhias bunga matahari untuk menahan panas di wajahku.


"Pulang yuk~"


"Baru nyampe sudah ngeluh, ayo masuk!"


Niki menarik pergelangan tanganku dengan kuat dan hal paling buruk baru saja dimulai. Orang-orang yang gila akan diskon sedang mencari mangsa untuk dibawa pulang.


Mereka terlihat sangat ganas dibanding singa yang kelaparan, mata mereka berkobar seperti sedang mengadakan acara perlombaan, iya itu benar, acara perlombaan siapa cepat dapat barang diskon.


"Ayo Diskon 70% cepat dibeli keburu habis!! Tinggal 5 menit, AYO JANGAN SAMPAI KEHABISAN!!"


"DISKON!!"


Niki secara langsung melepas genggamanku dan berlari menuju tempat diskon yang sedang promosi tadi.


"Akhirnya aku bebas," aku memegang pergelanganku yang sakit.


Tak berselang lama, terasa ada sebuah getaran yang aneh, terdengar suara keramaian dari belakang, aku menoleh mencari tau apa yang terjadi.

__ADS_1


"Aaaa!! Gawat!!"


Sekumpulan emak-emak, berkerumun dan datang dengan rusuh seperti sedang berperang. Aku yang di lewati pasukan itu hanya tersenggol kesana kesini dengan tidak santai. Aku sempoyongan tidak karuan, dan parahnya aku terjebak di tengah tengah antrian, bodohnya aku kebingungan seperti anak hilang disana.


"NIKI!!!!"


***


Setelah kami berbelanja, Niki mentraktir ku Ice Cream Jumbo ala musim panas.


"Silahkan," ucap pelayan yang menaruh 2 ice cream cup jumbo tersebut.


"Waaahh kayaknya segar nih, ayo dimakan keburu meleleh," seru Niki yang puas dengan apa yang ia dapat setelah berbelanja. Sedangkan aku menggurutu tidak jelas sambil memakan ice cream rasa coklat yang penuh dengan topping warna warni.


"Habis ini kita mau kemana yak," pikir Niki sambil membayangkan hal yang menyenangkan, tetapi aku langsung nyelutuk cepat.


"Pulang."


"Iiiih minta pulang mulu kayak anak kecil, ayolah kita refresing dulu sebelum ujian sekolah datang~"


Aku menghela nafas panjang dan hanya bisa menuruti permintaan orang bawel ini.


"Memangnya kamu mau kemana lagi?" tanyaku.


"Ke Timezone yuk!!"


Niki mengangguk setuju. Aku melanjutkan makan ice cream yang manis ini sebelum meleleh.


"Eh? Lucy itu kamu?"


Aku menoleh ketika suara pemuda memanggil namaku, kemudian aku langsung meresponnya.


"Oh Ketua, apa kabar?" sapaku singkat.


"Aku baik, bagaimana denganmu?" tanyanya sembari tersenyum cerah padaku. "Seperti biasa," jawabku datar.


"Dan dia...?" Ketua kelasku menunjuk Niki yang diam dengan wajah merah, hmm mencurigakan.


"Dia Niki." ucapku memperkenalkannya.


"Oh hai Niki, senang bertemu denganmu, namaku Felix Ivander Wilson, saya adalah ketua kelas dari kelasnya Lucy, anda bisa memanggil saya Feli," ucapnya seraya memperkenalkan diri.


"I-iya se-senang bertemu denganmu juga, saya temannya Lucy," ucap Niki dengan agak gagap entah kenapa wajahnya seperti tomat segar yang baru saja dipetik dari kebun.


"Oh iya mumpung kita ketemu begini, kalian mau pergi ke timezone-kan?" tanya Felix.

__ADS_1


"Iya!" seru Niki dengan mata berbinar.


"Kalau begitu kita pergi bersama, oh iya tunggu temanku dulu yak, dia pergi beli minuman dulu," ucap Felix.


"Siapa?" tanyaku.


"Dia bukan teman sekelas kita tapi masih satu sekolah kok," jawabnya ramah.


"Oh."


Aku memandang wajah kagum Niki, ada apa dengannya? Tidak seperti biasanya wajahnya begitu, biasanya kalau ketemu cowok, ia berteriak atau tidak jaga jarak dan cuek sama cowok, tetapi dengan ketua kelas dia bertingkah sangat aneh.


Lalu gadis berambut pendek berwarna hijau dengan memakai jepitan pita warna pink datang dengan dua minuman di tangannya.


"Maaf ivan, lama yak, soalnya tadi aku ngan-tri !!??"


Ucapanya terpotong dan menatap kami seperti ingin mengatakan 'kenapa ada mereka disini?'


Tetapi aku tak mengenal gadis itu sama sekali, hmm kenapa yak hawanya tambah panas. Lebih panas daripada yang tadi.


Musim panas memang menyiksa diriku sih, tapi sepertinya ada yang lebih panas di sini.


Kenapa Niki menatap gadis itu dengan wajah yang ingin mengatakan 'tak bisa dipercaya, kenapa dia ada di sini!!!'


Sebenarnya aku merasa ada sebuah keanehan, seperti diantara mata mereka ada sebuah kilatan yang terhubung satu sama lain.


"Perkenalkan dia adalah teman tetanggaku, Namanya Sarah Amelia, dia kelas 12-C." Ucap Felix memperkenalkan temannya.


Oh jadi begitu....


"Niki, dia sekelas denganmu-kan?" ucapku sambil menunjuk gadis itu, seketika Niki panik dan kaget saat aku mengatakan itu.


"Eeehh! Kalian sekelas yak," seru Felix, ia begitu senang ketika menyadari keduanya ternyata sekelas.


"Ya sudah, karena sudah berkumpul bisakah kita langsung saja ke timezone," ujarku tanpa basa basi lagi.


"Oke, ayo!"


Sepanjang jalan Felix bicara kepadaku tentang masalah tugas dan acara yang mendatang nanti dan dua sejoli pendek itu ada dibelakang kami dengan tatapan saling tidak suka.


Sebenarnya mereka punya masalah apa sih? Apakah mereka selalu bertengkar? Apa yang mereka pertengkarkan saat ini? Mereka itu rival yak?


Pertanyaan selalu saja muncul dibenaku, padahal aku tidak mau tahu.


.....

__ADS_1


"Ini lebih panas daripada terik matahari, cara bicaramu yang jujur hingga melekat di lubuk hatiku, tetapi walaupun begitu aku tetap menyukai kejujuranmu itu."


__ADS_2