
Satu pelajaran lagi bel akan berbunyi untuk kepulangan kita. Seni budaya adalah pelajaran favoritku, selain gurunya yang menyenangkan adalah materi yang aku sukai secara keseluruhan, dari seni rupa, musik, tari dan lain sebagainya. “Diam semua! Guru seni budaya kita Pak Boby akan memasuki kelas 12-A.”
Seketika kami semua berdiri tegak dan menyambut kedatangan guru seni budaya yang disayangi.
‘Berasa nyambut sang raja,' batinku, yang menganggap semua kehormatan ini terlalu berlebihan.
“Beri salam!” perintah ketua kelas.
“Selamat siang Pak!”
“Selamat siang anak anak, silahkan duduk,” ucap Pak Boby ramah. Secara serempak kami duduk dengan rapih.
“Sebelum materi dimulai. Bapak ingin memberikan pengumuman terlebih dahulu.”
“Baik Pak,” sahut satu kelas.
“Sekolah Royalty akan mengadakan pentas campuran. Pentasnya berjudul gadis berkerudung merah. Jadi Bapak sudah memilih siapa saja yang akan menjadi perwakilan kelas sini.”
“Waah.”
Seluruh kelas menjadi berisik karena penasaran sekaligus deg degan takut terpilih.
“Oke dimohon untuk tetap tenang. Bapak akan menyebut namanya. Kelas ini ada 2 perwakilan saja. Lucy Aureista... ada?”
‘Mampus namaku disebut.’ aku mengangkat tanganku dengan keraguan.
“Ada yak, Lucy kamu jadi gadis berkerudung merah. Tokoh utamanya.”
“Waah selamat yak Lucy, kamu terpilih.” puji ketua kelas.
Satu kelas langsung menatap tajam padaku, seolah aku harus melakukannya dengan baik walau sifatku tidak sebaik gadis tokoh utama tersebut.
“Baik pak...” jawabku sedih.
“Dan perwakilan kedua, Noel William kamu akan menjadi Pemburu yak.”
Satu kelas menjerit suka dan mendukungnya Noel. Sungguh nasib yang berbeda denganku.
“Aku pasti akan menontonnya.”
__ADS_1
“Aku penasaran betapa kerennya Noel saat menjadi Pemburu.”
“Ganteng banget pasti.”
Pak Boby melanjutkan pembicaraannya, “nama yang disebut jangan pulang dulu, kalian harus pergi ke aula nanti.”
“Baik Pak.”
“Oke mari kita bahas materinya.”
Pelajaran seni budaya pun dimulai, tetapi aku masih kepikiran soal pentas campuran yang diumumkan tadi.
***
Hingga bel pulang berbunyi. Pak Boby pamit dalam pelajarannya. Satu kelas mengemas barang barang dan pulang ke rumah. Kecuali aku dan Noel yang harus pergi ke aula.
“Semangat yak kalian, semoga sukses latihan pentasnya.” kata Ketua sambil berlari keluar kelas.
“Ayo Lucy kita ke aula,” ajak Noel dengan senyum manisnya.
“Oke,” jawabku kecewa.
“LUCY!!”
Seorang Serigala ingin menerkam tubuhku tiba-tiba dan tiba-tiba saja Niki langsung menarikku hingga Serigala itu tersungkur ke lantai.
“Sakit.” ringisnya.
“Niki kamu juga kepilih?” tanyaku.
“Yup, untung saja aku menarik tubuhmu kalau tidak... Kau sudah diterkam oleh Serigala ini. Tidak, dia pantas disebut vampire,” jawab Niki.
“Alder jadi Serigala,” wajahku jadi pucat mendengarnya.
“Iya itu benar, aku akan memakanmu sebagai hidangan makan malam, Lucy,” ujar Alder menjulur lidahnya dengan sexy seolah ia sedang ingin memakan mangsanya.
“Oh iya kalau ketua OSIS sendiri, dia jadi apa?” tanya Noel.
“Dia jadi seorang Nenek,” jawab Niki.
__ADS_1
“Hah!!” wajahku tambah pucat mendengarnya. Hidupku terasa sial setelah kepilih ikut pentas campuran.
“Lucy... Kau baik-baik saja?” tanya Niki yang melihatku begitu lemas.
“Menurutmu aku terlihat baik-baik saja?” jawabku dengan wajah horror.
“Yaa.. kau harus terbiasa beradaptasi... Aku hanya seorang Ibu yang akan menasihatimu, wahai Tudung Merah,” ujar Niki dengan senyum ngeri melihat betapa seramnya diriku.
“Berisik, diam saja Ibu,” kataku.
“Dasar anak durhaka,” ucap Niki menahan emosi.
‘Prok prok prok’
Suara tepuk tangan tiga kali membuat perhatian kami terahlihkan.
“Sudah cukup, jangan ada yang berisik. Perkenalkan aku Narator cerita dari kelas 12-C namaku Tony selaku Bendahara OSIS. Hari ini kita akan memperkenalkan peran kita masing masing. Jadi mari kita saling kenalan dimulai dari sisi kanan sana. Sebutkan nama, kelas dan peran kalian.”
“Namaku Karin Lestari, kelas 12-B, berperan sebagai Nenek si tudung merah,” ucap Karin dilanjutkan oleh Alder.
“Namaku Alder Winston, 12-B, berperan sebagai Serigala.”
“Namaku Niki Terelia, 12-C, berperan sebagai Ibunya si tudung merah.”
“Namaku Lucy Aureista, 12-A, berperan sebagai gadis Si Tudung Merah.”
“Namaku Noel William, 12-A, berperan sebagai Pemburu.”
“Baiklah, karena kalian sudah saling berkenalan. Aku akan membagikan naskahnya.” ujar Tony yang turun dari panggung, lalu membagikan buku naskah pada pemeran tokoh cerita.
Saat aku membaca naskahnya. Oh ya ampun, apa yang harus aku katakan. Ceritanya tetap sama dan itu sangat membosankan. Selain itu sifatku berbeda dengan si tudung merah itu. Aku yakin kedepannya akan banyak kendala soal alur cerita ini. Kenapa? Pikirkanlah pemeran yang memiliki sifat asli masing masing. Hampir kebanyakan sifat mereka berbanding terbalik dengan tokoh cerita.
Niki dan Noel masih bisa di toleransi. Tetapi aku, Alder, dan si jutek itu memangnya masih bisa di ajak kerja sama. Tentu saja akan kacau, apalagi aku yang waktu itu punya masalah dengan ketua OSIS. Hancurlah fokusku sudah, sekarang saja ia sedang memperhatikan aku. Kau pikir aku ini artis yang harus kau perhatikan terus.
Sudahlah. Kita lihat saja kedepannya seperti apa. Oh iya belum lagi pemotretan untuk poster pentas. Gawat sih, soalnya aku tidak terbiasa di foto, Sad.
......
"Janganlah anda berbohong, karena hanya satu kebohongan saja membuat orang lain memutuskan hubunganmu."
__ADS_1