MENTARI TANPA EMOSI

MENTARI TANPA EMOSI
Pistol


__ADS_3

“Tak ada waktu lagi, kembalilah ke panggung.” ujar Tony yang bangkit dari tempat duduknya.


“Bagaimana dengan dramanya?” tanyaku yang sudah dilanda kepanikan.


Tony membenarkan kacamatannya lalu berkata, “semoga berutung.” sambil menunjukkan jari ibunya.


“Haaa!!”


‘Apa itu maksudnya? Apa aku harus menciptakan cerita lainnya agar cerita ini tetap lurus pada tujuannya. Bagaimana caranya!?’ aku menggeram kesal dalam hati, Sampai aku tak sadar naskah yang kubawa sudah lecek alias kusut.


Tiba-tiba Niki menggegam pundakku, “Lucy!” lantangnya.


“Apa?”


“Tetap semangat. Ibu pasti mendukungmu.”


“Kau bukan Ibuku!” kesalku.


“Sudah tidak ada waktu lagi cepat naiklah ke panggung,” ujar Karin yang sudah siap dengan kostumnya.


Ketika aku berjalan ke panggung, rekan-rekanku menaruh tangannya di dadanya. Seolah-olah aku akan dikorbankan dalam pentas ini.


‘Sialan, rasanya aku ingin bunuh diri saja atau tidak menghilang dari dunia ini.’ batinku.


Musik dinyalakan dan tirai merah-pun dibuka, suasana yang ditunggu oleh penonton yang begitu sangat penasaran dengan adegan berikutnya.


‘Aduh, apa yang harus kulakukan?’ batinku dengan keringat dingin di mana-mana.


“Si Tudung Merah melanjutkan perjalanannya ke rumah Neneknya, tetapi di sisi lain si serigala memiliki pikiran lain, jika dirinya berhasil membunuh Sang Nenek, maka dirinya bisa menculik Si Tudung Merah lalu membawa Si Tudung Merah pergi bersamanya sejauh jauhnya dari tempat itu. Seperti kawin lari.” ucap Narator dengan wajah yang begitu percaya diri.


“Oooouhh...” sahut penonton.


‘Waduh cerita macam apa itu Tony?!’ aku yang sedang memperagakan adegan cerita menjadi agak gemetar.


Tony menatapku seperti menyuruhku untuk tenang karena semuanya akan berjalan dengan baik hanya mengikuti arus ceritanya saja. Aku-pun mencoba untuk tenang dengan menghembuskan nafas.


“Hufft Serigala tadi cukup merepotkan juga. Aku cukup lega telah menghindarinya,” ucapku keluh kesah.


Narator-pun melanjutkan ceritanya.


“Serigala yang bersembunyi dibalik semak-semak akhirnya sampai dirumah Sang Nenek sebelum Si Tudung Merah tiba. Ketika Sang Serigala ingin keluar dari persembunyiannya, terlihat seorang Pemburu di depan rumah Sang Nenek. Membuat Sang Serigala mengurungkan niatnya dan lebih penasaran apa yang dilakukan Sang Pemburu di sana.”


“Apa yang sedang ia lakukan disana?” gumam Sang Serigala.


‘DUBRAK!’


Sang Pemburu langsung mendobrak pintu rumah Sang Nenek dengan sangat kencang. Membuat Sang Serigala terkejut dengan apa yang dilakukan Sang Pemburu.


“Lalu dari kejauhan terdengar suara langkah kecil, yaa sebentar lagi Si Tudung Merah akan segera tiba dirumah Neneknya. Sang Serigala menjadi panik karena ia punya firasat buruk terhadap Pemburu itu. Kini ia bingung apa yang harus ia lakukan,” ucap Narator.


‘Tok tok tok’


“Nenek aku datang untuk menjengukmu!” teriakku dari luar pintu.


“Silahkan masuk sayang...” sahut yang diseberang pintu.


“Si Tudung Merah awalnya agak curiga dengan suara Neneknya yang semakin serak nan berat, tetapi ia berpikir positif saja karena itu efek neneknya sakit.” kata Narator.


“Gawat dia masuk.” Serigala mulai berdiri dari tempat persembunyiannya.


Si Tudung Merah memasuki ruangan gelap tersebut, alangkah terkejutnya aku melihat Nenek sedang disandera oleh Sang Pemburu yang jahat.

__ADS_1


“Apa yang kau lakukan padanya?” tanyaku memberanikan diri.


“Sesuai rencanaku kalau kau akan masuk kedalam jebakanku, hahahaha,” seru sang pemburu yang merasa puas dengan rencananya yang berhasil.


“Apa yang kau inginkan dari Nenekku?” “Harta dan juga wanita!!”


“Wuah ternyata kau rakus juga yak,” seruku dengan perempatan di dahi. “Cepat serahkan dirimu atau nenekmu akan mati ditanganku,” ancam Sang Pemburu.


“Cih, apa yang harus kulakukan? Dia membawa senjata api ditangannya,” gumamku.


“Kalau kau masih tidak menyetujuinya, aku akan memaksamu untuk ikut denganku.”


Pemburu tersebut mengambil tanganku dengan kasar, tetapi aku berusaha untuk melawannya.


“Lepaskan!” ringisku.


“Tidak akan!”


‘GUMPRANG!’


Tiba-tiba saja ada seseorang menerobos lewat jendela padahal ada pintu terbuka lebar di sampingnya. Itu adalah Sang Serigala, ia segera menyakar Sang Pemburu.


“Lepaskan dia!” teriak Sang Serigala.


Pemburu tersebut reflek melepaskan tangan Si Tudung Merah untuk menghindari serangan si Serigala.


“Kenapa kau ada disini? Bukankah sudah kusuruh untuk tetap di hutan?” kesalku.


“Hey sekarang lihatkan apa yang telah terjadi padamu, walaupun baru ditinggal beberapa menit. Aku ini memiliki insting yang kuat untuk melindungimu,” balasan Sang Serigala membuat Si Tudung Merah hampir tersanjung.


Tetapi tidak pakai lama lagi Sang Pemburu cepat-cepat menembakkan pelurunya ke arah Serigala yang buas itu.


‘DOR!’


“Tidak!”


“Cepat lepaskan nenekmu!” suruh Serigala.


“Tapi...bagaimana dengan luka di lengan tanganmu?”


“Jangan pikirkan aku! Cepat lakukan... Arrgh aku tak bisa menahannya lebih lama lagi!”


Lalu Si Tudung Merah buru-buru membebaskan Neneknya yang dikurung di lemari. Tetapi Neneknya tiba-tiba menolak untuk dibebaskan, karena....


“Tidak, aku akan ikut dengan Si Pemburu itu,” tolak Sang Nenek, membuat Si Tudung Merah kicep di tempat.


“Jadi Nenek lebih memilih dia, kenapa Nek? Apa alasannya?” tanyaku dengan nada panik.


“Karena dia sangat tampan. Nenek jatuh cinta padanya!” semangat Sang Nenek.


Si Tudung Merah hanya terdiam, kecewa, sedih, dan kesal karena sia-sia saja menyelamatkan sang nenek padahal ada yang lebih penting untuk diselamatkan saat ini.


Si Tudung Merah mengambil isi dari keranjang yang ia bawa. Lalu berkata...


“Aku benci Nenek.”


‘DOR!’


Si Pemburu dan Sang Serigala terkejut di tempat melihat darah berceceran di mana-mana serta bercak darah yang terlukis di dinding yang terbuat dari kayu.


Ya, Si Tudung Merah menembak Neneknya sendiri, wajahnya menjadi suram dan seram seperti dirinya telah dimakan oleh kegelapan.

__ADS_1


Sang pemburu yang melihat kejadian tersebut tidak tinggal diam. “Hey apa yang kau lakukan pada sandera--aarghh!”


Lagi-lagi Si Tudung Merah menembak Sang Pemburu tepat di dadanya yang membuatnya langsung jatuh mati.


Sang Serigala jadi tidak berkutik dari tempatnya, ia langsung keringat dingin di tempat.


“Apa kau membenciku yang seperti ini?” tanya Si Tudung Merah tiba-tiba.


Membuat Sang Serigala jadi senam jantung. “Tentu tidak.”


“Kalau begitu bawa aku bersamamu, sejauh-jauhnya dari tempat ini, aku tidak mau ibu melihat keadaanku yang seperti ini, lagipula tempat ini sudah tidak aman lagi untuk kupijak. Mereka akan mengejarku seperti rentenir.” ujar Si Tudung Merah.


“Baik!”


“Sebelum kita pergi... Aku ingin menaburkan beberapa bunga yang kupetik tadi.”


“Iya.”


Si Tudung Merah-pun menyebarkan bunga-bunga di atas kedua mayat yang dipenuhi darah tersebut.


“Ingatlah kejadian tadi, peristiwa ini dinamakan bunga berdarah.”


Sekilas ada yang terbesit di ingatanku selepas mengatakan ‘bunga berdarah.’


kepalaku sakit tetapi aku menahannya agar pentas ini berjalan lancar. “Lucy, kau tidak apa-apa?” bisik Alder.


“Aku baik.” balasku berbohong.


***


Mereka berdoa atas arwah kedua orang tersebut, lalu pergi meninggalkan tempat itu.


“Sang Serigala nampak begitu bahagia karena ia akan pergi bersama dengan Si Tudung Merah dan Si Tudung Merah sendiri hanya memasang muka datarnya seperti biasa. Inilah kisah akhir dari Si Tudung Merah dan Serigala, selesai...”


Para penonton-pun bertepuk tangan ria atas pentas yang luar biasa ini.


Tirai merah tertutup, tak lama kemudian terbuka lagi menampilkan semua karakter serta narator berjejer dipanggung dan mengucapkan salam terima kasih untuk penutupan.


Hal tersebut membuat penonton harus berdiri dan bertepuk tangan atas partisipasi dari pentas tersebut.


***


Di belakang panggung, kami semua berkumpul dan saling berpelukan karena pentasnya selesai dengan sukses.


“Terima kasih untuk kerja keras kalian, tanpa kalian pentas ini tidak akan berjalan lancar. Kalian semua bisa bernafas lega karena semuanya sudah selesai,” ujar Tony selaku author dan narator.


“Terima kasih juga untuk karya hebatmu Tony, tanpa ceritamu, semua penonton tidak akan semeriah ini!” puji Karin sambil merangkul Tony.


“Haha terima kasih ketua.” balas Tony sambil membenarkan kacamatanya.


“Katanya wali kelas kita akan mentraktir kita makan loh!” ujar Alder sambil melepas jaket serigala.


“Kalau begitu...ayo kita rayakan keseruan ini!” seru Niki yang mulai semangat.


“Ayo!” seru semuanya.


Melihat semuanya senang membuat hatiku menjadi hangat, aku hampir tak merasakan kehangatan kebersamaan ini. Ternyata ini tak seburuk apa yang kupikirkan. Apakah ini yang dinamakan hasil dari kerja keras?


....


“Ketika kita putus asa dan hampir menyerah, kita tetap harus melakukan yang terbaik dan terus bangkit walaupun terus terjatuh. Karena keberhasilan itu adalah dari sebuah pengalaman kita selama proses jatuh bangunnya tersebut.”

__ADS_1


__ADS_2