
Ia mengedipkan mata lentiknya padaku, sepertinya dia ingin bertanya siapakah aku?
Karena kami berdua sama-sama canggung dan membisu ditempat, aku menyapanya sebagai pembuka topik.
"Hai... Siapa namamu?" tanyaku canggung.
"Namaku Gabriel Alexander, panggil aku Gabriel, apakah kamu adalah korban tusuk itu?" tanyanya padaku.
"Iya benar. Bagaimana kau tau?"
Kemudian ia menutup tirainya sedikit dan hanya terlihat wajahnya saja, lalu ia menghembuskan nafas hangatnya dan kembali berbaring dengan meremas baju didadanya.
"Aku kelas 12-B, aku satu sekolah denganmu," ujarnya sembari tersenyum sambil meratapi langit langit dinding.
"Apa yang membuatmu berada disini, memangnya kau sakit apa?" tanyaku penasaran.
"Menurutmu aku seperti menderita apa?"
Gabriel malah mengembalikan pertanyaanku.
Aku diam tak berani menjawab apa yang sedang kupikirkan sekarang. Aku menelan ludahku sendiri dan ikut melihat langit langit dinding.
"Hahaha kau pasti mengira aku albino yak?" tawa Gabriel. Hatiku tertampar keras mendengar itu.
"Apakah itu benar?" tanyaku kembali.
"Tentu saja tidak, aku mengidap sindrom Waardenburg tipe 2," jawabnya dengan senyum yang masih terpapang di wajahnya.
__ADS_1
"Oh," jawabku singkat.
"Jangan berbohong, kau pasti tidak tau Sindrom ini!?" ucap Gabriel dengan mengerutkan alisnya padaku.
"Iya aku tidak pernah mendengarnya," jawabku dengan ekspresi datar.
"Baiklah, biar aku jelaskan!" seru Gabriel dengan mengangkat kedua tangannya pada langit langit atap.
"Sindrom Waardenburg adalah penyakit langka yang menyebabkan gangguan pendengaran, perubahan warna mata, kulit, rambut, dan bentuk wajah. Orang dengan kondisi ini biasanya memiliki dua warna di matanya. Ciri lain adalah rambut putih atau abu-abu alami. Sindrom ini terdiri dari 4 tipe, aku akan menjelaskan tipe 2 saja yang lainnya kau cari di internet yak, tipe 2 menyebabkan kehilangan pendengaran lebih sering dibandingkan tipe 1. Gejala-gejalanya mirip dengan tipe 1, termasuk perubahan pigmen rambut, kulit, dan mata. Namun, tidak ada ruang besar di antara mata." Jelasnya bersemangat.
"Terima kasih informasinya.”
‘Padahal tipe 1 saja belum dijelaskan, mungkin memang harus cari di internet.’ ucapku dalam hati.
"Iya sama-sama, walaupun aku mengalami gangguan pendengaran, aku akhirnya bisa mendengar dengan baik menggunakan alat bantu pendengaran," ujarnya senang.
"Begitu yak, aku kira yang masuk kesini adalah seorang malaikat yang ingin mencabut nyawaku," celetus diriku.
Kemudian aku menarik selimut hingga menutupi hidungku dan berkata. "Tidak... Sebenarnya aku jatuh cinta pada malaikat maut..."
"!!!!????"
Gabriel melongo mendengar pernyataanku. Butuh waktu lama untuk mencerna isi pikiranku yang aneh.
"Tunggu. Apakah aku salah dengar? Sepertinya alat bantu ini tidak berfungsi dengan baik yak? Hahaha," ucapnya disertai senyuman polos.
"Kau tidak salah dengar kok."
__ADS_1
"Kau tidak punya gangguan Skizofrenia, kan?" tanyanya dengan keringat dingin yang mulai mengalir.
"Tidak. Kalau punya memangnya kenapa?"
"Bahaya saja, kalau kau berhalusinasi tentang malaikat maut," ucapnya dengan senyum merinding.
"Jika kau ingin bunuh diri hubungi aku yak, nanti kita bunuh diri bareng- bareng."
"!!!!??"
Gabriel tambah melongo mendengar ajakanku yang baginya terdengar mencengangkan.
"Apa kau perluh pemeriksaan psikolog?" ujarnya yang bersiap menelepon psikiater.
"Tidak perlu, beberapa minggu yang lalu aku sudah kesana," jawabku yang membalikkan posisi badan berlawanan dengan Gabriel.
"Jika kau punya masalah, kau bisa curhat padaku karena kita sekarang satu kamar," ucapnya ramah.
Aku diam tak menjawab dan hanya menarik selimutku menutupi tubuhku yang menggigil.
"Aku juga tidak akan berbuat macam macam padamu. Jadi tidurlah dengan tenang. Selamat malam."
Ucapan itu terdengar hangat di telingaku, dia tampan dan nampak indah. Dia ramah, ceria, dan lembut pada seseorang. Aku baru saja mengenalnya dan aku juga tidak bisa mempercayainya dengan mudah.
Mampukah aku bertahan dikamar ini dengan aman, mampukah aku menahan emosi ketika ia mengangguku. Aku hanya takut. Karena ini pertama kalinya aku sekamar dengan cowok.
Yang paling penting, apakah ia mampu menerima diriku yang aneh ini?
__ADS_1
....
"Sindrom yang paling aku takutkan adalah sindrom mencitaimu."