
Kami berdiskusi untuk mencari jalan keluar agar bisa menangkap Pelaku dan membebaskan Sandera dengan aman.
“Aku akan menelepon semua bodyguardku, barangkali mereka membantu kita dalam rencana ini,” ucap Alder yang mencari kontak tim ketua bodyguardnya.
Setelah Alder sudah menelepon tim bodyguardnya untuk menolong kami dengan cepat. Kami langsung bergegas menjalankan rencananya.
“Baiklah, ayo lewat belakang sekolah saja,” ajak Alder.
Aku mengangguk setuju dan ikut dibelakang Alder. Kami langsung berlari ke belakang sekolah Royalty.
“Apa kita benar-benar memanjat pagar? Aku masih tidak terbiasa memanjat,” ujarku yang agak kerepotan dengan tembok pagar tinggi tersebut.
“Tenang saja saat aku di atas kau bisa pegang tanganku, baiklah ayo mulai.” Alder dengan gesitnya memanjak tembok pagar tersebut dengan mudah.
“Ayo, sekarang giliranmu.” Alder langsung mengulurkan tangannya.
Aku pun menggapainya dan perlahan menaikkan kakiku. Kami berdua mendarat diatas rerumputan, ini masih belum berakhir, kami harus melewati jalan sempit hingga menuju ke ventilasi.
Saat kami sudah sampai di tempat selajutnya, ternyata ventilasinya cukup tinggi.
“Kali ini lebih tinggi,” ujarku yang tak menyangka akan memanjat lagi.
“Tunggu disini,” kata Alder,
Tiba-tiba saja di tempat sempit ia langsung parkur dengan kakinya ke kanan dan ke kiri di antar kedua tembok.
“Hebat ”
Alder langsung membuka tutup ventilasi dan langsung masuk kedalamnya, lagi-lagi ia mengulurkan tangannya padaku.
“Ayo.”
Aku langsung menerimanya dan berusaha untuk naik ke atas juga. Kami harus merangkak ke depan di jalan yang sangat sempit ini.
Di celah-celah penutup ventilasi terlihat ada seorang wanita perokok dan pria yang nampak seperti asistennya sedang seperti mengintrogasi seseorang.
“Dengan siapa kau berbicara tadi!?” pertanyaan tegas dari Wanita itu menggemparkan Sang Penjawab.
“Ti-tidak ada.. Aku berbicara sendiri tadi.”
‘Suara ini!?’ Aku dan Alder berpikiran sama dengan suara ini.
“Hah! Jangan bohong kau, tadi kau sedang seperti menelepon seseorang, kan?” kaki jejang Wanita itu tiba-tiba menerjang paha anak tersebut dengan dalam. Memberikan rasa sakit pada anak yang terikat oleh tali di kursi yang agak rapuh tersebut.
“AAAAAHH! Hentikan! Itu sakit!” jeritnya.
‘TONY!’
“Ayo cepat.” bisik Alder.
Lalu kami kembali merangkak ke depan, kami bukannya tidak peduli dengan Tony, justru kami harus mencari jalan keluar agar Tony dan yang lainnya selamat. Setelah kami berada tepat di ventilasi gedung aula, kami melihat banyak murid yang diikat secara berkelompok, raut wajah mereka seperti sudah putus asa, sedih, ketakutan dan pasrah.
Dan beberapa penjaga yang diluar dan didalam aula berkeliling ruangan untuk mengawasi adanya penyusup. Aku tidak tau apakah Para Polisi sudah sampai atau belum. Harusnya jaraknya tidak terlalu jauh dari sekolah Royalty. Mereka pasti akan datang secepat mungkin.
“Bagaimana? Apa kalian sudah di depan?” tanya Alder lewat telepon ponselnya.
“Sudah Tuan. Kami sudah siap.”
“Bagus, cepat masuk dan bilang ada penyusup di sebelah barat. Pokoknya semua pengawal disini harus pergi dari ruang aula dan gudang, setelah itu kalian taukan harus apa?” ucap Alder dengan suara pelan.
“Tentu saja menyekap mereka di dalam UKS hingga Polisi datang.”
“Bagus, lakukan sesuai rencana.”
“Baik.”
Setelah beberapa saat ada pengawal yang memberitahu adanya penyusup di bagian barat sekolah, pengawal tersebut adalah bodyguard yang disewa alder. Yang benar saja semua pengawal dari perusahaan wizzy pergi semua tanpa memikirkan untuk mengawali setidaknya satu orang di aula ini, itu artinya rencana kami berjalan lancar.
“Oke Lucy disini kita akan berpisah, aku akan melangkah maju ke gudang dan kau harus cepat mengeluarkan mereka secepatnya ke belakang sekolah dan suruh mereka memanjat pagar tembok. Oke.”
“Baik.”
Aku segera membuka tutup ventilasi dan melompat dari berbagai meja dan lemari. Dan saat itu tatapan mereka tertuju padaku, aku segera mengeluarkan pisau dari tas kecilku. Lalu memotong tali mereka yang mengikat, aku juga memberikan yang lain alat tajam agar yang lain bisa melepaskan diri dengan cepat dan tidak memakan waktu yang lama.
“Terima kasih banyak yak kamu.”
“Sama-sama, tapi sebelum kalian keluar dari aula, aku ingin bilang sesuatu.”
“Apa?”
“Saat kita keluar, jangan lewat jalan utama tetapi lewat belakang sekolah, di depan sana ada bodyguardnya Alder, dia akan membimbing kita untuk keluar.”
“Tenang saja, kita tak perluh lompat tembok pagar, karena saya memiliki kuncinya,” seorang wanita berkonde dengan kacamata hitamnya memamerkan kunci emas di tangannya.
“Syukurlah, kalau begitu mari bergegas,” ajakku.
“Bagaimana dengan yang lain? mereka bilang ada yang disekap di gudang juga?”
“Tenang saja ada Alder yang akan menyelamatkan mereka,” jawabku.
“Syukurlah, aku harap semuanya bisa diselamatkan dan sekali lagi saya
selaku ketua OSIS mewakili semua murid disini berterima kasih padamu,” ujar gadis berambut abu abu bergelombang, Karin.
“Tidak masalah, ayo cepat kita harus pergi dari tempat ini.”
‘Tring, tring’
Ponselku berbunyi, panggilan dari Polisi tadi. Aku cepat-cepat mengangkatnya. “Hallo kami dari pihak kepolisian, sesuai laporanmu, kami sudah mengepung seluruh sekolah dan kami juga sudah menerobos pagar depan.”
“Syukurlah, kami akan segera keluar lewat pagar belakang,” balasku cepat.
__ADS_1
“Tentu saja kami ada di sana, cepatlah datang.”
“Baik."
Kami langsung berlari ke pagar belakang, sayangnya di tengah jalan kami malah dihadang oleh Wanita perokok beserta pasukannya membawa senapan.
Pupil mata kami seketika mengecil ketika seseorang berkacamata kini dijadikan sandera oleh mereka.
“Tony!” teriak Karin, karin ingin berlari menyelamatkannya akan tetapi... Senapan disodongkan ke kepala Tony, membuat posisi kami semakin terancam. Dan langkah Karin langsung berhenti di saat itu juga.
“Jika teman kalian ingin selamat, kembalilah kedalam sana dan jangan coba coba untuk melarikan diri lagi!” perintah dari wanita itu membuat cahaya dalam hati kami menjadi redup kembali.
“Ang~~kat tangan kalian~”
“Hah!”
Seketika juga mereka langsung mengangkat tangan mereka, raut wajah mereka berubah menjadi ketakutan. Seolah suara itu sudah menjadi masa trauma mereka.
“Taruh senapan-nya juga dong~”
Semua pengawalnya satu persatu menaruhnya di tanah.
“Semuanya balik badan~”
Para penjahat itu secara kompak memutar balik tubuhnya.
“Apakah kita perluh balik badan?” tanya gadis berambut kribo pada teman terdekatnya.
“Kau mau masuk penjara yak.”
“A-ah tentu saja tidak!”
Aku tidak bisa melihat wajah yang bersuara itu tadi, karena tertutup badan pengawal yang besar dan tinggi seperti tiang listrik.
Lalu tak lama kemudian rombongan Alder yang dari gudang akhirnya sampai juga dengan selamat sentosa.
“Wuaahh akhirnya mereka tertangkap juga. Aku tidak menyangka akan secepat ini,” ujar Alder padaku.
“Iya...aku cukup lega kalau ini semua berakhir,” ucapku bersyukur.
Tiba-tiba saja Alder berdiri di depanku menghalangi pandanganku, ia menunduk dan mendekatkan wajahnya padaku dengan jaring teluntuk yang berada di depan mulutnya.
“Itu artinya tempat itu tetap menjadi rahasia kita berdua.”
Aku terbengong kesekian kalinya, aku baru saja menyadari kalau tempat itu tidak jadi menjadi tempat perlindungan.
“Eeehh~ tempat rahasia apa itu?” tiba-tiba si rambut merah menyela jarak kami.
“Rahasia yaa rahasia...kalau diungkapkan itu namanya bukan rahasia.”
“Tetap saja rahasia pastinya akan segera terungkap, iya kan Tuan Alex?”
“Yup itu benar.”
Para pelaku sudah diborgol dan masuk kedalam mobil polisi. Lalu Polwan bernama Siska datang menyusul pada kami dengan membawa sesuatu.
“Terima kasih sudah memberitahu polisi tentang kejadian ini, karena kalian berdua sudah berjasa menyelamatkan sekolah ini, saya akan memberikan pin emas sebagai penghargaan. Lucy, Alder, terimalah penghargaan ini.”
Siska memasangkan pin emas itu di baju kami masing-masing dan tak lama kemudian suara tepuk tangan dan sorakan bahagia terdengar di telingaku. Aku tercengang sedikit dan tidak menyangka melihat kami dengan wajah yang bahagia. Gabriel, Felix dan Sarah langsung mengerumuniku.
“Lucy apa kau baik-baik saja?” tanya Felix tiba-tiba.
“Apa ada yang terluka Lucy?” tanya Gabriel yang juga secara tiba-tiba.
“Aku membawa obat P3K, jika kau terluka katakanlah,” ucap Sarah yang membawa alat medis di tangannya.
“Eh ya ampun... kalian tidak ada yang menanyai keadaaanku apa? Padahal aku juga ikut berkorban,” kesal Alder karena ia satu-satunya orang yang tidak diperdulikan oleh temannya sendiri.
“Sabar yak Alder, terima kasih sudah menanggapi permintaanku tadi,” ucap Tony yang menepuk punggung Alder.
“Tony~ kau teman terbaikku,” ujar Alder terharu sambil mengusap air matanya.
“Lucy kakimu berdarah,” ujar Niki yang menunjuk jarinya pada kaki kananku.
“Aah..aku tidak menyadarinya, sepertinya ini tergores ketika aku lompat dari ventilasi.”
Gabriel langsung menyela posisi dan memakai sarung tangan medis.
“Biar aku saja yang mengobatinya, kalau dibiarkan nanti bisa menjadi infeksi.”
Sarah langsung membuka kotak P3K dan memberikan beberapa obat kepada Gabriel. Gabriel dengan hati-hati mengobati lukaku. Jujur saja kalau langsung menyadari adanya luka biasanya langsung agak perih.
“Sudah selesai, apa kau bisa berjalan?” tanya Gabriel dengan senyum manisnya.
“Bisa kok,” balasku dengan senang.
“Apa kau mau kugedong lagi Lucy?” seru Alder.
“Ti-tidak perluh.”
“Anak-anak karena selepas dari kejadian ini, diharapkan untuk pulang ke rumah masing-masing, bagi yang masih di jemput diharapkan untuk tetap berada di sekolah sampai orang tua kalian menjemput kalian, bagi yang tidak ada jemputan tetap hati hati dijalan dan tidak mampir kemana-mana. Paham?” ucap Ibu Kepala Sekolah.
“Paham bu~” sahut Para Murid.
Selepas dari kejadian ini semua murid pulang ke rumahnya masing-masing, aku dan Niki pulang bersama menaiki mobil milik Noel tentu saja Noel yang menawarkan kami untuk pulang bersama agar tetap aman.
“Aku senang kita semua selamat,” seru Noel.
“Iya ini berkat kamu dan Alder, kita semua selamat, aku tidak menyangka kau punya hati untuk menyelamatkan kami Lucy.”
“Aku juga tidak tau mengapa aku melakukan ini, tapi ketika kalian dalam bahaya hatiku benar benar seperti tersiksa, entah kenapa hari-hariku tanpa kalian tidak seperti biasanya. Menurutmu perasaan apa ini, Niki?” tanyaku yang mendekatkan wajahku padanya. Tiba tiba saja wajah Niki menjadi bingung.
__ADS_1
“Hemm- itu bagus, itu artinya kamu bahagia bersama kami.”
Mataku seketika berbinar mendengar itu, pipiku agak merona mendengar hal tersebut. apa ini rasanya senang?
“Dan kau juga berubah menjadi lebih baik, kau yang sekarang ini lebih banyak tersenyum daripada biasanya. Itu tandanya kami membawa perubahan baik padamu,” ucap Niki, sekali lagi dia membuat hatiku bedebar-debar dengan rasa pujian tersebut.
‘Sepertinya itu benar, aku tidak bisa kehilangan kalian saat ini.’
Mobil berhenti di depan rumahku, aku tidak menyangka akan secepat ini berpisah dari kalian. Aku langsung turun dari mobil dan berterima kasih pada mereka sudah memberikan tumpangan padaku.
Aku mengucapkan selamat tinggal pada mereka kemudian mobil tersebut kembali melaju menjauh dariku. Udara hari ini cukup segar, banyak orang yang berlalu lalang di seberang jalan sana, tetapi diantara orang-orang yang berlalu lalang, ada seorang pria dengan jas dan topi hitam menampakkan diri di samping tiang lampu, seperti sedang memperhatikanku.
Dan saat ada orang yang melewati didepannya, orang aneh itu menghilang tiba-tiba. Aku yang melihat kejadian itu cukup terkejut, aku cepat-cepat berlari ke dalam rumah dan menutup pintu rapat-rapat. Dengan rasa kagetku aku masih besandar dibalik pintu.
Jujur saja aku takut, karena orang itu sangat mencurigakan. “Apa aku baru saja melihat hantu atau..?” gumamku tidak jelas.
‘Tok, tok, tok’
Bunyi pintu langsung terdengar, dengan suara gemetar aku bertanya pada sosok dibalik pintu tersebut.
“Siapa itu!?”
Hening....
Sunyi....
‘Tok tok tok’
Hanya suara ketukan kembali, sosok itu membuatku semakin takut. Aku tidak mau membuka pintunya, walau aku begitu sangat penasaran siapa orang yang mengetuk itu.
“Katakan siapa kamu?” ucapku dengan suara latang. Dia tidak menjawabnya sama sekali, tapi...
‘Sreeet’
Amplop putih keluar dari celah bawah pintu, aku mengambil surat tersebut dan membacanya.
‘Jika kau ingin tau kebenaran dan mendapatkan kembali ingatanmu, pergilah ke kantor polisi dan ucapkan nama Tuan Baron.’
Aku mengerutkan alisku.
‘Tuan Baron? Bukankah dia adalah kepala pelayan yang menjagaku!?’
Aku tanpa pikir panjang langsung membuka pintu berharap sosok itu dapat menjelaskan apa yang dimaksud dengan Tuan Baron. Aku tidak peduli seperti apa sosok misterius itu asalkan ia menjelaskan semua yang ia tulis disini, akan tetapi Dia sudah menghilang.
Aku melihat isi surat itu lagi dan mulai bertanya-tanya. “Apa maksudnya ini?”
....
“Setiap manusia memiliki pintunya masing-masing tergantung mana ia pilih untuk dibukakan hatinya."
....
Bonus :
Adegan Lucy menelepon polisi :
“Baiklah aku akan menelepon polisi.” ucapku yang mengetik nomor polisi dengan cepat. Aku langsung menunggu mereka untuk mengangkat teleponnya.
Masih Berdering...
Berdering....
Berdering...
“Hallo?”
‘Haaa akhirnya diangkat.’ aku besyukur dengan tangan yang agak gemetar, karena aku hampir tidak pernah menelepon Polisi sebelumnya.
“Tolong! ini keadaan darurat, ekolah Royalty dalam bahaya. Semua murid diculik sekarang, mereka berada didalam gudang dan di gedung aula, apa Polisi bisa datang ke sekolah Royalty sekarang?” ujarku memberi laporan.
“Lohh sepertinya aku pernah mendengar suara ini sebelumnya, tapi siapa yak?”
“Eh?”
‘Haa? Apa aku salah sambung?’ batinku dengan panik.
“Haha tenang saja, kamu tidak salah sambung kok. Benar ini dari pihak polisi, tapi aku adalah detektif--”
“Tuan Alex!”
Alder tersontak kaget, tiba-tiba aku berteriak, karena aku ingat suara sok hebat itu.
“Ini aku Lucy!”
“Ooh aku ingat sekarang... Si gadis senja yak. Kami bisa menolongmu kok, aku dan pasukan polisi akan segera berangkat. Tenang saja kami akan menyelamatkan temanmu,” ucap Alex dari seberang telepon.
“Terima kasih banyak Tuan Alex.”
“Yoo, sampai ketemu lagi Lucy.”
‘Tit’
Kami menutup teleponnya secara bersamaan. “Apa itu kenalanmu?” tanya Alder.
“Iya tadi itu adalah detektif Alex, dia bergabung dalam pihak kepolisian.
Tenang saja mereka akan datang sesegera mungkin,” balasku.
“Hebat, bahkan Lucy punya kenalan dengan detektif dari pihak kepolisian. Apakah aku juga harus membangun komunikasi dengan agen dan mata-mata yak?” Pikir Alder.
“Hemm sepertinya kau tidak perluh berlebihan begitu.”
__ADS_1
....