MENTARI TANPA EMOSI

MENTARI TANPA EMOSI
Klasik


__ADS_3

Tony : “Jangan lupa hari senin kita latihan sepulang sekolah yak, jangan lupa dibaca naskahnya.”


Satu pesan dari grup drama pentas, membuatku enggan membuka chatting. Aku membaca baik baik dialog peranku, gadis lugu dan polos. Sekalinya ditipu ia tidak percaya lagi pada orang itu. Serigala itu persis seperti Alder, seharusnya si tudung merah melakukan tindakan yang lebih memuaskan pembaca.


Niki : “Lucy... Latihan hari sabtu bareng Noel yuk. Harus yak, soalnya kalau tidak diajak kamu bakalan tidak niat ikut pentasnya. OK. Besok aku datang ke rumahmu jam 9 pagi.”


Ditambah pemaksaan seorang teman. Apa yang harus kulakukan ketika aku mulai tak tertarik dengan cerita ini? Yaa aku harus memaksa diriku untuk menyukainya. Cerita ini cukup menarik saat aku masih anak kecil, aku berhalusinasi lebih dan lebih. Bahwa aku bisa melindungi diriku dari serigala itu tanpa membutuhkan pemburu. Dongeng malam itu selalu diceritakan oleh kepala pel--


“Aaargh!” kepalaku mendadak sakit. Aku hampir terjatuh tapi untungnya aku berpegangan pada meja kerjaku.


Apa itu tadi? Kepalaku pusing secara mendadak. Aku mencoba untuk berdiri dengan baik. Jelas sekali aku merasakan sakit sekilas itu.


“Aku harus istirahat.”


Aku membanting tubuhku pada kasur di dekatku. Takut kalau tubuhku sakit disaat latihan atau pentas nanti. Menjaga tubuh seharusnya tak terpikirkan olehku saat aku menginginkan kematian. Hanya saja saat ini berbeda aku harus mengikutinya maunya sekolah, jika aku terpilih sepenting itu.


***


Pagi baru tiba, hari sabtu cerah menunggu kehadiranku. Walau aku tidak suka keluar rumah, aku harus siap-siap untuk latihan.


Pukul 9:10 AM


“Lucy!! kamu didalam!” teriak Niki dari luar.


“Masuk saja!” sahutku dari dalam.


Niki melepaskan sepatunya dan berjalan menuju dapur melihatku masih sarapan. Niki hanya berkacak pinggang dan menaikkan satu alisnya.


“Kamu belum siap?”


“Sebentar lagi mau habis kok, duduk saja dulu,” suruhku yang masih lahap memakan sarapanku.


“Apa kamu sudah membaca naskahnya?” Aku hanya mengangguk ‘sudah’


“Good.”


Setelah aku menghabiskan sarapanku. Kami berdua bergegas untuk pergi ke rumah Noel. Karena mansion Noel memiliki ruangan kedap suara, jadi kami akan memanfaatkan tempat itu untuk latihan pentas.


Sesaat tiba di mansionnya, seorang pelayan menyambut kedatangan kami begitupun Noel yang sudah menunggu kehadiran kami berdua di ruang tamu.


“Selamat datang, silahkan masuk.” sapa pelayan sambil menunduk sopan.


“Kalian berdua akhirnya sampai juga. Ayo kita ke studioku.” ajak Noel yang menuntun kami ke ruangan tersebut.

__ADS_1


Di ruang yang serba merah serta alat musik yang lengkap mengingatkan kami bahwa ini adalah studio pribadinya. Impiannya Noel adalah menjadi seorang produser musik.


Sayangnya orang tuanya agak kurang setuju dengan impian Noel, katanya kurang tinggi. Orang tuanya menginginkan Noel membangun perusahaan industri musik yang terkenal. Mungkin agak berat untuk dicapai, tetapi Noel yang serba bisa tidak masalah dengan impian orang tuanya. Asalkan kalau itu berhubungan dengan musik, ia akan melakukan segala yang ia punya.


“Oke, ayo kita mulai yak...”


Pada dahulu kala ada seorang gadis kecil yang tinggal di desa bersama Ibunya. Gadis tersebut suka sekali memakai tutup kepala atau kerudungnya yang berwarna merah, sehingga ia dijuluki oleh teman-temannya sebagai gadis berkerudung merah.


Pada suatu hari Si Tudung Merah disuruh oleh Ibunya untuk mengantarkan makanan kesukaan Sang Nenek yang sedang sakit. Rumah Sang Nenek berada diseberang hutan.


“Bisakah kamu mengantarkan keranjang ini ke rumah Nenek?” ucap Ibunya memberikan keranjang makanan pada Si Tudung Merah.


“Baik.”


“Tunggu... tunggu sebentar. Lucy... bisakah wajahmu agak tersenyum sedikit. Si tudung merah ini adalah gadis yang ceria,” ucap Noel memberi saran.


“Iya jangan judes kayak begitu,” omel Niki.


“Akan kucoba,” jawabku.


“Oke kita ulang bagiannya Niki,” ujar Noel.


“Bisakah kamu mengantarkan keranjang ini ke rumah Nenek?”


“Lucy ” panggil Noel.


“Apa? Aku sudah tersenyum tadi,” ucapku.


“Tadi senyumanmu itu kurang alami. Dengan kata lain senyuman serammu keluar dari wajahmu,” ujar Niki memberitahu.


“Tapi kau tau kalau aku itu--”


“Iya aku tau. Cobalah untuk tersenyum sekali ini saja,” pinta Niki.


“Akan kucoba,” jawabku.


“Oke, mulai!”


“Bisakah kamu mengantarkan keranjang ini ke rumah Nenek?”


“Tentu saja bu.”


(.....)

__ADS_1


“Apa kau tertekan Lucy?” tanya Niki khawatir.


“Kenapa? Salah lagi?” omelku.


“Bukan itu maksudku sih. Senyuman tadi agak ”


Aku menaikkan salah satu alisku, bingung dengan apa yang dikatakan Niki. “Masih kurang alami. Kalau dibawa terpaksa itu akan membebanimu.” sambung Noel.


“Sudah kuduga, aku payah dalam akting.”


Karena Noel merasa tidak enak apa yang ia ucapkan barusan. Noel menyuruh kami untuk istirahat sebentar sebelum melanjutkan latihan.


***


“Selamat tinggal,” ucapku pamit dari rumah Noel.


“Sampai jumpa di hari senin!” balas Noel dan Niki sambil melambaikan tangan padaku. Rumah mereka saling sebelahan, jadi Niki masih bisa santai pergi ke rumahnya.


Aku pulang dengan perasaan kecewa.


Latihan hampir tak berjalan lancar karenaku. Mimpi buruk akan datang di hari senin, pasti banyak yang bilang kalau aku payah dalam melakukan akting dan kata-kata itu akan membuatku sakit.


Aku mudah tersinggung, tetapi aku selalu melupakannya agar tak terlalu menyakitkan. tetap saja itu akan membekas dan teringat lagi. Luka secara fisik jarang kurasakan tetapi sakit tak berdarah selalu dirasakan lewat batin.


Pada dasarnya manusia lebih sering merasakan luka batin daripada terluka oleh goresan benda tajam.


Sesampainya di rumah, aku membuka pintu coklatku. Sunyi dan sepi seperti biasa, hari juga sudah menjelang malam. Aku cepat-cepat pergi mandi agar pikiranku lebih jernih.


***


Begitu sudah di kamar mandi, aku berendam dalam air hangat. begitu nikmat dan menyegarkan. Tanpa sadar aku mengarang kata kata yang ada dikepalaku. Aku tidak tau mengapa, tetap saja itu adalah kebiasaan aneh.


“Aku tak punya wajah tuk diperlihatkan. Tidak ada, tidak ada ekpresi yang jelas saat itu. Pentas seni yang di gaungi lagu klasik menikmati para tamu yang menyembunyikan wajahnya di balik topeng. Mewah tetapi terlalu mencurigakan. Pembunuhan dari insiden panggung sandiwara yang menegangkan, Tetap saja membuatku tak bisa menunjukkan rasa iba. Suara itu... terdengar...sangat menyakitkan. Peluncuran peluru yang menembus tubuh hingga ke akar-akarnya. Telah mengungkapkan kebenaran yang tak disangka-sangka dan membuatku berhenti bahagia selamanya. Tamat.”


Bukankah itu terdengar tidak jelas. Kira-kira mengapa? Penuh teka teki, sayangnya tak bisa menemukan jawaban yang tepat untuk disatukan.


Aku tak ingat dengan insiden waktu itu, rasanya itu hanyalah sekedar mimpi yang kuciptakan untuk main-main.


“Aku ini aneh. Jadi jangan berteman denganku. aku tak punya karakter keren untuk ditunjukan oleh semua orang, karena aku payah untuk tampil didepan mereka,” aku mengakui diriku sendiri bahwa aku ini tidak jelas orangnya, selalu ceroboh dan membuat orang lain merasa kerepotan olehku. Karena itu semakin aku mendapatkan teman, semakin aku menciptakan musuh.


....


“Dimanapun kau berada, di tempat asing sekalipun. Kau akan belajar banyak hanya berjalan-jalan saja.”

__ADS_1


__ADS_2