Merapah Asa, Menjemput Hidayah

Merapah Asa, Menjemput Hidayah
97. Curiga.


__ADS_3

☀Curiga bisa berkembang menjadi prasangka yang mengikis rasa percaya.☀


Jakarta.


“Sayang! Buka pintu, dong, please!” Reyfan mengacak rambut, meremas kepalanya sendiri dengan frustasi. Wajah lusuh dengan rambut dan pakaian yang acak-acakan membuatnya pagi ini terlihat sangat berantakan.


“Miho, ayolah! Udahan ngambeknya! Belum cukup menghukumku tidur di luar semalam?” ia berteriak sambil mengetuk pintu bercat putih di hadapannya, “Aku ada meeting penting pagi ini, bisa kacau kalau terlambat.”


Sudah berulang kali Reyfan mengetuk pintu kamar, tapi tak juga ada jawaban dari dalam. Nampaknya Aneesha sedang sangat marah, hingga tidak mengijinkan suaminya masuk.


“Kamu tidak punya ide untuk membantuku, Leh?” Reyfan menoleh ke belakang, melirik kesal pada Soleh yang sejak tadi hanya berdiri diam, tidak membantunya sama sekali.


“Ora,” (tidak) jawab Soleh datar, tanpa beban sama sekali.


Reyfan mengecimus, sadar tidak ada gunanya bertanya pada Soleh. Ia mendekat, lalu menempelkan pipinya pada pintu lalu berteriak dengan nada memohon, “Miho sayang! Biarkan Piho masuk, dong. Piho kasih apa saja yang Miho minta, deh.”


Hening. Tetap tidak ada jawaban dari dalam.


Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki menaiki tangga. Reflek Reyfan dan Soleh mengarahkan pandangan pada sumber suara. Tiga sosok perempuan terlihat dari ujung anak tangga, berjalan mendekat ke arah mereka.


“Miho!” Reyfan membelalakan mata, saat melihat istrinya bersama dua asisten rumah tangga datang.


“Bagaimana dia bisa muncul dari sana?” lirih Reyfan berbicara pada diri sendiri. Menyesal dari tadi menggedor pintu sambil teriak-teriak, ternyata sang empunya kamar berada di luar. Ia lalu menoleh pada Soleh yang hanya mengangkat bahu.


Langkah Aneesha yang diikuti Lia dan Dini makin dekat. Reyfan segera menguasai diri, bergegas menghampiri sang istri.


“Sayang! Dari mana?” Jarak Reyfan tinggal dua meter saja, tapi Aneesha mengangkat tangan untuk menghentikan langkah suaminya.


“Stop! Berhenti di situ!” seru Aneesha.


Seketika langkah Reyfan menggantung di udara. Kalau saja Soleh tidak segera tanggap menopang, ia pasti sudah jatuh. Dengan tatapan bingung, ia menatap Aneesha yang berjalan melewatinya begitu saja. Istrinya itu seolah tidak peduli, segera masuk kamar tanpa mengatakan apa pun.


Reyfan makin frustasi, sekali lagi ia mengacak rambut yang memang sudah tidak tertata. Otaknya mendadak buntu, tidak bisa mencari cara untuk membujuk istrinya. Akhirnya ia memutuskan untuk menunggu di depan pintu sampai Aneesha mengijinkannya masuk.


Namun, setelah beberapa saat menunggu, justru Lia yang keluar dengan membawa setelan baju kerja dan handuk. Asisten rumah tangga andalan Aneesha itu menyerahkan barang-barang kepada Reyfan.


“Mas Reyfan harus memastikan tidak ada bau alkohol dan parfum perempuan di badan, kalau ingin menemui Mbak Aneesha.” ucap Lia.


Reyfan mendengkus sambil menerima pemberian Lia. Ia menyadari kesalahan besarnya semalam waktu menghadiri pesta seorang rekan bisnis. Kalau saja bisa menahan godaan mencicipi minuman haram yang telah lama ditinggalkan, pasti Aneesha tidak akan semarah ini. Payahnya ia malah terhanyut dalam suasana pesta, minum sampai mabuk dan pulang larut malam. Sehingga menyebabkan Aneesha sangat marah dan menghukumnya tidur di sofa.


“Ini semua gara-gara kamu!” Reyfan bersungut-sungut sambil menunjuk muka Soleh.


“Lha, kok, aku?” Soleh tidak terima disalahkan, karena ia tidak merasa melakukan hal yang keliru.


“Kenapa tadi malam kamu tidak berusaha mencegahku agar tidak minum banyak? Malah meladeni wanita-wanita genit yang tidak jelas itu!” seru Reyfan dengan suara pelan tapi bernada tinggi.


“Aku wes ngelingke, sampeyan wae ora rewes!” Soleh menjawab, bahwa semalam ia sudah mengingatkan, tapi Reyfan tidak menggubris.


Reyfan mendengkus lagi, sambil lalu pergi. Percuma bicara dengan Soleh, karena pria itu pasti punya seribu alasan agar tidak disalahkan. Dalam benak ia berpikir, kalau saja yang bersamanya tadi malam adalah Hara, pasti kejadian seperti ini tidak akan terjadi. Hara pasti punya cara mencegah sebelum menjadi masalah.


‘Hara! Sampai kapan kau akan membuat hidupku kacau seperti ini? Cepatlah kembali!’ batin Reyfan dalam hati. Baru kali ini ia merasa sangat merindukan asisten pribadi sekaligus sahabat setianya itu.


Dengan langkah panjang, ia masuk ke salah satu kamar guna membersihkan badan. Beruntung rumah yang ia tempati memiliki banyak kamar lengkap dengan kamar mandi dan toilet, kalau tidak? Bagaimana caranya membersihkan diri, jika istrinya sedang merajuk seperti ini?


***


Terik sinar mentari masuk, menembus jendela dan pintu kaca. Aktivitas pagi yang berlangsung di rumah besar dan mewah-kediaman Reyfan dan Aneesha-nampak cukup sibuk. Tukang kebun memotong rumput, menyiangi daun layu agar taman terlihat rapi dan indah. Para asisten rumah tangga mengerjakan pekerjaan masing-masing. Ada yang sedang membersihkan perabotan dari debu, mengepel lantai, membereskan dapur dan mengurus cucian.


Setengah berlari Reyfan menuruni anak tangga, diikuti Soleh yang setia membantu menyiapkan semua keperluannya. Pria berusia awal 30an itu tersenyum semringah, ketika melihat istrinya duduk di kursi yang menghadap meja makan. Meski hanya tampak dari belakang, ia bisa menebak apa yang sedang dilakukan oleh Aneesha. Pasri sedang mengupas apel untuk sarapan, rutinitas pagi yang selalu dilakukan ketika menunggu ia selesai bersiap.


Reyfan bergegas menghampiri istrinya, “Selamat pagi, istriku! Bumil tercinta yang cantik jelita!” sapa Reyfan seraya menunduk, hendak mencium puncak kepala istrinya.


Namun, Aneesha justru menarik kepala, menghindari sentuhan suaminya. Reflek Reyfan menegakkan badan sambil mendengkus, “Ayolah! Piho sudah mandi, pakai pakaian bersih dan wangi. Masa’ masih ngambek juga.”

__ADS_1


Aneesha membuang wajah, enggan menanggapi rayuan suaminya. Rasa kesal semalam karena Reyfan pulang larut dalam keadaan mabuk dan bau parfum asing masih merajai. Kalau tidak sedang hamil, pasti ia sudah menghajar suaminya itu sampai babak belur.


“Kopiku mana, Mi?” Reyfan mengambil tempat duduk di kursi sebelah istrinya sambil mengedarkan pandangan menyapu isi meja makan. Melihat itu, Soleh undur diri menuju dapur, tempat biasa ia sarapan bersama para asisten rumah tangga.


“Nggak ada kopi, adanya ini!” Aneesha meraih gelas besar berisi minuman berwarna bening kecoklatan, meletakkannya di depan Reyfan.


“Apa ini?” Reyfan mengangkat gelas, menghirup aroma wangi aneh pada minuman yang mengepulkan uap panas itu.


“Racun,” jawab Aneesha ketus.


Reyfan tertawa, mendengar jawaban sang istri yang tentu saja hanya bergurau. Ia menyesap ramuan khusus yang selalu dibuatkan oleh sang istri untuk menghilangkan efek alkohol. Ia mengernyit, ketika rasa jahe bercampur sereh, kayu manis dan lemon menyapa lidah. Dengan menahan rasa aneh, ia meneguk minuman hangat setengah panas itu.


“Waduh! Apa Miho tega membunuh suami yang ganteng maksimal ini?”


“Tega, dong. Suaminya saja tega nyakitin istri yang cantik, baik, kaya, setia pula. Memang pantas dikasih minuman beracun.” jawab Aneesha seraya menyodorkan apel yang baru saja dipotongnya.


Tawa Reyfan kembali berderai. Menikah dengan Aneesha artinya harus bersedia menerima semua ucapan narsis yang kadang ketus juga kritik pedas yang terlontar. Kalau bukan istri yang mengoreksi perilaku suami, lalu siapa lagi?


“Maaf, sayang … tadi malam Piho terbawa suasana pesta. Semua itu Piho lakukan demi kelancaran bisnis juga, kok.”


Aneesha mendengkus, “Memang. Tapi tidak harus sampai mabuk juga, kali, Pi?”


“Harusnya, Mi. Gara-gara Soleh juga, sih! Nggak bisa mencegahku berhenti minum, coba kalau dia itu Hara, pasti beda kejadiannya.” gerutu Reyfan, mencari alasan agar tidak terpojok.


Aneesha mencebik, balas menggerutu, “As always! Piho selalu melempar kesalahan pada orang lain. Susah, ya, mengakui kesalahan sendiri? Misalnya semalam ada Hara pun, Piho juga pasti menyalahkan dia. Pantas saja dia pergi, nggak tahan terus disalahkan sama Piho.”


Reyfan meringis, mencomot sepotong apel lalu memakannya. Kalau sudah begini, ia hanya bisa pasrah. Tidak mungkin mendebat ucapan Aneesha yang selalu benar.


“Tadi Hara telepon,” Aneesha mengalihkan topik obrolan, meski masih dengan nada ketus. Menyebut nama Hara, ia jadi ingat sesuatu.


“Oya, ngomong apa dia? Ada masalah sama renovasi rumah?” Reyfan mengambil sepotong apel lagi, memasukkannya ke mulut.


“Katanya kamar bayi sudah di cat sebagian, tinggal nunggu Mas Irkham melukisnya. Terus rencana hari ini mau pasang kuda-kuda untuk paviliun, kayu untuk tiangnya sudah datang, tapi umpaknya belum.” jelas Aneesha.


“Kalau dia sudah bicara sama Piho ngapain telepon aku, ya?” Aneesha menerawang, merasa ada kejanggalan.


Reyfan mengangkat bahu, “Tempo hari kita juga ngobrol banyak di zoom meeting, karena kantor cabang sedang ada masalah. Bukan membahas pekerjaan, dia malah ngobrolin hal lain.”


“Oya? Tentang apa?” Aneesha ingin tahu.


“Nggak ada angin, atau petir, tiba-tiba dia minta ijin buat antar-jemput Jenar ke kampus. Aneh-aneh saja itu orang, hubungannya apa coba antara Jenar dan pekerjaan?” Reyfan menggeleng tidak paham.


“Tadi dia juga minta ijin mau ngajarin Jenar nyetir mobil, katanya lebih aman Jenar pergi pakai mobil dari pada motor. Padahal Jenar sudah bisa nyetir, hanya memang belum berani bawa mobil sendiri karena selalu dilarang sama ayah.” Aneesha mengernyit sambil menatap suaminya.


Reyfan yang merasa ditatap dengan pandangan menyelidik, jadi salah tingkah. Ia khawatir tanpa sadar salah ucap. Spontan ia berhenti mengunyah, membiarkan apel yang belum ***** sempurna berada di dalam mulut.


“Ada apa?” ia bertanya seraya menatap istrinya.


“Piho merasa ada yang aneh, tidak?” Aneesha justru balik bertanya, dengan dahi berkerut seolah sedang berpikir keras.


“Aneh? Apanya? Siapa yang aneh?” Reyfan mulai panik, meraba ucapan dan sikap kalau-kalau ada yang keliru.


“Oya!” Aneesha menjentikkan jari, teringat sesuatu.


“Kemarin malam Mbak Nanda kirim chat, katanya dia memergoki Hara baru saja keluar dari kamar Jenar.” lanjut Aneesha.


Reyfan yang sedang menelan makanan jadi tersedak, terkejut mendengar cerita istrinya. Reflek ia meraih gelas, tergesa menenggak minuman untuk memperlancar makanan melewati kerongkongannya. Ia bergidik, ketika merasakan apel jadi aneh karena bercampur dengan ramuan buatan sang istri.


“Ngapain Hara malam-malam ke rumah? Pakai masuk kamar Jenar lagi?” Ada nada tidak suka dalam ucapan Reyfan.


“Jadi menurut cerita Mbak Nanda, nih. Dia dan Mas Faiz kemalaman pulang dari Solo, karena sudah capek mereka memutuskan mau nginep di rumahku saja. Nah! Pas Mbak Nanda masuk, dia lihat Hara baru saja keluar dari kamar Jenar. Ada Mbak Sayumi juga, sih. Tapi Mbak Nanda curiga Hara dan Jenar ada apa-apa gitu.” Aneesha menjabarkan cerita Nanda.


Reyfan menggeleng, “Nggak mungkin mereka ada apa-apa, tapi-” ia menggantung kalimat. Tidak kuasa mengungkapkan pikiran buruk yang berkelebat.

__ADS_1


“Kenapa?” Aneesha ingin tahu kenapa suaminya tampak ragu melanjutkan ucapan.


“Mbak Nanda nggak tanya kenapa Hara keluar dari kamar Jenar?” Reyfan ingin tahu, sebelum kecurigaannya berlanjut menjadi prasangka.


Aneesha mengangguk, “Kata Mbak Nanda, Jenar minta ditemani sama Hara, menjenguk teman yang sakit. Karena hujan, pulangnya jadi kemalaman, Jenar ketiduran di mobil. Terpaksa Hara gendong dia karena susah dibangunin. Jenar memang begitu kalau sudah tidur, kayak orang pingsan saja. Nah, habis itu Hara langsung keluar bareng Mbak Sayumi.”


“Piho kenapa? Apa mungkin pikiran kita sama? Jenar dan Hara ada hubungan?” tanya Aneesha demi melihat suaminya bengong. Kadang insting perempuan sangat tajam, bisa menembus jarak ratusan ribu kilometer.


“Ah! Jenar itu masih terlalu muda, sedangkan Hara sudah dewasa. Mungkin, nih! Baru kemungkinan saja, lho. Jika Hara tertarik pun, belum tentu adikmu mau sama om-om seperti dia. Jenar itu cantik, manis … walau lebih jelita kamu, sih.” Reyfan memilih kalimat yang sekiranya tidak menyinggung perasaan istrinya.


Aneesha mengecimus, muak dengan gombalan suaminya. Benak dan hati masih diliputi curiga, praduga pun muncul begitu saja.


“Kalau mereka pacaran bagaimana?” Aneesha bertanya, tapi detik berikutnya ia menjawab sendiri pertanyaannya sambil menggeleng, “Tidak mungkin! Jenar bukan gadis yang mudah dirayu, dia juga bukan penganut paham pacaran dulu baru menikah.”


Reyfan sudah membuka mulut, tapi tidak sempat berucap. Sebab, Aneesha lebih dulu berseru sambil mengeratkan pegangan tangan pada pisau yang tadi ia gunakan untuk mengupas apel, “Awas saja kalau Hara berani memikat adikku dengan rayuan palsunya! Akan aku giling dia sampai *****, biar jadi adonan bakso.”


“Enak, tuh, Mi. Kuahnya pake kaldu sapi, terus makannya kasih saus sama cabe yang banyak.” kelakar Reyfan.


“Miho serius, loh, Pi.” Aneesha menatap tajam suaminya.


Reyfan menjawab yakin, “Piho juga serius. Tenang saja, Piho dukung sepenuhnya kalau Miho mau ******* Hara.”


Aneesha mengangkat tangan yang terkepal, Reyfan pun mengikuti. Mereka sama-sama menyimpan tanya dalam benak, yang tak terucap. Tentang prasangka dan berbagai kemungkinan.


“Ini bulan apa, Pi?” tanya Aneesha setelah suaminya selesai makan sarapan yang hanya berupa buah saja. Menu sehat yang dianjurkan oleh dokter.


“Oktober sudah mau habis.” jawab Reyfan santai.


“Sebentar lagi sudah masuk november, dong?” tanya Aneesha lagi.


“Betul sekali,” Reyfan mencubit pelan hidung istrinya, “Ada apa memangnya?”


“Untung ingat.” Aneesha meraih ponsel, seperti hendak menghubungi seseorang.


“Ada apa di bulan november?” Reyfan mengulangi pertanyaan yang belum terjawab.


“Ada hujan di bulan november.” jawab Aneesha asal, ia sudah sibuk dengan ponselnya.


Reyfan menggeleng, tak habis pikir dengan tingkah istrinya yang sering berubah-ubah, tidak bisa ditebak. Ia membuka tangan guna meminta barang yang sejak semalam disita oleh istrinya, “Hpku mana, Mi?”


Tanpa mengalihkan pandangan, Aneesha merogoh saku homedressnya. Lalu ia memberikan benda pipih milik suaminya. Mendapatkan kembali benda paling penting, Reyfan pun semringah.


“Piho berangkat dulu, ya?” ucap Reyfan seraya mencium pelipis istrinya.


“Oke, hati-hati!” jawab Aneesha mencium tangan Reyfan sambil satu tangan memainkan ponsel.


“Jaga diri dan dia, jangan terlalu capek!” Reyfan mengusap sekilas perut istrinya sebelum beranjak.


Aneesha mengacungkan ibu jari, tanpa ingin mengantar kepergian Reyfan. Ia justru berseru, “Mas Soleh! Piho sudah siap.”


Reyfan hanya bisa pasrah, mengetahui dirinya dikalahkan oleh sebuah benda mati yang bisa memberi segala informasi. Ia berjalan, sembari membuka kunci layar pada ponsel, mengecek notifikasi yang masuk sejak semalam. Barang kali ada pesan atau penggilan penting. Sejenak matanya tertuju pada sebuah chat paling atas, yang ia beri nama ‘Hara’.


Pikiran yang hampir tersingkir, kembali hadir. Ia menggerakkan jemari, melakukan panggilan demi mengulik rasa ingin tahu. Bagaimana pun ia sangat hafal dengan tingkah laku sahabatnya itu, tentu saja ia tidak ingin sifat buruk Hara terbawa di lingkungan keluarganya yang bersih. tampaknya ia harus membuat perhitungan dengan asisten pribadi yang tidak tahu diri itu.


.


.


.


Bersambung....


Wah, wah! Ternyata ada yang sengaja dilewatkan kemarin, nih, teman-teman! Kira-kira ada apa di bulan november, hingga Aneesha sangat antusias, ya? Itu Reyfan bagaimana caranya mau membuat perhitungan dengan Hara? Bab selanjutnya kita kembali ke Yogya dan Magelang, ada apa di sana? Yang pasti ada hujan. hehe....

__ADS_1


__ADS_2