Merapah Asa, Menjemput Hidayah

Merapah Asa, Menjemput Hidayah
23. Sang Pejuang Cinta Sejati.


__ADS_3

...☀Andai apapun di dunia ini bisa kubeli dengan uang, namun kenyataan yang kualami adalah kekayaanku tidak bisa membeli takdir cinta yang selalu tidak berpihak padaku.☀...


Lionel Baga Wisesa


Note : Baca nama Lion bukan laien, ya. Tapi L-I-O-N. Lion


Aku sudah memupus harapan untuk bisa bersanding dengan wanita yang membuatku tertarik sejak usia sekolah, Aneesha. Sejak dia secara terang-terangan menunjukkan perasaan terhadap sahabat yang sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri, Tara.


Walaupun pada akhirnya mereka tidak menikah dan sudah menemukan jodohnya masing-masing. Aku sudah ikhlas mengubur perasaan yang tidak pernah menjalin temu itu.


Namun gadis kecil yang telah menjelma menjadi seorang bidadari nan cantik dan anggun. Cermin wanita soleha seperti yang selalu kuangankan untuk dijadikan istri, mengusik hati dan pikiran. Kehadirannya seketika mematik perasaan suka yang masih terkubur. Menumbuhkan tunas cinta dari dalam hati tanpa direncana.


Gadis yang kukenal sejak kecil karena aku bersahabat dengan kakaknya. Gadis yang dulu sering ikut kemana saja kakaknya pergi. Gadis kecil yang saat anak-anak begitu manja dan pemalu. Kini gadis itu telah tumbuh dewasa, dalam balutan busana muslim yang menutup seluruh auratnya. Membuatku tertarik untuk meminangnya.


Jalan yang kukira mulus, ternyata terjal dan dipenuhi oleh kerikil tajam. Aku tidak lama melakukan pendekatan dengan Jenar. Kutunjukkan rasa tertarikku dengan memberinya perhatian lebih, sering mengunjunginya di Jogja setiap akhir pekan. Serta membantu saat dia kesulitan mengerjakan tugas kuliah.


Kami banyak berbagi cerita, walaupun sebenarnya aku yang banyak bercerita dan Jenar hanya mendengarkan. Dia memang pemalu dan tertutup. Kuperlakukan dia seperti seorang adik kecil yang butuh perhatian dan perlindungan.


Tapi ternyata itu tidak cukup untuk membuatnya jatuh cinta padaku. Setelah pinangan secara langsungku ditolak oleh Om Fares, tak berselang lama aku melihat foto-foto di sosial media milik Aneesha. Foto yang menunjukkan sebuah acara lamaran, saat itu aku atahu Jenar telah menerima pinangan pria lain.


Marah? Pasti. Walaupun seharusnya aku tidak punya hak untuk marah. Tapi sifat alami manusia, merasa iri jika tidak bisa mendapatkan apa yang aku inginkan. Sedangkan orang lain dengan mudah bisa memperoleh apa yang tidak bisa kuraih.


Aku tinggal di perkebunan teh milik papa di Wonosobo. Sejak dua tahun terakhir ini memang papa menyerahkan sebagian aset menjadi atas namaku. Memberiku wewenang untuk mengelola hasil perkebunan, sebagai putra tunggal seorang Wisesa. Untuk itulah aku bisa mengunjungi Jenar di Jogja setiap akhir pekan.


Pagi itu setelah kupastikan para pekerja kebun terkondisikan, aku menyiapkan mobil jeep warna hijau andalanku. Menembus kabut tebal yang membungkus kota Wonosobo, mengabaikan hawa dingin yang merasuk ke dalam tulang-tulangku. Pergi menuju suatu tempat untuk menghalau kegusaranku. Meskipun kutahu tidak akan ada gunanya, paling tidak aku ingin mendengar dari mulut Jenar sendiri. Berbicara empat mata dengannya, agar aku berhenti mengharapkan cinta darinya.


Perjalanan Wonosobo-Magelang kulalui tanpa istirahat, sebab aku ingin segera sampai di tempat tujuan. Menjelang siang aku memutar kemudi melewati jalan yang banyak dilalui truk pengangkut pasir. Lalu berbelok ke jalan gang yang hanya cukup dilalui satu mobil saja.


Sampai di sebuah tempat dengan pagar tinggi dan pintu gerbang yang terbuat dari kayu jati. Kulajukan mobil dengan kecepatan pelan, saat memasuki pintu gerbang yang kebetulan terbuka itu. Seperti biasa, aku memarkirkan mobil di depan pendopo yang kali ini sepi tidak ada kegiatan apapun.


Pandanganku menyapu ke segala arah lalu berhenti di sebuah gazebo. Kulihat dua orang wanita duduk bersisian di sana. Kulepas kacamata hitam yang bertengger di hidung, sembari melangkah panjang mendekati gazebo. Rasa kesal yang sudah kusimpan sejak kemarin, siap untuk kutumpahkan.


“Ini tidak adil, Jen!” Aku bahkan tidak menjawab salam yang diucapkan oleh Aneesha. Tanpa basa-basi aku menumpahkan kekesalanku pada Jenar sembari menghempaskan pan-tat di tempat duduk.


“Tidak adil bagaimana maksud kakak?” Jenar bertanya dengan kening berkerut dalam.


“Siapa dia? Pria yang melamarmu kemarin. Apa dia kaya? Anak Kyai seperti yang selama ini kamu dambakan? Hem?”


Kulihat Jenar dan Aneesha saling pandang, tapi tidak ada yang menjawab pertanyaanku. Kulempar punggung pada pagar gazebo, meluruskan kaki yang terasa pegal karena habis berkendara jauh.


“25 sertifikat tanah, 14 diantaranya sudah atas namaku. Kamu bisa dapat sisanya kalau kamu menikah denganku, apa itu masih kurang? Sehingga kamu lebih memilih menerima pinangan pria lain dari pada aku? Hem?”


Bukan jawaban dari Jenar yang kudapat tapi pukulan di kepala menggunakan buku yang tadi sedang dibaca oleh Aneesha. Lengkap dengan gertakan bernada tinggi dari sahabatku itu.


“Hei! Kamu pikir adikku mata duitan? Silau sama kekayaan yang keluargamu punya itu?”


Sedangkan aku tetap dengan pendirianku bahwa semua perempuan bisa ditaklukkan dengan uang, “tentu saja. Memangnya perempuan mana yang tidak matre?”

__ADS_1


“Kurang ajar ini anak!” Aneesha kini meninju lenganku dengan keras, sampai aku mengaduh, “hanya perempuan yang tidak tahu cara memenuhi kebutuhan dan gaya hidupnya sendiri yang akan tergiyur dengan rayuan pria seperti kamu ini. Perempuan di keluarga Adhitama tidak akan tergiyur dengan uang dan kekayaan, karena kami sudah mandiri sejak kecil. Apa kamu lupa siapa kami, Li?”


Aku mendesah tidak percaya. Sudah kuperkirakan tidak akan ada gunanya aku datang kemari, sebab aku tahu Jenar dan seluruh keluarganya mempunyai pendirian yang teguh. Tidak mudah goyah apalagi dengan iming-iming harta.


“Tetap saja ini tidak adil untukku, Sha. Aku yang melamar Jenar duluan. Harusnya ayahmu menerimaku dulu, bukan malah menerima lamaran pria lain untuk putrinya.”


“Soal ayah menerima lamaran siapa untuk Jenar, itu tergantung Jenarnya, dong. Siapa yang Jenar pilih. Kan, dia yang mau nikah, bukan ayah.”


Aku mendecak sebal, memberi Aneesha tatapan tidak suka karena tidak membiarkan Jenar bicara. Justru dia yang dari tadi menjawab ucapanku. Aku tahu, Jenar tidak suka berdebat. Tidak seperti Aneesha yang terlalu banyak bicara. Tapi harusnya dia memberi Jenar kesempatan bicara padaku, bukan?


“Kenapa kalian berdua kakak-adik sama-sama menolakku, sih? Apa kurangku? Wajahku tampan, aku kaya, juga sarjana, kurang apa coba?”


Kesalku bertambah karena Aneesha terbahak sedangkan Jenar menunduk, mungkin sedang menahan tawa. Dua perempuan ini memang sudah membuatku sangat marah, tapi anehnya setelah bertemu mereka amarahku menguap begitu saja, hilang entah kemana. Terlalu lemah memang aku jika berurusan dengan dua wanita ini.


“Kamu memang sempurna, Li. Kurangnya cuma satu saja, kamu hanya kurang beruntung.”


Kuusap lenganku yang ditepuk oleh Aneesha sambil melirik Jenar yang bahunya terguncang karena menahan tawa. Lihatlah! Gadis itu anggun sekali bukan? Pria mana yang tidak ingin bersanding dengannya? Jenar … kau patahkan hatiku dengan penolakanmu, sekarang kau hancurkan lagi dengan cincin yang tersemat di jari manismu.


“Dek! Buatkan kopi sana! Biar orang ini tenang.”


“Sekalian makanan, ya, Jen!” kucegah Jenar yang sudah hendak beranjak, “aku belum sarapan.”


“Makanya datang jangan langsung marah-marah, Kak. Jadi tambah lapar, kan?”


Aku mengusap tengkukku sendiri, kuperhatikan Jenar yang melangkah pergi meninggalkan aku dan Aneesha. Tak kulepas pandangan sampai gadis itu menghilang di balik pintu.


“Sudah jangan diliatin! Jodoh orang itu.” Ucap Aneesha yang sudah kembali tenggelam membaca buku.


Aneesha menggeleng, “tapi kamu memang tidak ditakdirkan menjadi menantu keluarga Adhitama. Sudah terima saja, Li. Mungkin jodoh kamu masih berada di pelukan pria lain.”


“Sialan kamu!”


Kemudian obrolan kami berubah menjadi lebih santai, seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Kami bersahabat sejak kecil, mungkin memang hanya ditakdirkan sejauh ini. Tidak ditakdirkan untuk menjadi saudara, apalagi keluarga.


Kulihat perut Aneesha yang sedikit membuncit, walaupun masih belum kentara, tapi aku tahu dia sedang hamil. Postingannya di media sosial juga kelihatan sekali kalau dia sedang berbahagia karena tengah berbadan dua.


“Kamu beneran hamil nggak, sih, Sha? Kok nggak kelihatan?”


“Ya kali macam sinetron, hamil langsung segede semangka. Baru juga masuk empat bulan, belum kelihatanlah.”


“Nanti kalau anak kamu cewek, jodohin sama aku, ya?” Candaku yang membuat Aneesha mencibir.


“Nggak akan! Udah, deh, Li. Jangan maksa!”


“Canda, Sha. Canda!” Setelah itu baru aku sadar kalau keadaan rumah Aneesha sepi. Seharusnya seluruh keluarga berkumpul di rumah itu, tapi yang kulihat hanya Aneesha dan Jenar saja, tidak ada yang lain.


“Kemana semua orang? Kok, cuma ada kalian berdua?”

__ADS_1


“Pada pergi. Punya keperluan sendiri-sendiri, memangnya kamu kerjaannya ongkang-ongkang menikmati harta warisan orang tua.”


“Lho, itu anugrah, Sha. Kalau bukan aku siapa lagi yang menikmatinya?”


Aneesha memutar mata sambil berdecak, bisa kupastikan sahabatku itu tidak suka dengan ucapanku. Dulu kami memang jarang membicarakan masalah harta, Aneesha terlalu sensitif dengan itu. Jadi sebisa mungkin kami teman-temannya menghindar dari membicarakan hal yang memacu perdebatan.


Kini setelah kami sama-sama dewasa obrolan kami sudah berubah. Kami bisa membicarakan topik apa saja, termasuk tentang bisnis. Aneesha memang dari dulu tidak tertarik perihal bisnis, dia lebih suka dunia seputar fotografi dan melukis.


Beda dengan Jenar. Gadis yang sampai saat ini masih menghuni sudut hatiku itu adalah seorang gadis yang sudah suka berbisnis sejak kecil. Mungkin karena sering ikut bundanya mengurus usaha minimarket milik keluarga, jadi jiwa pedagang tumbuh pada diri Jenar.


Aku tahu gadis itu belajar berjualan sejak usia sekolah. Dia tidak malu membawa kue ke sekolah untuk dititipkan ke kantin. Jenar bisa membuat beraneka macam kue, aku tahu karena dulu aku sering mencoba tester kue buatan Jenar. Waktu aku sering main ke rumah Aneesha dan Jenar masih berusia belasan tahun.


Katakanlah kau terlalu terburu-buru meminangnya, tapi rasa sukaku pada Jenar memang serius. Aku bukan remaja lagi, sudah bukan waktunya mempermainkan anak orang. Meski lamaranku ditolak, aku tidak lantas membenci keluarga ini. Sebab dalam hati aku masih berharap bisa memiliki hati Jenar, entah kapan waktunya.


“Kak Lion mau makan di sini atau di dalam?”


Suara lembut itu menarik kesadaranku dari lamunan. Kuperhatikan Jenar baru saja meletakkan segelas kopi panas bersama sepiring kue di atas meja. Hatiku yang tadinya hendak berbunga-bunga mendadak layu karena aku tahu kue macam apa yang disuguhkan oleh Jenar untukku.


“Harus kasih aku kue sisa hantaran kemarin, ya, Jen? Kamu menggoreskan luka di atas luka padaku, Jen.”


Aneesha tertawa lagi, “ya Alloh, Li. Segitunya banget kamu. Udah makan aja, nggak usah banyak protes.”


“Tega memang kalian berdua padaku. Semoga kalian berdua bahagia selamanya dengan pasangan kalian masing-masing.” Aku mengambil sepotong kue bolu, sempat berkata dengan penuh penekanan sebelum melahapnya, “aamiinkan! Do’a orang teraniaya diijabah sama Alloh, lho.”


“Aamiin ….” Kompak Aneesha dan Jenar berseru. Menambah suasana hatiku menjadi pilu.


Aku sadar ternyata kekayaanku tidak bisa untuk membeli takdir cinta yang selalu tidak berpihak padaku. Tapi aku yakin Alloh telah menyiapkan jodoh untukku, entah kapan kami bertemu. Pastinya di saat yang pas dan dengan orang yang tepat pula. Sekarang biarkan aku menjadi sang pejuang cinta sejati dulu. Sebelum kutemukan tambatan hati yang tulus menerimaku.


"Mau kemana kalian?" Tanyaku ketika Aneesha dan Jenar kompak beranjak.


"Siapin makan siang. Katanya kamu lapar." Lagi-lagi bukan Jenar yang mebjawab, tapi Aneesha.


"Jangan-jangan makan siangnya juga masakan kemarin sisa lamaran." Cibirku kesal.


"Kalau kamu nggak mau, ya, pulang saja sana!" Usir Aneesha.


"Jangan pulang, dulu, Kak. Nanti sore di sini ada acara selapanan anak IPNU-IPPNU. Sapa tahu ada yang naksir sama kakak." Canda Jenar yang selalu bisa membuatku tersenyum.


"Beres! Nanti kenalin yang paling cantik, ya, Jen."


Jenar menipiskan bibir menahan senyum, sedangkan Aneesha menggelengkan kepala tanda jengah.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung....


__ADS_2