
🍁Bersikap tidak peduli bukan berarti hilang rasa empati🍁
Gumam-gumam saling bersahutan, suara orang yang sedang membaca kitab suci bergema ke seluruh penjuru. Berhasil sampai di telinga, meski terhalang dinding. Getar dalam dada masih tetap terasa meski aku sudah terbiasa hampir setiap saat mendengar suara seperti ini.
Malam ini, aku sedang duduk di teras rumah Kyai Ali, menunggu beliau selesai berkegiatan dengan para santri. Sambil merokok dan menikmati lantunan suara yang mirip dengungan lebah itu.
Saat memutuskan untuk tinggal di pesantren, aku harus beradaptasi dengan suara berisik dan aktivitas para santri yang seolah tiada henti. Tidak peduli pagi, siang, sore, malam ada saja yang mereka lakukan. Dari 24 jam mereka hanya tidur sekitar tiga sampai empat jam saja. Di luar itu mereka melakukan berbagai aktivitas yang berhubungan dengan ibadah. Seperti yang mereka lakukan malam menjelang larut ini.
Kalau bukan karena mematuhi perintah Kyai Ali, aku pasti sudah tidur. Entah apa yang ingin beliau bicarakan, sehingga memintaku menunggu. Bukan, bukan! Sebenarnya beliau yang sudah menungguku sejak sore. Namun, aku baru pulang ke pesantren malam hari. Saat beliau sudah sibuk beraktivitas dengan para santri.
Dalam hati aku merutuki diri sendiri. Seandainya tidak melakukan hal bo-doh yang tidak bermanfaat, aku dan Kyai Ali bisa segera bertemu sore tadi. Salahku sendiri, percaya dengan omong kosong anak kecil. Membuang waktu percuma dengan menunggunya selama lebih dari tiga jam.
Sore tadi, adalah kali pertama aku melakukan hal tidak berguna dalam hidup. Menuruti permintaan seorang gadis, yang ternyata hanya sebuah gurauan. Bo-dohnya aku mengira apa yang dia katakan memang sebuah permintaan serius.
Pukul 17.45 aku sudah sampai di terminal Jombor. Rela meninggalkan Naufal yang masih ingin ditemani bermain, demi menjemput Jenar.
Sebelum berangkat, aku sudah memikirkan banyak hal. Ternasuk minta pertimbangan kepada Mbak Nabila. Yang mendorong keputusan menjemputnya, adalah kekhawatiran jika sedah tidak ada bus dari Jombor ke Magelang.
Aku berpikir, ia akan sangat kemalaman sampai di rumah kalau ketinggalan bus terakhir. Semakin malam semakin bahaya untuk gadis seperti dia melakukan perjalanan seorang diri.
Namun, apa yang kudapat? Tidak ada! Aku tidak mendapatkan apa-apa.
Satu jam menunggu, masih bisa aku memberi toleransi. Mungkin dia melakukan kegiatan lain setelah kelas selesai, atau tidak segera mendapat bus dari kampusnya menuju ke terminal.
Namun, setelah satu jam berikutnya Jenar tak kunjung datang, aku menjadi gusar. Berbagai macam perkiraan membayangi otak, apalagi setelah beberapa kali kucoba menelpon tapi tidak diangkat. Masih mencoba bertahan menunggu, hingga terminal sepi, sebab sudah terlalu malam.
Jangan tanya sudah berapa kali aku berusaha menghubunginya. Sejak nomor ponselnya aktif, tapi tidak diangkat, hingga tidak dapat tersambung. Sukses menimbulkan rasa khawatir.
Aku mencoba datang ke kampusnya. Security bilang, tidak ada jam kuliah atau kegiatan di dalam kampus malam ini. Memang aku melihat suasana kampus sudah sepi.
Kemana Jenar? Sudah pulangkah? Mungkin dia menginap di rumah temannya, atau pulang dengan taksi online jadi tidak turun di terminal.
Demi memastikan perkiraan, aku mencoba menghubunginya lagi. Tetapi, ponselnya masih dalam keadaan tidak aktif. Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku mempunyai rasa khawatir terhadap seseorang. Bahkan dengan Cecilia yang sudah hidup bersama denganku sejak lama, aku belum pernah sekhawatir ini.
Beberapa saat aku duduk diam di dalam mobil yang masih terparkir di halaman kampus. Terlintas pikiran ingin ke Magelang, mengecek kalau-kalau Jenar ternyata sudah ada di rumahnya.
Sebelum menjalankan mobil, aku sempat mengecek ponsel sekali lagi. Melihat nomor Jenar sedang online, segera kuhubungi dia dan tersambung dalam dering kedua. Tanpa basa-basi kutanya di mana ia berada, agar bisa mengurai rasa khawatir berujung panik.
Meski merasa lega dengan jawaban yang ia berikan, tapi tidak bisa menyembunyikan jengkel yang menyeruak begitu saja. Rasa khawatir yang berubah menjadi amarah mendengar suara bernada santai dari seberang telepon.
Ternyata Jenar sudah pulang dari tadi dan dia sama sekali tidak memberiku kabar. Bahkan sengaja mengabaikan panggilanku.
Tanpa menunggu dia menuntaskan kalimat, segera kututup telepon. Rasanya percuma mendengarkan, sepertinya dia lupa telah membuat janji. Tidak sadar pernah mengungkapkan permintaan.
__ADS_1
Rasanya malam itu aku menjadi manusia paling to-lol sedunia. Seorang Hara, pria yang tidak pernah mengingkari sebuah kesepakatan, bisa-bisanya diberi harapan palsu oleh gadis yang belum dewasa.
Aku hampir tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi. Baru kali ini aku dibohongi. Mirisnya bukan oleh rekan bisnis, atau kompetitor, melainkan hanya seorang gadis remaja biasa.
Membaca pesan yang Jenar kirimkan membuatku menertawakan diri sendiri.
[Pak Hara tidak sedang jemput saya, kan?]
Pertanyaan macam apa itu?
***
Hari yang sibuk telah dimulai. Kyai Ali memberiku pekerjaan tambahan sebagai pengawalnya.
“Kalau sopir gampang dicari. Tidak ada kamu, masih ada santri lain yang bersedia menggantikan. Akan tetapi untuk jadi pengawal, saya lihat kamu lebih cocok. Badan kamu kekar dan wajahmu tidak ramah, sesuailah.” ujar Kyai Ali.
Aku tidak langsung mengiyakan permintaan tersebut. Bukan karena bayaran atau jenis pekerjaan, tapi tempat Kyai Ali mengisi pengajian membuatku harus mempertimbangkan dengan matang. Selain itu aku harus meminta pertimbangan kepada mbak Nabila dan pak Wawan dulu. Aku sudah menjadi bagian dari keluarga mereka sekarang, takut disalahkan jika mengambil keputusan tanpa bicara dulu dengan mereka.
“Katanya kamu tidak keberatan mengabdi pada kyai Ali, ini kesempatan, lho.” jawab mbak Nabila ketika aku meminta pendapat.
“Pekerjaanku sedang banyak, Mbak. Rumah Aneesha sudah mulai direnovasi, kantor cabang Jogja juga sedang ada masalah, belum lagi aku sedang tanam modal di bisnis baru.” aku mencoba beralasan agar bisa menolak permintaan Kyai Ali.
“Jadwal pengajian Kyai Ali hanya seminggu sekali, sepertinya tidak akan mengganggu pekerjaanmu yang lain.”
“Nggak ada waktu istirahat dong, Mbak?”
“Tapi, Mbak-”
Belum sempat aku melanjutkan kalimat, mbak Nabila sudah menepuk pundakku, “jalani saja, dulu. Siapa tahu kamu bisa menemukan ketenangan yang selama ini kamu cari.”
Yang benar saja? Ketenangan yang selama ini kucari tidak mungkin bisa kutemukan dengan menjadi pengawal Kyai Ali. Apalagi tempat kyai Ali mengisi pengajian, bukan masjid atau mushola melainkan ….
“Kalau menurut bapak dan mas Akmal bagaimana?” Pertanyaan mbak Nabila membuatku menatap pak Wawan dan mas Akmal bergantian.
Seperti biasa, Pak Wawan memberi jawaban santai, “terserah Hara yang menjalani.”
Sementara mas Akmal, sama sekali tidak membantu meyakinkan keraguan. “Pikirkan dulu, Hara! Kalau mas jadi kamu, nggak pake lama langsung mas ambil. Lumayan, bisa cuci mat-”
Mas Akmal tidak menyelesaikan kalimat, sebab mbak Nabila lebih dulu menjewer telinganya dengan keras. Sampai ia mengaduh dan memohon ampun. Sontan aku dan pak Wawan menggelengkan kepala tidak habis pikir dengan tingkat konyol pasangan harmonis itu.
“Ingat, ya, Hara! Kalau kamu bersedia menerima permintaan Kyai Ali, jangan sampai kamu tergoda! Niatkan untuk berbuat baik, bukan memanfaatkan kesempatan.”
Ini yang membuatku ragu, apa aku bisa? Walau sudah lama tidak bersinggungan dengan dunia malam, tapi aku belum lupa caranya bermain-main dan bersenang-senang. Namun, sepertinya permintaan Kyai Ali cukup menarik.
__ADS_1
Selama beberapa hari aku berpikir tentang baik dan buruk jika menerima permintaan kyai Ali atau menolaknya. Aku memang tipe orang yang penuh dengan perencaanan, tidak tergesa mengambil keputusan, hingga mengakibatkan sesal kemudian. Sampai akhirnya aku menerima, menjadi pengawal setiap Kyai Ali mengisi pengajian di sebuah lokalisasi. Rabu pagi menjadi agenda rutin aku harus siap mengantar sekaligus mengamankan kyai Ali selama berada di tempat yang berhasil mengubah pandangan, sejak pertama kali aku datang.
Saking sibuknya menjalani hari, sampai aku hampir lupa menghadiri pertemuan pra opening cafe. Ya, aku menanam modal pada cafe yang dibangun oleh teman-teman Ghufron. Cafe yang merupakan impian terbesar Ghufron dan Jenar. Sekarang sedang berusaha direalisasikan oleh teman-temannya.
Beruntung Akbar mengingatkan, jadi aku segera melesat setelah menyelesaikan urusan di kantor cabang. Sebelumnya tidak ada yang mengatakan bahwa Jenar akan datang di pertemuan ini. Ternyata dia yang merancang konsep interior cafe. Oh, ya. Cafe ini adalah rencana besar Ghufron sudah tentu dia merancangnya bersama calon istri, bukan?
Beberapa hari berusaha agar tidak bersinggunggan dengan Jenar, ternyata malah bertemu dalam satu ruangan, membahas hal yang sama pula. Sungguh yang terjadi kadang tidak sesuai apa yang direncanakan, selucu itu memang takdir.
Aku bersikap profesional saat membahas rancangan konsep cafe, termasuk design interiornya. Berusaha menempatkan diri sebagai penanam modal terbesar, jadi ada hak untuk tidak setuju dengan konsep yang Jenar paparkan.
Namun, aku tidak mengatakan langsung padanya, memilih Akbar sebagai perantara. Selain tidak enak hati, khawatir menyinggung perasaan, aku memang sedang enggan beradu pendapat dengan Jenar. Rasa kesal karena kejadian tempo hari masih sedikit terasa. Dia telah meremehkan seorang Hara, berani bermain-main dengan janji. Seenaknya saja mengatakan hanya bercanda, bukan sikap seorang yang berpendidikan.
Bukan Jenar yang menjawab keberatanku tentang konsepnya, melainkan Nalini. Aku jadi berdebat panjang dengan adik almarhum Ghufron itu. Dia bersikkeras mendukung Jenar, sedangkan aku ingin konsep itu diperbaiki. Susah memang bicara dengan anak-anak muda yang belum banyak pengalaman tentang bisnis.
Ketika aku dan Nalini saling melempar pemikiran, seseorang tidak sengaja menyenggol kaleng berisi bir yang baru saja dibuka. Entah siapa yang membawa bir saat pertemuan seserius ini, membuatku tak habis pikir saja.
Mataku awas memperhatikan Nalini yang sibuk karena bajunya terkena tumpahan bir. Sementara di sebelahnya, Jenar sedang menutup hidung menggunakan ujung kerudung.
Aku menghitung dalam hati, satu detik, dua, tiga … dalam hitungan ke lima, Jenar berdiri dengan kasar, tergesa berlari meninggalkan rapat tanpa mengatakan sepatah kata pun.
“Kebelet pipis mungkin dia,” ucap Nalini. Sedangkan yang lain hanya mengangkat bahu, tidak mau tahu.
Mungkinkah hanya aku yang tahu tentang keadaan Jenar? Bau alkohol yang menguar tajam dari tumpahan bir, pasti membuat dia tidak nyaman. Aku tahu pasti apa alasan dia tergesa pergi.
Dari sekelompok orang yang katanya teman komunitas Jenar dan Ghufron ini, tidak ada seorang pun yang merasa bersalah. Termasuk orang yang membawa bir, juga yang menyenggol hingga cairan berbau tidak enak itu tumpah. Baru kali ini aku merasa bau tidak sedap, padahal yang tumpah hanya minuman beralkohol dengan kadar paling ringan.
Apa karena aku sudah tidak lagi mengkonsumsinya, jadi lupa dengan aroma minuman beralkohol?
Tidak ada yang peduli dengan kepergian Jenar. Hingga waktu terus berputar, sedangkan gadis itu takkunjung kembali. Terlalu lama jika dia pergi hanya sekedar ingin buang air.
“Ini kopinya siapa?” pertanyaan Nalini berhasil mengusik konsentrasi yang memang telah buyar. Aku memperhatikan dia mengambil kopi instant dalam sachet kecil yang tergeletak di dekatnya. Membuatku mengingat akan sesuatu.
Tanpa berkata apa pun, segera aku beranjak. Dengan setengah berlari menyambar kopi dari tangan Nalini, mengikuti arah ke mana Jenar tadi pergi. Langkahku terhenti, ketika sampai di luar bangunan. Tidak ada siapa-siapa di sana, tapi ada anak tangga di ruangan paling depan, berhasil menarik perhatian.
Sengaja aku mengeraskan suara langkah menaiki anak tangga, agar terdengar oleh siapa pun yang ada di atas. Semilir angin menerpa, ketika langkahku sampai di rooftop. Berhasil menyibak rambut yang sedikit memanjang karena jarang kupotong.
Begitu aku menyapukan pandangan ke seluruh penjuru rooftop, ada rasa lega melingkupi. Melihat seorang gadis yang sedang duduk memeluk lutut, reflek kakiku bergerak pelan. Ujung kerudungnya bergoyang dihempas angin, menggoda untuk memperhatikan dengan lebih teliti.
Meski samar, aku bisa melihat bahunya naik-turun dan terdengar hembusan napas tidak beraturan. Ya, Tuhan! Gadis ini sedang menggigil.
Aku menekuk satu lutut di hadapannya sambil membuka bungkus kopi. Harum khas aroma serbuk kopi menguar ke mana-mana, karena ditiup angin. Berhasil membuat Jenar mengangkat kepala yang semula dibenamkan diantara kedua lutut.
Dengan gerakan cepat, Jenar menangkupkan kedua telapak tangan, menggenggam tanganku yang sedang memegang kopi. Ia menarik sekuat tenaga, menghirup aroma kopi bubuk dalam-dalam dengan mata terpejam. Sepertinya dia sedang mencari ketenangan, berhasil membuat hatiku mencelos.
__ADS_1
Kubiarkan tangannya yang dingin menggenggam erat tanganku sambil terus menghirup bubuk kopi, sampai dia menemukan ketenangannya sendiri. Sebab hanya ini yang bisa kulakukan untuk membantunya sekarang.
Untuk pertama kali dalam hidup, aku melihat sisi lemah seorang gadis. Selama ini aku mengenal Jenar yang manis dan ceria, bukan dia yang menahan segala kesakitan seperti ini. Gadis ini berhasil mematik rasa ibaku.