Merapah Asa, Menjemput Hidayah

Merapah Asa, Menjemput Hidayah
92. Menolak Gejolak


__ADS_3

...🌵Ketika hati sudah bergetar, tapi logika ingin menolak tumbuhnya rasa, mengelak adalah cara terbaik untuk menolak gejolak.🌵...


Hara melongok kaca spion kanan dan kiri bergantiam, memastikan lalu-lintas di belakang aman untuk mulai melaju. Setelah mobilnya berbaur dengan kendaraan lain, ia melirik ke samping kiri sejenak seraya mengulurkan tangan untuk mengecilkan volume radio. Nampak Jenar duduk sambil cemberut, cukup untuk membuatnya merasa bersalah atas tindakan pagi ini.


“Pakai seatbealthnya!” seru Hara. Sudah beberapa kali mengantar Jenar, ia jadi hafal jika gadis itu selalu lupa memakai sabuk pengaman.


Jenar menuruti perintah Hara, memakai sabuk pengaman dengan diam dan tanpa melirik sedikit pun ke samping. Gadis itu justru mengambil sebuah buku dari tas, lalu mulai membacanya. Hara menangkap sikap Jenar tersebut sebagai upaya untuk menghindar dan itu cukup mengganggunya. Ia tidak ingin perjalanan kali ini terlewatkan begitu saja tanpa saling bicara. Rasanya aneh jika sepanjang perjalanan ia tidak mendengar suara Jenar.


“Tumben baca buku, biasanya ngaji?” Hara bukan orang yang suka berbasa-basi. Oleh karena itu, dia sering kesulitan memilih pertanyaan yang tepat untuk memulai obrolan.


“Mau dimatikan saja radionya, kalau kamu terganggu?” Jenar menggeleng, tanpa ingin mengalihkan fokus dari membaca buku. Kesal dengan Hara yang tidak sadar telah membuatnya batal wudlu, sehingga tidak bisa mengisi perjalanan dengan membaca Al-qur'an.


Hara berpikir sejenak, mencari topik yang bisa menarik perhatian Jenar. Sebuah ide terlintas, saat ia melihat gerobak pedagang soto di pinggir jalan.


“Sudah sarapan belum? Masih ada waktu, kita bisa mam-”


Hara tidak bisa melanjutkan kalimat, sebab Jenar memotongnya dengan jawaban singkat, “Saya sudah sarapan.”


“Kalau gitu mampir minimarket saja, beli jajanan atau apa gitu? Kamu pasti nggak bawa air minum, kan?”


“Kalau Pak Hara mau mampir, tinggal belok saja, nggak perlu minta persetujuan saya. Yang nyetir, kan, bapak sendiri.” Jenar berkata sambil membalik halaman buku.


“Ya, barang kali kamu keberatan, pengin langsung ke kampus tanpa mampir-mampir.”


Rupanya Hara gigih ingin mendapatkan perhatian gadis manis yang tidak kenal pensil alis itu. Usahanya berhasil, Jenar menutup buku, lalu memutar bola mata. Ia jengah dengan sikap Hara yang berubah, tidak seperti biasanya.


“Nah! Itu Pak Hara tahu.” sindir Jenar.


Bukannya berhenti bicara, Hara justru menoleh sekilas sambil bertanya dengan polos, “Jadi kamu ingin langsung ke kampus atau mampir dulu?”


Jenar membuang napas kasar, “Pak Hara kenapa, sih?” Lalu ia memutar tubuh, menghadap Hara, “Pak Hara dipecat sama Kak Reyfan, atau Kyai Ali sudah dapat sopir baru?”


“Nggak. Saya masih tetap tangan kanannya Reyfan sampai detik ini. Bisa apa dia tanpa saya? Kyai Ali juga masih butuh saya jika ada jadwal mengisi pengajian di tempat-tempat tertentu. Maksud kamu apa tanya seperti itu?” Hara menggeleng, pura-pura tidak tahu arah pembicaraan Jenar.


Padahal dia hanya ingin memancing agar gadis itu bicara banyak. Kelihatannya saja pendiam, tapi sebenarnya Jenar ini tipe yang tidak mudah berhenti kalau sudah bicara. Berbincang tentang topik apa saja, selalu ditanggapinya dengan asyik.


“Pak Hara sadar nggak, sih, kalau sekarang jadi banyak ngomong? Seperti pengangguran yang lagi bingung mau ngapain, sampai menguntit saya pagi-pagi gini. Pak Hara lagi nggak punya kerjaan, ya?” cetus Jenar kembali mengubah posisi menghadap ke depan.


Hara menunjuk hidungnya sendiri, “Saya? Banyak omong?”


Jenar mengangguk, “Bukan cuma banyak omong, tapi jadi usil juga. Pokoknya Pak Hara nggak kayak biasanya.”


“Begitukah?” Hara melirik sekilas, lalu kembali menatap jalan raya yang ramai, “Memangnya kenapa? Apa kamu terganggu kalau saya jadi banyak omong dan usil?”

__ADS_1


Jenar membetulkan jilbab, gerakan spontan karena tiba-tiba ia merasa salah tingkah mendengar pertanyaan Hara. Sebab, nada bicara Hara menyiratkan perhatian sekaligus penghargaan.


Ia melirik sejenak ke arah Hara, lalu menunduk seraya menjawab lirih, “Bukan karena terganggu, sih. Cuma aneh saja, karena biasanya Pak Hara diam dan ga-lak.” ia sengaja menjeda kata terakhir karena takut Hara tersinggung.


“Saya galak?” Hara tidak menyangka, ternyata selama ini menurut Jenar dia galak. Ia jadi ingin tahu dari segi mana penilaian itu, “Memangnya saya pernah memarahi kamu?”


Jenar mengangkat kepala, mengatupkan bibir dengan pipi mengembung. Ia memberanikan diri menatap Hara sambil mengangguk. Ada rasa khawatir dalam hati, Hara akan marah jika ia menjawab dengan jujur.


“Masa, sih? Kapan?” Hara mengernyit, mengingat-ingat kapan kiranya ia pernah memarahi Jenar.


“Maaf, kalau saya menyinggung bapak.” ungkap Jenar ragu-ragu.


Hara tersenyum kecil, seraya menginjak pedal rem karena lampu rambu lalu-lintas berwarna merah. Ia mengangguk, tidak masalah jika Jenar ingin mengatakan kejujuran, sebab ia tidak merasa pernah memarahinya. Hatinya justru merasa terharu, seumur hidup baru kali ini ada seseorang yang memikirkan perasaannya. Selama ini tidak pernah ada yang peduli, entah dia marah, sedih, senang atau kecewa sekali pun.


“Coba katakan! Kapan saya memarahi kamu, sehingga kamu bisa mengatakan saya galak.” Hara ingin tahu bagaimana penilaian Jenar tentang dirinya selama ini. Alasan apa yang membuatnya terlihat galak di mata gadis itu.


“Ehm …,” Jenar terlihat ragu-ragu, tapi ia memutuskan untuk mengatakan yang telah lama tersimpan, “Pertama Pak Hara marahin saya, waktu keluar dari makam Mas Ghufron, karena saya tidak mau memakai jaket bapak. Kedua Pak Hara marah lagi waktu saya makan di rumah Mbak Nabila, kata bapak saya rakus. Pak Hara juga marahin saya waktu di rooftop cafe, karena saya mau pulang sendiri naik taksi. Waktu pulang dari mata langit, juga saat saya nggak mau berobat, terus saat saya nggak sengaja melukai kening bapak. Bahkan tadi kalau saya tidak segera ikut, pasti Pak Hara juga marah, kan?”


Hara menoleh, hanya sebentar karena harus kembali melajukan mobil setelah lampu apil berganti warna menjadi hijau. Ia memutar ingatan, ternyata sikap yang menurutnya biasa saja selama ini, diterima lain oleh Jenar. Bisa jadi orang lain pun demikian, punya penerimaan berbeda tentang sikapnya.


“Sering banget, ya, saya marah sama kamu?” Sebenarnya bukan sebuah pertanyaan, tapi pernyataan.


“Baru sadar, Pak?” Jenar melirik Hara, sedangkan yang dilirik hanya tersenyum masam sambil tetap fokus menyetir.


“Terima kasih,” ucap Hara.


“Sudah menyadarkan saya, kalau selama ini saya galak.” jawab Hara seraya tersenyum ke arah Jenar.


Meski hanya sekilas, tapi berhasil membuat Jenar ikut tersenyum. Gadis itu lega karena Hara tidak tersinggung dengan penilaiannya. Dalam hati ia berharap Hara akan memperbaiki sikap.


“Pak Hara kenapa jarang tersenyum?” Jenar ingin tahu, karena lebih sering melihat ekspresi wajah Hara yang datar.


“Karena tidak punya alasan untuk tersenyum.” jawab Hara.


Jenar tersenyum, sudah bisa menebak jawaban Hara pasti sangat kaku. Tentu saja tidak memuaskan rasa ingin tahunya.


“Selalu ada alasan untuk tersenyum, Pak Hara! Misalnya untuk menyapa teman, waktu berpapasan dengan orang, atau kalau melihat sesuatu yang lucu. Masa Pak Hara sama sekali nggak pengin senyum, gitu?” Jenar sampai menggerakkan tangan, saking antusiasnya.


Hara menggeleng, “Saya nggak punya teman, papasan sama orang kalau nggak kenal kenapa harus tersenyum? Nggak lihat ada yang lucu juga, jadi untuk apa senyum?”


“Ya, Alloh, Pak Hara! Datar banget, sih, hidup bapak? Persis kayak papan tulis, deh.” Jenar, gemas mendengar ucapan Hara.


“Apa? Papan tulis?” Hara menggeleng tak percaya Jenar mengatainya.

__ADS_1


Jenar mengangguk lalu berseru, “Iya, papan tulis. Udah datar, item lagi, suram!”


Hara tidak marah, justru tertawa mendengar jawaban Jenar. Dalam benak ia membayangkan wajahnya berubah jadi papan tulis jaman dahulu. Jenar pun ikut tertawa, padahal dia sendiri yang bicara.


“Sial banget, kamu ngatain saya papan tulis!” gerutu Hara di sela tawa.


Jenar memegang perutnya sendiri, “Lucu, ya, Pak? Saya sendiri yang ngomong, saya juga yang ikut ketawa.”


Mereka berdua terbahak, ternyata tawa bisa menular. Sesederhana itu membuat orang lain bahagia, diri sendiri pun ikut senang.


“Nah! Gitu, dong, Pak.” Hara segera menghentikan tawa, melirik Jenar seraya mengerutkan dahi.


“Tabassumuka fii wajhi akhika laka shodaqoh, senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah. Pak Hara harus sering tersenyum, biar kerutan di dahi sedikit berkurang.” ucap Jenar membacakan sebuah hadist riwayat Imam Muslim.


Reflek Hara mengusap dahi dan merasakan kerutan halus di sana. Pantas Jenar selalu memanggilnya dengan sebutan ‘Pak’. Tanpa disadari ia pasti sudah terlihat lebih tua dibanding usia sebenarnya.


“Padahal Pak Hara kalau senyum kelihatan lebih muda, loh.”


Hara menoleh demi memastikan ucapan Jenar, “Sungguh?”


Jenar mengangguk, membuat Hara merasa percaya diri. Ia menatap Jenar sejenak sambil bertanya, “Kamu suka kalau saya tersenyum.”


Jenar mengangguk lagi, tapi ada kekhawatiran Hara salah paham. Lalu ia menegaskan sikap dengan berkata, “Saya lebih suka melihat Pak Hara tersenyum dari pada marah-marah, ketus dan galak.”


Hara tersenyum masam. Jawaban Jenar hanya sebatas kalimat biasa, tapi ada harapan yang tersirat dalam hatinya. Meski ia tahu, Jenar mungkin tidak memiliki rasa yang sama terhadapnya. Kini, ia harus meredam rasa, menolak gejolak dalam hati. Agar jangan sampai kuncup itu berbunga, cukup sampai di sini saja dan harus tersimpan dalam hati.


"Pak Hara belum jawab pertanyaan saya." Jenar menatap Hara.


Yang ditatap menoleh lalu bertanya, "Pertanyaan yang mana?"


"Ehm ...," Jenar nampak ragu melanjutkan kalimat, "Kenapa Pak Hara ngikutin saya?"


"Itu-" Hara menjeda jawaban, "Saya sudah bilang nggak ngikutin kamu. Tadi saya nunggu temen."


Jenar manggut-manggut. Ternyata susah juga membuat Hara mengakui perbuatannya, padahal sudah sangat jelas.


Jenar melirik Hara yang tiba-tiba terlihat salah tingkah. Ada praduga yang muncul dalam hati, membelukar pelan, menyelimut perasaan. Entah apa motif Hara menguntitnya pagi ini.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung ....


Hai, teman2. Seperti biasa, kalau tidak ada nama di bagian kiri atas, artinya cerita ini memakai sudut pandang saya😁


__ADS_2