
...🌵Bukan sahabat, jika tidak peka pada perubahan pribadi satu sama lain🌵...
Jakarta
Reyfan
"Yang ini saya pelajari dulu, kamu boleh keluar!" Aku memberikan tumpukan berkas pada sekretarisku, setelah selesai menandatanganinya. Beberapa dokumen masih kutahan untuk diteliti ulang lebih detail.
"Rapat koordinasi dengan semua divisi 15 menit lagi, ya, Pak. Meeting dengan Pak Johan pada jam makan siang nanti." Aku mengangguk paham, ketika Carrisa memberitahu jadwalku hari ini dan membiarkannya keluar ruangan.
"Kamu sudah tahu siapa lawan tender kita kali ini, Hara?" Aku melirik sekilas ke sofa tempat Hara sedang duduk sambil menatap layar laptop yang menyala.
Tampak Hara mengangguk sebelum menjawab, "Bukan baru sekali kita bersaing dengan mereka, kenapa kamu sangat khawatir."
"Dua kali kita kalah tender dengan mereka." Jawabku menjelaskan alasan kekhawatiran yang beberapa hari ini memenuhi kepala. Hingga memintanya kembali ke Jakarta segera mungkin.
"Padahal secara kwalitas produk, harusnya kita lebih unggul dari mereka." Hara seperti tidak percaya jika perusahaanku bisa kalah tender dengan kompetitor lama yang punya strategi baru.
"Jika kulihat dari beberapa kali tender, mereka selalu menggunakan sistem marketing yang berbeda. Kalau kali ini kita kalah lagi, kredibilitas perusahaan bisa hancur." Jelasku.
"Artinya mereka punya tim marketing yang kreatif." Tukas Hara.
Aku mengangguk setuju, "Sepertinya karena mereka masih baru, jadi punya semangat membara."
"Belum tentu juga, bisa jadi karena lebih berpengalaman." Hara tidak setuju dengan penilaianku.
Begini kalau kami berdiskusi, selalu berbeda pendapat. Ibarat makan masakan yang sama, tapi pendapat kami tentang rasa pasti berbeda. Mungkin aku hanya akan menilai dengan enak atau tidak enak. Sementara Hara bisa detail sekali, sampai bumbu yang digunakan pada masakan tersebut. Mungkin karena dia terbiasa mempelajari sesuatu dari segala sisi. Aku yang kurang teliti, nyatanya kacau jika tidak ada dia di sisi.
"Percuma punya produk unggulan, kalau marketingnya asal-asalan. Sebaliknya, produk biasa akan jadi luar biasa jika dimarketingkan dengan sebaik mungkin." Sarkas Hara.
Aku mengangguk setuju. Kalau sudah ada Hara semua masalah aku yakin bisa teratasi. Dua bulan terakhir rasanya isi kepalaku penuh, karena tidak bisa mencari jalan keluar atas masalah yang terjadi baik di rumah atau pekerjaan.
"Materi rapat sudah kukirim lewat email." Jelas Hara sambil menutup monitor laptop, "masih ada waktu sepuluh nenit untuk mempelajarinya.
Aku mengangguk, segera membuka kotak masuk email. Namun, ekor mataku sempat menangkap pemandangan aneh. Hara yang tadinya duduk tegak, kini menyandarkan punggung pada sandaran sofa. Dia seperti sedang mengintip aktivitas istriku yang dari tadi duduk di sebelahnya. Bukan! Lebih tepatnya dia mengintip layar hp Aneesha yang sedang melakukan video call dengan seseorang. Sejak kapan Hara punya rasa ingin tahu seperti manusia normal? Selama ini dia seperti hidup sendiri, tidak mau tahu urusan orang lain.
Karena penasaran kudekati dia. Tebakanku benar, Hara sedang melirik layar ponsel milik Aneesha. Tunggu! Dia bahkan ikut tersenyum saat Aneesha bercanda dengan lawan bicara di balik telepon. Sejak kapan manusia kaku itu bisa tersenyum? Sengaja aku berdiri di belakang sofa untuk memerhatikan gerak-gerik Hara.
"Eh? Sudah mau rapat, ya, Sayang?" Justru Aneesha yang sadar akan keberadaanku, karena tertangkap pada kamera ponselnya.
__ADS_1
Aku mengangguk, tanpa melepas fokus pada Hara yang tiba-tiba membuang muka. Persis seperti anak kecil yang ketahuan mencuri mainan milik temannya. Dia bukan hanya mengintip, tapi juga menguping pembicaraan Aneesha dengan adiknya. Aneh, seperti bukan Hara saja.
"Aku tunggu di sini sampai selesai rapat, ya?" Pinta Aneesha.
"Beneran mau nunggu, nggak bosan?" Tanyaku memastikan.
Aneesha menggeleng, lalu mendongak agar wajah kami bertemu, "Nggak bosan, demi makan siang bareng suami."
Kuusap kedua bahu Anessha, lalu menunduk untuk memberikan kecupan singkat di keningnya. Istriku ini sejak hamil ada-ada saja keinginannya. Termasuk hari ini dia merengek minta ikut ke kantor sampai jam makan siang. Padahal aku sibuk sekali, dan dia pun sebenarnya ada jadwal bertemu klien di studio.
"Hei!" Terdengar suara teriakan dari ponsel, "Jangan pamer kemesraan di depan anak kecil, dong!"
Aku dan Aneesha kompak tertawa, lupa kalau panggilan video dengan Jenar masih berlangsung. Untung hanya sebuah kecupan di kening, belum pindah ke area lain.
"Makanya, cari pacar biar nggak iri lihat orang mesra-mesraan!" Seru Aneesha mengajak adiknya bercanda.
"Nggak mau, ah! Banyak mudhorotnya kalau pacaran, tapi kalau ada yang mau ngajak langsung nikah, bisa dipertimbangkan." Ungkap Jenar riang.
"Ya, udah tinggal cari cowok yang sudah siap menikah." Sahut Aneesha.
"Yang kayak Kak Reyfan masih ada nggak, sih? Ganteng, kaya, sayang istri, sayang mertua, terus yang paling penting belum pernah punya pacar. Biar nggak sakit hati kalau ketemu mantan. Oya, jangan lupa harus soleh juga." Aneesha kembali tertawa mendengar ucapan adiknya. Jenar ini ada-ada saja, tapi aku jadi tersanjung dengan pujian itu.
"Susah kalau nyari yang seprti dia, tapi kalau yang lebih malah banyak. Misalnya lebih soleh, gitu." Ucap Aneesha, aku tahu dia hanya bercanda.
"Jangan pesimis dulu, pasti masih ada kok. Nggak perlu ganteng, yang penting dia soleh." Jawab Aneesha.
"Ya kalau bisa ganteng dan kaya juga, Kak. Biar dapat semuanya gitu, ikhlas wes aku." Jenar antusias.
"Dasar anak kecil banyak maunya!" Sungut Aneesha.
"Harus gitu, dong, Kak. Spesifikasinya harus jelas. Kalau cuma asal soleh, nggak usah susah-susah nyari juga sudah ada. Mas Soleh yang pasti sudah soleh sejak lahir." Ucap Jenar.
Aneesha tertawa, "Iya, ya? Mas Soleh memang beneran Soleh." Aneesha terbahak.
"Lha iya, wong namanya Soleh " Jenar berseru dengan nada bercanda.
"Eh tapi dia memang rajin salat, lho. Kalau ngaji nggak tahu bisa atau nggak. Tipe bapak sayang anak sepertinya, karena dia suka sama anak kecil," kata Anesha.
"Ah tapi Mas Soleh kokean tato, wedi!" Jenar mengungkapkan bahwa dia takut karena Soleh punya banyak tato. Lagi-lagi Aneesha tertawa.
__ADS_1
Aku menggeleng, lalu menepuk bahu Hara, memberi kode agar beranjak. Menanggapi gurauan dua kakak beradik itu tidak akan ada habisnya. Aneesha dan Jenar selalu heboh kalau ngobrol, padahal hanya lewat panggilan video. Bayangkan kalau bertemu langsung, pasti lebih ramai.
"Aku tinggal, ya, Sayang!" Pamitku pada Anessha, "kalau butuh apa-apa panggil saja Soleh."
Aneesha mengangguk seraya melambaikan tangan. Hanya seperti itu saja aku sudah merasa lega, artinya dia rela kutinggalkan sendiri di dalam ruangan. Sejak menikah, aku tahu bahwa setiap tingkah laku dan ucapan istriku layaknya do'a. Bagaimanapun keadaannya akan berimbas padaku. Dia bahagia, maka hari-hariku terasa mudah, begitu pula sebaliknya. Kecewanya adalah petaka bagiku. Maka aku tidak pernah memprotes tentang apapun yang dia lakukan selama baik dan tidak berbahaya. Agar dia selalu bahagia.
"Rapatnya harus selesai sebelum jam 12, biar kamu bisa ibadah dulu. Jadi sudah tenang saat meeting sama Pak Johan karena tidak punya tanggungan ibadah." Ucap Hara sebelum kami benar-benar keluar dari ruangan.
Hei! Sepertinya ada yang salah dengan isi kepala Hara, sejak kapan dia peduli dengan ibadah orang lain? Dia sendiri saja jarang beribadah, sejak dulu kami memang jarang melakukan ibadah. Aneh saja tiba-tiba dia mikirin tentang ibadah. Jangan-jangan ada yang mencuci otaknya selama di Jogja.
"Sejak kapan waktu ibadahku penting buat kamu?" Dahiku makin berkerut, ada yang berbeda dengan Hara setelah dua bulan tidak bekerja di perusahaan ini.
"Kalau mau mendisiplinkan karyawan, harus dimulai dari disiplin waktu bosnya dulu. Contohnya dengan tidak mengulur waktu istirahat dengan alasan rapat. Tidak melaksanakan ibadah tepat waktu karena alasan meeting." Tukas Hara melanjutkan.
"Memangnya aku sering mengulur waktu istirahat karyawan?" Tanyaku dengan dahi berkerut.
"Aku hanya mengingatkan, agar jangan sampai terjadi. Disiplin waktu adalah salah satu kunci keberhasilan semua program perusahaan. Kalau bosnya disiplin, semua karyawan juga ikut. Begitu juga sebaliknya." Tutur Hara. Makin terlihat berbeda saja sahabatku ini.
"Setuju sama Hara, jadi nggak ada alasan ninggalin salat, Pi. Kalau seluruh karyawan salat tepat waktu, aku yakin mereka akan jauh dari stress karena pekerjaan." Seru Aneesha menimbrung. Rupanya dia mendengar percakapanku dengan Hara.
Ini kenapa mendadak jadi religius, sih, semua orang? Habis dengerin ceramah kyai mana, sih? Nggak habis pikir sama Hara, hanya dua bulan pergi dari Jakarta perubahannya sudah signifikan. Bagaimana kalau setahun? Siapa sebenarnya yang memengaruhinya?
Jika tidak dekat sejak kecil, maka aku pasti. tidak peka dengan perubahan Hara. Sepertinya aku harus mencari tahu, siapa yang telah menyebabkan perubahan pada Hara. Walau sebenarnya bersyukur, sih. Dia lebih terlihat manusiawi.
.
.
.
.
Bersambung ....
Hayo siapa yang nungguin Hara? sekalinya muncul cuma sedikit😁
Maaf minggu lalu nggak muncul, karena aku lagi sibuk bantuin perayaan hari santri di pesantrennya Kyai Ali. gara2 Hara pulang ke Jakarta nih, jadi aku harus turun tangan. hahaha.
jadi minggu ini dobel up nggak? Tunggu aja, deh ya. kalau bisa ya up lagi, kalau nggak ya dimaafkan. 😁
__ADS_1
kira2 gimana cara Reyfan mencari tahu apa yang terjadi dengan asistennya? kenapa tiba2 jadi religius gitu? tunggu, ya. 😁😍
happy reding.