
🍁Seorang pria tidak pernah ingin menjadi pengecut, hanya saja tidak pandai mengungkapkan perasaan.🍁
Hara.
Aku keluar dari dalam rumah sembari memegang dada yang bergemuruh. Mengatur napas yang tersengal juga detak jantung yang kian tak berirama. Kutarik napas dalam-dalam, kusandarkan punggung pada dinding sebab kakiku terasa lemas, hampir tak mampu menopang tubuh.
Hembusan angin malam menyapu kulit, dingin kurasakan sampai ke seluruh tubuh. Bukan hanya tubuhku yang menggigil tapi aku merasa aliran darahku pun ikut membeku.
Ada apa ini? Apa yang terjadi dengan tubuhku ini?
Kupejamkan mata sambil menengadahkan kepala. Berusaha bernapas satu-satu walau susah payah. Sesak tak juga berangsur mereda, detak jantungku pun belum kembali normal.
Dari dalam rumah masih terdengar samar-samar suara mas Akmal membimbing Naufal membaca rangkaian do’a sebelum tidur. Aku tidak tahu do’a apa saja, sebab semua diucapkan mas Akmal dalam bahasa arab. Rangkaian do’a yang panjang dan berulang-ulang.
Aku merasakan tiba-tiba mataku berair, bersama dengan hadirnya kelebat bayangan mama. Angin yang bertiup sedikit kencang menyapu wajahku hingga cairan bening yang makin menggenang itu jatuh luruh menetes satu-satu. Aku merasa pipiku basah dan aku … menangis.
Dadaku kian terhimpit, tangisku makin tersedu, walau sudah kutahan sekuat tenaga. Kini kakiku benar-benar tidak kuat menopang tubuh, goyah, lalu luruh bersimpuh di lantai teras.
Kuambil kedua lutut, kupeluk erat menyembunyikan kepalaku di sana, menghalau pandangan yang mengabur karena genangan yang makin memupuk. Bahuku terguncang, seiring sedu sedan tangis yang makin menjadi.
Bayangan mama mendekat, makin dekat hingga kurasakan tangan dingin mama terulur menyentuh pipiku yang basah. Aku ingin menyentuh mama, tapi tanganku kaku seperti membeku. Tak bisa kugerakkan barang sedikit pun, berat.
Mama tersenyum, desau angin bertiup makin kencang. Membawa bisikan suara yang terdengar sangat merdu. Aku merindukan suara itu, suara memanggil namaku dengan penuh kelembutan. Namun kini kudengar suara itu pilu menyayat hati.
“Hara? Hara ….”
“Hara? Kenapa duduk di luar? Dingin, masuklah!”
Aku berusaha bersuara dengan nada bergetar meski tercekat, “Mama ... tolong, Hara! Tolong Hara, Ma!”
“Hara! Kamu kenapa?”
Tangan mama yang tadinya dingin, kini kurasakan perlahan menghangat. Hangat sekali menyentuh kulit wajah, masuk ke dalam pori-pori, hingga seluruh wajahku ikut menjadi hangat. Pelan-pelan aku berusaha menggerakkan tangan, menyentuh telapak tangan yang menangkup wajahku.
Aku berhasil menggenggam telapak tangan yang terasa hangat itu. Berdiam agar hangat merasuk ke dalam aliran darahku yang membeku. Tapi desau angin malam tak mengijinkan kehangatan merasuk ke dalam tubuhku.
Bayangan mama memudar, mungkin karena pandanganku makin berkabut, tak lama kemudian hilang begitu saja. Namun senyum mama masih terpancar pada wajah bersih berbingkai kerudung hitam. Entah sejak kapan mbak Nabila duduk bersimpuh di hadapanku.
“Hara, kamu merindukan ibu?” sentuhan tangan lembut mbak Nabila mengusap airmata di pipiku. Kini kurasakan hangatnya aliran darah, mengalir ke seluruh tubuhku.
Mbak Nabila menarik kepalaku ke dalam pelukan. Kusandarkan daguku pada bahunya yang kecil namun terasa nyaman. Tergugu aku karena usapan tangan mbak Nabila pada punggungku.
“Maaf-” hanya satu kata itu yang dapat kuucapkan sebab getar suaraku tercekat di kerongkongan. Terhimpit oleh rasa yang menyeruak dari dalam hati. Rasa yang tak kukenali, sebab seumur hidup baru kali ini hadir.
“Tidak apa-apa. Besok kita ke makam ibu, ya. Kita berdo’a untuk ibu, mungkin ibu juga sedang merindukanmu.”
Aku makin tergugu karena ucapan mbak Nabila. Dia bisa tenang karena setiap saat bisa mengirim rindu untuk mama, sedangkan aku? Apa mungkin do’a yang kupanjatkan akan sampai ke mama, sedangkan cara berdo’a kami beda?
Pekat malam membungkus bintang-bintang dan bulan sabit, udara dingin menyeruak bersama semilir angin yang bertiup kencang. Suara binatang malam bersahutan memainkan melodi alam.
Aku menghabiskan tangis di bahu mbak Nabila, tidak peduli ada atau tidak yang melihatku. Tidak biasanya aku menunjukkan kelemahanku, tapi malam ini aku sedang tidak peduli. Aku hanya ingin mengurai sesak yang menghimpit dada, yang tidak ku ketahui apa penyebabnya. Berharap esok sudah kembali normal seperti sedia kala.
Mungkin semua ini terjadi hanya karena aku sedang merindukan mama ….
__ADS_1
***
Nabila Arifatul Husna
Aku hanya seorang ibu rumah tangga biasa. Mempunyai seorang suami yang insyaalloh soleh dan alhamdulillah sudah diberi karunia seorang putra lucu berumur 4 tahun.
Aku menempuh pendidikan di pondok pesantren sejak kecil, dan hanya lulus madrasah aliyah (setara SMA). Setelah itu aku memilih nyantri di pondok pesantren dekat rumah, dari pada menempuh pendidikan formal yang lebih tinggi. Apalagi alasannya kalau bukan karena aku tidak ingin membebani bapak.
Kisah hidupku tidak terlalu menarik, cenderung menyedihkan malah. Sejak kecil aku dan saudara kembarku dibesarkan oleh seorang bapak hebat. Bisa dibilang aku ini tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu, meskipun sejak lahir sampai remaja ibuku masih hidup.
Waktu kecil, aku tidak terlalu mempermasalahkan kealpaan hadirnya ibu. Tidak terlalu berpengaruh padaku, sebab keseharianku lebih sering berada di pesantren dari pada di rumah. Awalnya hanya sering ikut bapak membersihkan kebun dan menata taman pesantren, lama-lama aku dan saudara kembarku tertarik untuk menimba ilmu di sana.
Beranjak remaja, baru aku sadar. Ibu yang seharusnya bisa kutemui saat aku pulang karena pesantren libur. Ibu yang seharusnya memasak makanan kesukaanku, ibu yang seharusnya mengajariku memakai pembalut saat pertama kali aku mendapat tamu bulanan. Pada kenyataannya hampir tidak pernah kutemui.
Aku dan saudara kembarku tumbuh dan dididik hanya dengan kasih sayang bapak, tanpa sentuhan tangan lembut seorang ibu. Ketidak hadirannya bukan karena kematian. Ibu ada namun dia memilih untuk tidak hidup bersama dengan kami. Ingin hidup yang lebih berkecukupan, tidak seperti kami yang hidup di desa dan serba terbatas.
Dulu, aku dan saudara kembarku tidak keberatan ibu merantau di ibu kota. Sebab setiap ibu dan bapak berkunjung ke pesantren mereka selalu membawakan banyak hadiah untuk kami. Namun lambat laun, setelah kami bertambah usia, kami merasa semua hadiah itu tidak ada gunanya. Kami lebih butuh kehadiran ibu dari pada semua hadiah yang ia berikan.
Saat aku sangat merindukan keberadaan ibu, kenyataan pahit pun kudapat. Waktu itu aku masih usia sekolah dasar, aku menanyakan kepada bapak, kenapa ibu makin jarang pulang? Bapak menjawab sambil tersenyum, bahwa bapak dan ibu sudah bercerai.
Aku masih terlalu kecil untuk mengetahui arti kata cerai, namun aku tahu secara umum bercerai artinya bapak dan ibu berpisah dan tidak tinggal bersama lagi. Saat itu aku tidak terkejut, apa bedanya? Toh mereka memang tidak tinggal bersama sejak ibu memutuskan merantau dengan alasan memenuhi kebutuhan hidup kami.
Kebutuhan hidup siapa sebenarnya yang ingin ibu penuhi? Jika waktu bisa diputar ulang, ingin aku mengatakan pada ibu, bahwa yang aku dan saudara kembarku butuhkan bukan hanya kecukupan dalam bentuk materi saja. Tapi hadirnya seorang ibu dan bapak secara nyata, itulah sebenarnya yang lebih kami butuhkan dalam hidup.
Tapi nasi sudah menjadi bubur, aku tidak mengerti jalan pikiran orang dewasa waktu itu. Aku dan saudara kembarku hanya bisa menerima apapun yang sudah mereka putuskan. Serta menjalani hidup seperti yang sudah digariskan. Toh kami tetap bisa menjadi manusia yang baik, meski tanpa dididik oleh seorang ibu sekali pun.
Walaupun sudah berpisah dengan bapak, ibu masih rutin mengunjungi kami. Membawakan banyak hadiah dan memastikan kami, anak-anaknya tidak kekurangan uang. Ibu pikir dengan demikian bisa mengganti kasih sayangnya yang tidak pernah kami dapatkan.
Aku tidak pernah membenci ibu, bahkan merasa kecewa karena keputusannya pun tidak. Sebab bapak selalu menanamkan kepada kami, apapun yang ibu lakukan, jika itu menurut kami salah sekali pun. Jangan pernah membenci ibu, sebab dari rahimnya kami dilahirkan. Ibu telah bertaruh nyawa demi kami bisa melihat dunia. Air susu ibu yang kami minum, menjadi asupan nutrisi pertama dan terpenting saat kami belum bisa mengenal apa pun di dunia ini.
Oleh karena itulah, saat mendapat kabar bahwa ibu meninggal, kami bersama beberapa sanak keluarga berangkat ke Jakarta. Kenyataan bahwa keluarga suami ibu ingin mengurus pemakaman ibu secara nasrani kami tolak. Bapak bersikeras membawa jenazah ibu pulang, agar bisa dimakamkan secara muslim. Karena bapak yakin, ibu masih menganut keyakinan yang sama seperti kami.
Itu adalah hal pertama yang membuatku tidak habis pikir dengan sikap bapak. Ibu sudah meninggalkan kami, menyakiti kami, tapi bapak masih mau mengurus jenazahnya. Bahkan repot-repot membawanya pulang dari Jakarta yang tentu saja memerlukan biaya tidak sedikit.
Saat seluruh keluarga dari pihak ibu sudah angkat tangan, tidak mau lagi mengurus jenazah ibu karena sudah terlalu kecewa dengan ibu. Tapi bapak masih mau bersusah payah mengurus pemakaman ibu secara muslim. Bahkan sampai sekarang bapaklah yang rutin membersihkan makam ibu juga mengirim do’a untuknya.
Bapak mengajak aku dan saudara kembarku berkunjung ke asrama, tempat anak laki-laki ibu tinggal. Bapak yang hidupnya sederhana, cenderung kekurangan masalah ekonomi, masih bisa menyempatkan waktu untuk mengunjungi anak itu. Anak yang dikenalkan ibu pada kami, sebagai adik kami, Hara.
Pernah aku bertanya mengapa bapak melakukan semua itu? Bukankah ibu dan Hara sebenarnya sudah bukan tanggung jawab bapak lagi? Bapak dengan tanpa dendam menjawab, “kita tidak tahu, hari ini akan menjadi hari yang baik atau tidak. Tapi kita pasti bisa mengisinya dengan kebaikan.”
Menurut bapak, tidak ada salahnya berbuat baik kepada siapa pun. Bapak membersihkan makam ibu dan mengunjungi anak ibu di asrama, karena bapak hanya ingin berbuat baik. Takdir memang tidak bisa diubah sesuai keinginan kita, tapi kita bisa mengisi seluruh kehidupan dengan kebaikan. Sebab kita tahu, balasan dari kebaikan, tidak lain adalah kebaikan juga.
Keikhlasan bapak menjalani hidup memberiku teladan, tentang arti penerimaan yang sesungguhnya. Tidak kecewa jika apa yang kita inginkan belum tercapai, tapi tetap berusaha sampai Alloh mengabulkan do’a pada saat yang tepat.
Bapak ikhlas menerima kedatangan Hara, padahal anak itu pergi tanpa pamit kepada kami, setelah lulus sekolah asrama. Bahkan bapak meminta dia tinggal bersama kami, ketika dia bilang sedang ada pekerjaan di Jogja. Pekerjaan macam apa aku tidak tahu, belum pernah kutanyakan padanya tentang hal itu. Yang aku tahu dia bekerja di perusahaan tempat kerja ibu dulu.
Karena melihat bapak begitu tulus menerima Hara, aku pun tidak keberatan dia tinggal bersama kami. Tidak bisa dipungkiri, dalam tubuh kami mengalir darah yang sama. Sumber kehidupan kami berasal dari tempat yang sama, rahim dan air susu yang sama. Tidak ada alasan untukku membenci Hara, karena takdir hidupnya justru lebih menyakitkan dari pada aku.
Aku masih bersyukur mempunyai bapak dan sanak saudara, bisa setiap waktu bertukar pendapat dengan keluarga. Tapi Hara? Dia terlihat lebih borjuis memang, tapi hidup sebatang kara, tanpa keluarga dan saudara.
Saat aku tumbuh dewasa, aku bisa merasakan kehadiran orang tua, meski tidak sempurna. Tapi Hara? Sejak ABG sudah ditinggal kedua orang tua yang tidak pernah kembali, sebab berada di dunia yang berbeda.
Rasa iba menuntunku untuk menerimanya. Menganggap Hara sebagai keluarga, meskipun kami berbeda keyakinan. Sama sekali tidak pernah terpikir olehku, untuk meminta Hara berubah agar kami berkeyakinan yang sama. Aku tidak berhak melakukan itu, meskipun jauh dari dalam hatiku ingin.
__ADS_1
Menyalahi islam jika aku sampai memaksa Hara mengubah agamanya. Agamaku ini rahmatalil’alamin, rahmat bagi seluruh alam semesta. Islam adalah agama rahman, kasih sayang terhadap sesama manusia dan alam semesta. Bahkan Rosulullah SAW, dalam berdakwah pun tanpa ada paksaan.
Aku menyayangi Hara sebagai seorang adik, seperti bapak yang menganggapnya anak sendiri. Sejauh yang kulihat dan kurasakan, Hara baik. Putraku Naufal seketika dekat dengan Hara, sejak pertama kali bertemu. Menegaskan bahwa Hara tulus ingin menjadi bagian dari keluarga kami. Seperti yang semua orang tahu, perasaan seorang anak kecil tidak pernah bisa dibohongi, tahu mana yang tulus, mana yang tidak.
Tidak pernah sekali saja, Hara datang tanpa membawa buah tangan. Dia memanjakan Naufal dengan membelikan banyak mainan mahal. Dia juga membelikan bapak dan mas Akmal sarung. Mencukupi kebutuhan bahan makanan pokok tanpa aku memintanya.
Suatu hari dia datang dengan membawa mobil, menunggu kami selesai pengajian di masjid pesantren. Dia mengajak kami keliling kota Jogja, membelikan kami setelan baju muslim dengan merk ternama. Yang harganya membuat jiwa sederhanaku meronta.
Aku sempat curiga saat ia memintaku memilihkan sebuah jilbab. Aku sudah berprasangka yang tidak-tidak padanya, tapi Hara meyakinkanku kalau jilbab itu akan diberikan kepada adik bosnya. Sebagai ganti karena dia tidak sengaja merusak jilbab milik adik bosnya itu.
Kutepis semua prasangka buruk tentang Hara, meski sebenarnya aku ingin mengenalnya lebih jauh. Sebab masih banyak yang tidak kuketahui tentang adikku itu. Juga cerita tentang dia mengawal mobil kyai Ali pulang dari mengisi pengajian di Magelang. Hara bilang, kyai Ali diundang dalam acara empat bulanan istri atasannya di Magelang. Aku baru tahu ternyata keluarga atasan Hara kenal baik dengan kyai Ali. Pemilik pondok pesantren tempatku menimba ilmu.
Malam itu aku sedang mencuci piring kotor di dapur, bapak sedang menonton televisi bersama Hara. Sedangkan mas Akmal seperti biasa sedang menemani Naufal di kamar.
Sudah menjadi kegiatan rutin kami, mengajari Naufal rangkaian do’a sebelum tidur. Membaca ayat kursi, dua ayat terakhir surat Al-baqarah, tiga kali surah Al-mu’awwidzat (Al-Ikhlas, An-nas, Al-Falaq). Setelah itu baru membaca do’a sebelum tidur dan do’a berserah diri kepada Alloh.
Aku mendengar suara pintu dibuka, tapi tidak ditutup lagi. Setelah selesai mencuci piring, aku keluar dari dapur. Melihat bapak duduk terkantuk-kantuk dengan televisi menyala entah sedang menayangkan siaran apa. Sedangkan pintu depan dalam keadaan terbuka lebar, sampai udara dingin terasa masuk ke dalam.
Aku mendekat, bermaksud untuk menutup pintu. Tapi aku justru melihat Hara duduk dengan memeluk lutut di lantai teras. Kuhampiri dia, kupanggil namanya, memintanya masuk karena angin malam bertiup sedikit kencang.
“Hara, kenapa duduk di luar? Dingin, masuklah!”
Hara tidak menjawab, tapi kepalanya terangkat. Aku terkejut melihat wajahnya yang basah dan bahunya terguncang. Hara sedang menangis, airmata menganak sungai, dia terisak tanpa suara. Aku duduk bersimpuh di hadapannya, menatap manik penuh genangan bening yang mengisyaratkan pilu.
Begitu tanganku terulur menyentuh pipinya yang basah, Hara berucap parau, “Mama … tolong, Hara! Tolong Hara, Ma!”
Kutangkup wajah Hara yang terasa sedingin es dengan kedua telapak tanganku. Berusaha tersenyum, walau sebenarnya hatiku teriris melihatnya menangis. Kuusap airmatanya yang terus mengalir, bak air bah yang tidak bisa dibendung.
Kuatur nada suaraku agar tidak bergetar saat berusaha menenangkannya, “Hara, kamu merindukan ibu?”
Hara mengangguk. Segera kutarik dia ke dalam pelukan, mengusap punggung tegap yang kini sedang rapuh. Membiarkan adikku itu menyandarkan dagu pada bahuku, meski terasa berat karena tubuh Hara lebih besar dari pada tubuhku.
“Maaf-” ucap Hara lirih.
“Tidak apa-apa. Besok kita ke makam ibu, ya. Kita berdo'a untuk ibu, mungkin ibu juga sedang merindukanmu.”
Kurasakan bahu Hara makin terguncang, dia tergugu. Baru kali ini aku menemui pria yang begitu rapuh, bukan Hara yang kukenal. Hara yang kukenal adalah pria bertubuh tinggi tegap dengan bahu kokoh dan lengan yang kuat. Bukan pria yang menangis tergugu dengan airmata menganak sungai dan suara parau seperti ini.
Inikah Hara yang sebenarnya? Dia yang terlihat kuat dari luar, apakah hatinya sehancur ini di dalam sana? Apa yang Hara rasakan selama ini? Apa yang Hara sembunyikan selama ini? Apa yang sebenarnya membuat Hara menangis sehisteris ini?
Aku tidak berani berandai-andai, sebab aku belum mengenal Hara luar dalam secara keseluruhan. Melihat Hara seperti ini, rasa ibaku makin mendalam, hatiku ikut hancur dan airmataku pun tumpah tak bisa kutahan.
Hara … Hara ….
Ijinkan aku menyembuhkan lukamu dengan kasih sayangku. Ijinkan aku mengasihimu, mengganti kasih sayang ibu dan ayah yang sudah tidak bisa lagi kamu dapatkan. Ya, Alloh … berilah kami kekuatan ikhlas dan sabar yang paling serius. Ijinkan kami merengkuhnya, meski dia bukan hambaMu …
.
.
.
Bersambung....
__ADS_1