
🍁 Tuhan memberikan jantung dan hati kepada manusia, agar bisa memiliki berbagai perasaan. Salah satunya adalah rasa peduli.🍁
Hara.
Beberapa hari cuma bisa berbaring di tempat tidur, tidak hanya membuat otot-otot terasa kaku. Namun, pikiran juga ruwet seperti benang kusut. Mungkin karena aku terbiasa beraktivitas di luar rumah, jadi rasanya bosan hanya berada di ruangan yang sama dan tidak melakukan apa-apa. Sudah saatnya beraktivitas lagi, karena kesehatan sudah berangsur membaik.
Matahari pagi menyambut, sinar terangnya mampu menghangatkan udara dingin. Berisik suara burung-burung pi-pit memecah keheningan pagi. Aroma masakan menguar, memenuhi ruangan. Menambah semangat untuk mulai mengisi hari.
“Beneran sudah sehat kamu?” mbak Nabila bertanya ketika aku baru saja keluar dari kamar mandi.
“Sudah, Mbak. Bosan tiduran terus, nggak enak ditelepon setiap saat sama Reyfan. Anak itu kalau perintahnya tidak segera dilaksanakan suka nyebelin, Mbak.”
“Segitunya bos kamu itu. Apa dia tidak tahu kamu sedang sakit?”
“Tahu, Mbak. Cuma karena saya dari dulu walau sakit tetap berangkat kerja, jadi dia setengah tidak percaya kemarin saya benar-benar sedang butuh istirahat.”
“Jangan dipaksain, ya! Kalau kamu masih merasa pusing atau lemes, lebih baik istirahat. Lagi pula, bukannya kamu juga sudah kerja jadi sopirnya pak Kyai? Harusnya tidak masalah kamu abaikan perintah bos kamu itu.”
“Jadi sopirnya pak Kyai hanya sampingan, Mbak. Kerjaan utama saya, tetap sama Reyfan. Saya punya hutang budi sama kelurganya, tidak bisa berhenti begitu saja.”
“gitu, ya? Ya, sudah. Yang penting kamu jaga diri dan kesehatan. Jangan sampai sakit lagi.”
“Iya, Mbak.”
“Sarapan dulu sebelum berangkat. Nanti berangkatnya biar diantar sama mas Akmal, jangan naik motor sendiri.”
Aku menurut. Membiarkan mbak Nabila dan mas Akmal mengatur kegiatanku hari ini. Mbak Nabila menyiapkan bekal dan memberikan pesan yang banyak sekali sebelum aku berangkat kerja. Sementara mas Akmal, rela mengantarkan aku sampai ke kantor.
Semula ia hendak menunggu sampai aku selesai kerja, tapi pekerjaan yang banyak dan harus pindah ke beberapa tempat, tentu saja aku merasa tidak enak padanya. Jadi kuminta mas Akmal pulang lebih dulu, sebab aku juga harus ke rumah Aneesha untuk memeriksa kesiapan renovasi. Mungkin akan sampai sore, baru bisa pulang ke rumah.
“Kak Reyfan minta saya siapin mobil buat kamu. Lagian, kenapa kamu jadi manja, sih? Pakai diantar dan bawa bekal segala, seperti bukan Hara yang kukenal saja.” gerutu Noura saat melihatku berangkat diantar mas Akmal dan makan bekal yang disiapkan oleh mbak Nabila.
“Pantas saja betah tinggal di Jogja, kakak kamu baik banget, sih.”
Naura memang benar, puji Tuhan aku dikelilingi orang baik di sini. Sampai rela melepas semua kemewahan yang kupunya di Jakarta, demi tinggal sebagai orang biasa di Jogja. Sebab meski serba sederhana, ternyata di sini lebih nyaman dan menenangkan. Satu alasan penting aku betah tinggal di sini adalah karena di sini aku menemukan keluarga yang selama ini kurindukan.
“Ini perencanaan renovasi rumah mbak Aneesha.” Noura memberikan sebuah map padaku, “sudah termasuk barang-barang yang kusiapkan kemarin. Kamu tinggal periksa saja.”
“Oke! Terima kasih, ya. Sekarang pekerjaan ini resmi aku yang handle.”
“Syukurlah kamu cepat sehat, jadi pekerjaanku tidak bertambah banyak. Surprise juga sebenarnya kamu bisa sakit.”
Lihat, kan? Bukan hanya Reyfan yang tidak percaya aku sakit, Noura juga. Memangnya mereka pikir aku robot yang tidak bisa sakit apa?
Menjelang siang, aku sudah menyelesaikan urusan dengan Noura. Mengambil mobil dan berkas-berkas terkait renovasi rumah Aneesha. Artinya, aku akan sangat sibuk untuk beberapa bulan ke depan. Sebab selain renovasi Reyfan meminta aku mencari rekomendasi rumah sakit tempat bersalin yang bagus di sekitar Magelang atau Jogja.
“Padahal fasilitas kesehatan di ibu kota jauh lebih baik dan lebih lengkap, kenapa juga Aneesha malah ingin melahirkan di sini?” aku menggerutu di depan Noura.
“Seperti baru kenal Aneesha seminggu saja kamu. Kalau tidak aneh-aneh dan banyak maunya, bukan Aneesha namanya.” jawab Noura.
Benar juga kata Noura. Aneesha memang dari dulu anti mainstream, keinginannya tidak pernah sederhana. Apalagi sekarang lingkup pergaulannya sudah meluas, sampai kalangan pejabat dan orang-orang terkenal. Wajar saja kalau dia tambah aneh-aneh.
***
“Ini batas tanahnya, kalau mau nambah bangunan sebaiknya diberi jarak. Jangan sampai pas atau melewati batas ini, air hujan dari genteng biar tidak jatuh ke tanah orang lain.”
“Yang sebelah utara masih aman, melebar ke belakang juga masih bisa. Fares bilang yang dekat kolam ikan mau dibangun rumah kecil lagi, ya? Harus diuruk dulu, biar tinggi tanahnya rata.”
Dari kantor aku langsung menuju rumah Aneesha di Magelang. Membahas tentang renovasi yang akan segera dimulai. Pakde Teguh dan mas Faiz memberi tahu mengenai denah dan batas tanah, agar saat renovasi nanti tidak melenceng ke tanah tetangga.
Pakde Teguh dan mas Faiz terkesan ribet soal masalah batas tanah ini. Menurut pengalamanku, tidak jadi soal membangun pondasi mepet, selama tidak melampaui garis batas. Toh, sudah ada gambarnya di sertifikat, jadi selama berada di tanah sendiri, tidak jadi soal.
Namun, berbeda pendapat dengan mereka yang ngotot harus memberi jarak dari garis batas. Beruntung jauh-jauh hari Reyfan sudah mengatakan tentang masalah ini, jadi aku tinggal menurut saja apa yang diminta oleh Pakde Teguh dan Mas Faiz.
Kami membicarakan banyak hal terkait renovasi rumah Aneesha. Merekalah yang mengurus pembangunan rumah Aneesha dulu, jadi lebih tahu harus mulai dari mana dan bagaimana. Membuat pekerjaanku lebih ringan, sebab tidak harus kupikirkan sendiri.
__ADS_1
Tanah milik Aneesha ini masih luas, sedangkan rumah yang berdiri di atasnya hanya rumah kecil sederhana. Cocok kalau yang tinggal hanya keluarga kecil, atau pengantin baru. Tentu saja kurang luas jika nanti banyak orang yang akan tinggal di sini.
“Dulu rencana Aneesha membangun rumah ini hanya untuk tinggal dia sendiri. Jadi semuanya serba minimalis, kamar hanya dua, ruangan serba sempit, dapur kecil, dan kamar mandi pun hanya satu. Mana tahu setelah rumah ini jadi, dia menikah.” Pakde Teguh bercerita setelah kami selesai membahas masalah batas tanah.
“Aneesha masih di Amerika waktu rumah ini dibangun. Pakde dan Faiz yang urus semua. Rencananya memang dia ingin tempat ini lebih banyak digunakan untuk umum, jadi bangunan pendopo dan gazebo-gazebo itu yang dominan.”
“Tapi kalau rumah itu dibangun besar sejak awal, jadi repot juga, Pak.” mas Faiz ikut menanggapi, “Jenar bakal tambah takut tinggal sendiri di sini. Sekarang rumahnya kecil saja tidur harus ditemani mbak Sayumi, apalagi kalau rumahnya besar. Bisa-bisa siang bolong begini juga dia minta ditemani.”
“Iya, ya? Dia, kan, penakut. Tidak seperti kakak dan adiknya yang pemberani.”
Pakde Teguh dan mas Faiz tertawa. Mendengar kalimat itu, arah pandangku reflek tertuju pada sebuah gazebo yang terletak tak jauh dari pendopo.
Nampak istri mas Faiz di sana, sedang duduk dengan berselonjor kaki. Sementara tangannya membelai kepala gadis yang rebah di pangkuan. Jenar sedang berbaring nyaman di pangkuan mbak Nanda dengan sesekali menyeka sudut mata dengan punggung jemari.
Apa dia sedang menangis? Kenapa gadis aneh itu menangis siang bolong begini? Oh! Mungkin mereka sedang nonton adegan sedih pada film atau drama seri. Sebab pandangan mereka sama-sama tertuju pada layar ponsel yang sedang dipegang oleh Jenar.
Tapi mbak Nanda tidak terlihat sedih, justru ia beberapa kali tersenyum seraya bibirnya bergerak seperti sedang berbicara dengan seseorang. Apa mungkin mereka sedang melakukan panggilan video dengan seseorang?
Ah! Kenapa aku jadi ingin tahu seperti ini? Memangnya kenapa kalau Jenar menangis? Bukankah tidak ada urusan apa-apa denganku? Apa yang menyebabkan Jenar menangis, sudah pasti tidak ada hubungannya denganku, kan? Kenapa juga aku harus peduli?
Namun, rasa penasaran tidak bisa hilang. Walau sudah berusaha mengalihkan pandangan, tapi seperti ada yang mendorong untuk tetap menatap arah yang semula lagi. What the hell?
Ini pasti karena mbak Nabila yang selalu membicarakan Jenar. Sejak aku membawa Jenar yang pingsan ke rumah, mbak Nabila selalu bertanya tentang gadis itu.
“Jenar anak nomer berapa? Pasti sangat disayang sama keluarganya, ya?”
“Jenar kuliah di mana? Ambil jurusan apa?”
“Orang tuanya Jenar seperti apa?”
Mbak Nabila jadi heboh saat aku bilang Jenar tinggal sendiri di Magelang, sebab orang tuanya tinggal di Surabaya. Kakakku yang cerewet itu makin ingin tahu banyak tentang Jenar. Entah apa yang membuat mbak Nabila tertarik dengan Jenar.
“Mas Hara!”
Tepukan di bahu dan panggilan mas Faiz, menyadarkan dari lamunan. Membuatku sontan memutus pandangan dari gazebo.
Aku ingin menolak karena sudah makan di kantor tadi, tapi mas Faiz sudah merangkulkan tangannya di pundak. Ia membimbingku masuk ke dalam rumah bersama pakde Teguh. Rasanya tidak enak menolak keantusiasan dan keramahan mereka. Tepat saat terdengar suara panggilan ibadah bersahut-sahutan dari masjid dan mushola sekitar, aku memutuskan untuk makan siang bersama pakde Teguh dan mas Faiz.
“Peristiwa langka ini, bisa makan siang bareng mertua tercinta dan saudara jauh.” seloroh mas Faiz sambil menarik kursi, mempersilakan aku duduk.
“Memangnya mas Faiz dan Pakde Teguh jarang makan siang bareng, ya?
“Bukan jarang lagi, Mas Hara. Bisa dihitung dengan jari saya bisa makan satu meja sama Bapak seperti ini. Ketemu sebulan sekali saja kita jarang, ya, Pak?”
Pakde Teguh mengangguk, “walaupun bukan pekerja kantoran seperti kamu, kami terlalu sibuk. Faiz mengajar di hari-hari biasa, sedangkan saya mengurus sawah. Sore hari jika Faiz dan Nanda sedang berkunjung, kadang saya masih di pasar sayur. Jadi kita ini memang jarang ketemu.”
Hubungan akrab antara pakde Teguh dan Mas Faiz terlihat seperti mereka sudah terbiasa menghabiskan waktu bersama. Mungkin karena mas Faiz sudah lama menjadi menantu Pakde Teguh, jadi walau jarang bersua tetap akrab dan dekat.
Tadinya aku hanya mengambil sedikit porsi makanan, sebab perutku masih terasa kenyang. Ternyata rasa masakan yang terhidang begitu menggugah selera, membuatku ingin mencicipi semua menu. Mungkin karena suasana nyaman saat menikmati makanan, atau karena badanku yang baru saja pulih dari sakit. Aku jadi merasa ingin makan terus.
Fokus menikmati makananku teralihkan karena kedatangan Jenar. Gadis yang tadi kulihat sedang bersama mbak Nabila itu, kini telah berganti baju dan jilbab. Dengan mencangklong tas punggung, ia berpamitan dengan mencium punggung tangan pakde Teguh dengan sangat sopan. Rupanya dia hendak pergi ke kampus siang-siang begini.
“Diantar siapa?” tanya mas Faiz berhasil menarik perhatianku.
“Sendiri, Mas.”
“Biasanya angkot dari sini sampai jalan raya lama kalau jam segini. Minta antar Mbakmu saja.”
“Nggak usah, Mas. Mbak Nanda lagi bobokin dedek, nanti rewel kalau ditinggal.”
“Tunggu pakde selesai makan, ya? Pakde antar.”
“Nggak usah, Pakde. Kelasnya masih jam 2, kok, nggak terlalu buru-buru.”
Gadis itu pergi setelah berpamitan. Tidak memberi kesempatan kepada pakde Teguh atau mas Faiz mengantar.
__ADS_1
"Fares itu memang keterlaluan sama anak, kuliah jauh tapi tidak boleh pakai kendaraan pribadi. Jadi repot, kan, anaknya."
"Mungkin maksud om Fares biar Jenar tidak mampir-mampir pulangnya. Bahaya juga, sih, Pak. Kalau Jenar naik motor sendiri pas pulang malam, banyak klithik, kan?"
"Lebih bahaya kalau dia pulang sendiri naik angkutan umum. Kamu tahu bis dari terminal jombor jurusan Magelang terakhir jam berapa? Kalau dia tidak dapat bis bagaimana, coba?"
"Ada taksi online, Pak."
Aku mendengarkan dengan baik obrolan menantu dan mertua di depanku. Tidak tahu dorongan dari mana, aku ingin segera menyelesaikan makan siang yang terlalu enak ini. Meski masih ingin berbincang dengan Pakde Teguh dan mas Faiz, tapi di sisi lain, aku juga ingin segera berpamitan. Rasanya ada yang ingin kukejar, tapi apa atau siapa?
Sedikit tergesa aku hendak melajukan mobil keluar dari halaman belakang rumah Aneesha. Pandangan mataku tertuju pada gadis berjilbab ungu yang sedang berdiri di pinggir jalan. Menghalau panas sinar mentari tengah hari dengan tangannya sembari melihat arah utara. Masih di sana rupanya dia.
Senyum tipis tersungging di bibirku, melihat wajahnya yang memerah karena terkena panas. Matanya yang bulat menyipit, pasti karena menghalau silau.
Tunggu! Aku ini kenapa? Apa aku sedang mengaguminya? Tidak, tidak! Tidak mungkin aku kagum pada gadis yang tidak terlalu cantik dan menarik itu. Ah! Mungkin hanya rasa peduli saja, sebab melihat Jenar berdiri kepanasan di pinggir jalan.
Aku menghentikan mobil tepat di depannya, persis seperti dulu saat pertama kali aku bertemu dengannya di pinggir jalan protokol kota Surabaya. Jenar pasti tidak ingat kejadian saat aku menolongnya dulu. Memangnya kenapa dia harus ingat kejadian yang telah lama berlalu itu?
Kubuka pintu samping kiri, berbicara dengan keras agar Jenar mendengarnya, “mau bareng tidak? Dari pada nunggu angkot kelamaan.”
“Memangnya Pak Hara mau ke mana?”
Aku pikir dia tidak tahu kalau aku yang mengemudikan mobil. Oh! Iya, lupa. Aku, kan, keluar dari pintu gerbang rumah kakaknya, tentu saja dia tahu kalau aku yang sedang menawarinya tumpangan.
“Pulang.” jawabku singkat.
“Bareng sampai jalan raya boleh?”
Aku ingin tertawa mendengar pertanyaan Jenar, tapi segera kutahan karena aku tidak terbiasa tertawa. Tadinya kukira dia akan menolak, ternyata malah langsung mau. Mungkin karena tidak tahan menunggu angkot yang datangnya tidak pasti, mana cuaca sedang panas sekali pula.
“Bisa bareng sampai Tempel. Lebih cepat dapat bis ke kampus kamu dari sana, dari pada nunggu angkot di sini yang belum jelas kapan datangnya.”
Jenar terlihat ragu. Ia sudah memegang pintu mobil, tapi tidak juga masuk. Hal itu membuatku sadar akan sesuatu dan segera meyakinkannya.
“Aku sudah ganti deodorant, tidak habis minum alkohol juga. Kamu lihat sendiri tadi aku minum teh sama pakde Teguh dan mas Faiz.”
Ada gunanya juga aku minta deodorant pada mbak Nabila tadi pagi. Jadi aku tidak perlu khawatir Jenar pingsan saat berada dekat denganku.
Jenar masuk, ia melihatku dengan pandangan sedikit menyesal. Sepertinya dia memang selalu merasa bersalah untuk kesalahan sepele sekalipun.
“Maaf, ya, Pak Hara. Saya-”
“Tidak perlu minta maaf kalau kamu tidak salah. Memangnya kamu punya stock permintaan maaf segudang, ya? Selalu saja minta maaf.” gerutuku sambil melajukan mobil dengan pelan.
Jenar menunduk, khas kalau dia merasa tidak nyaman dengan ucapan yang didengar. Ya Tuhan! Gadis ini kenapa lucu dan polos sekali? Membuatku ingin tertawa, tapi tentu saja hanya dalam hati. Oh! Aku sedang menjaga perasaannya sekarang. Sejak kapan aku jadi mudah memikirkan perasaan orang lain? Apa karea rasa peduli atau empati?
.
.
.
Bersambung ...
Hai teman-teman! Maaf,ya baru bisa up.
Alhamdulillah kelas menulis yang saya ikuti sudah selesai dengan lancar, atas do'a teman-teman sekalian.
Berarti bisa rutin up, dong? Kalau itu nggak janji, sebab setelah kelas selesai masih ada tugas dan pendampingan review naskah. Maaf,ya.
Jadi akan ada novel baru, dong?
Iya, insyaAlloh sedang mempersiapkan judul baru, masih rahasia, ya. Mohon do'anya agar bisa melanjutkan cerita ini tanpa mengganggu proses review naskah baru di sana.
Salam hangat,
__ADS_1
Desi Desama/ La Lu Na