
🌹Perempuan diberi anugrah hati yang lembut dan sifat perasa. Mudah tersentuh, mudah terbawa perasaan.🌹
Jenar.
Meski di rumah milik kak Aneesha ini aku tinggal sendirian, tapi tidak lantas merasa kesepian. Ada bude sari yang datang setiap pagi mengantar sarapan, kalau dia sedang sibuk, mas Irkham yang menggantikan. Pakde Teguh setiap habis maghrib pasti berkunjung, sekedar memeriksa keadaan dengan membawa makan malam. Mas Faiz dan mbak Nanda sesekali datang untuk mengurus kegiatan anak-anak berkebutuhan khusus yang berlatih seni tiap minggu.
Padahal sudah ada mbak Sayumi yang membantu mengurus semua kebutuhanku termasuk soal makan. Tapi pakde Teguh dan bude Sari tidak pernah absen memberi perhatian, dengan dalih mbah uti yang meminta. Sungguh menyenangkan dikelilingi orang-orang baik yang sayang padaku.
“Kalau tiap hari bude antar makanan seperti ini, mbak Sayumi jadi nggak pernah masak, dong. Keenakan dia, Bude.” ucapku dengan nada mengeluh yang dibuat-buat.
Pagi ini bude Sari dan pakde Teguh datang lebih awal, bersama mbah Uti karena ada pengajian pagi di masjid dekat rumah. Seperti biasa, bude Sari membawakan banyak makanan dan camilan untukku.
“Mana bisa bude membiarkan ponakan bude terlantar di sini? Jauh dari ayah bunda, kalau kamu kurus gimana hayo?”
Aku mengerucutkan bibir, sebab secara tidak langsung bude Sari mengatakan bahwa aku gendut. Memang, sih. Sejak masuk kuliah, berat badanku selalu bertambah. Kalau teman-teman kebanyakan jadi kurus karena tinggal jauh dari orang tua, aku justeru makin gempal karena banyak makan. Bagaimana bisa mengatur makan, sedangkan setiap hari disediakan banyak makanan enak. Baik saat tinggal bersama om Dito atau sekarang saat tinggal sendiri.
“Jenar sudah bilang, ada mbak Sayumi, Bude.”
“Mbak Sayumi belum tahu masakan kesukaan kamu, Jenar.”
Bude Sari memang selalu punya alasan agar bisa memanjakanku. Bukan hanya aku, tapi dengan dua saudaraku juga begitu. Kasih sayang tulus selalu ia tunjukkan, membuat aku betah dan nyaman walau tinggal jauh dari ayah dan bunda. Rasanya seperti mempunyai orang tua kedua.
“Oya, Jen. Hari ini kamu pulang jam berapa?” tanya pakde Teguh.
“Hanya ada satu mata kuliah, insya Alloh habis dzuhur sudah sampai rumah. Memangnya ada apa, Pakde?”
“Itu, lho. Kemarin ayah kamu telephon pakde, katanya Aneesha mau renovasi rumah. Pengin nambah kamar sama bikin kamar bayi katanya,” jelas pakde Teguh.
“Oya? Kak Neesha belum cerita sama saya, Pakde.”
“Pakde juga baru tahu, katanya Reyfan sudah minta Hara yang urus. Semalam pakde sudah bicara sama Hara, nanti sore dia mau datang bawa arsitek.”
“Oh …,” aku mendengarkan apa yang dikatakan pakde Teguh sambil memakan sarapan dengan lahap, sebab menu yang dimasak bude Sari selalu enak.
“Pakde mau minta tolong sama kamu, nanti kalau Hara dan arsitek datang, kamu bantu mereka.”
“Saya, kan, tidak tahu bagian mana yang mau direnovasi. Saya harus bantu apa, Pakde?”
“Cukup kamu siapkan minuman sama makanan ringan saja buat mereka. Terus kalau perlu lihat kamar Aneesha, ya, kamu bukakan kunci pintunya.”
“Cuma itu, Pakde?”
“Iya. Kurang lebih begitu. Kalau pakde pulang dari pasar sebelum maghrib, nanti langsung ke sini.”
“Beres, Pakde.”
Karena mendapat amanat dari pakde Teguh, selesai kelas, aku langsung pulang. Tidak berlama-lama di kampus seperti biasanya, sebab aku harus menyiapkan jamuan untuk tamu yang akan datang.
Namun, hingga sore berlalu dan berganti malam, tidak ada seorang pun yang datang. Bahkan sampai pakde Teguh pulang setelah menunggu sampai hampir larut, pak Hara yang berjanji akan datang, tidak memberi kabar. Padahal jamuan makanan sudah kusiapkan, akhirnya hanya dibagikan kepada tetangga sekitar agar tidak mubazir.
“Hara tidak memberi kabar kalau batal datang hari ini, Fares dan Reyfan juga tidak tahu kenapa dia tidak jadi datang.” ucap pakde Teguh merasa lelah karena lama menunggu.
“Mungkin arsiteknya yang membatalkan janji, Pakde. Atau pak Hara ada pekerjaan lain.”
Kami mencoba tabayun, tidak mungkin pak Hara membatalkan janji tanpa alasan. Mungkin dia hanya lupa memberi kabar, karena terlalu sibuk. Aku tahu dari mbak Nabila kemarin, jika pak Hara juga bekerja sebagai sopirnya kyai Ali. Mungkin dia belum selesai dengan pekerjaannya itu, hingga tidak bisa datang ke rumah hari ini.
“Mungkin mereka baru besok bisa datang, Pakde.”
Namun, keesokan harinya tetap pak Hara tidak datang. Hingga hari berganti lagi, juga tidak ada tanda-tanda dia akan datang. Padahal semua keperluan renovasi telah disiapkan oleh pakde Teguh dan mas Faiz.
“Ini sudah tiga hari sejak Hara bilang akan datang membawa arsitek, sampai sekarang tidak ada kabar. Bagaimana ini, Iz?”
“Bapak sampun telphon om Fares maleh, dereng?” (Bapak sudah telephon om Fares lagi belum?)
“Sudah, kata Fares kita suruh tunggu sampai Hara datang. Masalahnya sampai sekarang Hara tidak memberi kabar kapan mau datang. Tidak biasanya Hara seperti ini, kamu tahu sendiri, kan? Hara itu orang yang paling disiplin kalau soal janji dan rencana. Tidak biasanya dia menghilang seperti ini.”
Aku sejak tadi hanya diam, mendengarkan pakde Teguh dan mas Faiz bicara. Benar juga kata pakde Teguh, pak Hara adalah orang yang paling tepat waktu. Selama aku mengenalnya, dia adalah orang yang selalu dapat diandalkan. Tidak suka menunda pekerjaan, apa yang diperintahkan segera dilaksanakan.
Dia kenapa, ya?
__ADS_1
Aku membuka ponsel guna melihat roomchat. Pesan singkat yang kukirimkan ke nomor pak Hara sejak dua hari yang lalu, tidak dibaca. Keterangan last seen di bagian paling atas, juga tidak terlihat. Pak Hara pasti sengaja membuat pengaturan chat agar orang lain tidak tahu dia sedang online atau tidak.
“Jenar sudah coba hubungi Hara?” Tanya mas Faiz, membuyarkan lamunanku.
Aku memperlihatkan layar ponsel kepada mereka, “saya telephon tidak nyambung, chat juga tidak dibuka, Mas.”
Rasa penasaran dan praduga kami terjawab pada hari minggu pagi. Dua buah mobil masuk melalui pintu gerbang halaman belakang, salah satunya sangat kukenal. Mobil mpv hitam khas yang biasa dipakai para petinggi perusahaan milik kak Reyfan.
Semula kukira pak Hara yang datang membawa tim yang akan merenovasi rumah kak Aneesha, ternyata bukan. Seorang wanita cantik tapi berpenampilan maskulin yang keluar dari mobil. Dengan gaya rambut khas diikat jadi satu ke belakang, kak Noura melepas kaca mata seraya mengangguk padaku.
Aku tersenyum, menghampiri rombongan beberapa orang yang terdiri dari laki-laki dan perempuan itu.
“Kak Noura nggak bilang mau ke sini? Untung saya masih di rumah, Kak.”
“Lho, memangnya kamu mau pergi ke mana?”
“Tadinya mau ke rumah mbah uti, dari pada di sini sepi sendirian.”
“Oh!” kak Noura berjalan mengitari mobil. Aku mengikuti langkahnya, ternyata ia membuka bagasi untuk mengeluarkan barang-barang.
“Banyak sekali barang bawaannya, Kak? Kak Noura bawa apa saja itu?” tanyaku ingin tahu, tapi dengan tangan terulur siap membantu kak Noura.
“Ini barang-barang untuk keperluan renovasi rumah ini. Kemarin Hara sudah siapkan, tapi mendadak dia sakit, jadi tidak bisa handle. Padahal sudah janji dengan tim arsitek dan desain interior. Terpaksa saya yang ambil alih dan baru sekarang bisa datang, nunggu kantor libur.”
Aku menganggukkan kepala, paham akan penjelasan kak Noura. Ternyata pak Hara sakit, itu penyebab dia tidak bisa datang dan juga tidak memberi kabar. Aku jadi merasa bersalah, bisa jadi dia sakit gara-gara menolongku. Sampai rela mandi malam-malam dan berdiri lama di tengah gerimis.
Rasa bersalah adalah salah satu kelemahan terbesarku. Selalu tidak nyaman jika apa yang kulakukan mengakibatkan orang lain kesulitan. Sungguh menyebalkan, sebab terlalu memakai perasaan dalam melakukan sesuatu. Hati kecilku seperti menolak logika bahwa sudah sewajarnya manusia saling menolong.
Dorongan rasa bersalah itu, membuat sebuah ide melintas di kepala. Berharap bisa menebus rasa bersalah, aku mengendarai vespa matic milik kak Aneesha. Siang yang sangat terik, kendaraan melaju di jalan raya Magelang-Jogja dengan kecepatan sedang.
Aku membelokkan kemudi ke kiri setelah melintasi tugu perbatasan Magelang dan DIY. Menoleh sekilas saat melewati pesantren yang siang ini ramai karena ada jadwal berkunjung wali santri. Tujuanku bukan ke sana, melainkan rumah kecil yang terletak beberapa meter dari pesantren.
Laju kendaraan berhenti, ketika sampai di depan rumah bercat kuning yang dihiasi berbagai macam tanaman hias di depannya. Pintu rumah terbuka sebagian, membuatku menoleh kanan kiri, seraya mengambil buah tangan yang sudah kusiapkan di gantungan motor. Pelan-pelan aku naik ke teras, mengucapkan salam.
“Assalamu’alaikum ….”
“Hai, Naufal! Ibu ada?” tanyaku seraya menundukkan badan, mengusap wajah anak laki-laki tampan di depanku.
Naufal menggeleng, “ibu tindak warung.” (Ibu sedang pergi ke warung.)
“Oh! Nek bapak?” (Kalau bapak?)
“Bapak dodol.” (Bapak jualan.)
Aku sedikit bingung, “Naufal teng ndalem kaleh sinten?” (Naufal di rumah sama siapa?)
“Om Hara, tapi gek bobok.” (Om Hara tapi sedang tidur.)
“Mbak boleh masuk, nggak?” aku mengangkat kantong kresek di tangan kiri dan rantang di tangan kanan, “mbak bawa ini buat Naufal sama om Hara.”
“Kata ibu, nggak boleh ada orang lain yang masuk kalau tidak ada orang dewasa di rumah.”
Aku menipiskan bibir, menahan tawa karena kepolosan Naufal. Baru saja aku akan memberikan buah tangan yang kubawa, terdengar suara serak dari dalam rumah, “siapa yang datang, Fal?”
Aku menegakkan punggung, melihat sesosok pria membuka gorden kamar. Pak Hara berjalan keluar sambil berkali-kali berdehem dan menyusut hidung.
“Kamu, Jen? Ada apa?”
“Assa-” hampir saja aku lupa mengucapkan salam kepada orang yang tidak beragama sama denganku. Segera kuralat sapaan agar tidak menyinggung perasaan, “selamat siang, Pak Hara?”
Pak Hara mengangguk, tangannya menarik kepala Naufal tapi pandangan matanya tertuju pada kantong plastik dan rantang yang kubawa.
“Ehm … tadi kak Noura datang ke rumah.”
Belum selesai aku bicara, ia sudah memangkasnya, “oh! Apa ada masalah dengan arsitek yang dibawa Noura? Atau mereka kesulitan menggambar sketsa rancangan renovasi?”
“Bu-bukan I-tu,” aku terbata ingin melanjutkan penjelasan sebab pak Hara menatapku tajam, “terus kenapa?” tanyanya ketus.
“Ehm … ta-di kak Noura bilang, pak Hara tidak bisa handle pekerjaan dari kak Reyfan karena sedang sakit. Jadi saya ke sini, mau minta maaf ….”
__ADS_1
“Minta maaf untuk apa?”
Lagi-lagi aku hampir kehilangan kalimat jawaban sebab pak Hara bertanya dengan pandangan lurus tertuju padaku. Membuatku salah tingkah, seperti sedang menjadi terdakwa saja.
“Maaf … karena saya pak Hara jadi sakit.’
“Noura bilang saya sakit karena kamu?”
“Ti-tidak, tapi saya pikir-”
“Kamu tidak perlu minta maaf.”
“Saya merasa bersalah karena kemarin-”
“Tidak perlu merasa bersalah, saya sakit bukan karena kamu, tapi karena sudah takdir.”
“Ta-ta-tapi, kan, malam itu saya biarin pak Hara berdiri di tengah gerimis dan harus mandi malam-malam pula. Pasti karena itu pak Hara jadi sakit.”
“Memangnya kenapa Hara harus mandi malam-malam?”
Dengan cepat aku membalikkan badan, saat mendengar suara bernada curiga dari belakang punggung. Mbak Nabila berjalan melewatiku dengan dahi berkerut, menatapku dan pak Hara bergantian.
“Jenar? Sejak kapan kamu di sini? Kenapa tidak masuk?” ia bertanya, begitu tahu aku yang berdiri diambang pintu rumahnya.
“Assalamu’alaikum mbak Nabila. Saya baru saja datang, kok.”
“Wa’alaikum salam, ayo masuk! Masa ngobrol di luar, sih?”
“Nggak pa-pa, Mbak. Saya tidak lama, kok. Hanya ingin mengantar ini saja.” aku memberikan kantong plastik besar dan juga rantang kepada mbak Nabila, “kebetulan tadi saya masak soto, jadi saya bawa ke sini sebagai ucapan terima kasih. Siapa tahu kalian suka.”
“Wah! Alhamdulillah. Bisa kebetulan gini, ya? Barusan mbak ke warung mau beliin Hara soto. Dia sudah tiga hari susah makan, sampai kurus, tuh!” mbak Nabila menunjuk pak Hara dengan dagu, “tapi di warung langganan mbak, sotonya habis. Tadinya mau mbak buatin, sekarang tinggal makan, deh.”
“Alhamdulillah kalau gitu, Mbak. Tapi nggak tahu enak atau nggak, Mbak. Soalnya saya baru pertama kali masak soto.”
Aku tersenyum melihat mbak Nabila memperhatikan rantang berisi soto yang kuberikan padanya. Antusias sekali, sampai terpaku. Membuat senang karena pemberianku diterima dengan baik.
“Eh! Masuk dulu, yuk! Kita makan siang bareng, kamu udah jauh-jauh datang dari Magelang masa mau langsung pulang?”
Sebenarnya aku ingin sekali masuk dan ngobrol dengan mbak Nabila. Tapi sepertinya pak Hara tidak berkenan aku lama-lama di sana. Sejak tadi dia hanya diam, bahkan terlihat dari ekor mata sepertinya dia jengah. Mungkin karena aku datang mengganggu istirahatnya.
“Maaf, Mbak. Saya harus segera pulang, saya harus mengajar kelas tahfidz.” itu hanya alasanku saja. Hari ini anak-anak yang berlatih tahfidz libur, karena pendopo disewa untuk acara pernikahan tetangga.
“Wah! Jenar mengajar tahfidz?” tanya mbak Nabila dengan mata berbinar, “keren sekali, kamu.”
“Cuma mengajar tiga anak saja, Mbak. Mereka sudah hafal ayat, tinggal memperdalam ilmu tahsinnya saja. Sekalian saya juga belajar.”
“Masya Alloh … mbak kagum, deh, sama kamu.”
“Biasa saja, Mbak. Saya masih perlu banyak belajar, kok.”
Sepertinya sudah cukup basa-basi dan tujuan utamaku datang ke rumah ini pun sudah tersampaikan.
“Saya pamit pulang, ya, Mbak?” ucapku pada mbak Nabila, sejenak aku melihat pak Hara, “sekali lagi saya minta maaf, ya, Pak Hara. Semoga lekas sembuh.”
Pak Hara hanya mengangguk, terdengar mbak Nabila mengucap ‘aamiin’ lirih. “terima kasih, ya, Jen. Sudah repot-repot datang, bawain oleh-oleh pula.” ia mengangkat kedua tangan sambil tersenyum lebar.
“Sama-sama, Mbak.”
Aku baru melangkah, hendak mengambil helm yang tergantung pada spion, pak Hara berseru dengan suara serak, “langsung pulang! Jangan mampir ke makam! Lain kali saja, ajak teman kalau mau ke makam.”
Aku menoleh sekilas, tersenyum lega sambil menjawab, “pak Hara khawatir saya pingsan lagi, ya?”
Tapi ucapan selanjutnya yang keluar dari mulut pak Hara membuat rasa percaya diriku terjun bebas, berganti malu, “kalau kamu kesurupan nanti tidak akan ada yang nolong. Makanya jangan ke makam sendirian!”
Dengan menahan malu, aku memakai helm sembari naik ke atas motor. Ya, Alloh! Mengapa Engkau ciptakan manusia ketus dan tidak punya perasaan ini? Padahal dia hidup bersama orang-orang yang ramah dan penuh kasih sayang.
“Saya pulang, ya, Mbak Nabila. Assalamu’alaikum ….” pamitku tanpa melihat pak Hara.
Mbak Nabila menjawab sambil melambaikan tangan, “wa’alaikum salam … hati-hati, Jen!”
__ADS_1