Merapah Asa, Menjemput Hidayah

Merapah Asa, Menjemput Hidayah
80. Mengalah.


__ADS_3

🍁Makhluk laki-laki, bukan selalu tak punya hati. Perasaan mereka hanya perlu diasah, agar sedikit peka.🍁


Hara.


Minggu pagi yang cerah, setelah semalaman diguyur hujan. Uap air terlihat mengepul dari atap basah dan cucian yang baru saja dijemur, karena tertimpa sinar matahari. Bur ung-bur ung tampak riang, berpindah dari dahan yang satu ke dahan yang lain.


Kuseka peluh yang menetes di dahi dan leher menggunakan punggung tangan. Lalu duduk di di bangku sambil meluruskan kaki. Sepagi ini aku sudah bersimbah keringat dan berusaha mengatur napas yang tersengal. Seumur hidup baru pertama kali aku merasakan kerja keras yang sesungguhnya.


“Ini yang terakhir, Hara?” tanya Mbak Nabila menunjuk sekarung penuh singkong yang baru saja kubawa dari kebun.


“Masih satu lagi dibawa Mas Akmal, Mbak.” jawabku, setelah bisa mengatur napas.


“Om Hara urik (curang)! Aku ditinggal.” Naufal bersungut-sungut seraya membanting kantong kresek berisi botol air minum.


“Kamu lama jalannya. Berat tau bawa singkong sebanyak ini.” jawabku sambil mengacak rambut keponakan tersayang.


“Ah, payah! Ngunu wae ora kuat, bagore sing digowo Mbah Kakung malah luwih gede.” Aku paham Naufal sedang menggerutu, membandingkan barang yang dibawa oleh Pak Wawan lebih banyak.


“Naufal malah nggak bawa apa-apa, lebih payah, dong?” Aku tidak terima diremehkan oleh anak kecil yang selalu banyak bicara.


“Aku kan, iseh cilik, Om!” Naufal, biar pun masih kecil, tapi paling bisa ngeles. (aku, kan, masih kecil, Om.)


Aku mengacak rambutnya sekali lagi, gemas dengan tingkah bocah itu. Matahari makin terasa terik. Kurasakan angin berembus pelan, membelai tubuh lelah dan berpeluh. Kuhela napas, merasakan oksigen masuk ke paru-paru; melegakan.


Mbak Nabila datang, lalu meletakkan seteko air putih, beberapa gelas kosong dan sepiring roti bolu. Serta merta Naufal mendekat, tapi Mbak Nabila lebih dulu menghalau anak itu.


“Cuci tangan dulu sebelum makan dan minum!” Naufal hendak memprotes, tapi urung karena Mbak Nabila melanjutkan kalimat dengan penuh penekanan, “Pakai sabun!”


Mbak Nabila layaknya ratu di rumah ini. Pemegang kuasa, pembuat aturan dan tidak ada yang berani membantah titahnya. Mas Akmal pernah cerita, jika Mbak Nabila sedang kesal, maka satu rumah bisa kena imbasnya.


“Kita ini laki-laki, Hara. Harus terima, jika selalu menjadi tempatnya salah. Sebab, perempuan selalu benar. Kalau dia salah, maka sebenarnya kesalahan ada pada laki-laki.” tutur Mas Akmal pada suatu ketika. Aneh, aturan dari mana itu?


“Naufal pun wijik wau, Buk.” ucap Naufal. (Naufal sudah cuci tangan tadi, Bu.)


“Kapan, nandi? Ning kali, to? Urung anggo sabun, to?” (Kapan, dimana? Di sungai? Belum pakai sabun, kan?)


Sebelum Mbak Nabila kesal dan api amarah terpercik, sebaiknya aku harus segera mengantisipasi. Beberapa bulan tinggal di rumah ini, aku sudah cukup tahu, bagaimana tabiat kakakku itu.


“Naufal! Kita balapan sampai kamar mandi.”


Awalnya Naufal bergeming. Akan tetapi begitu melihatku bersiap lari, dia secepat kilat mendahului. Aku pura-pura mengejarnya, dia sampai terkekeh karena aku berhasil menangkapnya. Kami berdua berebut mencuci tangan, sambil bermain sabun dan air. Sungguh menyenangkan sekali, tak pernah terbayangkan aku bisa melakukan hal konyol dengan anak kecil yang super berisik dan banyak tingkah.


“Om! Kapan-kapan makani iwak meneh, yo?” Tiba-tiba Naufal berucap, saat kami selesai mencuci tangan dengan segala dramanya. Rupanya dia ingat kesenangan saat bermain dan memberi makan ikan di rumah Aneesha.


“Arkaan ki omahe kono, Om?” (Arkaan rumahnya sana, Om?)


“Nggak. Rumahnya Arkaan jauh dari sana.” Baru sekali bertemu, Naufal dan putranya Mas Faiz sudah akrab saja. Mungkin karena mereka seumuran, jadi mudah saling menyesuaikan.


Aku dan Naufal mengambil tempat duduk di bangku belakang rumah. Segera kutuangkan air putih ke dalam dua gelas. Satu kuberikan kepada Naufal, satunya untukku sendiri. Setelah itu kami menikmati roti bolu pandan buatan Mbak Nabila. Aturan baku yang dibuat oleh Mbak Nabila di rumah ini, adalah tidak ada teh atau kopi setiap kami pulang dari ladang. Hanya boleh minum air putih hangat demi kesehatan, katanya.


“Ternyata Jenar sepupuan sama Nanda, ya?” Mbak Nabila ikut duduk bersama kami, sambil membawa singkong yang baru selesai dikupas.


“Kamu nggak cerita dari kemarin-kemarin, sih, Hara?” lanjutnya.

__ADS_1


Mas Akmal datang beriringan dengan Pak Wawan, ia meletakkan sekarung besar singkong, lalu duduk di sebelahku. Tampaknya ia tertarik menanggapi kalimat Mbak Nabila.


“Hara tidak tahu kalau kita kenal sama Nanda dan Faiz. Dia baru tahu, waktu aku nganter ambil mobil. Waktu itu aku lihat vespanya Faiz di sana.” jelas Mas Akmal.


“Mas kok nggak cerita sama saya, pernah ketemu Mas Faiz di sana?” Mbak Nabila salah paham dengan cerita Mas Akmal yang belum selesai.


“Aku nggak ketemu Faiz, cuma lihat vespanya. Pun belum yakin benar miliknya Faizul Muhan atau bukan.” lanjut Mas Akmal.


Mbak Nabila manggut-manggut, lalu ia mulai memarut singkong. Di Jakarta aku terbiasa dengan segala sesuatu yang serba instant. Bangun tidur, sarapan dan secangkir kopi telah tersedia. Tidak perlu pusing memikirkan harga bahan makanan dan kebutuhan pokok lainnya.


Setiap bulan aku hanya harus mengeluarkan uang untuk menggaji Mbok Jum dan Mang Saeb, lalu jatah bulanan untuk membeli kebutuhan pokok. Aku tidak pernah tahu apakah uang yang kuberikan cukup, lebih atau malah kurang. Sebab, Mbok Jum tidak pernah protes. Aku hanya tahu, selalu ada makanan dan kebutuhan sehari-hari terpenuhi.


Setelah tinggal di sini, aku sering melihat Mbak Nabila bingung setiap malam, memikirkan apa yang akan dimasak besok pagi. Hal sepele seperti gas habis saat sedang menggoreng telur dadar, atau nasi yang gagal matang karena dia lupa memencet tombol cook pada rice cooker. Membuatku sadar, bahwa tidak ada yang terlalu mudah di dunia ini. Setiap orang sedang berjuang dengan ujian hidupnya sendiri-sendiri. Lalu, apa yang sedang kuperjuangkan?


“Jenar nggak takut tinggal di rumah itu sendirian? Tadinya Mbak pikir rumahnya biasa, dekat tetangga gitu. Ternyata kanan-kiri sawah, pinggir jalan lagi. Nggak bisa bayangin kalau malam-malam ada orang iseng, gitu.” tutur Mbak Nabila sembari memarut singkong.


“Ada asisten rumah tangga, tukang bersih-bersih sama dua yang jaga malam, Mbak.” ungkapku, agar Mbak Nabila tidak berpikir macam-macam. Sejak acara reuni dadakan dengan Mas Faiz dan Mbak Nanda kemarin, topik pembicaraan dengan kakakku seputar Jenar dan Jenar lagi. Seperti menarik sekali membicarakan gadis itu.


“Kalau mbak, nih. Nggak mau tinggal di rumah itu sendirian, takut ada hantu.” Mbak Nabila ini ada-ada saja.


Aku menggeleng, “Belum pernah ada yang cerita ada hantu di sana. Kalau tamu tak diundang itu sering, tiba-tiba masuk tanpa permisi.”


“Tamu tak diundang, maksudnya per ampok?” Mbak Nabila ingin tahu.


“Bukan, Mbak. Yang datang tanpa bisa permisi, seperti ular, musang, tikus sawah.”


Kulihat Mbak Nabila bergidik, “Ngeri juga kalau tamunya antimainstrem seperti itu. Bayangin tiba-tiba ada ular di dapur atau kamar mandi, hii!”


“Ora dikon nginep sisan, Mal?” (Nggak disuruh menginap sekalian, Mal.) Pak Wawan ikut menimpali.


Mas Akmal makin terbawa alur bercanda, “Saged niku, Pak.” (Bisa itu, Pak)


Pak Wawan menggeleng, sambil menyulut lintingan tembakau yang baru jadi. Mas Akmal tertawa, Mbak Nabila menunjukkan wajah malas, aku hanya tersenyum, sedangkan Naufal terlihat bingung. Kami menghabiskan pagi dengan menikmati udara sejuk, sinar mentari terik dan suasana kekeluargaan yang hangat. Kenyamanan dan ketenangan yang tak pernah kudapatkan sejak dulu, kini kurasakan. Bukan karena hidup serba mewah dan tercukupi, justru dalam hanya dalam balutan kesederhanaan.


Menjelang siang, saatnya memanfaatkan hari libur untuk bermalas-malasan. Namun, Naufal terus saja menggangu. Ada saja yang diminta, kalau belum dituruti dia akan bicara tanpa henti.


“Tumbas (beli) mainan yo, Om?”


“Ning lapangan Denggung wae, Om. Mainan ping telu wae, wes.” (Ke lapangan Denggung saja, Om. Mainan tiga kali saja, sudah.)


Kalau aku tidak menjawab, dia akan mengganti permintaan.


“Tumbas eskrim wae.” Kalau aku mengiyakan, Naufal akan mengejar.


“Kapan, Om? Jam piro (berapa)? Bariki? (Habis ini)”


Ocehan Naufal membuat telingaku panas saja. Anak itu seperti punya baterai full power, sehingga bisa bicara tanpa henti. Tidak peduli walau ibunya sudah meminta untuk tidak menggangguku. Satu-satunya manusia yang berani menyanggah Mbak Nabila di rumah ini, hanya Naufal. Jika Mbak Nabila paling berkuasa seperti ratu, maka Naufal adalah perdana mentri yang bisa mengatur ratunya. Herannya, aku tidak pernah marah meski mereka berdua seolah hendak memanipulasi hidupku.


Aku memberikan ponsel, agar anak itu diam. Biasanya cara ini paling jitu untuk mengalihkan perhatian Naufal adalah dengan memberinya tontonan di ponsel. Dia akan diam ketika menonton pagelaran wayang kulit. Namun, rupanya cara itu sedang tidak berlaku. Sebab, Naufal masih saja meminta macam-macam.


Telinga sudah cukup panas, kepala pun lama-lama pusing mendengar ocehan Naufal. Kalau tidak dituruti sampai malam juga bocah itu betah merengek.


“Yee! Tumbas eskrim! Po mainan ning Denggung, Om?” Naufal berseru ketika aku beranjak.

__ADS_1


“Dua-duanya boleh,” jawabku setengah kesal.


“Asyik! Dolanan ning Denggung, baline tumbas eskrim. Yo, Om?”


Aku mengangguk. Bocah itu sudah hendak berseru senang, tapi Mbak Nabila menghardik, “Naufal! Pilih salah satu, kalau sudah mainan, nggak boleh beli eskrim.”


“Yaahh, ibuk!”


Selanjutnya, Mbak Nabila mengomel panjang lebar. Tentang aku yang selalu menuruti keinginan Naufal, karena anak itu selalu merengek, Mas Akmal yang diam saja kalau anaknya sedang merajuk dan Pak Wawan justru membenarkan sikap cucunya.


“Namanya juga anak kecil.” tutur Pak Wawan.


“Kalau selalu dimaklumi, anak kecil ini lama-lama melunjak, Pak. Susah kalau sudah besar tidak tahu aturan.” Mbak Nabila makin mengomel.


Kalau sudah begini, penghuni rumah yang lain harus diam. Sebab, menjawab Mbak Nabila berarti menabuh genderang perang dengannya. Lebih baik mengajak Naufal pergi, dari pada telinga makin panas. Sebenarnya semua laki-laki juga punya perasaan, walau kadang lebih banyak tidak peduli. Lebih baik mengalah, dari pada makin menyulut amarah.


Naufal selalu banyak tingkah saat naik mobil, tidak bisa duduk diam dan tenang selama perjalanan. Baru keluar dari gang, anak itu membuka dashboard, ingin tahu apa yang tersimpan di dalamnya. Dia mengeluarkan beberapa barang, membuat mobil jadi berantakan.


“Simpan lagi, Fal!” perintahku.


Dengan satu tangan, aku memasukkan lagi barang-barang yang dikeluarkan Naufal. Namun, secarik kertas menarik perhatian. Aku membaca tulisan di bagian atas, kertas itu sekilas.


KLINIK HALIMATUSA’DIAH


KARTU KUNJUNGAN


Membuatku menyadari sesuatu. Segera kuambil ponsel dari saku celana, guna memeriksa jadwal esok hari. Sial! Aku lupa besok harus mengurus balik nama surat tanah, agar pembangunan bisa segera dilanjutkan. Besok hari senin, jadwal Jenar konseling dengan terapisnya. Bagaimana aku bisa lupa?


Aku membelokkan mobil, batal mengajak Naufal bermain di lapangan. Sebab, ada yang harus kubicarakan dengan Jenar.


“Kok, puter balik, Om?” Naufal menyadari aku mengubah rute perjalanan.


“Om ada urusan.” jawabku singkat.


“Nandi, Om? Wah! Ora sido mainan.” (Kemana, Om? Wah! Nggak jadi mainan.)


“Ganti kasih makan ikan saja, ya? Seperti kemarin waktu ditinggal bapak sama ibu.”


Diluar dugaan Naufal kegirangan, anak itu sampai mengangkat kedua tangan ke atas, saking senangnya.


“Asyik makani iwak!” (kasih makan ikan)


.


.


.


Bersambung....


Ada yang mau ngapel hari minggu, nih? Kira-kira apa yang terjadi di rumah Jenar, ya? Itu Naufal berisik banget, sih? Jadi ge mas. 😂


Untuk dialog bahasa daerah, sudah ada keterangan walau sebagian tidak diterjemahkan ya😁

__ADS_1


__ADS_2