
Teman-teman, kalau saya tidak menuliskan nama di bagian paling atas, artinya isi cerita pakai sudut pandang orang ketiga, ya. 😉
🌵Laki-laki punya cara sendiri untuk memberi perhatian dan melindungi, walau yang nampak adalah ketidak pedulian.🌵
Mobil jeep warna hijau terparkir di antara deretan motor. Hara bisa menebak, siapa yang sedang bertamu, selain pengunjung sanggar seni yang dikelola Mas Faiz. Naufal terlihat bingung, saat melihat keramaian rumah Aneesha. Tidak seperti waktu ia datang tempo hari yang sepi.
“Kae do ngopo, Om?” (Itu pada ngapain, Om?) Naufal menatap anak-anak yang sedang berlatih karawitan dan seni tari.
“Ayo!” Hara mengambil tangan Naufal, menuntunnya berjalan melewati pendopo dan orang-orang yang menunggu anak-anak selesai berlatih.
“Tunggu sini! Om ambil pakan ikan dulu,” Hara melepas tangan, meminta Naufal menunggu di gazebo dalam kolam.
“Melu (ikut), Om!” Namun, anak itu tidak mau lepas.
Ketika mengambil pakan ikan di dekat dapur, sampai kembali lagi ke kolam, ia tetap mengekor sambil memegang ujung kaos Hara. Rupanya Naufal bisa ciut nyali juga berada di tempat dengan banyak orang yang belum ia kenal.
“Om! Mbak Jenar ora ketok?” Naufal menanyakan keberadaan Jenar yang tidak kelihatan batang hidungnya.
Hara berpikir sejenak, lalu melongok ke arah mushola kecil dekat galeri. Ada dua ibu-ibu duduk di serambi, tampak sedang berbincang bersama seorang pria yang sangat ia tahu. Siapa lagi kalau bukan pemilik mobil jeep warna hijau.
“Mbak Jenar sedang mengajar ngaji di sana!” jawab Hara seraya menunjuk mushola.
“Naufal oleh melu ngaji ro Mbak Jenar, Om?” Naufal bertanya apakah dia boleh ikut mengaji dengan Jenar.
Hara mengusap kepala anak itu, “Naufal nggak boleh ganggu, nanti saja ngaji di rumah sama ibu.”
“Ah! Ibuk galak, Om! Penak ngaji karo mbak-mbak pondok,” Naufal menggerutu. Mbak Nabila pasti marah, andai ia mendengar ucapan anaknya sendiri.
“Mbak jenar galak ora nek mulang ngaji?” (Mbak Jenar galak tidak kalau mengajar ngaji?)
Hara mengacak rambut keponakan cerewet itu. Kalau rasa ingin tahunya belum terpuaskan, Naufal akan banyak bertanya. Tak akan habis sampai seluruhnya terjawab.
“Om kok ora tahu ngaji?” Hara menggeleng mendengar pertanyaan Naufal. Kenapa anak itu tidak pernah melihat omnya mengaji.
Ia tidak tahu bagaimana cara menjelaskan kepada anak usia empat tahun, bahwa agama mereka berbeda. Hara memilih mengabaikan pertanyaan itu dengan memberi makan ikan. Suara kecipak air karena ikan-ikan melompat saat pakan disebar, nyatanya mampu mengalihkan perhatian Naufal.
“Opal!” suara ceria khas seorang gadis membuat Hara dan Naufal reflek menoleh.
Naufal melihat Hara sekilas sebelum berlari ke arah Jenar dan Lion yang sedang berjalan mendekat. Dalam hati Hara kagum dengan didikan Mas Akmal dan Mbak Nabila, anak sekecil Naufal sudah terbiasa bersalaman dengan mencium tangan ketika bertemu dengan siapa saja.
“Hai, bocah! Siapa, nih? Anaknya Pak Hara, ya?” Lion mengacak rambut Naufal setelah anak itu selesai mencium tangannya.
“Nggak mungkin, sih, Pak Hara punya anak sesopan ini.” lanjut Lion, bahkan Hara belum menjawab pertanyaan pertama. Lion ini memang punya mulut yang tidak bisa dikendalikan kalau bicara.
“Mbak! Makani iwak,” suara riang Naufal menyurutkan niat Hara untuk menanggapi ucapan Lion. Anak itu menarik tangan Jenar sambil menunjuk kolam ikan.
“Oya? Opal mau mancing, nggak? Kak Lion mau ngajak Opal mancing, tuh!” Jenar melirik Lion. Sontan pria itu menunjuk hidungnya sendiri, mungkin terkejut dengan ucapan Jenar yang tanpa persetujuannya.
Hara melihat Lion berbisik kepada Jenar, entah apa yang dia katakan. Jenar menarik kepala, sedikit menjauh dari wajah Lion. Dia lalu tersenyum kepada Naufal.
“Kita ambil pancing, yuk! Nanti Opal mancing sama Om Lion.” ucap Jenar sambil berlalu mengajak Naufal masuk ke rumah.
Lion menggerutu, tak jelas dia bicara apa. Hara lebih tertarik memerhatikan orang-orang yang sedang membubarkan diri. Pendopo yang semula ramai, sekarang sepi, hanya tinggal tiga orang pria yang sedang membereskan alat-alat gamelan. Nampaknya kegiatan rutin tiap hari minggu di tempat ini sudah usai.
Hara lalu menghampiri Mas Faiz yang sedang duduk di tepi pendopo. Naufal dan Jenar keluar dari rumah dengan membawa alat pancing, tampaknya mereka sudah siap memancing ikan di kolam. Biarlah mereka melakukan apa saja yang diinginkan, Hara memilih untuk tidak bergabung bersama mereka.
“Anak-anak nggak ikut, Mas?” tanya Hara pada Mas Akmal, sambil mengulurkan rokok, “Rokok, Mas?”
“Terima kasih, saya juga bawa.” Mas Faiz mengeluarkan rokok dan korek api dari sakunya, “Yang kecil lagi rewel, capek mungkin sering diajak pergi. Jadi hari ini mereka tinggal di rumah sama uminya.”
“Naufal nanyain Arkaan tadi,” ungkap Hara sambil mengembuskan asap rokok.
“Mereka seumuran, ya? Naufal pinter, pemberani, kalau Arkaan pemalu sekali.” Mas Faiz mengambil sebatang rokok, lalu menyalakannya.
“Oya, besok saya nggak bisa ikut ke kantor pertanahan. Insyaalloh saya ambilkan nomor antriannya saja, ya. Biar nggak nunggu terlalu lama,” tutur Mas Faiz.
Hara mengangguk. Seketika ia ingat tujuan utama datang kemari. Reflek ia menoleh ke arah kolam ikan, tampak tiga orang sedang asyik sekali mengelilingi kolam. Lion memegang pancing yang kailnya sudah menyelam ke dalam air, Jenar menunggu di sisi kolam yang berlainan, sedangkan Naufal berjongkok di tepi kolam sambil terus menatap kail.
Hara berpikir, kalau mereka bertiga bersama terus seperti itu, kapan bisa bicara dengan Jenar? Bicara lewat chat wattshap percuma, karena gadis itu jarang membukanya kalau sedang sibuk. Chat hari ini, bisa jadi dibaca besok, balasnya bisa dua hari lagi.
“Syaratnya sudah lengkap, kan?” Hara menoleh ketika Mas Faiz bertanya.
“Sudah, Mas.” Hara mendesis, menghisap rokok, menahannya di kerongkongan kemudian mengembuskannya lagi.
Mereka berdua mengobrol ringan beberapa saat. Mas Faiz pamit pulang, bersama dengan para pengajar anak berkebutuhan khusus yang sudah menyelesaikan urusan mereka.
“Kasihan istri di rumah ngurus dua anak sendiri,” tutur Mas Faiz. Ia tak jauh beda dengan Mas Akmal rupanya, beda tipis antara tipe suami sayang dan takut dengan istri.
__ADS_1
Suara deru mesin beberapa motor baru saja memelan, lalu hilang. Suasana sekitar pendopo kembali sepi, hingga terdengar desau angin yang bertiup pelan. Hara hampir mengambil batang rokok kedua, ketika suara orang berteriak membuatnya terkejut. Sontan ia beranjak, menoleh awas ke arah sumber suara, lalu gegas berlari menghampiri tiga orang di dekat kolam ikan.
“Bawa pergi! Hhii!” Lion histeris sambil sembunyi di balik punggung Jenar. Gadis itu malah terkekeh sampai memegang perutnya, sedangkan Naufal dengan santainya mengulurkan sekop kecil kepada Lion.
“Ada apa, sih, teriak-teriak? Kayak lihat setan saja.” gerutu Hara melihat Lion terus histeris di balik punggung Jenar.
“Lihat, tuh, Pak Hara!” Lion menyembulkan sedikit kepala, menunjuk barang yang dibawa Naufal dengan dagu sedang kedua tangannya memegang bahu Jenar.
“Ada kaki seribu gede banget!”
Naufal makin mendekatkan sekop berisi seekor binatang melata berkaki banyak ke arah Lion, membuat pria itu makin histeris dan menempel ke punggung Jenar. Modus sekali Lion ini, memanfaatkan kesempatan beralasan ketakutan. Heran juga dengan Jenar, dia malah tertawa sampai bahunya terguncang, seperti tidak sadar ada laki-laki menempel di belakangnya. Monolog Hara dalam hati, rasa kesal tak ayal menghampiri, seperti genderang perang yang sengaja ditabuh hingga bersuara nyaring.
“Iki, lucu, Om. Oleh didemek ora?” Naufal tanpa rasa takut, memegang binatang sebesar ibu jari orang dewasa itu. Dia terlihat girang ketika binatang melata itu menyatukan kaki, melingkarkan tubuhnya sendiri. Sebuah tindakan untuk melindungi diri karena merasa terancam.
“Jangan pegang kakinya! Beracun!” Jenar, menepis jari Naufal yang hendak menyentuh binatang yang bentuknya sudah seperti obat nyamuk bakar itu.
“Lucu, Mbak!” Naufal makin girang, “Om! Lucu, lho.” Dia menunjukkan binatang itu kepada Hara. Dasar Naufal, tidak punya rasa takut bahkan pada binatang berbisa sekali pun.
“Hii! Buang kenapa, sih? Malah dibuat mainan, itu binatang berbahaya, tahu! Bisa putus jari kamu kalau dililit,” Lion bersungut-sungut, tanpa ingin menjauh dari punggung Jenar.
“Kalau sudah melingkar gitu nggak bahaya kali, Kak. Lagian sama binatang kecil saja takut, dulu waktu sering mendaki sama Kak Neesha nggak pernah ketemu binatang yang lebih berbahaya, ya?” Jenar bersungut-sungut sambil menggerakkan bahu. Ternyata gadis itu mulai tidak nyaman dengan ulah Lion.
“Hayo, Om Lion payah! Ming ro luing semene we wedi, ning sawahe kakung okeh sing luweh gedi, aku ora wedi.” ungkap Naufal dengan mengangkat dagu, persis orang dewasa yang sedang menyombongkan diri. (Cuma sama kaki seribu kecil saja takut, di sawah milik mbah kakung banyak yang lebih besar, aku tidak takut.)
“Kecil apanya? Segede gini, dia bilang kecil. Kamu nggak lihat cara dia berjalan, udah kayak monster siap menyerang, gitu. Lihat antenanya, ih! Itu bisa gigit nggak sih?” gerutu Lion sambil menunjuk dari jauh kaki seribu yang masih dibawa Naufal.
“Sudah, sudah! Buang!” Hara menyela perdebatan sengit antara Lion dan Naufal. Yang satu ketakutan setengah mati, yang satu santai tidak peduli.
“Ojo dibuang, Om! Lucu iki, lho.” tolak Naufal sambil menarik sekop.
Lion terus menggerutu, sesekali histeris jika Naufal mendekatkan sekop. Jenar masih saja tertawa melihat tingkah Lion yang ketakutan, entah benar-benar takut atau dibuat-buat hanya untuk menarik perhatian. Sementara Hara, hampir kesal melihat drama di depan mata, tapi mencoba untuk menahan sekuat hati.
“Udah, buang saja, Fal! Nanti ada yang pingsan, Om juga yang repot.” gerutut Hara.
“Apa? Pak Hara kira saya selemah itu, bisa pingsan karena takut?” Lion menyolot, tapi Hara malas sekali menanggapi.
“Buang, Fal.” perintah Hara tanpa melihat Lion.
“Asal Pak Hara tahu, ya! Saya bukannya takut, hanya geli saja!” Terlalu banyak bicara dan beralasan memang Lion ini.
“Pakake iwak oleh, Om?” Naufal hendak memberikan kaki seribu untuk ikan-ikan di kolam.
“Ho oh, Mbak. Nek mateni luwing mengko Mbak Jenar dikon ganti sikil cacahe sewu lho.” (Iya. Kalau membunuh kaki seribu nanti Mbak Jenar disuruh mengganti kaki jumlahnya seribu.)
“Nah! Mbak Jenar cuma punya dua kaki, yang 998 minta siapa coba?” seloroh Jenar.
Naufal tidak menjawab, mungkin anak itu bingung menghitung seribu dikurangi dua. Hanya beberapa saat, mereka sudah kembali lagi dengan membawa sekop yang sudah kosong. Hara melirik ember kecil di dekat kolam, ada dua ekor ikan nila berukuran kecil di sana. Rupanya tadi mereka sudah berhasil memancing ikan.
“Lanjut mancing?” tanya Jenar, ketika Naufal mengambil alat pancing.
Naufal mengangguk, “Cacing e entek, Mbak. Umpane go opo?”
Ternyata aktivitas memancing mereka tadi terhenti karena umpan habis. Jenar pergi menuju lahan kosong di belakang gazebo kecil, yang biasa dipakai untuk menimbun daun-daun kering. Lalu ia berjongkok di sana, bahkan tidak peduli ujung gamisnya kotor kena tanah.
“Mas Lion! Goleke (carikan) cacing!” Seru Naufal.
Lion yang kini sudah duduk manis di dalam gazebo menggeleng, “Emoh! Golek cacing nemune luwing, kok.” (Nggak mau! Cari cacing, ketemunya kaki seribu, kok.)
Lion memang aneh, gayanya saja petualang, suka mendaki gunung dan tinggal di perkebunan, tapi sama binatang kecil saja takut. Jangan-jangan selama ini dia tidak benar-benar tinggal di perkebunan?
“Om, goleke cacing!” Akhirnya Hara juga yang harus turun tangan, ia paling malas mendengar Naufal merengek kalau keinginannya tidak segera dipenuhi.
Tanah tempat Jenar mencari cacing teksturnya berbeda dengan yang di dekat kolam ikan. Di sana lebih gembur dan sedikit berair, mungkin sisa hujan semalam. Hara harus menggulung ujung celana panjang dan merelakan sandal branded yang dibeli saat berkunjung ke Jepang, kotor demi mencari cacing.
“Sudah dapat belum?” tanya Hara pada Jenar.
“Baru dapat satu, kecil lagi, Pak.” jawab Jenar tanpa menoleh, masih sibuk menggali tanah untuk mencari cacing.
“Sini saya saja yang cari,” Hara meminta sekop yang dipegang Jenar.
Gadis itu mendongak, menatap ragu pada pria yang menjulang di sampingnya, “Memangnya Pak Hara bisa?”
Tanpa menjawab, Hara merebut sekop dari tangan Jenar. Meminta gadis itu minggir, karena ia akan membuktikan mempunyai kemampulan multi talenta, kecuali mengubah siang menjadi malam.
“Sing okeh yo, Om! Ben isoh mancing iwak okeh, mengko digoreng.” (Yang banyak ya, Om. Biar bisa mancing banyak ikan, nanti digoreng.)
Kalau bukan demi ponakan tersayang, mana mungkin Hara rela berkotor-kotor mencari cacing. Beruntung tadi pagi ia sudah belajar sama Pak Wawan, bagaimana ciri-ciri tanah yang kemungkinan menjadi rumah cacing. Tanah yang empuk dan berongga, pasti cacingnya banyak. Tanaman akan subur jika ditanam di tanah seperti itu. Namun, jangan sekali-kali menanam tanaman di tanah yang gembur tapi kering, biasanya tempat hidup binatang pemakan akar. Bukannya tumbuh, tapi bisa membuat tanaman cepat mati.
__ADS_1
Hanya butuh waktu sekitar lima menit, Hara bisa memperoleh beberapa ekor cacing dengan berbagai macam ukuran. Naufal menghampiri dengan membawa wadah kecil. Tanpa risih dia mengambil cacing-cacing yang menggeliat, memindahkan dari tanah ke wadah. Kemudian segera membawanya ke dekat kolam.
“Mas Lion! Mancing meneh, ayo!” ajak Naufal.
“Wegah, kapok! Mending lungguh kene, tannah.” jawab Lion. Dia mengatakan lebih baik duduk di gazebo dari pada ikut memancing lagi. Dia kapok bertemu dengan seekor kaki seribu.
“Udah dapat berapa ikannya?” Hara mendekati Naufal yang sedang memasang umpan pada kail pancing.
“Gek oleh cilik-cilik, Om. Jare Mbak Jenar nek cilik-cilik ora oleh digoreng.” Naufal menggerutu karena hanya mendapat ikan kecil dan tidak boleh digoreng sama Jenar.
“Nanti mbak belikan yang sudah dimasak saja, kalau Opal mau makan ikan. Kalau berhasil mancing yang gede, boleh dibawa pulang, deh.” ucap Jenar.
“Asyik!” Naufal berseru senang.
Naufal melempar pancing, menunggu dengan tenang sambil terus menatap kolam. Jenar memilih duduk di tepi kolam, ikut memandangi ujung tali pancing Naufal yang sudah tenggelam ujungnya. Posisi mereka bertiga tidak berdekatan, tapi juga tidak terlalu jauh. Sebab, ukuran kolam ikan yang mengelilingi gazebo ini tidak terlalu besar.
Hara bergeser dua langkah, mengambil kesempatan untuk berbicara dengan Jenar. Waktu yang tepat, karena Lion sedang sibuk memainkan ponselnya. Dia dan Naufal tidak akan peduli dengan apa yang Hara dan Jenar bicarakan.
“Jenar?” Hara berhasil mengalihkan perhatian Jenar dari menunggu kail Naufal disambar ikan.
“Saya boleh bicara sebentar?” Harusnya Hara tidak perlu aku meminta persetujuan pada Jenar. Tinggal bicara straight to the point juga bisa.
Melihat Jenar mengangguk tanda setuju, Hara segera melanjutkan kalimat, “Besok hari senin, jadwal konseling kedua kamu dengan dr. Halimah.”
Jenar nampak mengernyit, lalu kembali menatap kolam. Hara tidak bisa melihat wajahnya, tapi sepertinya gadis itu sedang memikirkan sesuatu.
“Saya besok ada kuliah siang, Pak.” jawabnya lirih, tapi masih bisa terdengar jelas.
“Mau ganti hari, atau bagaimana? Biar saya daftarkan,” Hara menunggu Jenar selesai berpikir.
Gadis itu membuang napas pelan, lalu menjelaskan, “Bisa ditunda minggu depan tidak? Minggu ini jadwal kuliah saya padat. Besok mulai jam sepuluh sampai sore saya ada kelas, selasa dari pagi sampai sore, rabu sampai jum’at juga. Sabtu saya ada janji dengan Aina, minggu ada kegiatan di sini.”
“Kemarin waktu saya mendaftar, dr. Halimah bilang sebagai bahan analisa empat pertemuan pertama harus rutin. Kalau jadwalnya seminggu sekali, ya, harus dipenuhi. Mana bisa kamu seenaknya bikin jadwal sendiri,” Hara menjawab penjelasan panjang lebar Jenar dengan setengah menggerutu. Enak sekali dia mau menunda jadwal sesuka hati.
“Gitu, ya, Pak?” Jenar tampak berpikir lagi, “Kalau besok diganti jadwal pagi sebelum saya kuliah, bisa tidak? Biar saya nggak harus bolos.”
“Bisa, nanti saya bikin janji sama bagian administrasi kliniknya.” jawab Hara. Ia mengeluarkan ponsel dari saku celana, hendak menghubungi klinik tempat Jenar konseling. Tepat saat itu ia mengingat sesuatu.
“Besok saya tidak bisa menemani,” ungkap Hara.
Jenar mengangguk, “Pak Hara ada urusan lain?”
“Saya harus ke kantor pertanahan, mengurus balik nama surat tanah yang sebelah sana,” jelas Hara sambil menunjuk tempat pondasi setengah jadi ditanam.
“Iya, nggak apa, kok. Saya bisa sendiri, tapi saya minta konselornya Mbak Tiara saja, ya, Pak?”
Hara menghentikan jemari yang hendak mengetik pesan, “Mengapa bukan dr. Halimah? Bukankah lebih bagus kalau pemilik klinik sendiri yang menangani kamu?”
Jenar menggeleng keras, “Kemarin saya merasa lebih nyaman ngobrol sama Mbak Tiara.”
Hara mengangguk, maklum jika sesi konseling dengan ahlinya memang harus senyaman pasien. Sebab, yang Jenar lakukan bukan mengobati luka biasa, tapi luka batin yang tak kentara.
“Nggak pa-pa berangkat sendiri ke klinik? Pulangnya bagaimana?” Hara merasa harus memastikan Jenar baik-baik saja besok.
“Iya, saya bisa naik bus. Dari sana bisa langsung naik bus jurusan Jogja juga, Pak Hara nggak perlu khawatir. Saya berani pergi sendiri, kok.” jawab Jenar.
Hara baru hendak melanjutkan ketikan pada layar ponsel. Tiba-tiba terdengar suara dari belakang punggung menginterupsi.
“Mau kemana, sih? Kak Lion siap antar Dedek Jenar kemana pun pergi. Mau kemana? Kampus, toko buku, mall?” Entah sejak kapan Lion berdiri di belakang Hara. Apa pria itu mendengar semua pembicaraannya dengan Jenar?
Namun, Jenar tampak santai saat menjawab pertanyaan pria itu, “Tidak usah repot-repot, Kak. Kak Lion pulang dengan tenang saja ke Wonosobo, di sini Jenar sudah banyak yang menemani.”
“Oya?” Lion mengedarkan pandangan, “Mana? Mbak Sayumi nggak ada, Irkham tidak datang dan Mas Faiz sudah pulang. Kamu sendirian di rumah Jenar, sayang.”
Ucapan Lion membuat Hara reflek ikut menatap sekeliling. Benar yang Lion katakan, Mbak Sayumi memang libur setiap hari minggu, tapi biasanya ada Mbak Nanda atau Irkham. Hari ini sepi sekali, kalau ia dan Naufal tidak datang, artinya Jenar hanya berdua dengan Lion. Benar-benar pria yang pandai membaca peluang.
Hara merasa hatinya terbakar, tapi tidak tahu dari mana api berasal. Yang pasti, dia merasa tidak rela, jika membiarkan Jenar hanya berdua dengan Lion. Khawatir terjadi hal yang sama dengan saat mereka menemukan seekor kaki seribu tadi.
.
.
.
Bersambung....
Teman-teman, pasti ada yang bertanya, Mbak kenapa dialog Naufal selalu pakai bahasa jawa, sih? IYa, karena anak umur empat tahun yang biasa di rumah bicara bahasa daerah tidak bisa serta merta bisa bicara bahasa indonesia. Tapi kelak Naufal bakal bisa bicara pakai banyak bahasa, loh. Mau tahu? Tunggu pengumumannya, ya. kapan? Kapan-kapan. 😉
__ADS_1
Stay tune, Besok kira-kira apa yang terjadi di tempat terapi? Jenar beneran datang sendiri atau diantar Lion? Atau diantar saya, nggak mungkinlah. 😂