Merapah Asa, Menjemput Hidayah

Merapah Asa, Menjemput Hidayah
42. Mengikhlaskan yang Harus dikhlaskan.


__ADS_3

🌵Bersama kesulitan pasti ada kemudahan. Apa yang baru saja diambil darimu, insya Alloh akan diganti dengan yang lebih baik. Jadilah kuat, karena masih banyak orang-orang disekitar yang menyayangimu.🌵


Prov. Author.


Jenar menghubungi kedua orang tuanya yang berada di Surabaya, begitu mendapat kabar bahwa calon suaminya kritis. Ia juga mengirim kabar kepada Aneesha dan seluruh keluarga besar, meminta do’a agar Ghufron bisa melewati masa kritis.


Riani dan Fares ketika menerima kabar dari putri keduanya itu segera memanjatkan do’a kepada Yang Maha Kuasa. Fares yang sedang berada di kantor segera mengumpulkan seluruh karyawan, meminta semuanya berdo’a semoga Alloh memberikan yang terbaik untuk calon menantu. Begitu pula Riani yang kebetulan saat itu sedang berada di panti asuhan. Ia meminta anak-anak dan seluruh pengasuh panti membaca surat al-fatihah demi kesembuhan Ghufron.


Aneesha sampai menghentikan pekerjaan mengedit video demi mengambil air wudlu dan membaca do’a bersama seluruh asisten rumah tangga. Tidak ketinggalan juga seluruh keluarga besar yang saat itu menerima pesan yang dikirim oleh Jenar ke grup chat keluarga.


Banyak orang yang memanjatkan do’a untuk Ghufron, tapi apa hendak dikata jika Alloh menghendaki kesembuhan dengan cara yang lain? Ketika memasuki waktu salat ashar Jenar memberi kabar bahwa Ghufron baru saja meninggal.


*[Derek menawi mas Ghufron kagungan kalepatan, nyuwun pangapunten. Mas Ghufron nembe mawon kapundhut.] (*Maaf, seumpama mas Ghufron punya salah, tolong dimaafkan. Mas Ghufron baru saja meninggal.)


Begitu isi pesan singkat yang dikirimkan oleh Jenar ke grup chat keluarga besar. Seketika roomchat menjadi ramai oleh ucapan belasungkawa dan turut berduka cita.


Langit yang sangat cerah seolah berubah menjadi hitam pekat, angin yang bertiup pelan seperti berubah menjadi badai dahsyat. Berita duka sore itu menjadi kabar paling mengejutkan bagi keluarga besar Adhitama.


Fares merasa menyesal. Jika ia tahu usia calon menantunya hanya sampai hari ini, ia pasti tidak akan pulang ke Surabaya kemarin. Riani hanya bisa menghembuskan napas panjang sambil memejamkan mata. Membayangkan putri keduanya kehilangan tambatan hati, tentu ia ikut merasa sedih.


Reyfan yang sedang meeting memperebutkan tender penting, terkejut ketika mendapat telepon dari Hara. Ia tahu Hara tidak mungkin menelponnya di jam sibuk jika tidak ada yang sangat penting. Begitu mendengar kalimat singkat yang diucapkan oleh Hara, ia segera menelpon istrinya. Detik itu juga Aneesha memintanya pulang. Ia tak peduli lagi dengan tender, terserah mau menang atau kalah. Segera ia meminta Soleh mencarikan tiket pesawat ke Yogya.


Aneesha tidak bisa menahan airmata yang mengalir deras, saat suaminya menelpon. Ia hanya bisa mengirim pesan singkat kepada Jenar, bahwa suaminya yang akan berangkat ke Yogya. Karena kondisi fisiknya yang sedang hamil, tidak memungkinkan untuk naik pesawat sebelum melakukan konsultasi dengan dokter. Demi kebaikan semuanya, Reyfan tidak mengijinkan istrinya ikut ke Yogya.


Tidak ada yang siap atas kabar duka, bahkan jika itu datang dari orang yang sudah lama sakit atau sudah sangat renta sekali pun. Selalu mengejutkan dan mendadak, karena sejatinya manusia selalu ingin hidup lebih lama di dunia fana ini. Padahal kematian adalah sebuah kepastian yang semua orang pasti akan mengalaminya, cepat atau lambat.


Innalillahi wa innailaihi roji'un ....


***


Bu Nuning membuka pintu rumah, ketika Dito baru saja menghentikan mobil di luar halaman. Begitu melihat Nalini dan Jenar turun dari mobil, bu Nuning menyambut kedatangan mereka dengan mata berembun. Padahal diantara mereka belum ada yang mengatakan sepatah kata pun. Mungkin seperti itu yang dinamakan naluri seorang ibu, sudah merasakan apa yang terjadi pada putranya meskipun belum ada yang memberitahu.


Tidak bisa digambarkan bagaimana perasaan bu Nuning waktu itu. Terpukul pasti, tergambar dari airmata yang jatuh membasahi pipinya. Sedih karena kehilangan yang teramat sangat menyesakkan dada, seorang putra yang digadang bisa membanggakan orang tua baru saja dipanggil Alloh. Tapi ia berusaha untuk tetap tegar, karena banyak hal yang harus ia lakukan untuk putra tercinta.


Hari itu juga pemakaman dilaksanakan. Kerabat dan warga sekitar bahu membahu mempersiapkan pemakaman bersama Dito dan orang-orang yang dikirim oleh Hara untuk membantu. Seperti yang dikatakan oleh Dito, sebisa mungkin keluarga Ghufron tidak terbebani dengan masalah persiapan pemakaman. Kehilangan anggota keluarga secara mendadak sudah merupakan pukulan keras dan menguras emosi. Jangan sampai menambah beban dengan repotnya acara pemakaman.


Jenazah Ghufron sampai di rumah duka menjelang isya’. Prosedur rumah sakit mengenai pemulangan jenazah yang harus melewati beberapa tahap, membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Segera dilakukan proses pengurusan jenazah dari disucikan, dikafani kemudian disalatkan. Pak Haryo menghendaki jenazah putranya dimandikan dan dikafani di rumah tidak di rumah sakit, agar bu Nuning bisa ikut mengurus jenazah putranya.


Suasana penuh duka mewarnai prosesi pemberangkatan jenazah malam itu. Jenar dan Yumna harus memegang bahu bu Nuning, sebab ia berkali-kali terjatuh dan akhirnya pingsan saat keranda diangkat dan lafal laaillahaillalloh’ digumamkan. Seiring langkah kaki orang-orang mengantar jenazah Ghufron ke tempat peristirahatan terakhir.


“Jenar tidak ikut ke makam?” Tanya Dito kepada ponakannya yang sedang memapah bu Nuning.


“Nggak, Om. Saya di rumah saja jaga ibu.” jawab Jenar.


“Saya juga di sini saja, Mas.” ucap Yumna, harus ada yang menemani bu Nuning.


Karena kondisi bu Nuning yang masih sangat shock, Nalini pun memilih tinggal di rumah menemani ibunya. Para pria pergi ke pemakaman, termasuk Reyfan yang baru saja tiba. Bersyukur Reyfan masih sempat ikut menyolatkan jenazah Ghufron bersama keluarga dan warga sekitar.


Jenar dan Yumna memapah bu Nuning masuk ke dalam kamar, membaringkan tubuh lemah itu di atas tempat tidur. Nalini menyelimuti ibunya, bertiga mereka menunggu bu Nuning yang sedang dalam kondisi antara sadar dan tidak. Walau ia sudah berusaha tabah, tapi rasa kehilangan seorang putra yang digadang-gadang bisa menjadi kebanggaan orang tua, tetap membuat jiwanya terguncang.


Pukul 22.40 WIB prosesi pemakaman selesai. Warga sekitar dan sanak keluarga kembali ke rumah masing-masing. Namun, masih menyisakan beberapa orang saudara dekat yang memilih berdiam diri di rumah duka.


Dito dan Reyfan kembali dari makam bersama beberapa orang yang memilih pulang lebih awal, tidak menunggu sampai talqin. Dito yang masih mengenakan pakaian dinas lengkap menampilkan wajah lelah, begitu pula Reyfan.


“Kamu mau pulang ke mana, Rey?” Tanya Dito saat baru saja sampai di rumah duka.


“Paling nanti saya nginep di hotel saja, Om. Nggak mungkin kalau pulang ke Magelang, besok mau ke sini lagi, kan? Ayah sama bunda juga masih dalam perjalanan, paling tengah malam nanti baru sampai.” jawab Reyfan seraya merapikan rambut yang berantakan karena tadi ikut membantu menurunkan jenazah ke liang kubur.


“Nggak pulang bareng om saja? Nginep di rumah om sekalian.”


“Maaf, Om. Bukannya menolak, tapi saya masih nunggu Hara. Ada yang mau saya bicarakan sama dia.”


“Hara masih di makam?” Tanya Dito sambil menoleh kanan-kiri mencari seseorang.


“Iya, Om. Dia nunggu sampai selesai talqin kayaknya.”


“Totalitas beneran asisten kamu itu.”


“Harus, dong, Om. Saya kasih dia gaji banyak masa kerja seenaknya.”


Dito tersenyum menanggapi ponakan sombongnya itu. Ia merangkul bahu Reyfan seraya berkata, “ya, sudah kalau kamu masih mau di sini. Om ajak tante sama Jenar pulang dulu, ya. Udah nggak betah, nih. Lengket dari pagi belum ganti baju.”

__ADS_1


“Pantesan ada bau nggak enak dari tadi, Om.” canda Reyfan sambil pura-pura menutup hidungnya.


“Kurang ajar kamu sama orang tua.”


“Nggak, Om. Nggak berani saya.”


Karena merasa sudah sangat letih dan bu Nuning pun sudah dalam kondisi yang lebih baik dari pada tadi, Dito pamit pulang. Tak lupa ia meminta maaf karena Fares dan Riani belum bisa datang menghadiri pemakaman.


“Habis maghrib tadi mas Fares baru berangkat dari Surabaya naik mobil, kalau tidak ada halangan tengah malam nanti baru sampai. Jadi mungkin besok baru bisa ke sini.” begitu kata Dito kepada bu Nuning.


“Tidak apa-apa, saya yang seharusnya minta maaf karena sudah merepotkan jenengan (anda) sekeluarga.”


“Tidak ada yang direpotkan, Bu. Sudah sewajarnya kita sebagai umat islam saling bantu.”


Bu Nuning mengangguk sekilas, “terima kasih atas semuanya, semoga Alloh membalas kebaikan jenengan sekeluarga dengan kebaikan yang lebih banyak.”


“Aamiin.”


“Kami pamit pulang, Bu. Titip ponakan saya, Reyfan masih di sini menunggu Hara.”


“Nggih, Pak.” (Ya, Pak.)


Bu Nuning bersalaman seperti biasa dengan Yumna dan Dito, tapi ia tak bisa membendung airmata saat Jenar mencium punggung tangannya. Perasaan kehilangan kembali menghadirkan tangis, meski Jenar berusaha tersenyum sambil memeluknya.


“Maafkan jika ghufron selama ini punya salah sama kamu, ya, Nduk.”


“Mas Ghufron mboten kagungan lepat kalih kulo, Bu. Insya Alloh kulo sampun ikhlas.” (Mas Ghufron tidak punya salah sama saya, Bu. Insya Alloh saya sudah ikhlas.)


Memang ikhlas dan sabar hanya dua kata yang mudah diucapkan, tapi tentu saja sangat sulit dilakukan. Jenar bisa saja mengatakan dirinya sudah ikhlas, tapi dalam hati menyisakan luka yang sangat dalam. Ditinggal oleh calon suami yang sudah menyemai bibit cinta dalam hati, bukan merupakan perkara sepele. Bukan hanya terpisah jarak dan waktu, tapi mereka berada di alam yang berbeda, sungguh perpisahan yang teramat tragis.


Saat mobil yang dikendarai oleh Dito melewati tempat pemakaman umum yang terlihat ada cahaya lampu di area bagian tengah dan beberapa orang baru saja keluar dari makam, Dito memelankan laju kendaraannya. Hal itu membuat Jenar menarik napas panjang lalu menghembuskannya dengan sangat pelan. Ia bergumam dalam hati, ‘istirahat yang tenang, nggih, Mas. Sudah tidak sakit lagi, kan?’


Jenar tak lagi menangis, justeru mengulas senyum kecil saat Yumna yang duduk di depan menoleh ke arahnya. Yumna membalas senyum keponakannya sambil berkata, “besok kita ke makam sama ayah bunda kamu, ya.”


“Insya Alloh, Tan.”


***


Hidup adalah tentang meninggalkan dan ditinggalkan. Setiap manusia pasti pernah atau akan mengalami kehilangan, tinggal bagaimana cara menyikapinya. Jangan sampai perasaan sakit karena ditinggal pergi oleh orang yang tersayang untuk selama-lamanya, justeru menghambat langkah kita melanjutkan hidup. Biarlah yang sudah pergi beristirahat dengan tenang di sisi Alloh, sedangkan yang masih diberi nyawa tetap mempunyai kewajiban melanjutkan hidup.


“Jenar bisa tinggal di rumah ibu kalau mau, tidak terlalu jauh dari kampus. Dari pada harus pulang-pergi Magelang-Yogya.” Ucap Dito setelah menyesap teh dari cangkir keramik, kemudian meletakkannya kembali ke atas meja.


“Saya juga mikir begitu, tapi sama ayahnya nggak boleh.” jawab Riani seraya membelai lembut kepala putrinya yang sedang rebah di pangkuan.


“Nopo to ora oleh ki Mas?” (Kenapa, sih, nggak boleh, Mas?)


“Bulik sudah sepuh (tua), Dit. Nggak tega aku titip Jenar sama Bulik, biar Jenar di Magelang saja. Lagi pula tiap akhir pekan Jenar mengajar tahfidz anak-anak di sana, biar sekalian.” kilah Fares.


“Adoh, to, Mas laju Magelang-Yojo.” (Jauh, kan, Mas laju Magelang-Yogya).


“Nggak pa-pa, ya, Dek?” Tanya Riani dengan tidak menghentikan belaian di kepala putrinya.


“Iya. Nggak pa-pa, Om. Anggep aja tiap hari Jenar berpetualang naik bis Yogya-Magelang.”


Riani dan Dito kompak menggelengkan kepala. Mereka tahu Jenar sedang menggerutu tapi dengan bahasa kiasan karena ia memang tidak pernah menentang kehendak orang tua. Bagi Jenar, taat kepada perintah orang tua adalah segalanya.


Menjelang siang, Reyfan datang dengan mobil terisi penuh barang bawaan. Ia datang sendiri, menyetir mobil kantor sendiri, tidak bersama asisten setianya, Hara. Satu hal yang menimbulkan pertanyaan karena biasanya ia tidak pernah terpisah dari Hara. Setiap apa yang Reyfan lakukan pasti ada andil Hara di dalamnya.


“Memangnya Hara kemana, Rey? Kenapa kamu belanja sendiri dan bawa mobil sendiri?” Tanya Riani. Sifat keibuannya yang kental membuat ia selalu penuh perhatian dengan hal sekecil apapun. Termasuk dengan ketikdak hadiran Hara bersama menantunya.


“Nggak tahu, Bun. Semalem nginep di hotel sama saya, pagi tadi waktu saya bangun orangnya sudah hilang. Cuma ninggalin kunci mobil sama nota belanjaan.” jawab Reyfan dengan menurunkan beberapa barang yang ia berikan untuk keluarga Dito.


“Jadi yang mau dibawa ke rumah pak Haryo kamu belanja sendiri, Rey?”


“Nggak juga, sih, Bun. Saya tinggal ambil saja ke tokonya, Hara sudah pesen duluan.”


“Kirain kamu belanja sendiri, bisa kacau nanti. Sing dituku mesti ora ono sing cetho.” Gerutu Fares. (yang dibeli pasti tidak ada yang jelas.)


Reyfan meringis meski tidak terlalu paham apa yang dikatakan ayah mertuanya. Ia membantu Dito dan Fares menata barang-barang yang akan dibawa ke rumah pak Haryo sebagai buah tangan. Sudah menjadi adat jika melayat ke rumah kerabat harus membawa buah tangan sebagai sumbangan.


“Hara mungkin kecapekan, semalam dia pulang paling akhir dari pemakaman.” Jelas Dito yang baru saja selesai merapikan barang-barang bersama Reyfan.

__ADS_1


“Oya?” Riani merasa iba.


“Pak Haryo kemarin cerita sama saya, sejak sebelum subuh Hara sudah datang ke rumahnya jemput Ghufron. Kemarin itu jadwal pemeriksaan sum-sum tulang belakang, jadi harus berangkat pagi biar dapat antrian awal.” Jelas Dito.


“Tuh, Rey. Asisten kamu itu memang sangat kompeten, harus diuri-uri (dilestarikan) punya asisten seperti Hara. Coba kalau nggak ada Hara, nggak mungkin bisa terkondisikan dengan baik peristiwa kemarin. ” Riani bermaksud memuji tapi sekaligus memprotes tindakan Reyfan yang sering seenaknya sendiri terhadap Hara.


“Iya, Mbak. Saya salut lho sama Hara, kalau saja saya punya anak perempuan yang sudah siap nikah, bisa saya jodohkan sama Hara.” puji Dito.


“Jangan, Om! Nyesel nanti om punya menantu seperti dia.”


“Memangnya kenapa?”


Reyfan mendekat, berbisik kepada Dito, “Hara lebih brengsek dari pada saya, Om.”


“Masa, sih?”


Reyfan mengangguk, “kalau saya punya adik perempuan dan adik saya itu jatuh cinta sama Hara, bisa saya bunuh Hara. Jangan sampai mereka nikah.”


“Kamu ini, Rey! Jangan menilai orang dari luarnya saja, tapi lihat hatinya juga. Bunda yakin Hara itu orang baik, perasaan bunda tidak pernah salah.” seru Riani tidak setuju dengan penilaian menantunya tentang Hara. Padahal diantara mereka, Reyfanlah yang paling tahu, siapa sebenarnya seorang Hara.


“Ini kenapa malah pada ghibahin Hara? Kapan kita berangkat? Keburu panas, lho.”


Mendengar ucapan Fares semua orang menoleh, sadar bahwa mereka harus segera bersiap untuk pergi ke rumah pak Haryo untuk melayat.


Sampai di sana tenda dan kursi-kursi masih terpasang di halaman ruma. Karangan bunga ucapan duka cita menghiasi depan rumah sampai bahu jalan. Banyak orang terlihat sedang melayat pula, mungkin saudara jauh atau teman-teman Ghufron.


Kedatangan Fares sekeluarga disambut oleh pak Haryo dan bu Nuning secara khusus. Ucapan bela sungkawa dan saling meminta maaf mengawali percakapan. Pak Haryo merasa terharu dengan kehadiran Fares jauh-jauh dari Surabaya demi mengungkapkan rasa duka cita.


“Menawi enten lepate Ghufron nggih, Pak. Nyuwun pangapuntern.” (Seumpama ada salah Ghufron, ya, Pak. Mohon dimaafkan.) ucap pak Haryo.


“Mboten enten lepate, Pak. Mugi Ghufron sedo kanthi husnul khotimah, diampuni sedoyo dosanipun kalian ditampi amal kesaenanipun.” (Tidak ada salahnya, Pak. Semoga Ghufron meninggal dengan husnul khotimah, diampuni segala dosanya, juga diterima amal kebaikannya.) jawab Fares.


“Kami sangat berterima kasih atas semua yang pak Fares dan keluarga lakukan untuk Ghufron. Terutama untuk pak Dito dan Nak Hara, mulai Ghufron sakit sampai meninggal, tidak ada yang bisa kami berikan selain do’a semoga Alloh membalas kebaikan dengan kebaikan pula,” do’a tulus dari pak Haryo yang diaminkan oleh semua orang.


“Aamiin … sama-sama, Pak. Sebenarnya saya tidak melakukan apa-apa, sedangkan yang dilakukan oleh Dito, Reyfan dan Hara semata-mata karena kewajiban sebagai sesama umat manusia, yaitu saling membantu.”


"Sebenarnya saya masih belum percaya Ghufron meninggal," ucap bu Nuning dengan nada sendu, "dia sedang dalam kondisi yang serba bagus. Ibarat buah sedang matang sempurna, sedang manis-manisnya dimakan. Tugas co-asstnya lancar, ibadahnya makin rajin, puasa sunah, salat jama'ah di masjid dan wajahnya juga sedang ganteng-gantengnya. Masih nggak nyangka kalau dia cuma bertahan 10 hari sejak divonis sakit leukimia."


“Walaupun kita tidak jadi berbesanan, tapi saya harap kita tetap menyambung silaturahmi, ya, Pak. Sungguh saya ini sudah cocok sekali dengan keluarga pak Fares. Kalau saja saya punya dua anak laki-laki, tentu sudah saya minta Jenar tetap menjadi menantu saya.” ucap pak Haryo serius.


“Jangan seperti itu, pak Haryo, bu Nuning. Insya Alloh kita masih tetap bisa menyambung tali silaturahmi, walaupun bukan sebagai besan.”


“Jenar sering-sering main ke sini, ya. Jangan lupakan kami.”


“Insya Alloh, Pak.”


Meskipun masih dalam suasana duka dan raut wajah penuh kesedihan, tapi dua keluarga yang tadinya bermaksud saling mengikat kini telah mengikhlaskan ikatan untuk terlepas. Kepergian Ghufron untuk selama-lamanya menjadi penyebab gagalnya dua keluarga untuk bersatu. Namun, bukan berarti ikatan tali silaturahmi diantara mereka benar-benar terlepas. Sebab bagaimana pun umat muslim di seluruh dunia ini bersaudara.


Acara takziah siang itu diakhiri dengan berziarah ke makam Ghufron. Menjadi hal yang memilukan untuk Jenar melihat pusara calon suaminya yang masih basah dan penuh dengan kelopak bunga bertebaran. Namun, seperti yang sudah ia siapkan sejak kemarin, yaitu ia harus mengikhlaskan kepergian Ghufron.


Jenar, Ghufron dan seluruh keluarga besar boleh saja berencana, tapi tetap Alloh sang Maha menentu rencana. Yakin bahwa skenario Alloh tidak pernah salah, selalu tepat untuk setiap hambaNya. Yang bisa dilakukan oleh manusia hanyalah berikhtiar, setelah itu menerima takdir dengan sabar dan ikhlas. Karena sejatinya manusia hanyalah wayang, sudah ada dalang yang menentukan takdir perjalanan dari awal hingga akhir.


.


.


.


Bersambung....


Assalamu'alaikum temen-teman, readers tercinta, tersayang, terlope-lope ...


Semoga selalu dalam lindungan Alloh SWT diberi kesehatan dan kelancaran rezeki barokah, aamiin.


Mohon maaf yang sebesar-besarnya, karena jadwal up cerita ini tidak konsekwen. hehe.


*Selanjutnya, saya ingin memberitahukan bahwa untuk satu bulan ke depan saya sedang mengikuti kelas menulis dan challenge menulis fiksi yang kebetulan waktunya berbarengan. Jadi mohon maaf, untuk MAMH akan sangat slow up. *


*Saya tidak bisa janji, tapi akan saya usahakan tetap up meskipun waktunya belum bisa ditentukan. 😊 Semoga bisa seminggu sekali. Mohon bersabar, ya😊 dan mohon pengertiannya. *


Yang penasaran apa isi surat yang dititipkan Ghufron, tahan dulu rasa penasarannya. Nanti akan terjawab di 2 bab berikutnya. 😊

__ADS_1


sekian dari saya, wassalamu'alaikum ....


Desi Desma/La lu na.


__ADS_2