
🌵Laki-laki atau perempuan akan membuka hati, jika menemukan seseorang yang membuatnya nyaman.🌵
Hara
Aku adalah laki-laki yang pernah bermain dengan berbagai macam tipe wanita. Tak terhitung berapa banyak wanita yang kutaklukan di ranjang, tapi belum pernah ada yang berhasil membuatku terus ingin membayangkan salah satu dari wajah mereka.
Jenar … hanya seorang gadis biasa, tidak terlalu cantik. Ia selalu mengenakan pakaian yang hampir menutup seluruh tubuh. Penampilannya sangat jauh dari semua wanita yang pernah 'kupakai'. Namun, hari ini dia berhasil membuatku melakukan satu hal tanpa berpikir dulu. Satu jam lebih menempuh jarak Magelang-Yogya dengan terburu-buru, hanya karena aku tidak ingin terjadi sesuatu padanya. Bahkan sampai rela menjadi pelampiasan marah, mendengarkan semua keluh kesah demi menghentikan tangisnya. Aku tidak tahu pastinya sejak kapan, merasa harus peduli dengan gadis yang bukan siapa-siapa ini.
Dalam hati aku menertawakan diri sendiri. Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku kelimpungan melihat seorang gadis menangis di hadapan. Punya kekuatan apa gadis ini, hingga bisa membuatku seperti orang gila?
Kuambil beberapa lembar tissue untuk mengusap peluh di sepanjang hidung Jenar dengan hati-hati. Sebab, aku tidak ingin mengusik tidurnya yang lelap. Dia pasti lelah habis menangis sambil marah-marah sepanjang perjalanan dari kampus sampai masuk daerah Sleman. Ia mengira Aina marah karena absen kuliah dan tidak membalas chat, padahal belum tentu demikian. Sepertinya Jenar hanya over thinking saja.
Kupandangi wajah tenang yang sedang terlelap, dengan mata dan mulut sedikit terbuka. Lucu sekali gaya tidur gadis ini, membuatku tidak bosan berlama-lama memandang. Aku merasa seperti ada yang sedang bersenandung di dalam sana, entah menyanyikan lagu apa.
Jenar lebih manis kalau sedang tidur. Aku bisa melihat jelas wajahnya yang sering menunduk, juga lebih leluasa menikmati kepolosannya. Bulu mata yang lebat, panjang juga lentik, menyempurnakan keindahan pahatan Tuhan. Kalau tidak dalam keadaan tidur, mana berani aku menatap lama-lama sorotnya yang tajam dan sebening kristal ini. Tatapan yang bisa membuat jantungku bertalu kencang tak berirama.
Kurogoh saku untuk mengambil ponsel. Kesempatan langka ini sayang kalau tidak diabadikan. Kapan lagi bisa puas melihat wajah gadis manis yang sedang tidur? Bisa jadi dia marah-marah lagi saat bangun nanti, atau malah menangis lebih keras? Perempuan memang makhluk aneh yang kadang-kadang tidak bisa mengendalikan emosi.
Jenar yang polos, lugu, dan terlalu perasa … tak terbayang jika tadi aku tidak segera datang. Bisa-bisa ada orang jahat yang memanfaatkan keadaan rapuhnya demi mengambil keuntungan sepihak. Setahuku dia tidak punya banyak teman, sering ke mana-mana sendirian. Jadi, salahkah jika aku ingin melindungi gadis ini?
Ponselku bergetar, setelah mengambil beberapa foto Jenar dengan pose tidur. Berhasil menarik kesadaran dari lamunan menyenangkan. Nama Reyfan yang tertera di layar, kebetulan sekali. Baru saja aku berpikir ingin menghubunginya untuk membicarakan beberapa hal. Takdir berjalan sebagaimana yang terlintas dalam benak.
Dengan gerakan pelan, aku membuka pintu mobil. Lebih leluasa menerima telepon di luar, agar tidak mengganggu tidur Jenar. Biar saja gadis itu puas istirahat, sebelum nanti kuantar pulang.
“Halo!”
Angin sore menyapa, menerbangkan daun-daun kering yang berjatuhan dari pepohonan. Terdengar suara lagu anak-anak yang diputar oleh tukang odong-odong, sedangkan lampu taman mulai menyala. Anak-anak kecil berlarian, ada juga yang sedang menarik tangan orang tuanya menuju ke tempat mainan. Suasana hangat di ujung senja yang temaram. Aku menyandarkan punggung pada badan mobil, berbicara dengan Reyfan sambil menatap sekeliling alun-alun milik pemerintah daerah Sleman dengan segala hiruk-pikuknya.
***
Jenar.
Pagi ini rasanya malas sekali, tidak punya semangat mengerjakan apa pun, bahkan untuk berangkat kuliah. Aku seperti seorang peri yang kehilangan tongkat kesaktian. Dicuekin oleh sahabat baik, membuat hidupku berantakan.
Kemarin Aina tidak berangkat kuliah, tidak mengangkat telepon, bahkan chatku juga tidak dibuka. Membuatku berpikir bahwa dia marah atas kejadian waktu motornya mogok. Meski semalam, aku sudah menerima kabar bahwa dia sedang sakit, tapi tidak lantas membuatku lega. Mungkin dia mengira aku sengaja memberi tahu Pak Hara, supaya datang bersama Gus Hafidz.
Bagaimana cara menjelaskan pada Aina kalau mereka datang karena aku salah kirim chat? Bagaimana kalau dia tidak percaya?
Kusebar pakan, lalu menyandarkan kepala pada tiang gazebo sambil menatap ikan-ikan berloncatan. Berkali-kali aku membuang napas, demi mengusir resah yang melanda. Sesedih ini rasanya mendapati sahabat sedang marah, karena aku paling tidak suka didiamkan. Rasanya tidak enak menjadi alasan seseorang marah.
“Aku harus bagaimana?” gumamku pelan, seperti sedang berbicara dengan ikan.
Aku merasakan kehadiran seseorang, terdengar dari langkah kaki mendekat, lalu masuk ke gazebo. Bisa kutebak siapa orang itu dari suara deheman beratnya, tapi aku enggan untuk menyudahi lamunan sambil menatap kumpulan ikan-ikan di kolam.
“Sudah jam segini masih asyik kasih makan ikan, nggak kuliah?” Pertanyaan yang berasal dari suara bariton khas laki-laki, hanya kujawab dengan menggeleng lemah.
“Libur?” Aku menggeleng lagi untuk menjawab pertanyaannya.
“Kemarin kamu mau batalin jadwal terapi karena nggak ingin bolos kuliah, sekarang nggak libur tapi sengaja pengin bolos, gitu? Nggak punya pendirian.”
Mendengar gerutuan bernada menyindir itu, aku menghela napas panjang. Kuambil pakan, menyebarnya lagi ke kolam. Seketika air kolam berkecipak, karena ikan-ikan saling berebut makanan.
“Ikannya sudah kenyang, yang kasih makan sudah sarapan belum?”
Aku menggeleng lagi, kali ini tergerak untuk menjawab, “Males.”
Kudengar Pak Hara mendengkus, “Indonesia tidak akan maju kalau generasi mudanya seperti ini semua!”
__ADS_1
Aku menarik diri, mengalihkan perhatian dari kolam. Perasaan semalam tidurku nyenyak, bangun juga seperti biasa, tidak terlambat. Bahkan masih sempat muroja'ah setelah salat malam. Mengapa sepagi ini sudah mendapat ceramah dari seseorang yang sok tahu tapi tidak jelas?
“Gusti Allah tidak suka makhluk yang males-malesan, nggak sat-set dan klemar-klemer.”
Aku melirik punggung tegap pria yang sedang duduk di tepi gazebo sambil menghisap rokok. Mencibir kalimat yang dia katakan, “Sok tahu.”
Pak Hara menoleh. Asap putih mengepul di udara ketika dia bertanya padaku, “Apalagi masalahnya sekarang? Belum puas kemarin marah-marah sambil nangis?”
Ucapannya membuat memori otakku memutar kejadian kemarin. Saat aku sedih sekaligus kesal, karena Aina tidak mengangkat telepon. Mengarahkan sasaran kemarahan kepada Pak Hara, tak peduli dia jauh-jauh datang ke kampus demi menjemputku. Aku justru memarahinya sepanjang jalan, menumpahkan tangis sambil terus menghujat, menyalahkan dan menghakiminya. Padahal kalau dipikir Pak Hara tidak tahu apa-apa, malah menerima luapan kekesalan.
“Masih mikirin Aina sampai nggak semangat berangkat ke kampus?” Pak Hara bertanya lagi.
Mendengar itu, aku justru makin ingin cemberut. Pak Hara nggak akan tahu, betapa sedihnya didiamkan seorang teman yang sudah dianggap seperti saudara. Dia tidak akan bisa merasakan apa yang sedang kurasakan sekarang.
“Aina belum bales chat juga?” tebak Pak Hara.
Aku menggeleng sambil menjawab lirih, “Sudah dijawab tadi pagi. Dia bilang lagi tidak enak badan, saya rasa itu hanya alasan untuk menghindar. Agar saya tidak mengirim chat atau menelpon lagi.”
Bukannya bersimpati, Pak Hara malah menggertak, “Dasar perempuan!” membuatku mengerutkan dahi karena tidak paham.
“Baperan boleh, tapi over thinking jangan! Waktu kamu akan terbuang percuma kalau terlalu memikirkan sesuatu yang belum diketahui kebenarannya. Belum tentu Aina punya pikiran seperti yang kamu sangkakan.” gerutunya.
“Pak Hara tahu dari mana? Nggak kenal Aina, kan?”
“Percuma ngomong sama kamu!” Pak Hara berdiri dengan kasar, “Lebih baik cari tahu langsung, dari pada menebak yang belum tentu nyata.”
“Maksudnya?”
“Datangi Aina, tanyakan padanya tentang pradugamu itu!” jawab Pak Hara tanpa menoleh.
“Mau diantar nggak?”
Aku mengernyit menjawab pertanyaan Pak Hara dengan pertanyaan juga, “Ke kampus?”
“Maunya diantar ke kampus atau ke tempat Aina?”
Aku berpikir sebentar, memilih antara harus berangkat ke kampus atau menemui Aina di kost.
“Kalau aku jadi kamu, mending ke kampus saja. Siapa tahu Aina sudah berangkat ke kampus.”
Pernyataan Pak Hara membuatku sedikit condong pada salah satu pilihan. Namun, masih memikirkan kemungkinan resikonya, “Kalau belum bagaimana?”
“Paling tidak, kamu beruntung karena nggak jadi bolos.” jawab Pak Hara.
Aku masih hendak berpikir, tapi Pak Hara sudah melangkah lebih dulu setelah membuang puntung rokok. Terdengar ia menggerutu, “Kelamaan mikir, keburu upin-ipin ubanan!”
Membuatku tergeragap dan segera bangkit, “Tunggu, Pak! Saya harus siap-siap dulu.”
Namun, Pak Hara terus melangkah tanpa menjawab. Aku pun gegas berlari masuk kamar. Perlengkapan kuliah sudah siap sejak semalam, aku juga sudah mandi dan berpakaian rapi. Tidak butuh waktu lama untuk bersiap.
Pintu kamar diketuk, saat aku sedang mematut diri di depan cermin. Mungkin Mbak Sayumi sudah pulang dari pasar. Kuperingkas aktivitas, menyambar tas, lalu membuka pintu.
Bukan Mbak Sayumi, tapi ternyata Pak Hara yang berdiri di depan pintu. Aku sudah membuka mulut hendak bicara, dia malah menyodorkan sebuah pisang dan sebotol air minum sambil berkata, “Sarapan dulu. Buah pisang mengandung karbohidrat, protein, vitamin A, C, dan B6. Tinggi serat, protein, antioksidan, magnesium dan protasium yang baik untuk kesehatan. Buah ini rendah kalori, jadi cocok untuk sarapan, nggak bikin ngantuk.”
Setelah itu dia pergi begitu saja. Membuatku menatap bingung dua benda di tangan dan arah kepergian Pak Hara secara bergantian.
“Air minumnya dibawa. Dehidrasi bisa menyebabkan kurangnya fokus dan konsentrasi. Agar kamu bisa menyimak mata kuliah dengan baik.” ucapnya sebelum keluar melalui pintu belakang.
__ADS_1
Aku sampai mengedipkan mata berkali-kali. Tadi yang bicara Pak Hara, bukan, sih? Papan tulis itu bisa banyak bicara rupanya? Kalau dia bersikap manis seperti ini … aku, kan, jadi pengin malu. Ah! Jangan-jangan dia sedang mabok, tapi pisang ini kelihatan enak, lumayan untuk mengganjal perut yang baru terisi air putih saja sejak bangun tidur tadi.
Sambil mengupas pisang berbintik hitam-tanda sudah matang sempurna-, aku berjalan pelan keluar dari rumah. Terlihat Pak Hara berdiri tak jauh dari mobil sedang berbicara dengan seorang pria. Kebetulan Mbak Sayumi belum kelihatan pulang, aman untuk tidak menjelaskan kenapa aku pergi ke kampus dengan Pak Hara.
“Sudah siap?” tanya Pak Hara. Aku mengangguk.
Ia bertanya lagi, “Botol minumnya sudah dibawa?” aku mengangguk lagi.
Ia membuka pintu bagian kemudi, lalu masuk ke mobil. Sejenak kemudian, pintu samping dibuka dari dalam. Aku sudah hendak melangkah masuk, tapi pria yang tadi bicara dengan Pak Hara mendekat.
“Maaf, Mas. Uang pas saja ada? Saya tidak punya kembaliannya.”
“Nggak ada, Mas.” jawab Pak Hara, “Bawa saja dulu, tidak apa-apa.”
“Jangan, Mas. Kalau sampai saya lupa, urusannya berat di akhirat.”
Aku urung masuk mobil, entah apa yang sedang dibincangkan oleh Pak Hara dan pria yang ternyata tukang sayur itu, sampai membawa nama akhirat segala. Sepertinya masalah serius sekali.
“Mbaknya mungkin punya?”
Aku mencari jawaban dengan melihat Pak Hara, karena tidak tahu maksud dari tukang sayur. Pak Hara membuka dompet, menunjukkan isi yang semuanya lembaran warna merah. Dasar pamer!
“Saya beneran nggak ada uang kecil,” ucapnya.
“Buat apa, sih?” aku bertanya, karena memang tidak tahu untuk apa Pak Hara butuh uang receh.
“Mas ini tadi beli pisang satu, tapi saya tidak punya kembalian.” jelas tukang sayur.
Sontan aku menatap pisang yang sudah kugigit sebagian. Tiba-tiba rasa pisang yang masuk kerongkongan berubah menjadi aneh. Pasti karena aku lupa membaca do'a sebelum makan, menggigit pisang sambil jalan pula. Hilang sudah berkah makanan, karena tidak mengikuti tuntunan.
“Jadi pisang ini belum dibayar?” tanyaku, memastikan.
“Mau dibayar, tapi dia nggak punya kembalian.” jawab Pak Hara santai.
Aku menatap tukang sayur dan Pak Hara bergantian. Mereka berdua sama-sama tidak memperlihatkan rasa bersalah. Laki-laki, memang kadang bisa menjadi manusia paling unik di dunia. Setitik rasa sesal menghampiri perasaan, hampir saja besar kepala karena dikasih perhatian berupa pisang. Tak tahunya aku juga yang harus membayarnya. Kenapa tadi tidak suruh beli sendiri di tukang sayur saja, biar total sekalian kalau mau ngerjain.
“Berapa, Pak?” aku merogoh tas guna mengambil dompet.
“Dua ribu saja, Mbak.” jawab Pak tukang sayur.
Aku memberikan selembar uang lima ribuan kepada tukang sayur. Sialnya, tukang sayur bilang tidak ada uang kembali. Ini tukang sayur atau tukang palak, sih? Masa tidak punya uang kecil sama sekali, barang tiga ribu perak saja?
“Yang tiga ribu saya kasih pisang lagi saja, ya, Mbak? Saya kasih dua lagi, deh. Bonus buat Mbaknya yang cantik.” ucap tukang sayur sambil meringis, seolah tidak punya beban karena memaksa orang membeli dagangan berbalut kata-kata manis.
Terserah saja, deh, Pak. Menurut saja apa kata tukang sayur, dari pada uang lima ribu hanya dapat satu pisang yang tidak terlalu besar. Sarapan tiga buah pisang, yang kata Pak Hara kaya nutrisi, sepertinya cukup untuk bekal menghadapi hari ini.
.
.
.
Bersambung ....
Welcome oktober, semoga yang tersemogakan disegerakan oleh Alloh, aamiin. Tetap, dong, mengingatkan. Jangan lupa, like, komentar yang banyak, kasih bunga, kopi, apa saja, deh. Vote kalau masih juga boleh 😉. Cerita ini pokoknya seperti cerita saya yang lain ... puanjang entah sampai kapan tamatnya. Sak senengku, kata Mbak Sayumi. 😊
Selamat berakhir pekan, jangan lupa kunjungi sebelah, ya. Aplikasi apa? Oren, Kak. Selama masih gratis, ramaikan. Sebelum saya berubah pikiran pindah di tempat yang ada kuncinya. 😊
__ADS_1