Merapah Asa, Menjemput Hidayah

Merapah Asa, Menjemput Hidayah
106. Romansa di Ujung Senja


__ADS_3

🌵 Tidak perlu melihat matahari, untuk menikmati keindahan sinarnya.🌵


Angin bertiup pelan, menggoyangkan ranting pepohonan. Sinar kekuningan mentari menembus awan putih yang terbang berarak-arak di bawah langit biru cerah. Betapa indah langit sore itu, berpadu syahdu sebagai lukisan alam yang menjadi latar belakang suasana sebuah rumah makan. Air sungai yang jatuh dari bendungan mengalir deras di bawah jembatan besar yang merupakan akses penghubung dua kecamatan.


Hara duduk di sebuah kursi, menatap pemandangan kontras di hadapan. Lalu-lalang kendaraan yang melintas di jembatan dan aliran sungai yang tepat berada di bawahnya seolah menjadi sebuah symphony. Melantun merdu seperti senandung di dalam hati.


Di belakang punggungnya, tiga bersaudara sedang asyik berswafoto sambil bersenda gurau. Tawa renyah mereka membahana, mengalahkan suara gemuruh air sungai. Tak pelak, berhasil membuat Hara menarik kedua sudut bibirnya ke atas. Tanpa menoleh pun, ia sudah bisa menebak siapa pemilik suara itu.


Tak jauh dari tempat mereka, satu keluarga besar duduk berkumpul mengelilingi meja, mengobrol ringan di sela menunggu pesanan makanan. Reyfan yang tidak suka basa-basi pun sampai ikut terhanyut dalam obrolan tidak penting, tapi menunjukkan keakraban keluarga.


“Renovasi rumah sudah hampir selesai, Rey. Insyaalloh sebelum acara tujuh bulanan, sudah siap ditempati.” ujar Faiz.


“Jadi tujuh bulanan di sini, Rey?” Riani bertanya kepada menantunya.


Reyfan mengangguk, “Aneesha maunya begitu, tapi saya belum bisa memastikan. Pekerjaan sedang banyak, tidak mungkin saya meninggalkan perusahaan terlalu lama.”


“Dipikirkan dulu baik-baik, mumpung masih banyak waktu.” sahut Fares.


“Iya, Yah. Lagi pula sekarang kehamilan Aneesha juga belum genap enam bulan, bagaimana nanti situasi dan kondisi kedepannya saja.” jawab Reyfan.


“Kalau renovasi rumah sudah selesai, Hara akan kembali ke Jakarta, Rey?” tanya Faiz serius.


“Belum tahu, Mas. Saya, sih, maunya begitu. Repot sekali selama dia di sini, saya harus mengurus semuanya sendiri tanpa dia. Tapi sepertinya dia tidak tertarik kembali ke Jakarta. Karena setiap saya bahas tentang hal itu, dia menghindar. Hari ini saya baru sadar, dia jadi lebih manusiawi sekarang, lebih banyak tersenyum.” Reyfan membuang pandangan ke arah pria yang sedang memainkan ponsel dengan posisi memunggunginya.


“Mungkin Hara sudah menemukan kedamaian di sini,” sahut Faiz.


“Bisa jadi, Mas. Di Jakarta Hara tidak punya keluarga, di sini dia seperti menemukan sesuatu yang tidak pernah dimiliki.” jawab Reyfan.


Faiz mengangguk, “Dia sering ajak keponakannya ke rumah, main sama Arkaan. Sepertinya mereka akrab sekali, padahal Hara itu kaku, tapi sama keponakannya bisa terlihat luwes.”


“Memangnya Hara punya keluarga di sini?” Riani penasaran.


Reyfan mengangguk, “Waktu mengantar saya mencari Aneesha, Hara tidak sengaja bertemu dengan kakak tirinya. Jadi sekarang Hara tinggal bersama kakak tiri dan keluarganya di Jogja.”


Semua orang reflek mengarahkan pandangan kepada Hara yang kini sedang beranjak mendekati Jenar, Aneesha dan Lingga. Pria itu membantu Lingga yang sedang kesulitan meraih ranting pohon kersen. Mereka berdua memetik buah kersen, sedangkan Jenar dan Aneesha saling menunjuk buah mana yang harus dipetik.


“Kalian lihat! Seperti bukan Hara yang saya kenal saja dia sekarang, mau-maunya melakukan hal konyol seperti itu.” gerutu Reyfan.


“Kamu akan lebih heran lagi, jika tahu dia mau berkubang di lumpur saat menguras kolam, demi menangkap ikan untuk Arkaan dan Naufal.” ungkap Faiz.


Dahi Reyfan berkerut dalam, banyak hal yang terlewat dari pengetahuannya. Hara memang telah banyak berubah selama pergi dari Jakarta.


Perhatian semua orang teralihkan dengan kedatangan pegawai rumah makan mengantar pesanan. Berbagai jenis minuman disediakan seperti yang sudah dipesan sebelumnya.


Sementara itu, empat orang tengah asyik memetik buah kersen sambil bercanda. Tidak peduli dengan beberapa pasang mata yang menatap mereka dengan pandangan tak biasa.


“Kakak mau yang merah itu, Dek!” teriak Aneesha sambil mengarahkan telunjuknya ke arah dekat kepala Lingga.


“Enak yang belum terlalu merah, Kak. Hijau ada semburat kemerahan gitu, lebih segar.” sahut Jenar.


“Masa, sih? Yang merah lebih manis, Dek!” sanggah Aneesha.


“Kalau kurang manis, nanti kakak makannya sambil lihat Jenar saja.” Aneesha tertawa mendengar gurauan adiknya.


“Pak Hara, petik yang itu!” seru Jenar kemudian.


Aneesha segera menghentikan tawa, ia menatap Jenar dan Hara bergantian. Ia mengulas senyum, menyadari keakraban dua manusia di hadapannya. Persis seperti yang diceritakan oleh Noura, ada sesuatu yang terjadi di antara Hara dan Jenar, meski belum nampak jelas.


“Sudah banyak, Kak.” ujar Lingga, menyadarkan kakaknya dari lamunan.


“Terima kasih adikku sayang!” sahut Aneesha membuka tangan menerima hasil petikan buah kersen Lingga.


“Bajumu kotor, Dek!” Aneesha menunjuk kemeja yang dipakai Lingga, lalu mengambil daun kering yang jatuh di kepala plontos adiknya.


“Bukti pengorbanan adik untuk kakaknya yang sedang nyidam ini,” ujar Lingga membanggakan diri sambil ikut membersihkan kemeja dari kotoran, membuat Aneesha tertawa.


“Kakak nggak nyidam, cuma pengen saja.” Aneesha tidak mau memanfaatkan kehamilannya sebagai alasan.


“Padahal di rumah juga ada pohon kersen, kan?” Lingga masih membersihkan daun kering dari kemeja dan kepalanya


“Lihat banyak yang matang di sini jadi pengen, Dek.” jawab Aneesha.


“Dicuci dulu, Kak. Barang kali ada kumannya, nanti malah kakak jadi diare.” usul Lingga. Ia kemudian membantu kakaknya membawa buah kersen.


“Dek! Kakak udahan.” teriak Aneesha kepada Jenar sambil menunjukkan tangan penuh buah kersen.


“Ih, curang! Jenar baru dapat sedikit.” Jenar menghentakkan kaki dengan bibir mengerucut.

__ADS_1


“Minta Hara petik yang banyak.” sahut Aneesha seraya mengajak Lingga pergi.


Lingga berjalan merapat pada kakaknya, lalu berbisik, “Pak Hara dan Kak Jenar pacaran?”


Aneesha menggeleng, “Enggak! Kamu seperti tidak kenal kakakmu saja, mana mau dia berhubungan yang tidak jelas.”


“Siapa tahu sekarang Kak Jenar berubah pikiran. Mereka akrab sekali, persis seperti orang pacaran.” sahut Lingga.


“Sok tahu kamu, Dek!” Aneesha menyikut lengan adiknya.


Lingga menoleh ke belakang sekilas, lalu mengangkat bahu. Memilih menghentikan obrolan dan membantu kakaknya mencuci buah kersen di westafle.


Sementara itu, Hara tersenyum tipis melihat raut wajah Jenar yang lucu ketika cemberut. Tanpa diminta pun ia pasti bersedia memetikkan buah kersen yang banyak untuk gadis itu.


“Sepertinya sudah habis, masih hijau semua.” Hara menengadah, meneliti pohon kersen, menyadarkan Jenar dari melihat arah kepergian kakak dan adiknya.


“Yang sebelah sana, Pak!” Jenar menunjuk pohon kersen paling ujung, dekat pagar tebing sungai.


Tanpa menjawab, Hara pun beranjak. Pohon yang tidak terlalu tinggi, memungkinkan untuk memetik buah hanya dengan meraih rantingnya saja, tidak perlu memanjat. Dalam waktu sekejap, banyak buah yang sudah berhasil dipetik.


“Sudah banyak sekali ini, Pak.” Jenar mengumpulkan buah di atas meja kosong paling dekat dengan pohon.


“Masih ada di atas, kalau mau lagi.” Hara memberikan beberapa buah kersen kepada Jenar.


“Sudah cukup, Pak. Siapa tahu pengunjung lain juga mau petik, ini sudah banyak, kok.” jawab Jenar.


“Rambut Pak Hara kotor,” Jenar ragu-ragu menunjuk rambut Hara yang kotor akibat daun dan bunga kersen yang berjatuhan saat memetik buah tadi.


Hara mengacak rambutnya sendiri yang agak panjang karena belakangan jarang dicukur. Gerakan tangan pria itu membersihkan rambut, mengusap kemeja, lalu melepas dan membersihkan kaca mata, membuat Jenar terpaku. Hanya sejenak, ia itu segera sadar dan mengucap istighfar. Gadis itu jadi salah tingkah karena tidak sengaja telah mengagumi pria yang bukan haknya.


“Saya bantu bawa,” ucap Hara melihat Jenar terburu-buru memunguti buah di atas meja.


“Mau dicuci dulu, kan?” tanya Hara.


Jenar mengangguk dalam tundukkan. Gerakannya yang tergesa karena ingin menghindar, justru menyebabkan buah yang sudah di tangan lolos lagi. Beberapa bahkan ada yang jatuh dari meja. Hara membantu memunguti buah yang jatuh.


“Sepertinya tidak bisa dibawa dengan tangan, saya pinjam wadah dulu, ya.” ucap Hara sambil lalu membawa sebagian buah menuju resepsionist.


Menyadari kepergian Hara, Jenar mengangkat kepala. Embusan napas terdengar dari hidungnya, berusaha untuk menetralkan detak jantung yang bertalu kencang. Akhir-akhir ini, tampaknya ia sering kehilangan irama degup jantung ketika berdekatan dengan Hara.


Sinar kekuningan mentari menembus rimbunnya daun kersen yang menaungi area out door rumah makan. Membentuk bulatan-bulatan seperti telur yang menerpa meja kosong. Langit cerah, menyebabkan mentari masih cukup terik ketika hari menjelang senja.


Hara datang dengan membawa sebuah mangkok. Ia memelankan langkah, ketika melihat Jenar sedang asyik bermain sinar matahari. Senyum kecil tersungging di bibirnya. Bahkan hanya dengan melihat hal sepele yang dilakukan Jenar, bisa membuat hatinya menghangat. Tak ingin menggangu gadis yang sedang asyik di dunianya sendiri, ia memilih mengumpulkan buah kersen di atas meja, lalu mencucinya.


Sinar kekuningan meredup, seiring gerak perlahan matahari mendekati garis horison. Hara telah selesai mencuci buah kersen, Jenar pun sudah tidak lagi bermain bulatan cahaya. Gadis itu berdiri diam, menengadah dengan tangan terlipat di dada. Menikmati lembayung senja yang indah.


“Sepertinya kamu sangat menikmati sore ini?” tanya Hara.


Jenar menoleh, tersenyum sekilas, lalu kembali menatap awan-awan yang memantulkan sinar lembayung.


“Jarang sekali bisa melihat pemandangan seperti ini, Pak. Apalagi bisa bermain menangkap matahari. Kalau sedang beruntung bisa saya nikmati saat menunggu bis di halte, atau dari balik kaca bis dalam perjalanan pulang. Sambil berdo’a dalam hati semoga tidak kemalaman sampai rumah.” jawab Jenar.


Hara mengikuti arah pandang Jenar, untuk kali pertama mereka menatap arah yang sama dengan posisi berdiri sejajar. Sesaat mereka hanya diam, menikmati indahnya langit sore diterpa lembanyung senja dengan isi pikiran masing-masing.


“Dikasih kado apa sama Lion?” Hara membuka suara lebih dulu, layaknya seorang yang tidak bisa menahan rasa cemburu.


Jenar menggeleng, “Belum tahu, belum dibuka.”


“Nggak penasaran ingin tahu isinya apa? Mungkin dia kasih barang yang sangat kamu inginkan.” ucap Hara datar.


“Pak Hara ingin tahu? Saya ambil di mobil, terus buka di depan bapak kalau gitu.” jawab Jenar disertai senyum jail.


Hara mengerutkan dahi, “Kenapa membalikkan pertanyaan kepada saya? Saya sama sekali tidak peduli dengan isi kado dari Lion.”


“Sungguh? Lalu kenapa tadi tanya?” Jenar memiringkan kepala, hendak melihat perubahan air muka Hara.


“Hanya bertanya, memangnya tidak boleh?” Hara membuang wajah, menghindari tatapan Jenar.


Jenar kembali menatap langit sambil tersenyum simpul, “Kalau Pak Hara bertanya seperti tadi, saya bisa mengira bapak sedang cemburu, loh.”


Hara menoleh, “Saya? Cemburu?”


Jenar mengangkat bahu, “Mungkin. Hanya Pak Hara sendiri yang tahu.”


Hara menunduk sejenak, menyembunyikan senyum. Ia lalu kembali menatap arah yang sama dengan Jenar.


“Kalau benar saya cemburu, apakah kamu akan mempertimbangkan perasaan saya?” Entah kekuatan apa yang bisa membuat Hara berhasil menyusun kalimat sentimentil itu.

__ADS_1


“Tergantung,” jawab Jenar ringan.


“Tergantung apa?” Hara mengharapkan jawaban lain dari Jenar.


“Menurut buku yang pernah saya baca, cemburu adalah sebuah perasaan khawatir milik kita akan direbut oleh orang lain. Kalau saya tidak merasa dimiliki dan memiliki, saya tidak perlu mempertimbangkan perasasan cemburu bapak, kan? Jadi tergantung apakah kita merasa saling memiliki atau tidak, baru boleh punya rasa cemburu. Juga saya mungkin akan mempertimbangkan perasaan cemburu itu.” jelas Jenar panjang lebar.


“Jadi tidak ada alasan untuk saya cemburu dan kamu tidak perlu mempertimbangkan jika mungkin saya cemburu sama kamu, begitu?” Hara menarik kesimpulan dari penjelasan Jenar.


Jenar mengangguk, kemudian mereka saling diam lagi untuk beberapa saat. Teriakan Fares memanggil Jenar, membuat mereka tersadar dari nikmatnya senja nan syahdu. Keduanya kompak memutus pandangan, lalu beranjak.


“Sebentar lagi azan!” Fares kembali berteriak.


Hara memberikan mangkok berisi buah kersen yang sudah bersih kepada Jenar.


“Terima kasih,” ungkap Jenar sambil mengangkat mangkok.


“Sama-sama.” jawab Hara.


Jenar menoleh ke langit sebentar, sebelum melangkah, “Cantik, tapi sayang hanya sebentar.”


Hara mengerutkan dahi mendengar ucapan Jenar. Setelah mengikuti arah pandang gadis itu, baru ia paham apa yang sedang dibicarakan.


“Iya, memang cantik.” ungkap Hara. Bukan ungkapan untuk memuji lembayung senja, sebab ia mengucapkannya sambil menatap wajah Jenar yang diterpa sinar redup matahari sore.


“Ternyata senja tetap indah walaupun tidak bisa melihat langsung matahari tenggelam, ya, Pak?” Jenar berjalan sambil menatap sekeliling. Sinar kekuningan makin redup, tapi keindahan senja belum sepenuhnya hilang.


“Kamu benar. Untuk menikmati indahnya senja, tidak harus melihat langsung proses matahari tenggelam." Hara membenarkan ucapan Jenar, sebab sejak tadi mereka memang tidak melihat langsung letak matahari, tapi bisa menikmati keindahan alam sore itu.


"Pak Hara nggak punya niat kasih kado ke saya?" tanya Jenar dengan nada bercanda.


"Sudah banyak yang kasih kado ke kamu," jawab Hara tanpa beban.


Jenar mengangkat bahu, tahu bahwa pertanyaan basa-basinya tidak mungkin mendapat jawaban menyenangkan dari Hara. Pria itu mana mungkin mau memberikan sesuatu yang tidak menguntungkan.


"Kamu ingin menghabiskan senja dengan melihat matahari terbenam?"


Jenar berhenti, menoleh cepat ke arah Hara. Ia tidak menyangka pertanyaan itu akan keluar dari mulut pria dingin itu.


"Apa ini ajakan kencan?" tanya Jenar.


"Kamu akan langsung menolak kalau seperti itu," jawab Hara jujur.


"Jadi?" Jenar ingin memastikan maksud ajakan Hara.


"Selalu ada alasan untuk pergi berdua, selain kencan, kan?" Hara menjawab dengan mengajukan pertanyaan.


"Saya akan mempertimbangkan ajakan bapak, kalau itu atas persetujuan ayah dan bunda." Jenar melirik arah tempat keluarganya berkumpul, "Mumpung mereka ada di sini."


Hara tertawa kecil, "Nggak jadi kalau begitu, lain kali saya akan mengajak kalau tidak ada keluargamu saja."


"Dasar pengecut!" sungut Jenar sambil lalu melangkah meninggalkan Hara yang terpaku dengan ucapannya.


Hara membiarkan Jenar berjalan lebih dulu menghampiri keluarganya, menatap punggung gadis itu menjauh. Senyum tipis terulas di bibirnya, ketika ia menyadari sesuatu.


‘Benar, bahwa tidak harus melihat matahari langsung untuk menikmati keindahan pantulan sinarnya.’ batin Hara dalam hati, ‘Apakah sama artinya dengan tidak harus berada di sekitar, untuk mencintai seseorang?’


Sayup-sayup terdengar suara azan magrib. Hara bisa melihat jelas, Jenar duduk di antara Fares dan Aneesha. Gadis itu meneguk sedikit minuman, lalu mengambil sebuah kersen, menyuapkannya kepada Fares. Adegan paling romantis yang pernah ia lihat seumur hidup. Hubungan mesra antara ayah dan anak perempuan yang tidak dibuat-buat. Tak urung membuat benaknya berandai-andai.


Ia menggeleng, menghalau pikiran aneh yang tiba-tiba terlintas di kepala. Kemudian melanjutkan langkah, tanpa sadar ada sepasang mata yang mengawasi sejak tadi.


“Kita harus bicara, empat mata!” Reyfan berbisik dengan nada penuh penekanan begitu Hara duduk di sampingnya.


Ada curiga yang harus dikuak dan prasangka yang harus dituntaskan di antara suasana akrab dan penuh romansa indah di ujung senja itu.


.


.


.


Bersambung....


Hai, teman-teman .... apa kabar? semoga semua dalam keadaan sehat dan dalam lindungan Alloh SWT. Saya mohon maaf sekali karena kemarin sempat menghilang tanpa kabar berita dan lama sekali. hehe .... (Kebiasaan padahal).


Saya baik-baik saja, terima kasih untuk yang sudah mendo'akan lewat DM dan Inbox, ya. Do'a kebaikan akan kembali sebagai kebaikan pula. 


Kenapa tiba-tiba menghilang? Karena tiba-tiba kondisi saya drop dan sama sekali tidak bisa duduk di depan layar. Sudah mencoba ngetik di hp, ternyata akun MT dan NT saya tidak bisa dibuka di hp dan saya harus menunggu sampai kondusif agar bisa buka laptop. Betewe, terima kasih untuk prasangka baiknya semua hehe ...

__ADS_1


Sekali lagi mohon maaf, cerita ini saya targetkan tamat di 25 desember, tapi kenyataannya saya malah off sebulan lebih. hehe .... Jadi insyaalloh kita lanjutkan di tahun depan, ya. ... sampai jumpa. Terima kasih sudah menunggu dengan sabar. 


__ADS_2