
🌹Keberagaman itu indah, jika kita bisa saling menghormati dan tidak memaksakan kehendak satu sama lain.🌹
Jenar.
“Bu’e!”
Aku masih berusaha mengembalikan kesadaran yang belum terkumpul utuh, kepalaku pun terasa pening dan berdenyut-denyut. Suara anak kecil berteriak yang terdengar nyaring membuatku mengeryit sambil menutup telinga.
“Mbak’e wes tangi, Buk.” (Mbaknya sudah bangun, Buk.)
Anak kecil yang duduk di dekatku melompat turun dari tempat tidur, lalu berlari melewati pintu yang terbuka. Tak berselang lama, ia kembali bersama seorang perempuan cantik yang tersenyum ramah padaku.
“Alhamdulillah … akhirnya kamu sadar juga.” ucap perempuan yang mengenakan jilbab instant bahan kaos berwarna hitam. Ia mengangsurkan cangkir keramik putih bergambar motif bunga padaku, “minum dulu, pasti kamu haus dan bingung, ya?”
Aku menerima cangkir berisi teh yang masih mengepulkan uap panas. Menempelkan telapak tangan yang terasa dingin pada permukaan cangkir. Aroma teh melati menghampiri indera penciuman. Reflek aku menghirup dalam-dalam wangi yang menenangkan itu sambil memejamkan mata, kemudian menyesap sedikit teh.
Rasa hangat dan aroma khas perpaduan teh dan wangi melati merasuki tubuh, seolah mengirimkan sinyal damai ke otak dan seluruh aliran darah.
Aku membuka mata saat suara lembut wanita yang berdiri di samping ranjang mampir di telinga, “minum yang banyak, biar tenaga kamu pulih.”
Aku mendongak sekilas lalu melihat sekitar, “mbak siapa? Saya di mana?”
“Saya Nabila, kamu ada di rumah saya sekarang.” perempuan itu menarik tangan anak kecil yang bersembunyi di balik gamisnya, “anak ini namnya Naufal. Dia yang dari tadi nungguin kamu.”
“Saya Jenar.” jawabku dengan tatapan bingung, “saya, kok, bisa ada di sini?” menjawab sekaligus bertanya, masih sambil melihat keadaan sekeliling dan diriku sendiri yang duduk di atas tempat tidur dengan selimut tebal menutup kaki sampai ke perut. Meneliti pakaian yang menempel di badan, bukan pakaian yang kupakai sebelum pergi tadi pagi. Siapa yang mengganti bajuku?
“Maaf. Tadi pakaian kamu basah dan kotor, takut masuk angin, jadi saya ganti. Untung baju saya ada yang pas buat kamu.”
Aku mengangguk sambil mengulas senyum, “terima kasih.”
“Hara yang bawa kamu ke sini, tadi dia cerita kalau kalian bertemu di makam dan kamu tiba-tiba pingsan. Hara panik, nggak tahu harus bawa kamu ke mana. Dia nggak tahu rumah sakit atau klinik terdekat, jadi bawa kamu ke rumah ini.”
“Pak Ha-ra?”
“Iya. Hara … adik saya.”
“Adik?” aku segera menggeleng pelan, sebab tanpa sadar telah menatap mbak Nabila dari atas ke bawah.
Rasanya tidak percaya kalau perempuan cantik, anggun dan seorang muslimah yang sekarang duduk di tepi ranjang ini adalah kakaknya pak Hara. Karena setahuku pak Hara bukan penganut agama islam, mana mungkin punya kakak seorang muslimah berjilbab lebar seperti mbak Nabila ini.
Mbak Nabila tersenyum, “pasti kamu heran, kan? Lebih baik kamu makan dulu, habis pingsan pasti lapar. Biar saya siapkan makanan.”
“Ini jam berapa, ya, Mbak?” aku bertanya karena tidak melihat jam dinding atau penunjuk waktu apapun di kamar yang tak begitu luas ini.
“Sekarang sudah hampir jam 9 malam.”
“Ya, Alloh! Sudah lewat waktu isya’. Saya belum salat maghrib …,” aku membuang napas penuh sesal. Bisa-bisanya pingsan lama sekali sampai terlewat waktu salat maghrib.
“Tidak apa-apa, kamu tidak dengan sengaja meningaalkan salat, ada rukhsah (keringanan).”
Aku segera menyibak selimut dan menurunkan kaki ke lantai. Melihat itu mbak Nabila mencegah, “kamu mau ke mana?”
“Salat, Mbak. Saya harus segera salat,” jawabku seraya menengok kanan kiri mencari sesuatu, “mbak tahu tas saya tidak?”
“Oh! Saya taruh di sana.” ucap mbak Nabila seraya menunjuk satu-satunya kursi yang ada di kamar ini.
Aku segera meraih tas, mengambil mukena yang selalu tersedia di dalamnya setiap kali aku pergi. Sudah menjadi kebiasaan sejak dulu, mukena adalah barang yang wajib kubawa ketika hendak bepergian.
“Kamu mau salat sekarang?” Aku mengangguk sambil mendekap mukena.
Mbak Nabila beranjak, “saya antar kalau mau wudlu, nanti salatnya di sini. Maaf, rumah saya kecil, tidak punya ruangan khusus untuk salat.”
“Nggak pa-pa, Mbak. Yang penting bersih, kan?”
“Insya Alloh bersih dan suci.”
Mbak Nabila berjalan keluar kamar, sedangkan aku mengikutinya dari belakang sambil melihat kondisi rumah. Benar kata mbak Nabila, rumah ini kecil tapi rapi. Saat melewati dapur, aku melihat peralatan memasak yang tertata rapi. Terlihat kalau penghuni rumah adalah orang-orang yang rajin dan menyukai kerapian. Sampai kamar mandi pun bersih dan wangi. Ciri kebersihan rumah bisa dilihat dari kondisi kamar mandinya.
Usai melaksanakan salat isya’ sekaligus menjamak salat maghrib, aku menghampiri mbak Nabila yang sedang menata makanan di meja makan. Sementara Naufal, anak kecil itu sedang asyik bermain sendirian.
“Di rumah ini hanya ada mbak Nabila dan Naufal?” tanyaku penasaran.
Mbak Nabila menarik kursi, “silakan duduk!” sejenak kemudian baru menjawab pertanyaanku, “bapak dan suami saya sedang ke pesantren, ada pengajian rutin di sana.”
Setelah duduk, aku baru sadar kalau samar-samar terdengar suara orang berceramah, mungkin itu berasal dari pesantren seperti yang dikatakan oleh mbak Nabila.
“Dekat sini ada pondok pesantren, Mbak?”
“Iya. Pesantren Al-Hidayah.”
__ADS_1
“Milik kyai Ali?”
“Betul sekali.”
Aku menganggukkan kepala sebanyak dua kali. Baru tahu kalau aku sedang berada tidak jauh dari pesantren kyai Ali, padahal siang tadi aku berkunjung ke sana. Sedikit ragu ingin bertanya tentang rasa ingin tahu yang sejak tadi terngiang di pikiran.
“Pak Hara tinggal di sini juga, Mbak?”
“Bisa dibilang begitu. Hara baru beberapa bulan tinggal di sini, tapi dia lebih sering berada di pesantren dari pada di rumah.”
Walau sedikit bingung dan belum terlalu paham dengan cerita mbak Nabila, tapi aku mengurungkan niat untuk bertanya lebih jauh. Rasanya tidak sopan bertanya banyak hal tentang kehidupan pribadi orang lain.
“Sekarang pak Hara ke pesantren juga, Mbak?”
“Tidak. Dia sedang mengantar pulang dokter.”
“Dokter?”
“Iya. Kamu pingsannya lama sekali, Hara jadi khawatir. Dia panggil dokter buat periksa keadaan kamu.”
“Sepertinya saya bikin repot mbak sama pak Hara, ya?”
Mbak Nabila mengusap lenganku, “nggak ada yang repot, saya malah senang Hara bawa kamu ke sini. Kata Hara kamu adiknya bos Hara, ya?”
“Pak Hara itu tangan kanan kakak ipar saya, Mbak. Semua urusan kakak saya tidak akan beres kalau tidak ada pak Hara.”
Mbak Nabila terlihat manggut-manggut. Ia mengambil piring kosong, lalu mengisi dengan nasi putih yang diambil langsung dari alat penanak nasi.
“Segini cukup atau kurang?”
“Cukup, Mbak.”
“Sayur sama lauk ambil sendiri, ya! Maaf, menu seadanya orang kampung.”
Meja di hadapanku penuh dengan makanan. Ada sayur lodeh, tumis buncis, tempe garet, ayam goreng dan sambel terasi. Ada kerupuk rambak di dalam toples, juga semangka yang sudah diiris kecil-kecil. Aku sampai bingung harus mengambil yang mana, begini yang mbak Nabila bilang seadanya? Ini justeru menu lengkap sekali.
“Mbak nggak makan?”
“Sudah tadi.”
“Saya makan sendirian, dong, Mbak?”
“Itu pasti Hara.”
Naufal yang tadi sedang asyik bermain, tiba-tiba berlari keluar rumah. Sejenak kemudian aku mendengar gumam-gumam suara beberapa orang berbincang.
“Om, mbak e wes tangi, lho. Saiki gek arep maem.” (Om, mbaknya sudah bangun, lho. Sekarang sedang mau makan.)
“Tadi ditanyain sama kyai Ali, kenapa kamu nggak ke sana. Besok kamu diminta ke pesantren.”
“Apa kata dokter?”
“Nggak pa-pa, katanya.”
Jawaban singkat yang terdengar akrab, bisa kupastikan kalau itu adalah suara pak Hara. Tapi dia datang dengan siapa?
“Assalamu’alaikum ….”
Rasa ingin tahuku terjawab, ketika tiga pria masuk ke dalam rumah, dengan salah satu pria menggendong Naufal. Mbak Nabila segera menghampiri ketiga pria tersebut, mencium punggung tangan dua pria diantara mereka. Pasti orang yang datang bersama pak Hara adalah bapak dan suaminya mbak Nabila.
Aku berdiri, begitu mereka mendekat. Menganggukkan kepala sebagai bentuk sopan santun.
“Alhamdulillah … kamu sudah sadar.” ucap pria setengah baya yang wajahnya tidak asing. Seperti pernah kulihat, tapi di mana?
“Bagaimana keadaanmu?” pak Hara bertanya dengan nada datar.
“Alhamdulillah saya baik-baik saja. Maaf, saya bikin pak Hara dan semuanya repot,” jawabku, terbersit rasa sungkan telah merepotkan keluarga ini.
“Siapa yang direpotkan? Tidak ada.”
“Bapak benar, tidak ada yang direpotkan. Iya, kan, Hara?” pria yang kutebak adalah suami mbak Nabila, menepuk pundak pak Hara, sedangkan pak Hara diam saja tanpa ekspresi. Terlihat aneh pak Hara berada di tengah keluarga yang hangat dan ramah ini.
“Jenar, kenalkan. Ini bapak dan suami saya,” mbak Nabila memperkenalkan dua pria berbeda usia yang masih berdiri bersama pak Hara.
“Salam kenal, saya Jenar.”
“Eh! Mumpung makanan baru saja saya panaskan, bagaimana kalau kita makan bersama? Itung-itung menemani Jenar makan.” seru mbak Nabila dengan wajah berbinar ceria.
“Ide bagus. Tapi mas sudah kenyang, tadi habis makan di pengajian. Nggak muat ini perut.” seloroh suami mbak Nabila sambil mengusap perut.
__ADS_1
“Bapak juga sudah kenyang, kalian saja yang makan.”
“Wah, sebenarnya saya juga sudah kenyang. Kalau begitu Hara saja yang temani Jenar makan, ya? Kamu dari tadi belum makan, kan?”
Pak Hara mengangguk. Ia menurunkan Naufal dari gendongan, mendudukkan anak kecil itu di kursi. Kemudian dia ikut duduk, mengambil gelas kosong, mengisinya dengan air putih, lantas meminumnya sampai tandas. Pak Hara sepertinya haus dan letih sekali.
Sementara itu, bapak dan suami mbak Nabila memilih duduk di lantai yang beralaskan karpet tipis, tak jauh dari meja makan. Tempat yang digunakan oleh Naufal bermain tadi. Mereka kompak menyalakan rokok sambil menonton siaran televisi yang sejak tadi menyala.
“Mbak ambilkan nasi, ya, Hara?” tanya mbak Nabila sambil mengambil piring kosong.
“Boleh, Mbak.”
Saat mbak Nabila mengisi piring kosong dengan nasi, Naufal berseru, “aku yo pengin maem, Buk.” (saya juga ingin makan, Buk.)
“Naufal mau, kan, wes maem. Saiki pengin maem meneh?” (Naufal tadi, kan, sudah makan. Sekarang mau makan lagi?)
Naufal mengangguk. Mbak Nabila mengambilkan nasi sambil memberi peringatan kepada Naufal, “dienteke, lho.” (Dihabiskan, lho.)
“Nek ora entek, mengko dienteke om Hara, Buk.” (Kalau tidak habis, nanti dihabiskan sama om Hara, Buk.)
“Memangnya kamu pikir om tukang habisin makanan?” ujar Pak Hara seraya mengacak rambut Naufal yang duduk di sampingnya. Tidak kusangka ternyata pak Hara mengerti ucapan dalam bahasa jawa.
“Biasane, kan, ngono. Om sing ngenteke maeman kabeh.” (Biasanya juga begitu. Om yang habisin semua makanan.)
Aku tidak bisa menahan tawa, menutup mulut dengan telapak tangan. Anak kecil ini lucu sekali, dia bicara dengan nada mengejek, tapi ekspresi wajahnya datar. Kalau diperhatikan gaya bicara Naufal ini mirip sekali dengan pak Hara.
“Dasar!” gerutu pak Hara.
“Om maeme akeh, ngelihan.” (Om makannya banyak, cepat lapar.)
“Kata siapa om makannya banyak.”
“Jareku-lah.” (Kataku-lah.) jawab Naufal dengan tanpa melihat ke arah pak Hara.
Berhasil membuatku hampir tidak bisa berhenti tertawa, sedangkan pak Hara mencubit pipi Naufal gemas, tapi anak itu justru terkekeh geli. Aku terpana melihat pak Hara dan Naufal bercanda, mereka terlihat akrab sekali. Seperti sudah biasa bercanda bersama.
Baru kali ini aku melihat ternyata pak Hara juga bisa bercanda seperti manusia normal pada umumnya. Biasanya dia selalu terlihat serius, irit bicara dan tidak punya ekspresi wajah lain, selain datar. Kalau seperti ini dia tidak terlihat seperti papan tulis yang datar dan kaku.
“Sudah! Sudah bercandanya! Sekarang makan dulu.” ucap mbak Nabila menghentikan Naufal dan pak Hara yang sedang bercanda sambil terkekeh. Ia memberikan piring kepada Naufal seraya menunjuk piringku yang masih belum diisi sayur dan lauk, “Jenar mau diambilin sayur dan lauknya?”
Seketika aku menghentikan tawa, sadar kalau sedang di rumah orang. Hampir saja aku melupakan norma kesopanan, “saya ambil sendiri saja, Mbak.”
“Maaf, ya. Masakan orang kampung ini, ayo makan yang banyak.”
“Di rumah saya juga biasa masak menu seperti ini, Mbak. Saya, kan, juga tinggal di kampung.” jawabku sembari mengambil sayur dan lauk.
“Oya? Harusnya cocok, dong, dengan masakan saya.”
“Sepertinya begitu, Mbak. Baru melihat tampilannya saja, rasanya ingin saya makan semua.”
“Itu rakus namanya. Jangan-jangan kamu pingsan karena kelaparan? Dari pagi belum makan, heem?” aku mengernyit, mendengar ucapan pak Hara. Ingin menanggapi tapi rasanya tidak pantas, sebab sedang berada di tengah keluarganya.
“Hara!” mbak Nabila membentak, “masa tanya seperti itu, lembut sedikit bisa, kan?”
Ia beralih menatapku dengan melembutkan bicara, “maaf, ya, Jen. Jangan diambil hati omongan adik saya.”
“Nggak apa, kok, Mbak. Sudah biasa.” jawabku melirik sinis pada pak Hara yang sudah akan mulai makan.
Tiba-tiba Naufal menepis tangan pak Hara yang hampir memasukkan sendok ke mulut, “dongo dhisek, Om!” (Berdo’a dulu, Om!)
Jadi merasa penasaran bagaimana cara mbak Nabila dan suaminya mendidik Naufal. Anak laki-laki kecil ini bisa pintar dan lucu sekali. Kalau Naufal tidak mengingatkan, mungkin pak Hara tidak akan berdo’a sebelum makan. Aku pun bisa saja lupa berdo’a karena sudah terlalu lapar. Berjam-jam pingsan membuat cacing dalam perutku protes minta diberi makan.
Malam itu aku merasakan bagaimana kehidupan umat beragama yang sebenarnya. Saling menghormati, biarpun berbeda keyakinan. Seperti itulah islam rahmatalil’alamin. Agama sebagai rahmat seluruh alam.
“Naufal juga jangan lupa berdo’a.”
Naufal mengangkat tangan, menuruti perintah ibunya. Ia mendengungkan do’a sebelum makan dengan lantang.
“Allohumma bariklana fiima razaqtana waqina azabannar….”
Aku menengadahkan tangan setinggi dada, membaca do’a hanya dalam hati. dan pak Hara menautkan jemari di atas meja sambil menundukkan kepala.
Di akhir do’a kami mengucapkan ‘aamiin’ bersama, meski tetap suara Naufal yang paling keras. Aku dan Naufal menangkupkan kedua telapak tangan pada wajah, sedangkan pak Hara melakukan sesuai keyakinannya. Setelah itu kami makan bersama dalam diam. Hanya terdengar denting sendok beradu dengan piring dan suara televisi sedang menayangkan siaran langsung pertunjukan ketoprak dari salah satu stasiun televisi milik pemerintah daerah.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung ....