Merapah Asa, Menjemput Hidayah

Merapah Asa, Menjemput Hidayah
101. Berhak Bahagia


__ADS_3

☀Adakah yang lebih menenangkan dalam hidup, selain melihat orang yang kita sayang bahagia?☀


Noura


Aku baru saja menutup sambungan telepon dengan Aneesha, saat Hara kembali dari toilet. Ia menghempaskan tubuh di kursi sambil mengembuskan napas lega. Wajah yang biasanya tampak datar itu, kini memancarkan aura berseri. Tak ayal membuatnya terlihat lebih segar dan bersemangat.


“Akhir-akhir ini kamu jadi sering tersenyum. Orang yang sedang jatuh cinta memang cenderung lebih tampak bahagia, bahkan untuk orang sekaku dirimu.” ungkapku.


Kuraih gelas, membasahi kerongkongan dengan milkshake. Kami sengaja memilih tempat makan siang di food court yang terletak di salah satu pusat perbelanjaan kota Yogyakarta. Sebab, aku punya janji menemani Jenar berbelanja buku siang ini. Tiap bulan Aneesha memberikan uang kepada Jenar untuk membeli buku. Bukan hanya buku pribadi untuk menunjang kuliah, tapi juga disumbangkan ke perpustakaan desa.


“Apakah kamu tidak punya pekerjaan selain mengamatiku?” Hara menggerutu kesal. Satu hal yang hanya bisa ia lakukan terhadapku.


Sepanjang aku mengenalnya, pria itu cenderung dingin dan kaku, seperti robot yang disetting untuk tidak boleh menggerutu. Mungkin karena kami dituntut sejak kecil agar tidak menjadi pribadi yang cengeng, harus mandiri dan siap melaksanakan setiap perintah. Itulah sebab Hara kesulitan menampilkan ekspresi wajah. Namun, kini ia tampak berani mengeluarkan sifat aslinya yang dulu hanya terlihat saat bersamaku.


“Untuk sekarang tidak, jadi aku bebas memata-matai kamu,” jawabku.


Hara mendengkus. Tak urung membuatku tersenyum geli melihat air mukanya yang berubah kecewa.


“Kamu tidak kembali ke kantor?” tanya Hara.


Aku menggeleng cepat, “Tanggung sudah jam tiga. Apa kamu keberatan jika aku di sini, Hara? Kemarin-kemarin aku yang menemani Jenar belanja buku, jadi aneh rasanya kalau tiba-tiba dia harus berbelanja denganmu.” jawabku usil. Padahal aku memang ingin mengerjainya. Seperti yang diperintahkan Aneesha baru saja di telepon, aku harus tahu seberapa dekat hubungan dua manusia itu.


“Nah! Panjang umur! Yang ditunggu sudah datang.” Aku berseru, menginterupsi Hara yang hendak meminum espresonya.


Hara menoleh ke belakang, nampak seorang gadis lari tergopoh-gopoh memasuki area foodcourt.


“Maaf … sudah menunggu lama, ya?”


Aku menatap Jenar yang baru saja datang. Wajahnya bersimbah peluh dengan napas tersengal, seperti habis berlari ratusan kilometer. Meski demikian tidak mengurangi kesan manis pada wajah berbentuk oval itu.


“Naik apa ke sini, Jen?” tanyaku setelah Jenar duduk di sebelah kananku.


“Ojek online, Kak. Jam segini angkot pasti lama, mana mendung lagi.” Jenar meletakkan tas, lalu merapikan jilbabnya.


“Nggak diantar Aina?”

__ADS_1


Jenar menggeleng, menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Hara, “Aina pulang ke Jember sejak kemarin, abinya sakit.”


“Kenapa tadi nggak minta jemput?” aku melirik Hara. Pria itu tampak tenang, seperti tidak terusik dengan obrolan kami.


“Saya tidak ingin merepotkan kakak.” jawab Jenar disertai senyum.


“Padahal kalau kamu minta jemput, Hara pasti bersedia dengan senang hati. Iya, kan, Hara?” aku sengaja berkata dengan nada sarkasme, untuk memancing reaksi keduanya.


Hara tidak merespons, sedangkan Jenar hanya tersenyum. Aku mengamati sikap mereka sejenak. Tidak ada yang aneh, kecuali Hara yang sesekali mencuri pandang ke arah gadis manis di sebelah kirinya.


“Jenar mau pesan apa?” aku menggerakkan kepala ke arah deretan gerai penjual makanan, agar Jenar memilih salah satu.


“Apa, ya?” Jenar mengikuti arah pandangku.


Ia menyapu satu per satu gerai untuk memilih makanan. Setelah beberapa saat mengedarkan pandangan, Jenar memilih satu gerai yang menjual jajanan ala taiwan. Ia memesan ayam goreng crispy yang ditaburi macam-macam topping sesuai selera.


“Kalian tidak pesan makanan?” tanya Jenar.


“Kami sudah makan saat menunggu kamu tadi,” jawabku. Sementara Hara masih tetap diam.


“It’s ok! Tidak perlu dipikirkan, kami maklum, kok. Pasti jadwal kuliahmu padat, kan?” aku tidak ingin Jenar merasa bersalah. Gadis ini tidak seperti kakaknya yang cenderung cuek, Jenar lebih sering terbawa perasaan.


Kami mengobrol ringan sepanjang menunggu Jenar  selesai menyantap makanan. Gadis itu tidak banyak bercerita, hanya sedikit tentang kuliahnya dan kegiatan di rumah seni. Hara pun sesekali menimpali, jika ditanya. Mereka berdua tidak tampak seperti dua orang yang saling tertarik dan sedang berusaha meraih hati masing-masing. Walau demikian, aku sudah membaca sinyal cinta yang mereka kirimkan lewat perilaku.


Hara menunjukkan sikap protektif terhadap Jenar. Ia melarang gadis itu langsung minum ketika tersedak, melainkan memintanya mengatur napas seraya mengusap punggungnya. Setelah bisa mengatur napas, baru ia mengambilkan minuman untuk Jenar. Hara juga segera menyodorkan kotak tempat tissue, saat gadis itu kepedasan dan bingung mencari sesuatu untuk mengusap hidung yang basah. Ketika Jenar menunduk hendak mengambil garpu yang tidak sengaja jatuh, Hara menutup pinggiran meja dengan tangannya. Mengantisipasi kalau kepala Jenar terantuk ketika bangun. Perlakuan sederhana yang menurutku sangat romantis, menunjukkan sisi maskulin seorang pria yang ingin melindungi wanitanya.


Saat berbelanja buku, Hara membiarkan Jenar memilih sendiri, tidak mengekorinya. Namun, pria itu sigap membantu saat Jenar kesulitan mengambil buku di rak paling atas. Ia juga tak segan memberi pendapat, jika Jenar memintanya. Hara yang memang candu dengan membaca, penikmat buku sejak kecil bisa berdiskusi dengan Jenar yang mempunyai hobi sama.


Jenar pun terlihat nyaman bersama Hara. Itulah cara pria itu mengungkapkan rasa sayang, dengan memberi perhatian yang tidak berlebihan. Sehingga Jenar tanpa sadar mulai mendekat, tinggal menunggu waktu agar bisa terjerat.


Sejauh ini tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Biarlah mereka berdua merapah asa dan rasa masing-masing dulu. Mungkin hanya perlu sedikit bantuan agar mereka bisa saling mengungkapkan. Tidak ada salahnya mengungkapkan perasaan, bukan? Berbalas atau tidak, biar Tuhan yang menentukan jalan-Nya.


Kuambil ponsel dari saku. Mengambil foto-foto mereka secara candid, lalu mengirimkannya kepada seseorang yang sudah menunggu sejak tadi. Tak baik menyimpan informasi ini terlalu lama, bisa jadi ini adalah kabar baik yang sedang ditunggu. Aku menambahkan caption pada foto terakhir.


Kecurigaanmu benar.

__ADS_1


Tak perlu waktu lama untuk menunggu pesan balasan, tidak ada satu menit lampu ponsel menyala, pertanda ada pesan masuk. Segera aku membuka lalu membacanya.


Apa Hara tampak serius dengan adikku?


Aku tersenyum menatap barisan kata yang diakhiri dengan emoticon sedih itu. Paham jika Aneesha khawatir dengan adiknya. Aku bergegas mengetikkan balasan.


Jangan khawatir! Hara hanya mau melakukan sesuatu jika ia benar-benar menginginkannya. Sejauh ini aku tidak melihat Hara main-main.


Sebuah chat masuk beberapa detik setelah aku mengirim balasan kepada Aneesha.


Ok! I believe in you.


Aku sudah hendak mematikan ponsel, ketika teringat sesuatu. Segera kukatakan lewat pesan chat kepada Aneesha, agar tidak keburu lupa.


May I help? Mungkin mereka hanya perlu sedikit dicambuk.


Emoticon tertawa kuterima, hanya selang tiga detik setelah pesanku terbaca. Kemudian diikuti oleh sebaris kalimat yang membuatku tersenyum.


Silakan! Jangan kenceng-kenceng nyambuknya, nanti pantat Hara lebam.


Aneesha memang selalu bisa membuatku tertawa dengan kelakarnya. Dekat dengannya yang selalu riang bisa menularkan energi ceria. Semoga Hara dan Jenar juga bisa saling menularkan energi bahagia. Hara yang terlantar sejak kecil, pantas menemukan cinta dan hidup lebih bahagia. Kealpaan kasih sayang orang tua, tidak harus membuatnya hidup merana seumur hidup. Kini, saatnya dia meraih asa dan cinta, karena ia berhak bahagia ….


.


.


.


Bersambung....


Part ini pendek banget memang, maaf. Sebenarnya sudah saya kirim sejak kemarin malam, tapi under review terus nggak selesai-selesai. Akhirnya saya potong, semoga ini cepat accept. Part selanjutnya saya mau edit dengan teliti dulu, siapa tahu ada kata-kata yang tidak diperkenankan.


Ini pendukung JenHar mulai bermunculan, kira-kira kuat tidak untuk mendorong tembok tinggi yang menghalangi bersatunya cinta mereka? Kira-kira Jenar dan Hara pulang belanja, mampir makan lagi tidak, ya? Ya, ampun! saya kok seneng kalau mereka makan bareng, ya? terlihat romantis gitu, jadi bikin lapar yang baca. hehe.


Tunggu part selanjutnya ya ... 😊

__ADS_1


__ADS_2