Merapah Asa, Menjemput Hidayah

Merapah Asa, Menjemput Hidayah
51. Empaty


__ADS_3

🍁Meskipun bukan orang baik, tapi harus memiliki empaty terhadap sesama manusia.🍁


Hara.


Memang bukan pertama kali dalam hidup, aku menemui seorang yang pingsan. Namun, baru kali kedua ada gadis yang pingsan saat berdekatan denganku. Panik, sudah pasti. Tidak tahu harus melakukan apa, sedangkan hari sudah beranjak malam.


Beruntung otakku sudah terbiasa berpikir cepat, sehingga saat taksi online datang, aku segera mengangkat tubuh Jenar dan membawanya masuk ke dalam taksi. Membaringkannya di kursi bagian tengah, menyelimuti dengan jaket.


Sepertinya tidak mungkin membiarkan Jenar pulang sendiri dalam keadaan seperti ini. Apa yang dipikirkan keluarganya nanti? Belum lagi sopir taksi tidak bisa dipercaya, kalau terjadi sesuatu di jalan bagaimana? Aku juga nanti yang disalahkan.


“Mbaknya kenapa, Mas?” tanya sopir taksi.


“Dia pingsan.”


“Beneran pingsan, Mas. Wajahnya pucat begitu, jangan-jangan sudah mati. Saya tidak mau kena masalah karena bawa mayat, lho, Mas.”


Rasanya ingin kutonjok mulut sopir taksi yang bicara tanpa tata krama ini, tapi aku masih bisa mengendalikan diri. Wajar kalau sopir taksi ini khawatir, jaman sekarang memang banyak orang jahat yang berbalut pakaian rapi.


“Kalau anda tidak ingin kena masalah, kita tukeran saja.”


“Tukeran? Maksudnya?”


“Anda bawa motor saya, saya bawa mobil anda.”


“Nggak bisa gitu, dong, Mas! Masnya mau bawa kabur mobil saya, ya?”


“Saya punya mobil lebih bagus dari ini, sumpah tidak akan saya bawa kabur.” aku merogoh saku untuk mengambil kunci motor, lantas memaksa sopir taksi itu menerimanya, “ikuti saya! Saya akan bayar lebih.”


“Tapi, Mas!” ia terlihat ragu, memerhatikan kunci dan diriku bergantian.


Aku mengambil dompet, mengeluarkan Kartu Tanda Penduduk dan sejumlah uang, memberikan kepada sopir taksi berambut sebahu itu. Ia mengerutkan dahi, tidak lantas menerima pemberianku.


“Ini baru sebagai jaminan, nanti saya tambah.”


Ia segera mengambil uang dan melihat KTP-ku sejenak, lalu mengembalikannya, “beneran, ya, Mas. Nanti ditambah, mas jangan kabur!”


“Ini tidak dibawa?” aku mengangkat KTP.


“Tidak perlu, kalau masnya sindikat atau ******* percuma juga, pasti punya banyak KTP.”


Sial! Pikirku. Mimpi apa aku semalam, sampai mengalami kejadian tak terduga seperti ini. Masih dicurigai sebagai anggota sindikat pencurian mobil pula.


Begitu masuk ke dalam mobil, kunyalakan mesin sambil melihat keadaan Jenar dari pantulan kaca spion dalam. Baru sadar jika aku belum memiliki ide harus membawanya ke mana. Kutekan klakson, dengan tujuan memanggil pemilik mobil agar mendekat.


“Ada apa, Mas?”


“Anda tahu rumah sakit atau klinik terdekat dari sini?”


“Kalau dekat sini saya tidak tahu, Mas. Kalau rumah sakit umum daerah sleman saya tahu, tapi jauh dari sini. Coba saja mas cari di peta, mungkin ada klinik atau puskesmas yang dekat.”


Dasar sopir taksi online! Apa saja tanya pada peta, harusnya dia tahu kalau aplikasi nagivasi sering tidak tepat. Terutama pada cuaca mendung dan sinyal internet sedang lemah. Bisa-bisa kesasar nanti.


Sambil memutar kemudi, aku membuka aplikasi navigasi untuk mencari rumah sakit atau klinik terdekat. Sebab aku tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk membangunkan orang pingsan.

__ADS_1


Sayangnya, sudah berusaha mencari, tapi aku tidak menemukan rumah sakit atau klinik. Ada puskesmas di peta, tapi ketika sampai di sana ternyata sudah tutup. Susah sekali mencari fasilitas kesehatan umum di daerah pedesaan ini.


Tidak tahu lagi harus membawa Jenar ke mana, sedangkan ia tak kunjung siuman. Tidak mungkin mengantarnya pulang ke Magelang, sebab hari sudah menjelang malam. Aku memutuskan untuk membawanya pulang ke rumah pak Wawan. Berharap mbak Nabila bisa membantuku membuatnya siuman.


Semua penghuni rumah terkejut, saat aku pulang dengan menggendong seorang gadis dalam keadaan pingsan. Terlebih baju yang dipakai Jenar basah dan kotor, membuat prasangka timbul, khususnya mbak Nabila.


“Siapa dia Hara? Apa yang terjadi padanya? Kamu apakan dia?”


“Dia Jenar, Mbak. Adiknya bos saya, dia tiba-tiba pingsan saat kami akan pulang dari makam.”


“Makam? Makam siapa? Kamu, kok, bisa sama dia di makam?”


“Nanti Hara ceritakan, Mbak. Sekarang tolong Hara bisa? Baju Jenar basah dan kotor, tolong pinjam baju mbak, sekalian gantiin, ya, Mbak. Takut dia tambah sakit.”


Meski masih menyimpan seribu pertanyaan yang belum terjawab, mbak Nabila mengangguk lalu masuk ke dalam kamar. Sedangkan aku menunggu dengan tidak tenang. Sampai mbak Nabila selesai mengganti baju Jenar.


“Badannya dingin sekali, wajahnya juga pucat. Harusnya tadi kamu bawa dia ke rumah sakit.”


“Hara sudah cari rumah sakit atau klinik, tapi nggak ketemu, Mbak. Hara belum hafal daerah sini, tadi juga sudah petang jadi kesulitan cari klinik.”


“Mbak sudah balurin minyak kayu putih, biar tubuhnya sedikit hangat. Semoga lekas siuman.”


Dengan telaten mbak Nabila membaui hidung Jenar dengan minyak kayu putih, tapi mata gadis itu tetap terpejam rapat. Belum berhasil membuat Jenar siuman. Cukup lama dia pingsan membuat kami khawatir.


“Apa saya perlu panggil dokter, ya, Mbak? Kenapa dia belum bangun juga, ya?”


“Sebelumnya kamu pernah tahu dia pingsan seperti ini belum?”


“Pernah sekali, Mbak. Tapi tidak selama ini dia siuman. Ini sudah cukup lama, saya jadi takut dia kenapa-napa.”


“Perempuan atau laki-laki, Mbak?”


“Dokternya laki-laki, tapi istrinya seorang bidan. Mungkin kalau kita minta, beliau bersedia menolong.”


Mbak Nabila seperti paham apa yang kukhawatirkan. Diantar mas Akmal, aku pergi ke rumah dokter yang dikatakan mbak Nabila. Kami minta tolong agar istrinya bersedia untuk memeriksa keadaan Jenar. Meski awalnya keberatan, karena tidak memiliki izin praktek mandiri, tapi demi rasa kemanusiaan, beliau bersedia datang.


“Padahal semua dokter sebelum memiliki gelar di depan namanya, sudah mengucapkan sumpah. Tapi kami maklum jika pasien perempuan menginginkan hanya diperiksa oleh dokter perempuan.” kata dokter sebelum setuju untuk mengizikan istrinya memeriksa Jenar.


Sepasang suami istri itu bersedia datang ke rumah pak Wawan. Istrinya yang memeriksa keadaan Jenar, sedangkan dokter itu yang menganalisa hasil pemeriksaan.


“Tekanan darahnya tinggi sekali 210/90, wajah pucat dan tubuhnya dingin. Suhu tubuh dibawah normal, pingsan sudah kurang lebih dua jam …,” sang dokter tampak berpikir sambil membaca hasil periksa istrinya, “sepertinya pasien mengalami depresi. Stres karena sedang tertekan atau memikirkan sesuatu yang berat.”


Mendengar penjelasan dokter aku dan mbak Nabila saling pandang, terkejut. Jenar stress? Sepertinya mustahil. Bukankah tadi dia tertawa ceria dan lancar berbicara? Tidak tampak seperti orang yang sedang stress, memangnya apa yang membuatnya stress?


“Mungkin pasien sedang mengalami kesedihan mendalam.”


Aku mengangguk, membenarkan ucapan dokter, “dia baru saja ditinggal pergi tunangannya. Pergi untuk selama-lamanya dan tidak akan pernah kembali ke dunia.”


Semua mata tertuju padaku, menunggu jawaban atas kalimat isyaratku, “harusnya beberapa bulan lagi mereka menikah, tapi tunangannya meninggal seminggu yang lalu.”


“Innalillahi ….”


Aku menceritakan tentang awal pertemuanku dengan Jenar hari ini. Bagaimana sampai kami terjebak di tengah makam saat hujan deras, lalu tiba-tiba dia pingsan. Semua kuceritakan, tidak ada yang terlewati. Agar mereka tidak berprasangka buruk terhadapku.

__ADS_1


Aku harus mengantar dokter pulang, sebab mereka tidak membawa kendaraan sendiri. Aku yang menjemput mereka, setengah memaksa agar mau memeriksan jenar, jadi aku pun harus mengantar mereka pulang.


Sepulang dari mengantar dokter, Naufal menyambut dengan mengatakan bahwa Jenar sudah bangun. Kulihat gadis itu sudah duduk di kursi makan, dengan wajah tidak sepucat tadi. Sementara mbak Nabila sedang sibuk menyiapkan makanan di atas meja.


Akhirnya malam itu aku bisa bernapas lega, melihat Jenar makan dengan lahap bahkan sampai menambah nasi. Mungkin dia pingsan karena terlalu lapar, mungkin dia belum makan seharian. Buktinya setelah makan, dia kembali ceria seperti sedia kala. Bisa ngobrol banyak dengan mbak Nabila dan mencandai Naufal.


Namun, ia kembali membuatku khawatir ketika dalam perjalanan mengantarnya pulang. Tiba-tiba ia memintaku menghentikan mobil yang sedang melaju kencang di jalan raya Jogja-Magelang. Ia menarik tanganku dengan satu tangan menutup mulut. Membuatku panik dan seketika menepikan kendaraan. Beruntung jalanan tidak terlalu ramai, jadi tidak mengganggu laju kendaraan lain di belakang.


Jenar turun dari mobil dengan cepat, ia muntah-muntah di bahu jalan. Apa karena ia kebanyakan makan tadi? Karena tidak terbiasa naik mobil tanpa AC? Atau karena kedinginan terkena angin malam disertai gerimis kecil? Kenapa lagi dia sekarang?


Aku tidak memiliki cara untuk membantu, selain memberikan sapu tangan padanya. Dia pasti butuh sesuatu untuk mengelap mulutnya, kan? Namun, Jenar membuatku terkejut sebab tiba-tiba membuang sapu tangan yang hendak ia gunakan. Lalu berjalan mundur sambil memegang kepala, seperti sedang ketakutan.


Aku menghampirinya, ingin tahu apa yang terjadi. Jenar menatapku lama, seperti ingin mengatakan sesuatu. Namun, begitu aku bertanya, ia justeru jatuh lemas. Berjongkok, menggelangkan kepala dengan kencang sambil menutup telinga dengan kedua tangannya.


“Tolong, jangan dekati saya!”


Jenar berucap lirih, bisa kupastikan ia sedang mengatur napas. Terdengar dari suaranya yang terbata, dan bahu naik turun. Aku menurut, memintanya masuk ke dalam mobil.


Udara malam yang dingin, gerimis pun kian lebat, aku menyandarkan pantat pada bak mobil. Menyulut rokok untuk mengusir dingin dan sepi sambil memikirkan mengapa Jenar bertingkah aneh hanya saat sedang bersamaku. Kubiarkan Jenar sendirian di dalam mobil agar ia bisa menguasai diri. What the hell! Apa yang sedang Tuhan rencanakan sekarang? Mengapa ia membuatku berada dalam situasi membingungkan dan mendapat kesialan bertubi-tubi ini?


Aku baru berani masuk ke dalam mobil, ketika Jenar yang minta. Meski hujan tidak terlalu deras, tapi berdiri di bawah guyuran gerimis rapat, tentu saja membuat rambut dan jaketku basah. Aku melanjutkan perjalanan, setelah melepas jaket dan menyisir rambut yang basah dengan jari.


“Maafkan saya,” ucapan bernada sesal itu, membuat rasa empaty menyeruak. Dari pada menjawab, aku memilih menawarkan kalau ia ingin minum.


“Sepertinya saya butuh kopi.”


Baru kali ini aku menemui gadis yang ingin minum kopi, saat badannya tidak enak. Harusnya dia ingin minum teh hangat, coklat, atau jahe, kan? Gadis aneh.


Merasa Jenar sudah dalam kondisi yang lebih baik, aku bertanya tentang apa yang baru saja terjadi. Sempat mengira dia ada masalah denganku, hingga takut saat kami sedang bersama. Namun, ternyata jawaban yang ia katakan di luar dugaan.


“Saya tidak takut sama bapak.”


Ketika aku terus mengejar agar ia berterus terang, Jenar malah menanyakan tentang aku habis minum alkohol. Sontan aku mengingat beberapa waktu yang lalu, saat panik karena ia tidak juga siuman. Demi menjaga pikiran agar tetap tenang, aku minum wiski dalam botol kecil yang selalu tersimpan di saku jaket.


“Karena saya takut dengan bau alkohol dan parfum laki-laki.” ucapan Jenar hampir membuatku tertawa sampai menutup mulut dengan punggung tangan. Yang benar saja, apa yang membuat takut dari aroma itu? Bukankah biasanya para perempuan tertarik dengan aroma maskulin yang menyengat sekaligus menggairahkan?


Jenar marah, saat menyadari aku hampir menertawakannya. Segera aku mengalihkan perhatian, tanpa menanggapinya yang sedang menggerutu. Kubelokkan kemudi saat melewati pom bensin. Tidak ingin ia pingsan lagi, atau bisa jadi keadaannya lebih buruk. Selain ingin menghapus aroma yang bisa membuat Jenar takut, aku harus membeli minuman untuknya juga.


Perjalanan masih jauh, tidak mungkin aku terus menyiksanya dengan menahan napas agar tidak mencium aroma yang berasal dari tubuhku, kan? Untung aku tahu kalau mas Akmal selalu menyimpan baju bersih di dashboard yang biasa digunakan untuk beribadah. Jadi bisa kupakai sementara, walau kekecilan.


Rasa ingin tahu yang sudah diujung kepala, membuatku memaksa Jenar untuk bercerita. Sebab, aku tidak ingin hanya sekedar menduga-duga sesuatu yang belum pasti. Bisa-bisa menjadi prasangka tanpa bukti.


Jenar menceritakan semuanya. Tentang peristiwa yang membuatnya memiliki phobia terhadap bau parfum laki-laki dan alkohol. Malam itu aku seperti menjadi orang lain saja.


Rela mandi malam-malam dengan air yang terasa sedingin es, rela makan permen karet agar bau alkohol hilang dari napasku, pun rela mendengarkan cerita Jenar dari awal sampai akhir. Sukses membuat amarah hampir meledak, sebab aku paling benci dengan laki-laki yang berperilaku bejat. Binatang saja lebih terhormat dari pada mereka.


Hujan turun deras sekali saat kami sampai di rumah Aneesha. Hanya ada satu payung di mobil, aku merelakan Jenar memakainya. Sementara aku bisa berlari sampai ke teras.


Pakde Teguh, Irkham dan mbak Sayumi sudah menunggu kami. Kepada pakde Teguh, aku menjelaskan bagaimana Jenar bisa sampai bersamaku dan pulang larut malam. Ia sempat mengkhawatirkan keadaan Jenar, tapi aku mengatakan kalau Jenar baik-baik saja. Ia pingsan hanya karena lapar dan masih sedih setelah ditinggal Ghufron.


Aku tidak langsung pulang, karena pakde Teguh mengajak bicara mengenai wacana renovasi rumah Aneesha. Reyfan dan Aneesha memang selalu punya cara agar aku tidak bisa hidup tenang dan bersantai. Mereka ingin merenovasi rumah, sebab Aneesha berencana akan melahirkan di Magelang.


Tengah malam aku baru pulang, sampai rumah pun tidak langsung istirahat sebab cerita Jenar terus terbayang di kepala. Pikiranku melayang, seandainya peristiwa itu terjadi pada keluarga terdekat, aku pasti akan mencari pelakunya sampai dapat, lalu kukebiri mereka.

__ADS_1


Perilaku biadab itu sukses membuatku geram dan menelpon Danish untuk mencari tahu apa yang terjadi pada para berandal itu. Meski merasa lega, sebab menurut Danish mereka sudah mendapat ganjaran setimpal, tapi aku tak lantas bisa tidur. Padahal pagi-pagi sekali harus mengantar kyai Ali ke Salatiga. Setelah mengalami hari yang sangat panjang dan melelahkan, aku pun masih harus menyaksikan malam panjang berganti pagi.


__ADS_2